http://www.kompas.com/kompas-cetak/0503/07/opini/1600945.htm

      Senin, 07 Maret 2005  
     
     
     

      Dunia Intelektual dan Dagang 


      Oleh M Fadjroel Rachman

      KEBIJAKAN publik tidak lahir di kuburan atau ruang hampa sosial. Karena 
lahir dalam ruang sosial, berarti tiap kebijakan publik berhadapan dengan 
tarik-menarik kepentingan ekonomi-politik.

      Umumnya, kekuatan ekonomi-politik yang paling dominanlah yang memenangi 
kebijakan publik yang bakal dijalankan pemerintah.

      Sungguh menyesatkan apabila 36 intelektual itu mendukung kebijakan publik 
menaikkan harga BBM dengan memistifikasi kepentingan ekonomi-politik dominan 
yang berkuasa. Kata Rizal Mallarangeng, "Kami jelas berpihak, namun lebih pada 
gagasan dan kebijakan tertentu yang kami anggap baik," ("Kaum Intelektual, BBM, 
dan Iklan Freedom Institute", Kompas 3/3). Publik bertanya, mengapa gagasan dan 
kebijakan publik yang lebih baik ditolak. Pertama, dari subsidi bunga 
rekapitalisasi perbankan Rp 600 triliun-sebagian besar dimiliki bankir dan 
konglomerat hitam-yang pada 2004 mencapai Rp 41,275 triliun dan RAPBN 2005 
sebesar Rp 38,844 triliun (Tabel Belanja Pemerintah Pusat Menurut Jenis Belanja 
2004-2005).

      Kedua, dari pembayaran Rp 46 triliun pokok dan Rp 24,375 triliun bunga 
utang luar negeri (2004) serta bunga utang luar negeri Rp 25,142 triliun (RAPBN 
2005), juga mengintensifkan tawaran moratorium. Ketiga dari harta KKN Soeharto 
dan keluarga, senilai 15-40 miliar dollar AS (Tranparency International) atau 
60 miliar dollar AS (Times). Keempat, intensifikasi dan ekstensifikasi pajak 
serta mengurangi korupsi birokrasi perpajakan. Wajib pajak (WP) badan dan 
perorangan berjumlah 5 persen dari populasi pada 2004 membayar Rp 239,5 
triliun. Naikkan WP menjadi 20 persen dari populasi dengan perhitungan pajak 
progresif baru, dan meminimalkan kebocoran, pada 2005 target pajak melampaui Rp 
259,5 triliun. Kelima, audit dan efisiensi Pertamina, dari kontrak, ekspor, 
impor, hingga distribusi. Ini akan menyelamatkan triliunan rupiah tiap tahun.

      Ini hanya beberapa alternatif yang diajukan intelektual, akademisi, dan 
publik tetapi tidak dijadikan pilihan kebijakan pemerintah karena tidak sesuai 
kepentingan kekuatan ekonomi-politik yang kini mendominasi birokrasi dan 
legislatif.

      Politisi, pengusaha, dan dagang

      Di Indonesia kini negara bukan lagi sekadar eksekutif/representasi 
pemilik kapital, tetapi pemilik kapital sudah merepresentasi kepentingan 
sendiri, langsung mengendalikan kebijakan negara melalui legislatif/eksekutif. 
Para politikus-pengusaha menyadari, eksekutif/birokrasi adalah real centers of 
state power. Ditambah penguasaan atas legislatif melengkapi pengendalian, 
kebijakan eksekutif tidak akan dibatalkan parlemen.

      Contoh pemilik kapital yang sudah membuktikan munculnya elemen politik 
baru: politisi-pengusaha (business-politician) dan entitas politik baru: 
negara-dagang (merchant-state), di antaranya Jusuf Kalla, Grup Bukaka, Ketua 
Umum Partai Golkar dan Wakil Presiden. Agung Laksono, mantan Presiden Direktur 
ANTV, Grup Hasmuda, Ketua DPR, dan Wakil Ketua Umum Partai Golkar. Aburizal 
Bakrie, Grup Bakrie dan Bumi Resources, Menteri Koordinator Perekonomian. Surya 
Paloh, Media Grup (Metro TV), Ketua Dewan Penasihat Partai Golkar. Fahmi Idris, 
Grup Kodel, Ketua Partai Golkar, dan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. 
Tentu tidak sulit menyebut puluhan pengusaha dari beragam partai politik yang 
duduk di legislatif eksekutif dari pusat, provinsi, hingga kabupaten (M 
Fadjroel Rachman, "Bangkitnya Negara-Dagang", Koran Tempo, 19/2).

      Konglomerasi domestik pribumi

      Dalam "Bangkitnya Negara-Dagang", penulis bertanya darimana datangnya 
"kesadaran subyektif" pengusaha mengendalikan negara dengan menjadi 
politisi-pengusaha? Indonesia: The Rise of Capital (Richard Robison, 1986) buku 
klasik ekonomi-politik yang meneliti fraksi kapital di bawah Orba, 
perkembangan, dan perannya dalam dinamika pembentukan politik totalitarisme 
Orba. Robison "menemukan" fraksi kapital dominan yang membentuk struktur 
ekonomi-politik Indonesia, tahun 1980-an.

      Pertama, kapital internasional melalui utang (IGGI, IBRD, G to G Loans) 
dan foreign direct investment (Jepang, AS, Taiwan, Hongkong, Eropa). Kedua, 
kapital BUMN. Ketiga, kapital ABRI (TNI/Polri). Keempat, kapital konglomerasi 
pribumi dan nonpribumi. Kini, fraksi kapital dominan tetap serupa, meski ada 
pemain di dalam fraksi kapital berubah atau berganti nama, misalnya, IGGI 
menjadi CGI, ditopang IMF.

      Konglomerasi pribumi yang menjadi politisi-pengusaha-semua dibesarkan 
Orba-adalah fraksi kapital yang memenangi pertarungan antarfraksi dominan 
kapital Orba. Tahun 1980-an fraksi kapital yang bermuara ke Soeharto dan 
keluarga unggul, ditopang fraksi kapital ABRI. Kini, politisi-pengusaha yang 
mengendalikan negara dari fraksi kapital konglomerasi pribumi semi-Soeharto dan 
semi-ABRI, mengatasi fraksi kapital konglomerasi Soeharto, nonpribumi, dan ABRI.

      Bukan tidak ada subsidi

      Politik negara kesejahteraan meyakini, warga negara menjadi miskin dan 
menganggur karena tidak dijamin hak ekonomi dan sosialnya. Jadi, bila kini 
jumlah rakyat miskin adalah 60 persen dari populasi dan penganggur 45 persen 
dari 100 juta angkatan kerja, jelas bukan karena tidak mendapat dana kompensasi 
BBM, tetapi tidak dilindungi negara hak ekonomi dan sosialnya. Alih-alih 
menyejahterakan rakyat, kenaikan harga BBM memicu kebutuhan pokok dan 
mengurangi kesejahteraan. Karena rata-rata pengeluaran rumah tangga, untuk 
makanan 64,1 persen, pendidikan 2,40 persen, kesehatan 2,07 persen, dan 31,52 
persen untuk transportasi, sandang, dan papan (BPS, 2004). Tentu bila 
kesejahteraan warga, hak ekonomi dan sosialnya dimapankan lebih dulu, kenaikan 
BBM-bahkan dengan menolkan semua subdidi BBM sekalipun-bukan masalah bagi 
masyarakat.

      Mengapa kebijakan publik pencabutan subsidi BBM yang dilakukan bukan 
alternatif lain? Dengan uraian itu, jelas kebijakan publik tidak mengganggu 
kepentingan oligarki ekonomi-politik yang berkuasa, tidak menghambat akumulasi 
kapital politisi-pengusaha dan masa depan negara-dagang. Jadi, bukan karena 
gagasan dan kebijakan ini baik, seperti ditulis Rizal Mallarangeng. Kalaupun 
ada keresahan, tiap pertentangan kepentingan antara publik dengan 
politisi-pengusaha akan disetarakan sebagai pertentangan negara versus 
masyarakat sipil yang berujung pada represivitas negara.

      Keterlibatan Soekarno, Hatta, dan Sutan Sjahrir dalam kekuasaan, jelas 
keberpihakan intelektual organik (The Gramsci Reader, 2000) kepada si 
tertindas. Sama sekali bukan perselingkuhan intelektual dengan oligarki 
ekonomi- politik yang berpuluh tahun merugikan rakyat dengan ekonomi rente, 
pengisapan, dan KKN. Para intelektual istana seharusnya jujur mengaku berpihak 
kekuatan ekonomi-politik dominan. Pengakuan ini penting sebab pengkhianatan 
intelektual harus dinilai bukan lagi karena melanggar syarat ideal intelektual 
Julien Benda (La Trahison des Clercs, 1927), tetapi dinilai dari tanggungjawab 
keberpihakannya secara moral, politik, dan hukum Publik akan menilai, apakah 
mereka akan seperti intelektual Orba, selama 32 tahun berpartisipasi 
menyengsarakan rakyat, tetapi melarikan diri dan tidak mau bertanggung jawab 
secara moral, politik, dan hukum, ketika Orba runtuh. Karena itu, berani 
beriklan, berani berpihak, berani bertanggung jawab di kemudian hari.


      M Fadjroel Rachman Ketua Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara 
Kesejahteraan (Pedoman Indonesia)
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke