http://www.sinarharapan.co.id/content/read/tragedi-mesuji-terulang-di-sumbawa/
2.12.2011 14:12

Tragedi Mesuji Terulang di Sumbawa

 (foto:dok/ist)
JAKARTA - Aksi kekerasan terhadap petani kembali terjadi. Kali ini menimpa 
ratusan petani di Kampung Pekasa, Kecamatan Lunyuk, Kabupaten Sumbawa, Nusa 
Tenggara Barat (NTB).

Puncaknya terjadi Rabu (21/12) sore. Polisi, TNI, serta polisi hutan 
mengintimidasi petani dengan melepaskan tembakan berkali-kali. Petugas juga 
menangkap kepala adat setempat. Hingga Kamis (22/12) pagi ini ratusan warga 
termasuk petani lari ke hutan. 

Sekretaris Pengurus Daerah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Sumbawa Febrian 
Anindhita yang dihubungi SH, Kamis pagi ini mengatakan, hingga pagi ini, 
masyarakat di sini belum berani kembali ke desanya.

Mereka lari ke hutan dan berpencar setelah diintimidasi dengan senjata. Suara 
peluru melepaskan tembakan berkali-kali juga membuat warga syok dan ketakutan. 
Intimidasi itu disebut-sebut berdasarkan perintah Dinas Kehutanan NTB.

Febrian menuturkan, dalam peristiwa yang terjadi Rabu sore sekitar pukul 15.00 
Wita hingga malam memang tidak ada korban jiwa. Namun, kepala adat Kampung 
Pekasa ditangkap polisi untuk dimintai keterangan. Hingga kini yang 
bersangkutan belum kembali ke rumah.

“Mereka (Tim Gabungan polisi, TNI, dan polisi hutan) membawa kepala adat kami, 
setelah sebelumnya melakukan intimidasi,” imbuh Febri mengutip pernyataan warga.

Sebelumnya, Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Abdon Nababan menyebutkan, 
kasus Mesuji terulang di Kampung Pekasa, Kabupaten Sumbawa, NTB. Kampung ini 
merupakan wilayah adat sejak ratusan tahun lalu. Berdasarkan Surat Keputusan 
(SK) Menteri Kehutanan pada 1980-an, wilayah ini ditunjuk sebagai kawasan hutan 
lindung. 

Mengenai kejadian itu, dia menjelaskan, sore itu Dinas Kehutanan NTB datang 
mengerahkan aparat Brimob dan polisi hutan menggusur Kampung Pekasa dengan cara 
membakar seluruh rumah dan menangkap warganya. Rumah yang dibakar berjumlah 50.

“Peristiwa terjadi Rabu sekitar pukul 15.00 waktu setempat sampai malam hari. 
Warga ketakutan sehingga banyak yang memilih masuk hutan,” katanya. 

Ia mengatakan, kasus ini merupakan contoh bahwa hukum Indonesia tidak berpihak 
kepada masyarakat adat. Kasus ini harus diinvestigasi Komnas HAM sebagai pihak 
independen.

Kawasan adat ini sudah ada ratusan tahun lalu tetapi tiba-tiba pada 1980-an 
Menteri Kehutanan (Menhut) menetapkan wilayah itu sebagai hutan lindung.

Aksi Petani Meningkat

Menurut catatan SH, aksi petani terkait sengketa tanah terus bermunculan 
sepekan ini. Sebut saja yang terjadi di depan Gedung DPR/MPR Senayan Jakarta 
pada Senin (19/12). 

Seratus petani dari Kabupaten Meranti, Pulau Padang, Riau, berunjuk rasa di 
depan Gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Senin. Sebagai simbol penderitaan, 
sekitar 37 warga Meranti bahkan menjahit mulutnya untuk meminta perhatian 
pemerintah agar membantu perbaikan nasib mereka.

Mereka menuntut pemerintah mencabut SK Kehutanan Nomor 327 tentang pemberian 
hak penguasaan hutan tanaman industri kepada perusahaan Riau Andalan Pulp and 
Paper (RAPP). 

Para petani menganggap operasional RAPP telah merusak hutan. Bahkan mereka 
memperkirakan operasional tersebut dapat menenggelamkan Pulau Padang. Selain 
itu, masyarakat yang menggantungkan hidup pada produksi hutan di wilayah 
tersebut juga terancam kehilangan mata pencarian.

Di Bima, ratusan warga Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima, NTB, hingga Selasa 
(20/12) masih bertahan menduduki dan memblokade Pelabuhan Sape Bima. Aksi 
pendudukan dilakukan sejak Senin.

Mereka bahkan nekat bertahan di pelabuhan sampai Bupati Bima Ferry Zulkarnain 
ST mencabut SK 188 yang memberi izin eksplorasi tambang emas di wilayah mereka. 
Menurut warga, kehadiran investor tambang emas telah cukup merusak mata 
pencarian warga yang rata-rata sebagai petani.

Ratusan warga itu menginap di pintu keluar-masuknya kendaraan di pelabuhan. 
Mereka membawa sejumlah senjata tajam. Akibat aksi blokade itu, aktivitas di 
Pelabuhan Sape Bima dari Senin hingga kini lumpuh total. 

Kapal dan puluhan kendaraan terpaksa mengantre menunggu aksi massa bubar. Pihak 
Angkutan Sungai, Danau, dan Pelabuhan Sape, serta aparat kepolisian masih 
kewalahan mengatur lalu lintas di sekitar pelabuhan.

Terakhir, ratusan petani dari lima desa, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya, 
yang tergabung dalam Serikat Tani Kubu Raya (STKR), menggelar demonstrasi 
menolak masuknya perkebunan sawit. Aksi digelar di halaman Markas Kepolisian 
Daerah Kalimantan Barat, Selasa.

Mereka berasal dari lima desa, yakni Desa Seruat, Dabung, Olak-olak Kubu, 
Mengkalan, dan Pelita yang tergabung dalam STKR. Petani menolak masuknya 
pengembangan perkebunan sawit oleh PT Sintang Raya karena telah merampas lahan 
pertanian dan tanah-tanah petani.

Ratusan petani itu rela menempuh perjalanan berjam-jam, yakni dari Kecamatan 
Kubu menempuh perjalanan air sekitar tiga jam dan perjalanan darat menggunakan 
lima truk dari Dermaga Rasau Jaya, kemudian menuju Mapolda Kalbar sekitar 1,5 
jam. (CR-27/Ant)


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke