http://www.sinarharapan.co.id/berita/0504/14/opi02.html


Roy Janis Lawan Megawati 
Oleh TJIPTA LESMANA

Fenomena politik yang menimpa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) 
setelah Kongres II di Bali menarik untuk disimak. Fenomena itu adalah (a) 
tampilnya Roy BB Janis sebagai pemimpin Gerakan Pembaharuan PDIP; (b) semakin 
sengitnya perseteruan antara Roy dan Megawati, masing-masing mengeluarkan 
ancaman untuk memecat lawannya, dan (c) terjadinya aliansi antara Roy-Arifin 
Panigoro-Laksamana Sukardi. 

Tidak banyak orang yang tahu Roy BB Janis dan Megawati pada awalnya berteman 
dekat sekali. Mereka sesungguhnya kawan seperjuangan tatkala masih bergabung 
dalam Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di era Soeharto. Ketika itu sudah ada 
tanda-tanda PDI bakal "mbalelo" terhadap kekuasaan Soeharto. Menjelang Sidang 
Umum MPR 1993 "kelompok radikal" PDI tiba-tiba mengeluarkan pernyataan terbuka 
yang intinya supaya Soeharto tidak dipilih kembali sebagai Presiden.
Tidak banyak media yang berani memuat pernyataan ini, mengingat situasi politik 
waktu itu. Pernyataan itulah yang menjadi faktor utama kenapa Megawati kemudian 
"diinjak-injak" oleh kekuasaan Soeharto hingga klimaksnya pada 27 Juli 1996. 
Megawati dipandang sangat berbahaya yang ingin menggulingkan Soeharto. 

"Kelompok radikal" PDI terdiri atas sekitar 10 anggota, antara lain Megawati, 
Roy Janis, Laksamana Sukardi, Sophan Sophiaan, dan Tarto Sudiro. Mereka semua 
anggota MPR. Mereka sering mengadakan "rapat gelap" di lokasi yang 
berpindah-pindah untuk membahas situasi negara. Dalam rapat-rapat, Megawati 
selalu menolak tampil ke depan, walaupun dibujuk-bujuk oleh rekan-rekannya. 

Sebuah sumber mengatakan wawasan politik Mega ketika itu masih tergolong 
"hijau", ngomong pun belum berani, apalagi memimpin rapat. Dia lebih banyak 
diam dalam rapat-rapat dan lebih suka menyuruh Roy dan Tarto Sudiro memimpin 
rapat. Hampir semua anggota kelompok itu diam-diam sudah sepakat untuk 
mendorong Mega tampil memimpin "PDI baru", menggusur Soerjadi yang dinilai 
sudah terkooptasi pada kekuasaan Soeharto.

Kacang Lupa Kulitnya 
Perjuangan "kelompok radikal" semakin sengit ketika aparat keamanan semakin 
keras menekan mereka. Setelah melalui perjuangan panjang, bahkan nyaris 
terancam nyawa, Megawati akhirnya berhasil diusung sebagai Ketua Umum PDI, nama 
partai pun berubah menjadi PDIP. 

Kawan-kawan Mega, khususnya Roy, rupanya berpendapat mereka punya andil sangat 
besar dalam mengusung Mega ke kursi pimpinan tertinggi PDIP yang akhirnya 
membawa dirinya ke kursi Presiden. Tapi, di mata mereka, Mega ibarat "kacang 
yang melupakan kulitnya". 

Sejak menduduki jabatan Wakil Presiden, Mega dikabarkan mulai menjaga jarak 
dengan mereka. Untuk bertemu di kantornya pun, yaitu Istana Wakil Presiden, 
tidak bisa. Ketika Gus Dur menjadi Presiden, orang-orang kepercayaannya 
langsung diberikan tanda "pass khusus" sehingga mereka bisa keluar masuk Istana 
dengan bebas. Tapi, hal serupa tidak berlaku untuk Megawati. 

Ketika Mega akhirnya menjadi Presiden, komunikasi bertambah sulit dan bertambah 
formal. Satu-satunya forum untuk berinteraksi hanyalah "forum Selasaan", yaitu 
rapat DPP di Lenteng Agung setiap hari Selasa.

Sejumlah kader partai - seperti Roy, Arifin dan Kwik Kian Gie - tidak suka 
melihat perilaku Ir Soetjipto yang suka menjilat. Dalam pemilihan umum (Pemilu) 
1999, PDIP menang di Pulau Jawa (termasuk Jawa Barat di mana Golkar sangat 
kuat), Bali, Sumatera dan Lampung, kecuali Jawa Timur yang kalah satu kursi 
dari PKB. Ketika itu, Soetjipto Ketua DPD PDIP Jawa Timur. Di DKI Jakarta, PDIP 
menduduki peringkat I, menyabet 30 kursi DPRD. Roy-lah yang menjabat Ketua PDIP 
Jakarta. 
Tahun 1999 MPR menggelar Sidang Umum, Tjipto diangkat Ketua Fraksi MPR, sedang 
Herry Achmadi Sekretarisnya. Lagi-lagi ia gagal mengusung Mega ke kursi 
Presiden. Pemilu tahun 2004, PDIP kalah memalukan. Ironisnya, Tjipto juga yang 
dipercayakan Megawati sebagai Ketua Tim Pemenangan Pemilu, dan Herry Achmadi 
sebagai Sekretaris. Dalam Kongres II yang baru lalu, Tjipto memang tidak lagi 
dipasang sebagai Sekjen, tapi Mega tetap mengangkatnya sebagai salah satu 
Ketua. Pramono dijadikan Sekjen. 

Kelemahan Mega dalam memimpin partai, kata sebuah sumber, ia tidak menerapkan 
"merit system". Orang yang berjasa pada partai tidak pernah diberikan rewards. 
Sebaliknya, orang yang gagal tidak pernah diberikan punishment, malah tetap 
dipercaya untuk menduduki posisi-posisi kunci. Tapi, yang paling menjengkelkan 
kader-kader eks kawan seperjuangan Mega ialah intervensi kuat Taufik Kiemas 
(TK) dalam kehidupan partai. 

TK - melalui beberapa fungsionaris partai - kata mereka, selalu campur tangan 
dalam pemilihan kepala daerah, khususnya pemilihan gubernur karena 
kepentingan-kepentingan sempit. Tapi, ironisnya, di hampir semua daerah di mana 
mereka "bermain", calon PDIP kalah. Ini membuat massa PDIP marah. 

"Point of no Return" 
Setelah Kongres II, perseteruan antara Roy dan Mega berambah sengit dan 
mencapai tahap point of no return. Roy mungkin menganggap kepalang basah. Dia 
tahu persis siapa itu Megawati sebenarnya. Dia tahu persis apa "modal 
perjuangan" Mega pada tahap awal. Maka, ia tidak pernah takut. Menurut saya, 
jika Megawati nekad memecat Roy dkk., ini merupakan tindakan set-back dan akan 
menampar mukanya sendiri. Sebab kelompok Gerakan Pembaharuan PDIP cukup 
mengakar dan mempunyai pendukung besar di akar rumput.

Yang mengherankan ialah bergabungnya trio Roy-Arifin-Laksamana. Roy dan Arifin 
semula tidak sejalan. Dua tahun lalu sudah muncul dua kubu dalam PDIP, masing 
masing "kubu Jenggala" (Arifin) dan "kubu Tirtayasa" (Roy cs). Kelompok 
Jenggala dituduh hendak menggulingkan Mega, sedang kelompok Tirtayasa membela 
Mega. 
Kenapa sekarang Roy dan Arifin bisa bersatu? Itu pertanda, keduanya melihat 
PDIP dalam status "lampu merah" setelah Mega dipilih kembali sebagai Ketua Umum.

Laksamana Sukardi semula juga dikenal "orang Mega". Ia dekat dengan Ketua Umum, 
dekat dengan TK. Laks sering disebut-sebut salah satu "kasir PDIP" dalam Pemilu 
2004. Orang seperti Laks, akhirnya pecah kongsi juga dengan Mega. Lalu, ke mana 
Kwik Kian Gie? Dalam kepengurusan Gerakan Pembaharuan PDIP, kita tidak membaca 
nama Kwik. Kenapa dia tidak bergabung dengan Roy-Arifin-Laksamana?

Perseteruannya dengan Laksamana, mungkin menjadi salah satu ganjelan Kwik untuk 
bergabung. Ketika menjabat Menteri Negara BUMN, kebijakan-kebijakan Laksamana 
sering dikecam Kwik sebagai Ketua Bappenas. Kwik yang berkata tanpa tedeng 
aling-aling bahwa PDIP merupakan partai yang paling korup.
Megawati pusing menghadapi gerakan itu, sebab ia tahu yang bergabung dalam 
gerakan itu bukanlah sembarang kader. Mereka punya massa. Maka, PDIP terancam 
pecah, dan parah sekali perpecahannya!

Penulis adalah Pengajar FISIP Universitas Pelita Harapan.
  
Copyright � Sinar Harapan 2003 
 





[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke