REFLEKSI: Tidak dididik, tetapi bukan berarti tidak akan bisa bisnis :-))

http://www.suarapembaruan.com/News/2005/03/01/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 
TNI Tidak Dididik untuk Kelola Bisnis
JAKARTA - Tanpa ada aturan tentang larangan bagi militer untuk berbisnis, dalam 
jangka waktu beberapa tahun ke depan, jumlah bisnis yang dikelola TNI tetap 
semakin berkurang. Pasalnya, para anggota TNI tidak dididik untuk menjadi 
seorang pengusaha yang mengelola bisnis tertentu. 

Demikian benang merah pendapat pengamat pertahanan Andi Widjajanto dan pengamat 
masalah sosial Tamrin Amal Tomagola pada diskusi yang diselenggarakan dalam 
rangka peluncuran buku Ketika Moncong Senjata Ikut Berniaga di Jakarta, Senin 
(28/2) malam. Buku itu merupakan laporan penelitian tentang keterlibatan 
militer (TNI dan Polri) dalam bisnis di Bojonegoro, Boven Digoel, dan Poso. 

"Anggota TNI tidak dididik menjadi pengusaha. Jadi, biarkan saja bisnis yang 
mereka kelola selama ini mati perlahan-lahan," kata Andi. 

Dikatakan, pada sekitar tahun awal 1980, jumlah bisnis yang dikelola militer 
sekitar 500 bidang usaha. Namun, pertengahan 1980, jumlah itu berkurang menjadi 
sekitar 227 bidang usaha. 

Artinya, seiring perjalanan waktu, jumlah bisnis yang dikelola militer itu 
semakin berkurang. Penyebabnya karena bisnis yang dikelola militer itu kalah 
bersaing dengan bisnis yang dikelola swasta. 

Dikatakan, aturan yang dikeluarkan pemerintah, khususnya pada Pasal 76 
Undang-Undang Nomor 34/2004 tentang TNI merupakan cara lain untuk mengatasi 
persoalan bisnis militer itu. Jika aturan ini benar-benar ditegakkan, pada 2009 
nanti setiap anggota TNI yang melakukan bisnis, baik secara legal atau ilegal, 
atas nama institusi atau perorangan, akan dianggap suatu tindakan pidana. 

Selain itu, pemerintah harus memikirkan taraf kesejahteraan prajurit agar 
mereka tidak lagi melakukan bisnis. Caranya adalah dengan menaikan gaji para 
prajurit TNI. 

"Menurut hitungan saya, kalau setiap prajurit diberi gaji rata-rata sekitar Rp 
3 juta, pemerintah hanya memberikan tambahan di APBN sebesar Rp 7 triliun. 
Memang pelaksanaannya tidak mudah," katanya. 

Cara lain untuk mengatasi bisnis militer adalah dengan melihat aspek budaya 
masyarakat lokal. Pasalnya, seperti yang dipaparkan dalam buku Ketika Moncong 
Senjata Ikut Berniaga, bisnis yang dikelola anggota militer telah masuk ke 
wilayah masyarakat lokal. 

Hal senada diungkapkan Tamrin Tomagola. Menurut dosen di jurusan Sosiologi 
Universitas Indonesia itu, posisi militer dalam suatu bisnis sebenarnya tidak 
lebih sebagai centeng. Militer sebenarnya lebih dimanfaatkan oleh pengusaha 
untuk menjaga kepentingan bisnis mereka. (O-1) 



--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 1/3/05 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/rkgkPB/UOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke