REPUBLIKA
      Sabtu, 04 Juni 2005

      Busung Lapar dan Hunger Paradox 




      Wiwik Suhartiningsih
      Pengamat Sosial Ekonomi Pertanian




      Insiden munculnya kembali busung lapar di Nusa Tenggara Barat (NTB) 
menimbulkan miris. Seperempat abad lalu, waga Lombok Tengah selalu kekurangan 
pangan (beras). Insiden busung lapar jadi rutinitas tahunan. Lewat Operasi 
Tekad Makmur sekitar 1980-an, NTB berhasil mengembangkan olah tanah dengan 
sistem gogo rancah (gora) hingga provinsi ini surplus beras. Ternyata, surplus 
pangan tidak identik dengan bebasnya kelaparan, dan kemudian, terkikisnya 
marasmus kwashiorkor yang disebut orang awam busung lapar. 

      Terbukti saat ini. Rentang Januari-Mei 2005, tercatat 338 anak balita di 
NTB mengalami busung lapar, 8 di antaranya meninggal. Busung lapar yang jadi 
momok warga NTB muncul kembali. Mengapa ini terjadi? Surplus pangan kok terjadi 
kelaparan?

      Lumrah
      Insiden semacam ini di Indonesia bukan hal baru. Maret lalu, di tengah 
laporan stok beras masih cukup buat konsumsi 3 bulan ke depan, di NTT terjadi 
kelaparan. Tersedianya beras untuk kebutuhan 3 bulan ke depan, sebenarnya 
menunjukkan kondisi pangan yang mantap. Sejak 2000, ketersediaan pangan kita 
sebenarnya selalu surplus. Ini bisa dilihat dari tingkat ketersediaan energi 
dan protein untuk dikonsumsi pada 2000 masing-masing sebesar 3.103 
kkal/kapita/hari dan 81,7 gr/kapita/hari. Ini melebihi tingkat rekomendasi, 
yaitu 2.550 kkal/kapita/hari dan 55 gr/kapita/hari. Tahun 2003 angkanya sedikit 
menurun (3.098 kkal/kapita/hari dan 74,5 gr/kapita/hari). Namun, nilainya masih 
di atas tingkat rekomendasi. Tahun 2004 bisa dipastikan kondisinya tidak banyak 
berubah karena kita surplus atau swasembada beras. Pendek kata, pangan kita 
melimpah.

      Secara agregat, adalah tidak terlalu salah surplus pangan di suatu negara 
diklaim sebagai indikator mantapnya ketahanan pangan suatu negara. Tapi 
tercapainya ketahanan pangan di tingkat makro tidak berarti tiadanya masalah 
dalam ketahanan pangan di tingkat mikro: di level rumah tangga. Distribusi 
pangan yang tidak merata di tingkat regional dan rumah tangga bisa memunculkan 
rawan pangan di level paling bawah.

      Ini bisa dilihat dari tingkat konsumsi energi dan protein di level rumah 
tangga. Konsumsi energi per kapita pada 2000 hanya 1.849 kkal/kapita/hari (82,2 
persen dari tingkat kecukupan) dan konsumsi protein 48,7 gr/kapita/hari (97,4 
persen). Pada 2003 naik jadi 1.986 kkal/kapita/hari dan 54,42 gr/kapita/hari. 
Apa arti data-data ini? Ketersediaan kalori dan protein bisa saja di atas angka 
kebutuhan gizi. Tapi kelaparan, balita kekurangan gizi, insiden busung lapar, 
wanita usia subur kekurangan energi kronis, balita kekurangan vitamin A dan 
anak usia sekolah kekurangan yodium terjadi di mana-mana. Fenomena ini disebut 
hunger paradox. Dari konsepsi ini, busung lapar di NTB ya lumrah-lumrah saja. 

      Ketahanan pangan mengacu pada pengertian adanya kemampuan mengakses 
pangan secara cukup untuk mempertahankan kehidupan yang aktif dan sehat. Dalam 
konsep ini akses lebih penting dari pada ketersediaan. Pemenang Nobel Ekonomi 
1998, Amartya Sen, dalam bukunya Inequality Reexamined (1992) menulis dengan 
amat memikat tentang pentingnya akses dan aspek kebebasan daripada 
ketersediaan. Sen memaparkan, kapabilitas seseorang harus merefleksikan 
kemampuannya melakukan aktivitas hidup. Contohnya, seorang yang berpuasa 
mungkin memiliki kemiripan dalam hal jumlah makanan dan gizi dengan mereka yang 
miskin dan terpaksa lapar. 

      Namun, mereka yang berpuasa dan tidak miskin memiliki kapabilitas yang 
lebih besar dibandingkan dengan mereka yang miskin (yang pertama dapat memilih 
untuk makan enak, sedangkan yang kedua tidak). Orang miskin menjadi miskin 
karena ruang kapabilitas mereka kecil, bukan karena mereka tidak memiliki 
barang. Mengikuti Sen, jadi tidak ada jaminan bahwa masalah kurang pangan 
otomatis terhindari walau makanan berlimpah. Masalah kelaparan terkait dengan 
apakah pangan distribusinya baik dan harganya terjangkau. Sen menunjukkan, di 
India dan Cina kurang pangan terjadi justru ketika jumlah produksi pangan per 
kapita meningkat. Jadi, kelaparan atau busung lapar terjadi bukan karena tak 
ada makanan, tapi karena orang tak bisa memiliki makanan. Di NTB memang surplus 
beras, tapi surplus itu hanya ada di tangan segelintir orang.

      Ketahanan pangan merupakan konsep yang multidimensi, meliputi mata rantai 
sistem pangan dan gizi, mulai dari produksi, distribusi, konsumsi dan status 
gizi. Secara ringkas ketahanan pangan hanya menyangkut tiga hal penting: 
ketersediaan, akses, dan konsumsi pangan. Aspek ketersediaan pangan bergantung 
pada sumber daya alam, fisik, dan manusia. Pemilikan lahan yang ditunjang iklim 
yang mendukung disertai SDM yang baik akan menjamin ketersediaan pangan yang 
kontinu. Akses pangan hanya dapat terjadi bila rumah tangga berpenghasilan 
cukup. Konsumsi pangan akan amat menentukan apakah seluruh anggota rumah tangga 
bisa mencapai derajat kesehatan optimal.

      Substansi Kelaparan dan rawan pangan biasanya bersenyawa dengan 
kemiskinan. Tapi mereka yang rawan pangan belum tentu hanya dari golongan 
miskin. Mengapa? Batas kemiskinan di Indonesia ditetapkan dengan cut-off point 
terlalu rendah, sehingga rumah tangga miskin sebenarnya sudah masuk kategori 
amat sangat miskin dan mereka yang ada sedikit di atas garis kemiskinan 
sebenarnya sudah amat miskin (Khomsan, 2003). Artinya, mereka yang near atau 
berada sedikit di atas garis kemiskinan sangat banyak. 

      Karena sebagian besar penduduk Indonesia adalah petani di perdesaan, 
kemiskinan terbesar terjadi pada petani di perdesaan. Kemiskinan petani bisa 
karena kemiskinan alamiah atau kemiskinan struktural. Kemiskinan struktural 
adalah kemiskinan yang secara langsung atau tidak disebabkan tatanan 
kelembagaan. Kemiskinan alamiah adalah kemiskinan yang disebabkan kualitas 
sumber daya alam dan SDM yang rendah sehingga peluang produksi menjadi kecil. 
Bila pun mereka berproduksi, efisiensinya pasti rendah sehingga hasilnya tak 
optimal. Karena hasil tak optimal, maka terjadilah kelaparan.

      Dalam konteks pertanian, sumber daya yang mempengaruhi munculnya 
kemiskinan adalah kualitas lahan dan iklim. Di Indonesia, lahan subur hanya ada 
di Jawa. Itu pun setiap saat rawan dikonversi untuk industri dan perumahan. 
Dengan sumber daya alam yang terbatas membuat petani harus menerima kenyataan, 
yakni penguasaan lahan sempit atau kualitas lahan yang buruk, sehingga produksi 
tidak efisien. Apa yang terjadi di NTB lebih banyak karena kualitas lahan yang 
buruk. Namun, secara turun-temurun selama ratusan tahun kearifan lokal mampu 
memberikan sumber pangan yang memadai. 

      Selama ratusan tahun warga NTB menanam tanaman pangan yang cocok dengan 
kondisi ekologi (kondisi biofisik) setempat: jagung dan umbi-umbian, terutama 
ubi kayu. NTB kurang mendukung untuk berproduksi padi (beras). Secara 
turun-temurun, pola konsumsi pangan pokok rata-rata penduduk NTB adalah jagung. 
Jagung dikonsumsi dalam bentuk ''katemak'' atau ''bose'', campuran pipilan 
jagung dengan sayuran (daun singkong, labu kuning atau pepaya). ''Katemak'' 
atau ''bose'' dikonsumsi pada siang dan sore hari. Sedangkan di pagi hari 
mengonsumsi umbi. Bahkan, jagung tak hanya sebagai pangan pokok, tapi menjadi 
komoditas yang menyatu dengan adat/budaya. Beragam upacara adat digelar, mulai 
dari menanam, memetik hingga mengonsumsi jagung. 

      Namun, berkat rekayasa negara lewat adopsi teknologi pertanian modern 
(baca: Revolusi Hijau), secara dramatis basis pangan rakyat NTT yang bersandar 
pada jagung dan umbi-umbian itu digiring pada satu jenis pangan: beras. Ini 
juga terjadi pada etnis lain. Warga NTB, Papua, dan Madura yang terbiasa makan 
jagung dan umbi-umbian secara turun-temurun akhirnya berubah ke pangan beras. 
Pangan etnik yang beragam, khas dan unik, serta terbukti bertahun-tahun mampu 
menjaga kecukupan pangan hancur digantikan beras. Padahal, ekologi daerah 
tersebut tidak mendukung produksi beras. Pengecualian terjadi di NTB. Dengan 
predikat surplus beras, masalah belum selesai. 

      Dalam jangka pendek, pemerintah telah menanggulangi busung lapar dengan 
menyediakan subsidi makanan pendamping susu ibu. Kepada mereka juga diberikan 
beras gratis atau beras untuk rakyat miskin (raskin). Apa manfaat raskin? Warga 
miskin dan rawan pangan dapat membeli beras 20 kg setiap bulan seharga Rp 
20.000. Kalau membeli di pasar, harganya sekitar Rp 2.500 per kg. Artinya 
mereka bisa menghemat Rp 1.500 per kg atau setahun berjumlah Rp 3,6 juta. Dalam 
ilmu ekonomi berarti ada transfer pendapatan dari pemerintah secara tidak 
langsung sebesar Rp 3,6 juta kepada keluarga miskin. Artinya, pendapatan itu 
bisa memberikan efek ganda yang cukup besar, karena dana akan dibelanjakan di 
desa sehingga ikut menggerakkan perekonomian. 

      Dari sisi ini, raskin terbukti bisa memberikan contagion effect yang 
baik. Karena itulah, di banyak negara di dunia bantuan pangan pada warga miskin 
selalu ada. Sebab tidak cuma bisa mencegah risiko yang akan diterima kelompok 
miskin dan rawan pangan, raskin juga memiliki kaitan kuat dengan program 
pengembangan sumber daya manusia (horizontal integration) dan program ketahanan 
pangan (vertical integration). 

      Sebagai program yang bersifat transfer energi, keberhasilan raskin akan 
sangat membantu keberhasilan program lain (horizontal integration), seperti 
peningkatan kualitas nutrisi, kesehatan, pendidikan dan produktivitas sumber 
daya manusia. Tapi ini solusi jangka pendek, yang hanya menyelesaikan gejala, 
bukan penyebab utamanya. Tanpa menyentuh persoalan substansi, fenomena hunger 
paradox seperti di NTB akan selalu terulang. 
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/S.QlOD/3MnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke