Ref: Saya kira kalau orang yang banyak hutangnya akan sulit bergerak leluasa 
semaunya, karena pendapatannya terbatas dan dikekam oleh hutang yang dipukul. 
Mungkin sekali masalahnya berlaku bagi negara yang banyak hutangnya, apalagi 
rezim berkuasanya terdiri dari kaum maling dan tukang copet, jadi kalau begitu 
misalnya penguasa rezim NKRI berkaok-kaok pembangunan, entah pembangunan apa, 
dimana dan untuk yang diperuntukan. Jelas halnya ialah para pemberi pinjaman 
akan menuntut fasilitas-fasilitas yang memberikan mereka posisi lebih kuat dari 
peminjam. Bukankah begitu situasinya? 

Bagaimana pendapat Anda tentang hutang yang bertumpuk-tumpuk ini?


http://www.harianterbit.com/artikel/fokus/artikel.php?aid=151069


Utang kita Rp2.200.000.000.000.000
      Tanggal :  21 May 2012 
      Sumber :  Harian Terbit 

JAKARTA - Utang luar negeri terus menggunung lebih dari 200 miliar dolar 
Amerika Serikat. Anehnya, utang negara begitu gede, tetapi rakyatnya semakin 
miskin.

Pengamat ekonomi MRI Research M. Rizal Ismail, mengatakan kondisi utang luar 
negeri Indonesia sangat memprihatinkan kelangsungan bangsa Indonesia. Bahkan 
telah menunjukan pada titik rawan karena sudah tergantung kepada luar negeri. 
"Pemerintah dan Presiden SBY sudah mengeluarkan kebijakan yang salah dengan 
cara utang keluar negeri,"kata Rizal kepada Harian Terbit, Senin (21/5).

Bahkan, katanya, pemerintah telah mengajarkan hidup konsumtif kepada rakyatnya 
de-ngan jalan-jalan keluar negeri atau selalu menawarkan produk luar negeri. 
Banyak barang-barang impor dari luar negeri masuk ke Indonesia.

"Jika sudah banyak barang yang masuk, tentu saja menimbulkan keinginan 
masyarakat untuk berbelanja. Namun sayangnya, kemampuan rakyat untuk membeli 
barang-barang sangat minim, sehingga mengharuskan untuk utang. Utang rakyat 
makin menumpuk, utang pemerintah ke luar negeri pun semakin banyak," tegasnya.

Sayangnya lagi, menurut Rizal, utang luar negeri itu disinyalir dikorupsi oleh 
pejabat-pejabat negara lewat proyek APBN dan APBD. Sepertinya, para 
menteri-menteri yang sekarang merupakan titipan luar negeri, sehingga Indonesia 
telah dikendalikan oleh negara barat.

"Rakyat saat ini merasa tidak mempunyai pemimpin. Mereka merasa hidup sendiri. 
Sengsara sendiri, semakin banyak yang miskin. Keinginan rakyat tak pernah 
dipenuhi oleh pemerintah dan bahkan para elit politik telah memperkaya diri 
sendiri, keluarganya dan kepentingan diri sendiri," ucapnya.


Pertumbuhan ekonomi

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), katanya, pada 2006 total utang luar 
negeri Indonesia sebesar 132,63 miliar dolar AS. Sedangkan pada 2011 telah 
menjadi 221,60 miliar dolar AS atau sekitar Rp2,2 biliun. Utang luar negeri 
pada 2011 didominasi oleh utang luar negeri dari pemerintah dan bank sentral 
yang berjumlah 119,56 miliar dolar AS. Sementara utang swasta sebesar 102,04 
miliar dolar AS.

Menurutnya, besarnya jumlah utang pemerintah tersebut ternyata tidak 
menunjukkan korelasi signifikan terhadap kualitas pertumbuhan ekonomi. 
Indikatornnya ditunjukkan oleh perbaikan kualitas pelayanan dasar kepada 
masyarakat, seperti ketersediaan infrastruktur (energi dan transportasi), 
pendidikan maupun kesehatan.

Posisi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia masih juga lebih rendah 
dibanding Thailand dan Malaysia. Begitu juga dengan daya saing dan kemudahan 
melakukan usaha (doing business) yang juga masih lebih rendah dibanding 
negara-negara tersebut.

"Salah satu penyebabnya, karena utang luar negeri Indonesia kebanyakan 
dipergunakan untuk sektor keuangan diban-ding untuk sektor ekonomi riil," 
tandasnya.

Sementara itu menurut anggota Komisi XI DPR Arif Budimanta kebijakan utang luar 
negeri pemerintah saat ini dinilai dalam posisi rawan. Terutama di tengah 
kondisi ancaman menghadapi krisis keuangan global.

Menurut dia, sudah saatnya pemerintah melakukan perubahan fundamental pada 
kebijakan utang. Hal ini harus dilakukan secara keselurahan yang dapat dimulai 
dari proses penyusunan nota keuangan pada rancangan anggaran pendapatan dan 
belanja negara (RAPBN) 2013. (junaedi/aw

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke