http://epaper.tempo.co/PUBLICATIONS/KT/KT/2012/05/21/ArticleHtmls/Wanita-dan-Kebangkitan-Asia-21052012011003.shtml?Mode=0


      Wanita dan Kebangkitan Asia  
      Vishakha N. Desai dan Astrid S. Tuminez 

                       
                  Mata setiap orang sekarang terM curah pada kebangkitan Asia. 
                  Cina, yang dulu diremehkan sebagai negeri yang miskin dan 
terbelakang, sekarang merupakan ekonomi kedua terbesar di dunia.
                  India, dengan jumlah penduduknya yang besar, keunggulan 
ilmiah, dan gairah kewiraswastaannya, merupakan mesin pertumbuhan Asia lainnya. 
Tambahkan semua ini dengan jago-jago ekonomi Jepang dan Korea Selatan, serta 
dinamisme Asia Tenggara, maka tampaklah gambaran meningkatnya kekayaan, 
kepercayaan diri, dan kepemimpinan.

                  Namun tidak banyak wanita di Asia yang berhasil mencapai 
puncak kepemimpinan. Norma-norma sosial memberikan nilai yang rendah kepada 
wanita. Di Cina dan India saja, setiap tahun aborsi seleksi gender 
mengakibatkan gugurnya kelahiran 1,3 juta bayi perempuan. Tapi, bagaimanapun, 
wanita telah ikut memetik manfaat dari pembangunan ekonomi Asia.
                  Menurut Global Gender Gap Report 2001 yang diterbitkan World 
Economic Forum, meningkatnya kemakmuran telah menciutkan ketidaksetaraan gender 
di banyak negara. Wanita telah meraih kemajuan dalam bidang kesehatan, peluang 
ekonomi, dan pemberdayaan politik, yang bisa mereka gunakan untuk mengangkat 
diri mereka ke jenjang kepemimpinan di masa depan.

                  Lagi pula, faktor keluarga dan dinasti telah membantu 
menempatkan wanita pada posisi-posisi politik yang paling tinggi. Lebih banyak 
wanita di Asia menempati kedudukan sebagai kepala negara daripada di kawasan 
lain mana pun di dunia, yang beserta keberhasilan ekonominya telah mencetuskan 
dorongan di beberapa negara di kawasan ini untuk mengubah persepsi mereka 
mengenai peran, status, dan kemampuan wanita.

                  Data indikator kepemimpinan wanita di Asia, walaupun 
terbatas, menunjukkan Filipina, Australia, dan Selandia Baru konsisten berada 
di tempat teratas.
                  Dengan tambahan parameter ekonomi dan jabatan--seperti wanita 
pada posisi manajemen senior, tingkat promosi, remunerasi, dan kesetaraan 
upah--ketiga negara ini diikuti Singapura, Mongolia, Thailand, dan Malaysia.

                  Walaupun Asia Selatan berada paling bawah dalam kesetaraan 
gender dan pencapaian oleh wanita secara keseluruhan, tiga dari lima negara 
paling atas dalam memberdayakan wanita (Sri Lanka, Bangladesh, dan India) 
terdapat di kawasan ini. Negara-negara di Asia Selatan juga memimpin dalam 
jumlah wanita sebagai anggota parlemen (Nepal dan Pakistan); menteri wanita 
(Bangladesh); dan pemimpin-pemimpin wanita di tingkat pemerintahan daerah 
(India, Pakistan, dan Bangladesh).

                  Tapi naiknya wanita ke jenjang kepemimpinan karena koneksi 
keluarga dan dinasti tidaklah menunjukkan kesetaraan gender yang nyata. Dan 
walaupun affirmative action telah pula meningkatkan dengan signifikan 
keterwakilan politik wanita, kepemimpinan politik yang terbatas ini masih harus 
diwujudkan dalam sesuatu yang benar-benar menguntungkan wanita pada umumnya.

                  Lagi pula, walaupun pembangunan telah membawa manfaat bagi 
wanita, hubungan antara pembangunan manusia dan kepemimpinan wanita secara 
langsung tidak terwujud secara proporsional.
                  Beberapa ekonomi Asia yang telah mencapai tingkat pembangunan 
manusia yang paling tinggi, seperti Jepang dan Korea Selatan, termasuk di 
antara negara-negara yang paling rendah dalam menempatkan wanita pada posisi 
manajemen senior dan dalam kesetaraan upah, remunerasi, serta pemberdayaan 
politik. Singapura dan Hong Kong juga menunjukkan kesenjangan gender yang 
signifikan dalam kepemimpinan, kendati pencapaian pembangunan manusia yang 
tinggi di dua negara ini.

                  Di Asia, banyak wanita--70 persen di Jepang, 53 persen di 
Cina, dan 46 persen di Singapura--tidak berhasil beranjak dari posisi manajemen 
menengah ke manajemen senior. Wanita perlu dukungan yang lebih sistematis dalam 
mengejar karier ke puncak kepemimpinan tanpa menanggalkan peran mereka sebagai 
ibu dan pengasuh anak. Perbaikan dan kemajuan yang berarti diperlukan dalam 
bidang pendidikan keluarga, cuti orang tua, perawatan anak, dan perawatan orang 
tua serta skema pensiun yang lebih menekankan kesetaraan gender.

                  Pada akhirnya, norma-norma sosial dan budaya yang 
berurat-berakar masih merupakan rintangan yang paling sulit disingkirkan menuju 
naiknya kepemimpinan wanita di Asia. Suatu gerakan yang meluas diperlukan untuk 
mendidik masyarakat, mengubah penilaian dan persepsi mengenai wanita, serta 
memberikan kepada wanita suara yang lebih setara-setidak-tidaknya di dalam 
rumah dan di muka umum--guna memperlancar transisi menuju peran kepemimpinan 
tersebut.

                  Tapi pendidikan hanyalah sebagian dari solusi yang 
dikehendaki. Program affirmative action bisa mempercepat keterwakilan wanita 
dalam kepemimpinan, tapi diperlukan waktu untuk mengubah norma-norma sosial 
yang sudah berurat-berakar itu.
                  Namun, dengan berjalannya waktu, terbiasanya masyarakat akan 
kepemimpinan wanita pada tingkat lokal bisa mengurangi bias dan meningkatkan 
aspirasi serta pencapaian wanita-wanita muda di bidang pendidikan seperti yang 
terjadi di India.

                  Pemerintah, terutama Cina dan India, bisa meningkatkan upaya 
mengakhiri seleksi gender. Diperlukan lebih banyak undang-undang--dan 
penegakannya yang ketat--untuk mengurangi kekerasan rumah tangga terhadap 
wanita, dan untuk meningkatkan bargaining power wanita melalui hak milik yang 
lebih luas, akses memperoleh layanan hukum dan layanan lainnya, serta kebebasan 
yang lebih besar untuk memutuskan perkawinan.

                  Tapi ada alasan untuk merasa optimistis: di Pakistan dan 
Indonesia, contoh-con toh yang menggembirakan menunjukkan betapa kemitraan 
antara polisi, kelompok wanita, lembaga bantuan hukum, dan lembaga swadaya 
masyarakat bisa memperkuat suara wanita dan dengan demikian potensi mereka 
untuk memberikan sumbangan yang lebih besar kepada masyarakat.

                  Selanjutnya, pemerintah-pemerintah di Asia bisa mendorong 
kepemimpinan wanita pada dua bidang kegiatan ekonomi di mana wanita sudah 
memainkan peran yang sangat menonjol, yaitu pertanian dan usaha mandiri.Yang 
pasti, produktivitas dan skala di kedua bidang ini rendah, dan wanita terpaksa 
melakukan pekerjaan ini karena terbelenggu kemiskinan. Tapi pemerintah harus 
menangkap peluang memberlakukan kebijakan yang memberikan kepada wanita di 
sektor-sektor ini akses yang lebih besar untuk memperoleh modal, pelatihan 
keterampilan (misalnya dalam perencanaan anggaran dan keuangan), teknologi, dan 
jejaring.

                  Pembangunan ekonom terkait positif satu sama lain dengan 
kesetaraan gender. Tapi, seperti tercatat dalam World Development Report 2012 
yang diterbitkan Bank Dunia, kesetaraan gender merupakan suatu nilai 
tersendiri, bukan cuma instrumen pertumbuhan ekonomi dan efisiensi. Sementara 
Bank Dunia menyoroti kemajuan yang dicapai wanita dalam bidang pendidikan, 
harapan hidup, dan partisipasi dalam tenaga kerja, ia juga menggambarkan 
masalah yang tetap ada, termasuk tingkat kematian anak perempuan dan wanita 
yang berlebihan di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah, disparitas 
di bidang pendidikan, peluang ekonomi yang tidak merata, serta ketidaksetaraan 
otoritas di dalam dan di luar rumah.

                  Sejak lahir, anak-anak perempuan di Asia menghadapi rintangan 
yang berarti dalam mewujudkan potensi diri mereka-terutama potensi mereka untuk 
mencapai jenjang kepemimpinan. Sudah waktunya rintangan-rintangan ini 
disingkirkan.
                  Memberdayakan wanita di Asia bakal membawa manfaat kepada 
mereka dan memperkaya seluruh kawasan ini.

                  HAK CIPTA: PROJECT SYNDICATE, 2012.

                  *) Astrid S. Tuminez: Wakil Dekan (Riset) Lee Kuan Yew School 
of Public Policy, National University of Singapore; Vishakha N. Desai: Presiden 
Asia Society. Mereka baru saja merilis laporan Rising to the Top? A Report on 
Women's Leadership in Asia 
                 
           
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke