Pertumbuhan Ekonomi dan Kecerdasan``` (Satu catatan kritis Ws 7/7/12)

Pemerintahan Indonesia, di tahun 2012 menyatakan bahwa Indonesia mengalami 
pertumbuhan ekonomi yang cukup baik. Pemerintahan Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono menunjukan angka-angka statistik (meski angka di atas kertas belum 
tentu mencerminkan realitas, karena ini tergantung dari methodologi pengumpulan 
data, dan pengolahan data) terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup 
mengesankan di banding Eropa maupun Amerika yang sedang krisis.

Namun di sisi lain, menurut penelitian Richard Lynn dan Van Hanen, bahwasanya 
kesejahteraan dan ekonomi sangat berkaitan dengan kecerdasan IQ. Dari 
penelitian Richard Lynn dan Tatu Van Hanen, menunjukan bahwa di negara-negara 
makmur, biasanya disertai IQ rata-rata masyarakat yang cukup tinggi, sehingga 
bisa ditarik suatu kesimpulan bahwa IQ dan kesejahteraan mempunyai korelasi 
cukup kuat, namun tentu saja faktor-faktor anomali tidak bisa diabaikan.

Negara-negara kaya minyak, atau raw material yang berupa energy, rata-rata bisa 
dikatakan sebagai negara yang cukup makmur tanpa masyarakatnya disertai dengan 
IQ yang cukup tinggi. Ini hanya sebagai contoh suatu anomali saja.

Namun didalam negara-negara industry dan ekonomi kreatif inovative, maka 
kemakmuran mereka yang berbasiskan ekonomi kreatif tak pelak didasari oleh IQ 
masyarakatnya yang cukup tinggi. Sebagai contoh negara yang ekonominya makmur 
berbasis ekonomi kreatif innovative bisa dilihat di negara-negara Skandinavia.

***

Melihat fakta demikian, bahwa statemen pemerintah saat ini menyatakan 
bahwasanya ekonomi Indonesia tumbuh, namun apabila pertumbuhan ekonomi tidak 
disertai dengan pertumbuhan kecerdasan masyarakat, maka perlu kita pertanyakan 
ekonomi model atau jenis apa yang sedang tumbuh dan berkembang di Indonesia?

Mari kita terbang sebentar ke masa lalu.
Di jaman VOC, ekonomi Dutch East Indies (sekarang disebut dengan Indonesia) 
boleh dikatakan sebagai suatu ekonomi yang cukup maju. Namun ekonomi yang 
dibangun oleh pemerintahan Dutch East Indies merupakan ekonomi model kolonial. 
Penduduk setempat atau penduduk pribumi mempunyai kecerdasan rendah, namun 
ekonomi di Dutch East Indies di jaman VOC dan juga di tahun 1930 merupakan 
ekonomi yang cukup maju, bahkan menurut data statistik, ekonomi di tahun 1930 
tidak bisa disamai sama sekali oleh pemerintahan Soekarno, dan baru bisa 
disamai oleh pemerintahan Soeharto di era 1974-an.

Dengan demikian, melihat contoh diatas, kemajuan ekonomi tanpa disertai dengan 
kemajuan kecerdasan masyarakatnya, maka perlu kita pertanyakan secara kritis, 
ekonomi model apakah yang sedang berkembang/maju? (apakah ekonomi sistem 
kolonial/imperialisme baru dari bangsa sendiri?)

Selain itu juga patut kita pertanyakan dan detailkan, misal di sektor mana 
kemajuan ekonomi Indonesia (raw material?), dan pihak-pihak/golongan mana yang 
mengalami dan menikmati kemajuan ekonomi Indonesia yang cukup baik/pesat?


++++++

Kecerdasan dan Wilayah subur

Mitos para founding fathers, Ir. Soekarno dan juga Tan Malaka, selalu 
menggembar-gemborkan tentang kemakmuran wilayah Indonesia. Yang mereka 
banggakan dan agitasi-kan adalah wilayah Indonesia yang subur dan makmur. 
Sebenarnya, Dutch East Indies terlihat subur dan makmur setelah Belanda 
melakukan penelitian atau research bahwa Dutch East Indies ini tepat untuk 
dibangun ekonomi model apa di abad 16-17-an. Dari catatan sejarah, telah 
menunjukan bahwa perkebunan kopi, teh, tebu, ini semua adalah inisiasi dari 
research Belanda untuk memonopoli dan dipasarkan ke eropa sebagai komoditi 
utama. Sebelum kedatangan Belanda, kerajaan-kerajaan nusantara tidak mempunyai 
komoditas dan industry terutama teh, kopi, tebu, dlsb, dan bisa memasarkannya 
ke eropa.

Jadi , setelah Belanda menginisiasi industry dan perkebunan teh, kopi, tebu, 
dlsb, dan mampu memasarkan ke Eropa dan menghasilkan keuntungan ekonomi yang 
banyak, maka kita bisa menarik kesimpulan bahwa tanah Dutch East Indies adalah 
tanah yang sangat potensial bagi ekonomi Raw Material/bahan mentah.
(****)

Tanah subur, tanpa disertai dengan kecerdasan manusia, saya kira adalah 
bencana. Sejarah telah menunjukan hal ini. Ketidakmampuan manusia-manusia di 
Indonesia dalam mengelola wilayahnya, akhirnya dimanfaatkan oleh pihak-pihak 
asing yang hanya memiliki bekal kecerdasan. Untuk itulah, saya pikir, sejarah 
kolonialisme Belanda hingga saat ini sebenarnya tidak berubah sama sekali, 
yaitu orang asing yang memanfaatkan dan mengelola potensi raw material Dutch 
East Indies (Indonesia)

di sisi lain, kecerdasan tanpa kekayaan alam/raw material, tetap akan mampu 
membawa kemakmuran. Ini juga dikuatkan oleh survey Richard Lynn dan Tatu Van 
Hanen.

Western atau orang Eropa, datang ke wilayah Amerika dan juga Australia, 
termasuk ke Afrika Selatan. Wilayah itu sebelum didatangi orang western saya 
kira juga bukan wilayah yang nyaman atau produktif. Namun expansi orang-orang 
western terjadi setelah era Aufklarung atau Renaissance, dimana pada era itu 
intelektualitas dijunjung tinggi dan agama dipinggirkan/di-sekulerkan. Dengan 
kemampuan intelektualitasnya, orang-orang Western mampu mengubah 
wilayah-wilayah seperti Amerika, Australia, maupun Afrika Selatan menjadi 
wilayah yang produktif dan mengalami kemajuan ekonomi.

Contoh extreme lagi adalah kaum Jewish (saya cukup mengenal tradisi dan pola 
pikir kaum jewish). Kaum Jewish setelah terusir dari wilayahnya di daerah yang 
sekarang disebut sebagai Israel, mereka terusir oleh kaum moslem, kemudian 
mereka mayoritas ber-diaspora ke wilayah Russia, dan kemudian dari wilayah 
Russia mereka ber-diaspora lagi, rata-rata ke Amerika. Namun sebenarnya di 
Russia ada satu wilayah khusus yang dibuatkan oleh pemerintahan Joseph Stalin 
thd kaum Russian Jewish, yaitu Jewish Autonomous Oblast.

Saya melihat kaum jewish ini dengan tradisi, budaya, dan pola-pikir/mindset 
mereka, mereka kaum yang mempunyai daya survival sangat tinggi (ini dibuktikan 
ketika mereka dikejar-kejar Adolf Hitler dan lari ke Russia dalam suhu yang 
sangat dingin), mereka mampu menjadi kaum yang sukses di negara mana saja 
mereka tinggal (Amerika, Russia, Jerman, Belanda, Portugal, dan dimanapun 
mereka berada). Kaum Jewish dengan kecerdasannya tidak memerlukan wilayah yang 
subur dan nyaman, namun mereka adalah kaum yang dengan kemampuan 
intelektualitasnya, mampu menyulap segalanya menjadi wilayah yang produktif.

Konsep kaum jewish sangat berbeda sekali dengan konsep Ir. Soekarno dan Tan 
Malaka yang membanggakan wilayah/tanah subur sebagai methode produksi ekonomi 
manusia.

Kaum Jewish mengandalkan intelektualitas dan akal mereka untuk memproduksi 
advance ekonomi di wilayah negara mana saja, mereka mempunyai philosophy 
internasionalisme-kosmopolitianisme (hal yang sama juga dianut oleh kaum China 
Tiongkok), dimanapun, dimuka bumi adalah tempat bagi seluruh umat manusia tanpa 
terkotak-kotak wilayah, sedangkan konsep dan mitos Ir. Soekarno dan Tan Malaka 
membanggakan tanah subur sebagai sumber ekonomi manusia.

Saya kira, kaum Jewish ini mau ditaruh/diaspora ke planet Mars, dan Bulan-pun, 
mereka akan mampu membuat Mars dan Bulan menjadi wilayah yang sangat produktif 
:-)

Mungkin pertanyaan kritisnya adalah sebagai berikut: Mengapa kaum jewish 
memiliki intelektualitas diatas rata-rata, dan mereka mampu menguasai wilayah 
dimanapun mereka tinggal? Apakah kaum Jewish ditinggikan derajadnya oleh Tuhan 
Allah.

Albert Einstein, yang juga jewish pernah mengatakan, (terjemahan bebas) pada 
dasarnya tidak ada perbedaan antara Jewish dan bangsa lainnya,

namun saya pikir, yang membedakan antara kaum jewish dan bangsa lainnya adalah 
budaya/tradisi dan mindset/pola pikir mereka...

^^^^^

Didalam membangun sebuah ekonomi yang mempunyai sustainability panjang, dan 
mempunyai prinsip utama social justice, saya rasa kita bisa bercermin ke 
negara-negara Skandinavia. Penduduk negeri Skandinavia sangat sekuler, liberal, 
dan mempunyai kecerdasan rata-rata yang cukup tinggi. Untuk itu, dari melihat 
data, fakta dan analisa terhadap sejarah past dan present, maka saya punya 
kesimpulan/ide/gagasan, untuk membangun ekonomi yang ber-sustainability 
panjang, stabil, kuat, berkesinambungan, dan ber-prinsip social justice, maka 
syarat mutlaknya adalah mencerdaskan masyarakatnya terlebih dahulu, sehingga 
secara philosophy, ekonomi maju yang ideal, adalah hasil/konsekuensi/akibat 
dari sebuah masyarakat cerdas.


Conclusion: Mungkin ada pertanyaan kritis lanjutan.

1. Manusia, pada dasarnya adalah mahluk ekonomi. 2. Ekonomi yang 
sustainability-nya panjang tentu ekonomi yang berdasarkan aset SDM (sumber daya 
manusia). Kekayaan alam, atau kesuburan wilayah bisa berubah atau bisa cepat 
habis, kecerdasan manusia-pun bisa mengalami perubahan akibat perubahan 
alam/materi, tapi bagaimanapun, kecerdasan manusia-lah yang sebenarnya menjadi 
aset terbesar dan terbaik didalam pengembangan ekonomi yang berkesinambungan, 
sustainability-nya cukup kuat, dan juga memenuhi prinsip social justice. 3. 
Untuk membangun manusia cerdas, saat ini ilmuwan mendefinisikan bahwa peran 
genetika/nature dan kebudayaan/nurture sangat krusial dan essensial. Untuk itu, 
didalam visi dan misi membangun masyarakat cerdas, maka harus ada suatu program 
berkesinambungan untuk memperbaiki secara terus menerus/berkesinambungan 
terhadap genetika dan kebudayaan manusia. Perbaikan genetika bisa dibangun 
dengan material gizi, sedangkan kebudayaan manusia untuk improve kecerdasan 
manusia, bisa dibangun dengan salah satunya melalui kebudayaan yang berbasis 
ilmu pengetahuan, seperti kebudayaan lama Ancient Greek yang juga meninggalkan 
jejak reruntuhan bangunan-bangunan yang canggih dan ber-estetika tinggi.

!!!Ws~~


7/7/12



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke