http://epaper.tempo.co/PUBLICATIONS/KT/KT/2012/03/29/ArticleHtmls/Pembelian-Sukhoi-Bisa-Ditunda-29032012006002.shtml?Mode=0

      Pembelian Sukhoi Bisa Ditunda  
     
      JAKARTA  

Pemerintah diminta mengubah skema kredit.

Anggota Komisi Pertahanan Dewan Perwakilan Rakyat, Helmi Fauzy, menyatakan 
Dewan tak akan mencabut tanda bintang pada mata anggaran pembelian pesawat 
Sukhoi dari Rusia. Masih nongolnya tanda bintang itu menunjukkan pembayaran 
enam unit Sukhoi Su-30MK2 dari Rusia sebesar US$ 470 juta itu terancam 
tertunda. 
“Tanda bintang tidak dicabut. 

Implikasinya, pembayarannya ditangguhkan,” kata Helmi dalam diskusi bertajuk 
“Transparansi Pengadaan Alutsista” di Jakarta kemarin. 

Menurut dia, banyak alasan yang membuat DPR menangguhkan pembayaran meskipun 
kontrak pembeliannya sudah ditandatangani November tahun lalu. 

Salah satunya, skema pembayaran yang seharusnya menggunakan skema kredit negara 
(state loan), bukan dengan kredit ekspor yang lebih mahal. 

Helmi mengatakan dalam rapat kerja Menteri Pertahanan dengan Komisi Pertahanan, 
Senin lalu, Dewan sudah meminta pemerintah mengubah skema pembayaran 
tersebut.“Setelah kami baca perjanjiannya, list barang-barang yang dibeli ini 
terbuka peluang state loan. Sekarang kami tunggu niat baik pemerintah,”ujarnya. 

Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini mengatakan skema kredit 
negara lebih menguntungkan bagi Indonesia. 

Alasannya, beban bunga state loan lebih murah dan waktu pengembalian pinjaman 
pun lebih panjang.“Ini juga memastikan tidak ada broker. Kerja sama G to G 
(antarpemerintah),”kata dia. 

Selain itu, ia menilai, penangguhan pembayaran perlu dilakukan karena prosesnya 
tidak transparan dan tiba-tiba. Padahal, sesuai dengan undang-undang, DPR 
seharusnya dilibatkan dalam pembahasan pengadaan alutsista karena hak budget 
ada pada DPR.“Kami tidak tahu sudah tanda tangan kontrak. Kami juga tidak 
diberi akses informasi hingga satuan tiga, spesifikasinya, jenis ukuran, dan 
sebagainya, dari barang dan jasa yang dibeli,” ujarnya. 

Wakil Koordinator Indonesia Corruption Watch Adnan Topan sepakat pembelian 
Sukhoi sebaiknya menggunakan state credit karena alasan-alasan tersebut. 

Selain itu, pihaknya menemukan ketidakwajaran anggaran dalam pengadaan Sukhoi 
yang terkesan sangat tertutup kali ini. 

Menurut dia, informasi dari Kementerian Pertahanan sangat terbatas. Namun 
pihaknya berani menyebutkan ada ketidakwajaran berdasarkan hitungan kasar 
dengan membandingkannya dengan pembelian Sukhoi pada tahun-tahun sebelumnya. 
Harga Sukhoi kali ini mencapai US$ 54,8 juta per unit, lebih mahal dibanding 
harga pada 2003 (US$ 41,5 juta) dan 2006 (US$ 45,5 juta). 

Anggota Komisi Pertahanan dari Fraksi Partai Demokrat, Edhie Baskoro Yudhoyono, 
menilai proses pengadaan Sukhoi sudah cukup transparan. Menurut dia, pemerintah 
semakin taat prosedur dalam pengadaan alutsista. Misalnya, dengan adanya Komite 
Tingkat Tinggi (HLC) yang terus memberi penjelasan detail ke DPR. 
“Saya kira ini patut diapresiasi karena transparansi pengadaan alutsista kini 
jauh lebih baik dari pemerintahan sebelumnya,” ujar Ibas dalam siaran persnya. 

Sebelumnya, Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin membantah harga Sukhoi 
digelembungkan. Menurut dia, awalnya pihak Rusia yang diwakili JSC 
Rosoboronexport menawarkan harga US$ 55,9 juta per unit, dan naik menjadi US$ 
59 juta untuk pengiriman 2013 karena alasan inflasi. Namun pemerintah menolak 
karena tak lazim dua harga untuk satu barang. “Akhirnya disepakati harga US$ 
54,8 juta per unit.”● MUNAWWAROH | ISTMAN MP | AGUSSUP


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke