Dipo makin gila aja...

Omongannya makin kaco.

Sayaag dia tidak mau berobat ke psikiater.

Kasihan saya melihatnya.



--- In [email protected], "ajeg" <ajegilelu@...> wrote:
>
> 
> Bener plik, itu cara klasik. Di masa lalu juga pernah 
> terbongkar praktek serupa. "LSM"-nya berskala Orde Baru 
> dan pengoboknya bernama IGGI. 
> 
> Tapi, rupanya ada yang lebih asik untuk dapat duit dari 
> luarnegeri plik. Caranya sangat jenius, belum pernah ada 
> yang punya ide sehebat ini: gotong-gotong gelar adat ke 
> jaman global village.. 
> 
> Hehe, jenius bulus. Semua taktik kalian kebongkar. 
> 
> --- "Bukan Pedanda" <bukan.pedanda@> wrote:
> 
> > Sekali lagi...
> > 
> > Ini cara-cara klasik fascist Orde Lama dan Orde Baru...
> > 
> > Saat bedebah penguasa merasa tersudut lantas mereka ngoceh tentang 
> > "Campur Tangan Pihak Asing" dan omong kosong sejenias.
> > 
> > Di zaman "global village", dizaman PBB, dizaman WTO maka masaalah 
> > pelanggaran hak-hak azasi manusia, masaalah lingkungan dimanapun 
> > dimuka bumi ini adalah urusan semua manusia dimuka bumi ini.
> > 
> > Lagian pemerintah Indonesia minjam duit juga dari luar negeri juga 
> > kok.
> > 
> > 
> > 
> > --- "Sunny" <ambon@> wrote:
> >
> > > Ref: Silahkan merokok sampai napas habis.
> > > 
> > > http://www.shnews.co/detile-4425-mengurai-agenda-asing-di-balik-lsm.html
> > > 
> > > 
> > > Mengurai Agenda Asing di Balik LSM 
> > > Ninuk Cucu Suwanti | Senin, 09 Juli 2012 - 15:25:06 WIB
> > > 
> > > Dibaca : 117 
> > > 
> > > 
> > > (dok/SH)Di balik sikap kritis, muncul tudingan miring sejumlah 
> > > LSM menikmati dana untuk “mengawal” agend 
> > > Baru-baru ini, terbongkar aliran dana dari Wali Kota New York 
> > > Michael Bloomberg untuk Bloomberg Initiative To Reduce Tobacco 
> > > Use Grants Program sebesar US$ 6.443.492 (atau Rp 57,9 miliar) 
> > > kepada lembaga-lembaga di Indonesia sejak 2007. 
> > > Beberapa lembaga telah menjadi kaki tangan kampanye antirokok dan 
> > > yang menerima dana tersebut adalah Indonesia Corruption Watch 
> > > (ICW) sebesar US$ 45,470 ( Rp 409.230.000). 
> > > 
> > > Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) juga dua kali menikmati 
> > > dana Bloomberg tersebut untuk penegakan area bebas rokok dan 
> > > peraturan terkait pelarangan iklan produk tembakau di Jawa, 
> > > Indonesia. US$ 127,800 pada Januari 2011 hingga April 2012 dan 
> > > US$ 454,480 pada Mei 2008 hingga Mei 2010. 
> > > Selain kedua LSM ini, ada beberapa lembaga lainnya yang juga 
> > > menikmati aliran dana dari Bloomberg tersebut (lihat tabel). 
> > > Lembaga-lembaga tersebut bertugas menggalang dukungan di DPR 
> > > untuk mengegolkan kebijakan pengendalian tembakau di DPR tingkat 
> > > nasional maupun daerah dan mengkampanyekan antirokok kretek pada 
> > > masyarakat. 
> > > 
> > > Harus Berani 
> > > 
> > > Menanggapi lembaga yang ditunggangi kepentingan asing ini, Ketua 
> > > Panitia Khusus Rancangan undang-undang, Abdul Malik Haramain, 
> > > menegaskan agar negara tidak perlu takut bertindak untuk 
> > > menyikapi organisasi masyarakat yang melanggar. 
> > > RUU Ormas yang sedang dibahas di DPR berisikan aturan sumber 
> > > keuangan, hak, dan kewajiban hingga sanksi, serta larangan 
> > > keberadaan ormas, termasuk ormas asing. 
> > > 
> > > Sanksi di RUU Ormas, menurutnya, berawal dari teguran tertulis. 
> > > Jika tidak diindahkan akan dilanjutkan dengan pembekuan fasilitas 
> > > APBN-APBD. Setelah itu diikuti pembekuan aktivitas oleh 
> > > Kemendagri dan Polri dengan tidak memberikan izin kegiatan pada 
> > > ormas dan terakhir pembubaran melalui pengadilan. 
> > > 
> > > Pada RUU ini, ormas asing yang tidak melakukan kewajiban dan 
> > > melakukan pelanggaran diakhiri dengan sikap tertinggi, yakni 
> > > tindakan diplomatik.Terkait dana yang diperoleh, RUU Ormas juga 
> > > mewajibkan transaksi dilakukan secara perbankan. 
> > > Hal ini dilakukan agar dana-dana yang masuk bisa diakses termasuk 
> > > peruntukannya. Ini karena berdasarkan analisis PPATK pada 2011 
> > > ada transaksi US$ 137 juta yang tidak terlacak. Berdasarkan 
> > > catatan, Malik mengatakan ormas asing yang mendaftar di Indonesia 
> > > berjumlah 148 namun hanya 109 yang diberikan izin Kemenlu. 
> > > 
> > > "Itu harus melalui jalur normal, perbankan, termasuk LSM dan 
> > > ormas yang berafiliasi ke asing, seperti WWF, GreenPeace, dan 
> > > Hizbut Tahir. Mereka juga harus melaporkan keuangannya. Kalau 
> > > tidak, tentu bisa dicabut SKT (Surat Keterangan Terdaftar)-nya," 
> > > tutur Malik.
> > > 
> > > Paling Seksi 
> > > 
> > > Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Kementerian Dalam Negeri 
> > > (Kemendagri) Reydonnyzar Moenek mencontohkan isu Papua sebagai 
> > > isu yang paling "seksi" untuk "dimainkan" LSM. Dia bahkan sempat 
> > > menuding ada beberapa LSM Indonesia yang berafiliasi dengan LSM 
> > > asing untuk menginternasionalisasi permasalahan di Papua. 
> > > 
> > > Dalam hal ini, kata dia, pemerintah kerap didiskreditkan tidak 
> > > becus atau setidaknya kurang memberi perhatian pada Papua dan 
> > > masyarakat di sana. Negara dikesankan melakukan pembiaran atas 
> > > rangkaian pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Bumi 
> > > Cendrawasih. 
> > > Dengan begitu, persoalan Papua akan menjadi masalah 
> > > internasional. Upaya internasionalisasi oleh LSM itu tidaklah 
> > > gratis. Dia mengatakan, LSM lokal mendapat sejumlah dana yang 
> > > tidak sedikit dari LSM asing sebagai pamrih atas upayanya 
> > > mengkritik kinerja pemerintah. Donny bahkan sampai menuding 
> > > LSM-LSM yang bersangkutan merupakan mata-mata pihak asing. 
> > > 
> > > Untuk itu, pemerintah mengambil langkah tegas untuk mengawasi 
> > > aktivitas LSM. Tujuannya, kata Menteri Dalam Negeri Gamawan 
> > > Fauzi, agar negara ini tidak "dijual" kepada pihak asing oleh 
> > > LSM. Langkah pengawasan dan pengaturan LSM, tutur Gamawan, 
> > > dilakukan dengan mengharuskan semua ormas yang beraktivitas untuk 
> > > mendaftar kepada kementerian yang dipimpinnya. 
> > > 
> > > Bagi ormas yang nekat tidak mendaftarkan diri, negara akan 
> > > mempersulit setiap aktivitasnya, di antaranya pemerintah tidak 
> > > akan memberi bantuan pembiayaan kepada ormas yang bersangkutan. 
> > > Pemerintah bahkan mengancam tidak akan memberi rekomendasi izin 
> > > kegiatan dari kepolisian jika LSM yang bersangkutan memintanya 
> > > untuk beraktivitas. 
> > > 
> > > Kewajiban lain bagi ormas yang beraktivitas di Tanah Air adalah 
> > > melaporkan laporan dan audit keuangannya kepada pemerintah, 
> > > terutama jika ada pendanaan dari lembaga asing. Gamawan 
> > > menegaskan, laporan keuangan tersebut harus dapat diinformasikan 
> > > kepada publik. Publik pun harus tahu peruntukan dana yang didapat 
> > > suatu ormas, terutama dari pihak asing. 
> > > 
> > > "Publik harus tahu dana itu digunakan untuk aktivitas apa. Jangan 
> > > sampai ada yang terima dana besar-besaran dari asing, ternyata 
> > > digunakan untuk kepentingan asing, misalnya disintegerasi," ujar 
> > > Gamawan, Jumat (6/7). 
> > > 
> > > Gamawan menjelaskan, pemerintah mencatat saat ini terdapat 
> > > setidaknya 64.000 ormas yang terdaftar di seluruh Indonesia. 
> > > Ormas-ormas tersebut terdaftar di Kemendagri dan Kementerian 
> > > Hukum dan HAM. Sementara Kemenlu melakukan verifikasi dan 
> > > mendapat setidaknya 160 ormas asing beroperasi di Indonesia. 
> > > 
> > > "Belum termasuk LSM lokal yang tidak mendaftarkan diri," kata 
> > > Gamawan.
> > > 
> > > Di masa Orde Baru, LSM hanya menonton saat massa rakyat 
> > > ramai-ramai menjatuhkan diktaktor Soeharto. Saat ini LSM terdepan 
> > > menjadi alat koorporasi menguasai pasar dan mengeruk sumber daya 
> > > alam dan manusia Indonesia sebanyak-banyaknya.
> > > 
> > > 
> > > (Sinar Harapan) 
> > > 
> > > [Non-text portions of this message have been removed]
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke