http://www.kompas.com/kompas-cetak/0502/24/opini/1579034.htm
Kamis, 24 Februari 2005

Pergantian Panglima TNI
Oleh M Alfan Alfian M

SEBAGAIMANA diatur dalam perundangan, pergantian Panglima Tentara Nasional 
Indonesia (TNI) merupakan "hak prerogatif presiden". Dewan Perwakilan Rakyat 
(DPR) hanya dimintai persetujuannya. Karena itu, kuncinya tetap di tangan 
presiden.

Pilihan presiden akan mendapat aneka apresiasi banyak kalangan. Bila 
apresiasinya positif akan menjadi "kredit poin", tetapi bila apresiasinya 
negatif, mungkin presiden terpaksa mengatakan, "I don't care with my 
choice".

Meski kelihatannya sederhana, pergantian panglima TNI di masa Presiden 
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak semudah membalik telapak tangan. 
Presiden pasti sudah memiliki skenario utama dalam menentukan pilihan akhir. 
Tetapi, karena realitas eksternal yang dinamis dan tidak statis, khususnya 
sejak Presiden SBY mengirim surat pencabutan atas surat Presiden Megawati ke 
DPR, terkait usulan pergantian Panglima TNI, skenario itu terpaksa 
berkembang. Lantas, muncul beberapa skenario alternatif yang antara lain 
didasari konteks etika dan kadar resistensi politiknya.

Presiden kini memiliki kedudukan politik amat kuat. Seharusnya ia tidak 
mengesankan bertindak ragu-ragu akan segala keputusannya, termasuk dengan 
risiko menguatnya resistensi politik di level elite, khususnya DPR.

SEBAGAIMANA Presiden memutuskan untuk memilih personalia kabinetnya, kini 
publik segera dihadapkan pada "seni pengambilan keputusan" ala SBY dalam 
memilih Panglima TNI, yang tentu berbeda dengan pilihan BJ Habibie, gaya KH 
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) saat mengangkat Laksamana TNI Widodo AS, atau 
ketika Megawati Soekarnoputri memilih Jenderal TNI Endriartono Sutarto.

Habibie, Gus Dur, dan Megawati sama- sama presiden dari kalangan sipil. 
Habibie tidak begitu soal dengan posisi Wiranto, dalam rangka menjaga 
kepentingan transisional. Gus Dur membuat gebrakan dengan mengangkat 
panglima dari unsur AL, dengan penjelasan argumentasi yang obsesif tentang 
masa depan kemaritiman. Sementara Megawati, tidak ingin punya masalah dengan 
militer, sebagai dampak kemelut hubungan presiden-militer era Gus Dur. Jika 
Gus Dur berani "menyempal dari tradisi konservatif", tidak demikian halnya 
dengan Mega.

Bagaimana dengan SBY, presiden pertama berlatar belakang militer sejak 
Soeharto jatuh? Apakah ia akan mengangkat unsur AD kembali atau justru 
memilih yang lain dengan prioritas unsur AU? Jika tetap memilih kalangan AD, 
siapa yang dicalonkan, mengingat kandidatnya lebih dari satu. Inilah yang 
menjadi teka-teki.

DARI kalkulasi yang beredar, ada empat kandidat yang berpeluang menjadi 
Panglima TNI, yakni Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu (mantan KSAD), Letnan 
Jenderal TNI Djoko Santoso (KSAD), Laksamana Madya Slamet Soebijanto (KSAL), 
dan Marsekal Muda Djoko Suyanto (KSAU). Baik KSAD, KSAL, maupun KSAU baru 
saja dilantik SBY, dan ketiganya dikenal sebagai militer nonpolitik dan 
nyaris tidak pernah berkomentar tentang politik di luar proporsi profesinya. 
Berbeda dengan mantan KSAL dan KSAU yang telah memasuki masa pensiun, 
Ryamizard masih memiliki usia aktif di dinas kemiliteran meski tidak 
seberapa lama lagi.

Dibanding ketiga pesaingnya, Ryamizard tergolong paling senior. Tetapi, 
belum tentu ia yang dipilih SBY, karena alasan politik. Ryamizard lebih 
dikenal sebagai "militer-nonpolitik", tetapi kesan kecondongannya mendukung 
Megawati di pilpres lalu masih belum terhapus, apalagi Megawati pernah 
menyampaikan surat ke DPR perihal persetujuan pengangkatannya sebagai 
Panglima TNI. Namun, surat itu lalu dicabut SBY. Memilih Ryamizard dapat 
menggugurkan berbagai catatan itu. Tetapi, dengan risiko ketidaknyamanan. 
Boleh jadi SBY akan dihantui sejumlah kekhawatiran.

Beberapa kabar mengemukakan, SBY akan mengangkat Djoko Santoso sebagai 
panglima, tetapi dengan demikian harus "melangkahi" Ryamizard. Bila SBY 
memilih skenario ini, sebenarnya tidak menjadi soal, tetapi akan terbentur 
etika politik. Publik mungkin akan mencibir SBY terlampau tergesa-gesa 
mengangkat Djoko, yang sejak lama (terutama saat SBY menjabat Kepala Staf 
Sospol) dikenal sebagai "orang dekat"-nya. Bila hal ini dilakukan, publik 
segera diingatkan kembali, misalnya, atas pengangkatan mantan tim sukses 
SBY, Syamsir Siregar sebagai Kepala Badan Intelijen Negara. Maka, yang 
terjadi ialah SBY-isasi militer.

Mungkin saja SBY sedikit memainkan manuver, dengan mengangkat kandidat di 
luar unsur AD, kemungkinan besar AU, karena selama ini belum pernah 
memperoleh "giliran". Di tengah jalan, SBY dapat menggantinya dengan 
pilihannya dari AD, yakni Djoko Santoso. Dengan demikian, kesannya SBY 
memang dinamis dalam menggerakkan regenerasi TNI. Sementara ini, belum ada 
gambaran lain di luar skenario itu. Yang jelas, pergantian Panglima TNI 
tidak dapat ditunda-tunda, mengingat untuk kesekian kalinya sejak era 
Megawati, Jenderal Endriartono telah mengajukan pensiun.

Sekali lagi, siapa pun pilihannya, itu prerogatif presiden. Diharapkan, 
prosesnya transparan sehingga apa alasannya diketahui kalangan luas. 
Argumentasi harus dikeluarkan untuk memperkuat pilihan sehingga tidak muncul 
spekulasi dari berbagai kalangan yang dapat merugikan pemerintah sendiri.

SIAPA pun yang terpilih menjadi Panglima TNI, tantangan ke depan tidaklah 
ringan, mengingat belum tuntasnya hubungan sipil-militer di Indonesia 
pasca-Orde Baru. Secara eksternal, dinamika kepolitikan nasional 
mengharuskan TNI mampu memosisikan diri secara tepat sesuai paradigma 
supremasi sipil dan netralitas politik. Juga dengan adanya perkembangan 
internasional yang mengharuskan TNI memperkuat kekuatan pertahanannya, yang 
kini amat ternatas itu.

Di sisi lain, proses reformasi internal belum tuntas. Yang masih mengganjal 
dan menjadi "perdebatan" dengan politisi sipil antara lain struktur 
kelembagaan (di bawah presiden atau Dephan), bisnis militer, komando 
teritorial (koter), hingga anggaran pertahanan yang dirasa cekak. Di tengah 
kondisi kesejahteraan prajurit dan infrastruktur (peralatan dan 
persenjataan) yang memprihatinkan, profesionalisme TNI dituntut.

SBY tinggal memilih kandidat terbaiknya. Asal, tidak menyeretnya ke kancah 
politik, apalagi untuk mengamankan obsesi politik pribadinya. Sebagai 
tentara bertipe pemikir moderat-konservatif, SBY diharapkan konsisten pada 
pendapatnya untuk berpegang pada konstitusi, yang telah disepakati secara 
demokratis. SBY dan militer harus menunjukkan progresivitasnya memperbaiki 
dan meningkatkan kualitas hubungan sipil-militer, dengan adanya blue print 
(cetak biru) dan implementasinya yang jelas dan terukur.

Berbeda dengan era Gus Dur, era SBY lebih menjamin adanya hubungan harmonis 
antara presiden dan militer. Tetapi, yang menarik justru saat SBY, seorang 
presiden berlatar belakang militer, ternyata mampu melakukan sejumlah 
langkah percepatan reformasi TNI tanpa harus memperoleh resistensi hebat 
dari internal TNI. Memilih Panglima TNI yang tepat penting dilakukan SBY. 
Tetapi, lebih penting lagi adalah kemajuan apa yang dicapainya kelak, 
setidaknya hingga 2009 dalam menata hubungan sipil-militer di Indonesia, dan 
sejauh mana reformasi TNI tertuntaskan.

M Alfan Alfian M Dosen FISIP Universitas Nasional, Jakarta 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke