http://www.kompas.com/kompas-cetak/0507/12/opini/1889404.htm

 
Tiga Cara Meruntuhkan Bangsa 

Oleh: SUDI ARIYANTO

Ada banyak pelajaran dari sebuah bangsa bernama Indonesia. Pertama, ternyata 
ada pemerintahan yang tidak nasionalis. Pemerintah kita cenderung tidak 
nasionalis. Jangankan menyejahterakan rakyat, melindungi saja tidak. Jangankan 
memakmurkan, mendidik saja tidak. Pelajaran lain, keruntuhan tidak harus karena 
agresi pihak luar, tetapi dari diri sendiri.

Penulis pernah berbincang dengan orang dari badan PBB, mengapa kita masih dalam 
krisis. No single idiot in Indonesia will die starving, katanya tetapi karakter 
khas mereka adalah tidak bekerja keras. Saya terdiam. Kini, haruskah saya 
mengirim e-mail kepadanya dan mengabarkan, Not only one, but many died starving 
due to busung lapar!

Bersyukur kita dikaruniai negeri yang subur dan kaya. Namun, mengapa bisa 
terjadi busung lapar. Mungkin ia benar, kita tidak bekerja keras. Kita lupa, 
untuk mengambil kekayaan di perut bumi pun harus bekerja keras. Begitu juga 
untuk membuat benih menjadi buah, perlu kerja keras, untuk mengolah tanah butuh 
kerja keras, untuk bersaing dengan dunia luar butuh kerja keras. Alam tidak 
akan memberikan begitu saja apa yang ada padanya tanpa kita mengulurkan tangan.

Para pemimpin selayaknya tidak hanya berkata, negara kita kaya, subur makmur, 
titik. Seharusnya perlu ditambahkan, Agar betul-betul menjadi kaya, kita harus 
bekerja keras. Dan kerja keras itu harus dimulai dari pemimpin. Mereka yang 
duduk di kursi pemimpin perlu mendengar pepatah China: Talk does not cook rice.

Sudah banyak diketahui, kemakmuran sebuah bangsa tidak bergantung pada kekayaan 
alam yang dimiliki, tetapi pada kemampuan mengorganisasi. Dari sini kita tahu, 
republik ini telah mengajarkan cara yang paling efektif untuk menghancurkan 
bangsa, yaitu mengabaikan pendidikan. Hampir setiap hari dapat dibaca berita, 
betapa parahnya pendidikan kita.

Abaikan pendidikan

Dengan SDM seperti ini, mungkinkah kita bermain aktif dalam persaingan global? 
Menyumbang perkembangan iptek dengan mayoritas tamatan SD dan SMP, bahkan 
banyak yang tidak pernah sekolah? Tentu tidak dinafikan adanya sekelompok orang 
yang memiliki kemampuan tinggi, yang mampu meraih medali dalam ajang kompetisi 
sains dunia, tetapi jumlahnya tidak banyak untuk mencapai critical mass yang 
memungkinkan upaya membangun negeri berkesinambungan.

Human Development Index, yang merupakan indikator kualitas hidup bangsa, 
menjadi bukti lain rendahnya SDM. Laporan UNDP tahun 2004 menunjukkan, 
Indonesia pada urutan ke-111 dari 177 negara. Di Asia Tenggara, Indonesia pada 
urutan keenam setelah Singapura, Brunei, Malaysia, Thailand, dan Filipina.

Data tahun 1975-2002 menunjukkan indeks meninggi, dari 0,468 menjadi 0,692. 
Namun, ternyata laju peningkatan mengecil dari 13 persen (tahun 1980) menjadi 
1,76 persen (tahun 2002). Penurunan drastis terjadi setelah tahun 1995. 
Ternyata pengabaian peningkatan kualitas hidup bangsa Indonesia, secara khusus 
pendidikan, telah terjadi sejak tahun 1980-an dan kian parah sesudah 1990-an. 
Apakah ini merupakan salah satu kontributor pemicu krisis atau kontributor 
terhadap sulitnya Indonesia keluar dari krisis?

Pendidikan membutuhkan biaya. Begitu pula pengabaian terhadapnya. Pengabaian 
ini harus dibayar lebih mahal antara lain turunnya martabat bangsa secara 
internasional, meningkatnya tingkat kriminalitas dan jumlah orang miskin, 
berkurangnya daya saing secara internasional, tersedotnya dana karena hanya 
dijadikan pasar produk negara lain, ketidakberdayaan menghadapi industri 
multinasional, dan banyak lagi.

Jika pendidikan tak diperhatikan, yang terjadi adalah kematian. Kata 
Aristoteles, �The educated differ from the uneducated as much as the living 
from the dead.� Jika anak-anak bersekolah gerimis bubar, 
jangan-janganâ?"mengutip kata seorang petinggiâ?"anak-anak nanti akan menimba 
ilmu di Timor Timur. Dulu orang Malaysia belajar di Indonesia, kini sebaliknya.

Berikan gaji rendah

Umum diketahui, rerata gaji penyelenggara negara lebih kecil daripada gaji 
orang swasta. Meski demikian, masih banyak pemimpin kita yang meminta para abdi 
negara bekerja keras. Masuk akalkah?

Menurut teori Maslow, manusia dimotivasi oleh kebutuhan yang belum terpenuhi. 
Pada level terendah adalah kebutuhan dasar fisiologi, di atasnya rasa aman, 
rasa dikasihi, rasa diakui, dan puncaknya adalah aktualisasi diri.

Pertama-tama, orang akan berupaya memenuhi kebutuhan dasar hidup sehari- hari, 
seperti sandang, pangan, dan papan, sebelum mementingkan keselamatan dan 
kebutuhan di tingkat atasnya. Buktinya, kereta listrik di Jabotabek yang 
dimuati orang hingga atap atau bis kota yang digelayuti penumpang dan melaju 
kencang di jalan raya.

Pengabaian terhadap gaji juga harus dibayar mahal, yaitu turunnya efektivitas 
birokrasi, munculnya ekonomi biaya tinggi, maraknya korupsi, lambannya 
pembangunan, buruknya kesehatan, dan sebagainya.

Sudi Ariyanto Peneliti Energi, Tinggal di Jakarta


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke