Refl: Rupanya kalau wanita pakai rok mini membuat mata para anggota laki-laki 
DPR bertergoda ajakan ke alam surga dunia. Bagaimana kalau disuruh laki-laki 
anggota DPR memakai kacamata hitam, apakah bisa membantu menenangkan 
konsentrasi pikiran.


http://www.mediaindonesia.com/read/2012/03/07/303585/70/13/Rok-Mini-di-Mata-DPR


Rok Mini di Mata DPR 


Rabu, 07 Maret 2012 00:00 WIB DEWAN Perwakilan Rakyat (DPR) punya nafsu besar 
untuk memperbaiki citra mereka yang sudah terjun bebas ke titik nol. Saking 
besarnya nafsu itu, DPR mampu melihat semut di seberang lautan sehingga gajah 
di pelupuk mata mereka tidak terlihat atau pura-pura tidak terlihat. 

Lembaga tempat berkumpul para wakil rakyat itu kini getol mengatur dua hal, 
yaitu peliputan wartawan dan rok mini. Mengenai peliputan wartawan, DPR bahkan 
sudah rampung menyusun Rancangan Peraturan tentang Tata Tertib Peliputan Pers 
pada Kegiatan Dewan Perwakilan Rakyat. 

Itulah instrumen DPR untuk membatasi ruang gerak wartawan yang selama ini 
dinilai menonjolkan tabiat buruk dewan dalam pemberitaan. Aturan peliputan itu 
menuai reaksi keras sehingga untuk sementara pemberlakuannya ditunda. 

Bukan hanya wartawan yang hendak diatur DPR, melainkan juga perihal berpakaian 
staf anggota dewan. DPR membuat aturan baru, yaitu melarang staf anggota dewan 
mengenakan rok mini. 

Argumentasi di balik aturan itu ialah banyaknya pemerkosaan karena banyak 
perempuan mengenakan rok mini. Alasan yang dangkal, yang menimbulkan pertanyaan 
bumerang, mengapa anggota DPR begitu sensitif terhadap rok mini staf anggota 
dewan? Apakah dirty mind anggota DPR sudah begitu kotornya sehingga bisa 
memerkosa gara-gara rok mini? 

Semua itu membuat DPR tampak kian konyol karena lebih sibuk mengurus rok mini 
pegawai daripada memperbaiki integritas diri sendiri. Padahal, banyak benar 
kelakuan buruk anggota DPR yang harus diperbaiki. 

Contohnya, DPR yang waras mestinya malu jika ruang rapat paripurna lebih banyak 
diisi kursi kosong. Tidakkah lebih baik DPR melecut anggota DPR yang malas 
daripada mengurus rok mini? 

Contoh lain, DPR mestinya introspeksi mengapa jumlah anggota dewan yang 
digiring ke bui akibat korupsi meningkat dari tahun ke tahun. 

Contoh lain lagi, bisakah DPR mengakhiri tabiat buruk pelesir ke luar negeri 
yang dibungkus studi banding? Saat ini Komisi III DPR sedang ke Prancis dan 
Jerman dengan alasan studi banding mengenai lembaga pemberantasan korupsi 
sejenis KPK di kedua negara itu. Hasilnya akan dijadikan masukan untuk revisi 
UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK. 

KPK berharap studi banding itu bertujuan memperkuat kewenangan KPK, bukan 
sebaliknya memereteli kewenangan KPK. 

Mengapa DPR sensitif terhadap rok mini orang, tetapi tidak menyadari bahwa 
studi banding ke luar negeri itu hanya akal-akalan untuk menghambur-hamburkan 
uang negara? 

Semua itu merupakan masalah-masalah 'gajah' di depan mata yang justru tak 
terlihat. Yang tampak malah rok mini. 

Bangsa ini sangat membutuhkan lembaga perwakilan rakyat yang cerdas mencari 
akar persoalan bangsa dan negara serta cerdas pula menawarkan alternatif 
solusi. Bukan DPR yang sibuk mengurus rok mini. 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke