Refl:
Jangan lupa untuk juga belajar dari :
Di Jepang malah kalau terbukti membuat kesalahan, karena malu berani bunuh 
diri. Di Tiongkok ditembak mati.
Di USA, Blagojevitch, mantan gubernur Ilinois gara-gara korupsi dihukum 14 
tahun penjara ( 
http://www.huffingtonpost.com/2011/12/07/blagojevich-sentence-14-y_n_1134230.html
 )

Berapa tahun paling lama hukuman penjara bagi petinggi koruptor di NKRI?


http://www.siwalimanews.com/post/belajar_dari_jerman
Wednesday, 22 February 2012
Belajar dari Jerman
NEGERI ini terlampau sedikit menyimpan hal-hal yang baik untuk dijadikan 
panduan, sehinggauntuk hal sepele pun, kita harus belajar dari luar negeri. 
Misalnya, untuk sekadar memiliki rasa malu, kita mesti berguru ke negeri orang.

Presiden Jerman Christian Wulff mengajarkan rasa malu itu kepada kita. Wulff 
memilih mundur dari jabatan presiden pada Jumat (17/2), karena malu diguncang 
pemberitaan skandal korupsi.

Dua kesalahan yang dilakukan Wulff. Dia diduga kuat menerima fasilitas saat 
meminjam dana dari bank untuk mencicil rumahnya sebelum menjadi presiden. 
Kedua, Wulff diduga menekan harian Jerman Bild yang memberitakan skandal 
korupsinya itu.

Wulff bukanlah sosok pengecut. Dia menggelar konferensi pers di Istana 
Presiden, Berlin, bersama istrinya, Bettina. Secara tegas Wulff mengatakan 
Jerman membutuhkan presiden yang didukung publik. Namun kepercayaan itu semakin 
tergerus dan mulai mengganggu. Itulah alasan Wulff mundur.

Tentu saja Wulff bukanlah tokoh pertama yang mengundurkan diri saat duduk di 
puncak singgasana kekuasaan. Di Brasil, banyak menteri mundur karena tuduhan 
korupsi.

Sepanjang 2011 paling kurang lima menteri Brasil melepaskan jabatan karena 
diguncang skandal korupsi. Juga di Jepang dan Korea, banyak pejabat mundur 
bahkan bunuh diri karena terbelit isu korupsi.

Pengunduran diri Wulff mengajarkan moral, etika, dan rasa malu. Para pejabat 
publik mestinya memiliki standar tentang nilai-nilai yang baik dan buruk, yang 
benar dan salah. Pejabat juga harus memelihara perasaan enggan melakukan 
sesuatu yang nista. Itulah rasa malu.

Namun moral, etika, dan rasa malu para pejabat publik kita sudah lama luntur. 
Pejabat publik di sini meski sudah menjadi tersangka, terdakwa, atau bahkan 
telah divonis masuk bui karena perkara korupsi pun, enggan mundur. Jabatan dan 
kekuasaan dijadikan tameng untuk berlindung.

Skandal korupsi muncul hampir setiap hari melibatkan baik pejabat pemerintah, 
DPR, maupun hakim, jaksa, dan polisi. Ada kasus Wisma Atlet, ada perkara proyek 
Hambalang, ada skandal Bank Century, dan sejumlah kasus korupsi lain yang 
diduga melibatkan para elite negara.

Beberapa nama anggota DPR, ketua umum partai, hingga menteri sudah terus terang 
disebut dalam sidang di pengadilan. Namun, tidak seorang pun memberi contoh 
secara sukarela menanggalkan jabatannya karena malu.

Rasa malu memang sudah hilang dari para pejabat publik kita. Padahal, rasa malu 
merupakan kekuatan preventif yang membentengi seseorang melakukan tindakan hina 
seperti korupsi. Jika elite tidak lagi memiliki rasa malu, mereka mudah 
dikuasai nafsu keserakahan.

Sungguh memprihatinkan negeri ini. Sekadar rasa malu pun kita sudah tidak punya 
sehingga harus belajar dari luar. (*)


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke