itu dia, kesimpulan wawan terlalu mudah dipatahkan. 
kalo pake teori dia jadi kebanyakan anomali, termasu liem sioe liong 
pasti dibilang anomali juga. 

--- In [email protected], "pinpinyuliansyah" <pinpinyuliansyah@...> 
wrote:
>
> Pak haji temen saya, maaf-maaf, pendidikannya nddak lulus SD. Kagak ngarti 
> komputer, kagak tahu apa itu "enter". Mengawali karier sebagai tukang minyak 
> keliling, hari ini mobil elf nya lebih dari 25 biji. Tanahnya hektaran, 
> kemana-mana naek Pajero :-)
> 
> Bicara tentang kecerdasan yang -- konon --  tegak lurus dengan kemakmuran, 
> itu si henry Ford pernah dihadapkan ke muka pengadilan karena dipandang 
> sebagai orang bodoh yang nddak layak untuk kaya raya ! Setelah menjawap 
> beberapa pertanyaan di seputar "sejarah amerika", akhirnya pendiri Ford 
> Corporation ini kesel, trus berteriak : "Tuan hakim ! Tuan boleh bertanya 
> apapun pada saya ! Dan saya bisa menggaji orang lain untuk menjawab 
> pertanyaan itu saya bisa bayar orang yang bisa menjawab pertanyaan apapun 
> yang tuan hakim berikan !"
> 
> Faktanya, banyak orang cerdas yang banyak ngomong ini itu, padahal dilihat 
> dari segi materi.... mereka nddak punya apa-apa.
> 
> Banyak para sarjana dengan IP tinggi, lulusan perguruan tinggi ternama yang 
> menjadi pengangguran. Banyak santri "buduk" yang tak mengenal pendidikan 
> formal tinggi namun bisa hidup makmur gemah ripah loh jinawi.
> 
> Score IQ tidak selalu berbanding lurus dengan kemakmuran.
> 
> --- In [email protected], "johny_indon" <johny_indon@> wrote:
> >
> > 
> > 
> > wan, sebaiknya lebih hati2 lagi kalo nulis jangan kebanyakan kontradiksi. 
> > 
> > mengatakan kecerdasan berbading lurus dengan kemakmuran, tapi di saat yg 
> > sama ingin bilang negara yg makmur karena banyak minyak itu sebuah 
> > anomali alias tidak cerdas, ini kan cuman akal2an aja namanya, dengan 
> > excuse "anomali" tanpa bisa menjelaskan kenapa bisa ada anomali. 
> > 
> > mengatakan kecerdasan meningkat setelah menyingkirkan agama sambil 
> > tanpa sadar ngasih contoh jews yg cerdas dan religius itu, juga sebuah 
> > kontradiksi yg fatal. 
> > 
> > 
> > 
> > --- In [email protected], "wawan" <selarasmilis@> wrote:
> > >
> > > Pertumbuhan Ekonomi dan Kecerdasan``` (Satu catatan kritis Ws 7/7/12)
> > > 
> > > Pemerintahan Indonesia, di tahun 2012 menyatakan bahwa Indonesia 
> > > mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup baik. Pemerintahan Presiden 
> > > Susilo Bambang Yudhoyono menunjukan angka-angka statistik (meski angka di 
> > > atas kertas belum tentu mencerminkan realitas, karena ini tergantung dari 
> > > methodologi pengumpulan data, dan pengolahan data) terhadap pertumbuhan 
> > > ekonomi Indonesia yang cukup mengesankan di banding Eropa maupun Amerika 
> > > yang sedang krisis.
> > > 
> > > Namun di sisi lain, menurut penelitian Richard Lynn dan Van Hanen, 
> > > bahwasanya kesejahteraan dan ekonomi sangat berkaitan dengan kecerdasan 
> > > IQ. Dari penelitian Richard Lynn dan Tatu Van Hanen, menunjukan bahwa di 
> > > negara-negara makmur, biasanya disertai IQ rata-rata masyarakat yang 
> > > cukup tinggi, sehingga bisa ditarik suatu kesimpulan bahwa IQ dan 
> > > kesejahteraan mempunyai korelasi cukup kuat, namun tentu saja 
> > > faktor-faktor anomali tidak bisa diabaikan.
> > > 
> > > Negara-negara kaya minyak, atau raw material yang berupa energy, 
> > > rata-rata bisa dikatakan sebagai negara yang cukup makmur tanpa 
> > > masyarakatnya disertai dengan IQ yang cukup tinggi. Ini hanya sebagai 
> > > contoh suatu anomali saja.
> > > 
> > > Namun didalam negara-negara industry dan ekonomi kreatif inovative, maka 
> > > kemakmuran mereka yang berbasiskan ekonomi kreatif tak pelak didasari 
> > > oleh IQ masyarakatnya yang cukup tinggi. Sebagai contoh negara yang 
> > > ekonominya makmur berbasis ekonomi kreatif innovative bisa dilihat di 
> > > negara-negara Skandinavia.
> > > 
> > > ***
> > > 
> > > Melihat fakta demikian, bahwa statemen pemerintah saat ini menyatakan 
> > > bahwasanya ekonomi Indonesia tumbuh, namun apabila pertumbuhan ekonomi 
> > > tidak disertai dengan pertumbuhan kecerdasan masyarakat, maka perlu kita 
> > > pertanyakan ekonomi model atau jenis apa yang sedang tumbuh dan 
> > > berkembang di Indonesia?
> > > 
> > > Mari kita terbang sebentar ke masa lalu.
> > > Di jaman VOC, ekonomi Dutch East Indies (sekarang disebut dengan 
> > > Indonesia) boleh dikatakan sebagai suatu ekonomi yang cukup maju. Namun 
> > > ekonomi yang dibangun oleh pemerintahan Dutch East Indies merupakan 
> > > ekonomi model kolonial. Penduduk setempat atau penduduk pribumi mempunyai 
> > > kecerdasan rendah, namun ekonomi di Dutch East Indies di jaman VOC dan 
> > > juga di tahun 1930 merupakan ekonomi yang cukup maju, bahkan menurut data 
> > > statistik, ekonomi di tahun 1930 tidak bisa disamai sama sekali oleh 
> > > pemerintahan Soekarno, dan baru bisa disamai oleh pemerintahan Soeharto 
> > > di era 1974-an.
> > > 
> > > Dengan demikian, melihat contoh diatas, kemajuan ekonomi tanpa disertai 
> > > dengan kemajuan kecerdasan masyarakatnya, maka perlu kita pertanyakan 
> > > secara kritis, ekonomi model apakah yang sedang berkembang/maju? (apakah 
> > > ekonomi sistem kolonial/imperialisme baru dari bangsa sendiri?)
> > > 
> > > Selain itu juga patut kita pertanyakan dan detailkan, misal di sektor 
> > > mana kemajuan ekonomi Indonesia (raw material?), dan pihak-pihak/golongan 
> > > mana yang mengalami dan menikmati kemajuan ekonomi Indonesia yang cukup 
> > > baik/pesat?
> > > 
> > > 
> > > ++++++
> > > 
> > > Kecerdasan dan Wilayah subur
> > > 
> > > Mitos para founding fathers, Ir. Soekarno dan juga Tan Malaka, selalu 
> > > menggembar-gemborkan tentang kemakmuran wilayah Indonesia. Yang mereka 
> > > banggakan dan agitasi-kan adalah wilayah Indonesia yang subur dan makmur. 
> > > Sebenarnya, Dutch East Indies terlihat subur dan makmur setelah Belanda 
> > > melakukan penelitian atau research bahwa Dutch East Indies ini tepat 
> > > untuk dibangun ekonomi model apa di abad 16-17-an. Dari catatan sejarah, 
> > > telah menunjukan bahwa perkebunan kopi, teh, tebu, ini semua adalah 
> > > inisiasi dari research Belanda untuk memonopoli dan dipasarkan ke eropa 
> > > sebagai komoditi utama. Sebelum kedatangan Belanda, kerajaan-kerajaan 
> > > nusantara tidak mempunyai komoditas dan industry terutama teh, kopi, 
> > > tebu, dlsb, dan bisa memasarkannya ke eropa.
> > > 
> > > Jadi , setelah Belanda menginisiasi industry dan perkebunan teh, kopi, 
> > > tebu, dlsb, dan mampu memasarkan ke Eropa dan menghasilkan keuntungan 
> > > ekonomi yang banyak, maka kita bisa menarik kesimpulan bahwa tanah Dutch 
> > > East Indies adalah tanah yang sangat potensial bagi ekonomi Raw 
> > > Material/bahan mentah.
> > > (****)
> > > 
> > > Tanah subur, tanpa disertai dengan kecerdasan manusia, saya kira adalah 
> > > bencana. Sejarah telah menunjukan hal ini. Ketidakmampuan manusia-manusia 
> > > di Indonesia dalam mengelola wilayahnya, akhirnya dimanfaatkan oleh 
> > > pihak-pihak asing yang hanya memiliki bekal kecerdasan. Untuk itulah, 
> > > saya pikir, sejarah kolonialisme Belanda hingga saat ini sebenarnya tidak 
> > > berubah sama sekali, yaitu orang asing yang memanfaatkan dan mengelola 
> > > potensi raw material Dutch East Indies (Indonesia)
> > > 
> > > di sisi lain, kecerdasan tanpa kekayaan alam/raw material, tetap akan 
> > > mampu membawa kemakmuran. Ini juga dikuatkan oleh survey Richard Lynn dan 
> > > Tatu Van Hanen.
> > > 
> > > Western atau orang Eropa, datang ke wilayah Amerika dan juga Australia, 
> > > termasuk ke Afrika Selatan. Wilayah itu sebelum didatangi orang western 
> > > saya kira juga bukan wilayah yang nyaman atau produktif. Namun expansi 
> > > orang-orang western terjadi setelah era Aufklarung atau Renaissance, 
> > > dimana pada era itu intelektualitas dijunjung tinggi dan agama 
> > > dipinggirkan/di-sekulerkan. Dengan kemampuan intelektualitasnya, 
> > > orang-orang Western mampu mengubah wilayah-wilayah seperti Amerika, 
> > > Australia, maupun Afrika Selatan menjadi wilayah yang produktif dan 
> > > mengalami kemajuan ekonomi.
> > > 
> > > Contoh extreme lagi adalah kaum Jewish (saya cukup mengenal tradisi dan 
> > > pola pikir kaum jewish). Kaum Jewish setelah terusir dari wilayahnya di 
> > > daerah yang sekarang disebut sebagai Israel, mereka terusir oleh kaum 
> > > moslem, kemudian mereka mayoritas ber-diaspora ke wilayah Russia, dan 
> > > kemudian dari wilayah Russia mereka ber-diaspora lagi, rata-rata ke 
> > > Amerika. Namun sebenarnya di Russia ada satu wilayah khusus yang 
> > > dibuatkan oleh pemerintahan Joseph Stalin thd kaum Russian Jewish, yaitu 
> > > Jewish Autonomous Oblast.
> > > 
> > > Saya melihat kaum jewish ini dengan tradisi, budaya, dan 
> > > pola-pikir/mindset mereka, mereka kaum yang mempunyai daya survival 
> > > sangat tinggi (ini dibuktikan ketika mereka dikejar-kejar Adolf Hitler 
> > > dan lari ke Russia dalam suhu yang sangat dingin), mereka mampu menjadi 
> > > kaum yang sukses di negara mana saja mereka tinggal (Amerika, Russia, 
> > > Jerman, Belanda, Portugal, dan dimanapun mereka berada). Kaum Jewish 
> > > dengan kecerdasannya tidak memerlukan wilayah yang subur dan nyaman, 
> > > namun mereka adalah kaum yang dengan kemampuan intelektualitasnya, mampu 
> > > menyulap segalanya menjadi wilayah yang produktif.
> > > 
> > > Konsep kaum jewish sangat berbeda sekali dengan konsep Ir. Soekarno dan 
> > > Tan Malaka yang membanggakan wilayah/tanah subur sebagai methode produksi 
> > > ekonomi manusia.
> > > 
> > > Kaum Jewish mengandalkan intelektualitas dan akal mereka untuk 
> > > memproduksi advance ekonomi di wilayah negara mana saja, mereka mempunyai 
> > > philosophy internasionalisme-kosmopolitianisme (hal yang sama juga dianut 
> > > oleh kaum China Tiongkok), dimanapun, dimuka bumi adalah tempat bagi 
> > > seluruh umat manusia tanpa terkotak-kotak wilayah, sedangkan konsep dan 
> > > mitos Ir. Soekarno dan Tan Malaka membanggakan tanah subur sebagai sumber 
> > > ekonomi manusia.
> > > 
> > > Saya kira, kaum Jewish ini mau ditaruh/diaspora ke planet Mars, dan 
> > > Bulan-pun, mereka akan mampu membuat Mars dan Bulan menjadi wilayah yang 
> > > sangat produktif :-)
> > > 
> > > Mungkin pertanyaan kritisnya adalah sebagai berikut: Mengapa kaum jewish 
> > > memiliki intelektualitas diatas rata-rata, dan mereka mampu menguasai 
> > > wilayah dimanapun mereka tinggal? Apakah kaum Jewish ditinggikan 
> > > derajadnya oleh Tuhan Allah.
> > > 
> > > Albert Einstein, yang juga jewish pernah mengatakan, (terjemahan bebas) 
> > > pada dasarnya tidak ada perbedaan antara Jewish dan bangsa lainnya,
> > > 
> > > namun saya pikir, yang membedakan antara kaum jewish dan bangsa lainnya 
> > > adalah budaya/tradisi dan mindset/pola pikir mereka...
> > > 
> > > ^^^^^
> > > 
> > > Didalam membangun sebuah ekonomi yang mempunyai sustainability panjang, 
> > > dan mempunyai prinsip utama social justice, saya rasa kita bisa bercermin 
> > > ke negara-negara Skandinavia. Penduduk negeri Skandinavia sangat sekuler, 
> > > liberal, dan mempunyai kecerdasan rata-rata yang cukup tinggi. Untuk itu, 
> > > dari melihat data, fakta dan analisa terhadap sejarah past dan present, 
> > > maka saya punya kesimpulan/ide/gagasan, untuk membangun ekonomi yang 
> > > ber-sustainability panjang, stabil, kuat, berkesinambungan, dan 
> > > ber-prinsip social justice, maka syarat mutlaknya adalah mencerdaskan 
> > > masyarakatnya terlebih dahulu, sehingga secara philosophy, ekonomi maju 
> > > yang ideal, adalah hasil/konsekuensi/akibat dari sebuah masyarakat cerdas.
> > > 
> > > 
> > > Conclusion: Mungkin ada pertanyaan kritis lanjutan.
> > > 
> > > 1. Manusia, pada dasarnya adalah mahluk ekonomi. 2. Ekonomi yang 
> > > sustainability-nya panjang tentu ekonomi yang berdasarkan aset SDM 
> > > (sumber daya manusia). Kekayaan alam, atau kesuburan wilayah bisa berubah 
> > > atau bisa cepat habis, kecerdasan manusia-pun bisa mengalami perubahan 
> > > akibat perubahan alam/materi, tapi bagaimanapun, kecerdasan manusia-lah 
> > > yang sebenarnya menjadi aset terbesar dan terbaik didalam pengembangan 
> > > ekonomi yang berkesinambungan, sustainability-nya cukup kuat, dan juga 
> > > memenuhi prinsip social justice. 3. Untuk membangun manusia cerdas, saat 
> > > ini ilmuwan mendefinisikan bahwa peran genetika/nature dan 
> > > kebudayaan/nurture sangat krusial dan essensial. Untuk itu, didalam visi 
> > > dan misi membangun masyarakat cerdas, maka harus ada suatu program 
> > > berkesinambungan untuk memperbaiki secara terus menerus/berkesinambungan 
> > > terhadap genetika dan kebudayaan manusia. Perbaikan genetika bisa 
> > > dibangun dengan material gizi, sedangkan kebudayaan manusia untuk improve 
> > > kecerdasan manusia, bisa dibangun dengan salah satunya melalui kebudayaan 
> > > yang berbasis ilmu pengetahuan, seperti kebudayaan lama Ancient Greek 
> > > yang juga meninggalkan jejak reruntuhan bangunan-bangunan yang canggih 
> > > dan ber-estetika tinggi.
> > > 
> > > !!!Ws~~
> > > 
> > > 
> > > 7/7/12
> > >
> >
>



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke