Refl: Mereka yang dibebaskan adalah  sesama sahabat bin kawan penguasa, jadi 
patut para hakim mendapat kenaikan gaji. 

http://www.analisadaily.com/news/read/2012/04/14/45540/tuntunan_kenaikan_gaji_hakim_di_tengah_vonis_bebas_koruptor/


Sabtu, 14 Apr 2012 00:05 WIB

Tuntunan Kenaikan Gaji Hakim di Tengah Vonis Bebas Koruptor
Oleh : Zani Afoh Saragih, SH, M.Hum. 

Sejumlah hakim daerah (28 orang) menemui Komisi Yudisial untuk membicarakan 
kesejahteraan hakim. Bahkan beberapa hakim ini mengatakan mereka adalah pejabat 
negara, maka segala hak yang melekat dalam diri pejabat negara harus diberikan 
agar mereka punya kinerja yang bagus. Tuntutan kesejahteraan hakim ini tentu 
menjadi sebuah dilema ditengah perilaku hakim dan semua aparat hukum dalam 
sorotan. Apakah etis hakim menuntut kenaikan gaji sebagai upaya mensejahterakan 
dirinya ditengah supremasi hukum kita yang sedang hanucr-hancuran?
Kalaulah hakim menuntut kesejehteraan dalam bentuk perbaikan gaji, fasilitas 
dan segala bentuk lainnya sebagai pejabat negara, itu merupakan aspirasi 
mereka. Masalahnya adalah, mengapa mereka tidak lebih dulu menunjukkan kinerja 
dulu dan integritas sebagai penegak hukum baru menaikkan gaji. Secara umum di 
mata masyarakat hakim punya citra buruk dan track record yang tidak baik juga. 
Banyak perkara-perkara yang ditangani oleh hakim tidak mencerminkan keadilan 
masyarakat.

Bagi pencari keadilan di negara ini berhubungan dengan hakim sesuatu yang 
sangat sulit. Sebagai contoh, hakim-hakim Tipikor di daerah banyak yang 
memberikan vonis bebas kepada koruptor. Sementara korupsi sudah dikonsep dengan 
definisi yang sangat jelas, yakni "kejahatan kemanusiaan". Padahal kejahatan 
kemanusiaan punya efek destruktif yang sangat bagi kehidupan masyarakat. 
Korupsi membuat kualitas pembangunan rendah. Korupsi membuat mental bangsa ini 
rusak. Korupsi membuat anggaran pembangunan nihil, dan korupsi menghancurkan 
segala sendi kehidupan bangsa.

Perilaku dan watak korupsi ini perlu dibasmi agar tidak menjadi sesuatu yang 
ganas dan membuat bangsa ini rapuh. Korupsi ikut mendorong bangsa kita menajdi 
bangsa yang sangat lemah. Di segala lini kita sudah diketahui korupsi. 
Departemen Agama yang seharusnya menjadi benteng moral bisa masuk Departemen 
yang korup. Ini sungguh tidak masuk akal.

Tetapi jika kasus korupsi sudah dimajukan ke pengadilan. Hukuman bagi koruptor 
oleh hakim sungguh tidak masuk akal. Hakim seolah –olah tidak peduli bahwa 
putusan yang dia buat tidak akan pernah membuat jera pejabat dan DPR misalnya 
dalam melakukan korupsi.

Tatkala citra hakim sedang dalam sorotan publik, muncul sebuah aspirasi yang 
tidak elegan menurut penulis. Mereka menuntut kesejahteraan supaya mereka bisa 
maksimal dalam bekerja. Kembali kepada topik yang sangat esensial, apakah etis 
menuntut kenaikan gaji ketika negara dalam sekarat? Dimana banyak masyarakat 
hidup dalam kemiskinan. Sementara vonis yang diberikan hakim tidak berkorelasi 
positif dalam membangun bangsa ini.

Sebagai benteng terakhir pencari keadilan seharusnya hakim harus berjuang 
bagaimana keadilan dalam masyarakat bisa tercipta. Ini tidak hakim banyak yang 
menerima suap. Akibatnya muncul vonis bebas dan vonis ringan yang membuat awan 
kelabu dalam penegakan hukum di negara kita. Kalau kita melihat kondisi 
masyarakat kita dewasa ini banyak yang tidak makan, putus sekolah, jatuh sakit 
karena tekanan ekonomi. Mengapa hakim tidak menjaga perasaan dan psikologis 
orang miskin sebagai rasa peduli kepada sesama warga negara?

Di daerah pedalaman, anak-anaka bisa berjalan sekolah sampai 10 kilometer 
karena jalan rusak. Mereka belajar di tikar karena minim fasilitas. Banyak 
balita kekurangan gizi karena sulitnya mencari pekerjaan. Artinya masyarakat 
butuh perhatian serius untuk ditangani bagaimana supaya mereka keluar dari 
persoalan yang mereka hadapi. Untuk itu, hakim harus tahu diri dan jangan 
sembarangan membuat tuntutan.

Para hakim hakim ini harus instropeksi dulu sebelum membuat keputusan. 
Seharusnya hakim melakukan evaluasi diri terlebih dahulu apakah mereka sudah 
dapat dibilang seorang hakim yang sebanrnya menjaga keadilan dan kebenaran di 
negara ini? Arah pembangunan hukum negara kita makin kabur. Hukum kita rusak 
karena putusan hakim yang tidak bermartabat. Seharusnya supremasi hukum adalah 
jaminan untuk pembangunan ekonomi, pembangunan pendidikan, dan pembangunan 
sosial budaya. Tanpa supremasi hukum yang tidak tegas appaun tidak akan bisa 
kita raih.

Negara butuh aturan yang tegas untuk keberlangsungan hidupnya kedepan. Visi 
bernegara yang jauh kedepan harus dibarengi dengan hukum dan perangkat aturan 
yang tegas pula. Untuk itu hakim harus membuat terobosan dengan memvonis para 
koruptor seberat-beratnya. Memvonis koruptor dengan berat berarti menyelamatkan 
negara ini dari ancaman kebangkrutan karena koruptor. Koruptor adalah musuh 
rakyat yang harus dihentikan pergerakannya.

Memang kesejahteraan hakim sangat penting agar mereka mampu bekerja dengan 
bagus dan menjaga integritas. Tetapi itu bukan jaminan. Pengalaman Gayus HP 
Tambunan dan Dhana Widyatmika pegawai Depkeu membuktikan bahwa gaji besar akan 
membuat moral makin rusak karena gaya hidup makin mewah pula. Ini harus menjadi 
pengalaman bagi hakim. Kinerja dulu ditingkatkan maka apapun yang mereka minta 
nantinya pada akhirnya rakyat tidak protes, bahkan mendukung.

Kalau hakim bekerja dengan bagus maka masyarakat sebagai pencari keadilan akan 
mendukung kesejahteraan hakim. Sebaliknya, jika vonis bebas koruptor masih 
muncul maka tuntutan kesejahteraan hakim itu ditolak oleh masyarakat karena 
tidak layak dan tidak etis. Jadi, tuntutan kenaikan kesejahteraan hakim saat 
ini momentumnya tidak tepat dan kurang etis rasanya.

Bagaimana masyarakat miskin yang terus bertahan dari penderitaannya harus 
menjadi masukan bagi hakim. Sekali lagi, tuntutan kenaikan kesejahteraan oleh 
hakim saat ini merupakan sebuah lelucon yang tidak lucu, terlebih banyaknya 
vonis bebas koruptor yang dilakukan hakim-hakim kita.***

Penulis adalah: Advocaat di Kota Medan/Alumni S2 USU Medan.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke