jika oknum prols ingin dikaitkan dgn keributan skala kwantitas semacam fpi, mungkin tampak sebangun tapi gk lantas apple 2 apple.
contoh saja, ketika ada satu oknum petantang tenteng di prols sembari niat keonaran di keramaian. apakah boleh disebutkan onar selama gak ditanggepin mayoritas? dikatain gila sih pasti, lalu jadi onar justru ketika keramaian tadi balik bersorak menimpali. boleh menarik kalo mo selidiki si "oknum" yg dari keramaian tsb, bukan si petantang tenteng yg ternyata disinyalir "hanya" gila. lantas pendekatan kualiti, seorang oknum juga petantang tenteng di tengah keriuhan prols buat bikin keonaran. kebetulan oknum itu setara beyonce, atau da vinci waktu ngibul soal kendaraan besi yg bakal bisa terbang, atau tokoh seperti pernah ditulis sbg pengemis gila yg doyan berseru dari tengah gurun hingga ke kampung bernama yohannes pembabtis. onar adalah nilai dari pendapat yg minoritas, mirip sebuah kerikil terbang di permukaan danau, menimbulkan riak dan berdampak mengguncang kolam. kolam bisa diguncang kerikil? sementara mengenai becking, belum kesitu dan kayaknya gak perlu. seorang raja dangdut pernah membuat statement publik, walau punya argumentasi untuk kalangan dan tujuan terbatas, namun kontent dan konteksnya gak bisa bohong kalau memang ditujukan tidak terbatas. itu masih gak masalah, termasuk apakah punya becking apa kagak. namun bisa runyam ketika atas nama publik termasuk ranah hukum melalui panwaslu, telah diputuskan secara otentik dan bulat jika si oknum berikut statementnya "terbukti syah tidak melanggar". ok, apakah doi boleh atau telah dianggap hanya mewakili "keonaran" minoritas, alias gak lantas telah merepresentasikan mayoritasnya? memang gak ada parameter khusus untuk membuktikan klasifikasinya, tapi dgn ungkapan dari kubu lawan seperti "gajah lawan semut", sudah bisa diduga bahkan gamblang gak sekecil puncak gunung es. seperti halnya demo bakar akibat film, pasti ditolak atas nama mayoritas namun lebih memilih diam ato belagak vacancy ke bali. atau memang demikiankah potret yg sebetulnya terjadi, misalnya bangsa ini khabarnya jadi favorit investor bukan lantaran aman atau kompetitif, tapi sdm yg murah, bego dan doyan bergerombol? ironisnya, minoritas sesungguhnya yg gencar berteriak soal ini. ah tapi itu soal lain, kok lantas jadi curhat serius gini yag? sebetulnya sore ini saya harus ke jogja untuk evaluasi dekon apbn triwulan tiga. becanda kali, pan besok nyoblos di dki dan kalbar? mangkanya hari ini brasa spesial, bisa tumben nongkrong di prolls, abis dimana lagi? sekalian nunggu konfirmasi dari makarius sukoco untuk hadir di seminar saya minggu depan, tentu bukan bahas fpi. jikapun terjadi "keributan" kelak akibat suasana klinik foto, pasti berbeda dgn istilah "ribut" yg kutulis buat kampung ini. toh "ribut" yg kupancing adalah terkait contoh oknum yg sempat kutendang barusan tapi postingnya di milis lain malah diforward kemari berikut komentar. maka "oknum sesungguhnya" bukanlah oknum yg telah kutendang itu, melainkan members yg memforward kemari. seolah nuansa dan suasana petar memang kudu dipenuhi "ribut" begituan. padahal topik lain gak digubris, boro2 bikin topik. gak perlu indah atau sewarna. cerah ada karena barusan badai. sekaligus istilah "gak perlu diladeni" memang bukan solusi, tapi juga "meladeni (yg) gak perlu" bisa berpotensi extra time. nah klo udah gini pan gak lagi soal kontent, tapi endurance ;o) ya gak hehee .. bikin restoran bawah laut (lagi) yuk ;o) --- "ajeg" <ajegilelu@...> wrote: > > > Yeah, prol memang kondang sbg kampung yg 'panas', malah penuh > keonaran. Padahal bisa dibuktikan, tukang bikin onar itu kan > cuma 2 ekor, uplik & bleki. Lainnya cuma anak bawang dengan ketua > kelasnya si jango kimhook yang bercita-cita jadi jeger. > > Pertanyaannya, kenapa yg cuma 2 ekor itu (kejepit pula) menjadi > representasi kampong letar? > > Jawabannya sederhana, di luar sana FPI yg kecil itu pun seolah > mewakili kelompok yg lebih besar. > > Kenapa bisa begitu? > > Sederhana lagi. Mereka punya backing. Karena itu merasa berani > berbuat sesukanya sesuai ketololan yang mereka derita. > > Di sini, dua ekor homo itulah "FPI"-nya. Mereka nggak punya beking > tapi betul-betul memanfaatkan kebebasan yang diberikan sampai ke > sudut terkecil, di setiap kesempatan. Bahkan ketika sudut itu tidak > tersedia, mereka pun membuatnya. > > Apa yang dialami Suryana & Tawang adalah contoh mutakhir tentang > ke-FPI-an uplik & bleki. Sudah ditunjukkan bukti keras bahwa Tawang > tidak mengatakan seperti yang dituduhkan uplik. Tapi si homo tua & > pasangannya itu tetap berkeras memfitnah Suryana & Tawang. Bukan cuma > keras tapi semakin kasar sudah. Kekasaran yang kita semua tau > sekadar untuk menutupi ketelanjangan mereka yang basah kuyup dengan > fakta sebenarnya. > > Buat saya pribadi, kelakuan sejoli homo itu adalah pamer ketololan > paling lucu yang pernah ada selama tinggal di kampung ini. Ketololan > yang lucu memang, tapi samasekali nggak ada gunanya (meminjam istlah > Roman, gak mutu & gak penting). Menjijikkan bagi yang melihatnya dan > tentu saja menyakitkan buat Suryana & Tawang. > > Soal prol demen 'ribut', nggak betul itu. Sebab yang namanya 'ribut' > umumnya terjadi karena apabolehbuat. Karena masing-masing pihak coba > mempertahankan argumennya. Seringkali yang kalah argumen lalu > mengakui argumen lawannya. Atau diam dan merenungkannya di rumah. > > Tapi liat, apa yang terjadi dengan uplik & bleki. Argumen apa yang > mau dipertahankan si uplik sedangkan dia tak pernah mampu berpendapat > alias gardot (gara dae otak). Argumen apa yang bisa dipertahankan si > bleki dengan lari-lari anjing terus begitu. > > Nggak, nggak betul prol demen ribut. Yang ada cuma 2 homo (yang satu > darah tinggi, satunya lagi stress) yang memanfaatkan kebebasan di > prol untuk ngigo, nyampah, memfitnah dll yg sifatnya mencari kepuasan > diri sendiri. > > Tentu saja gampang untuk bilang "jangan ladeni". Tapi yang > udah-udah itu justru membuat kedua homo itu semakin beringas & > kasar untuk sekedar menunjukkan eksistensinya. > > Enggak, kita nggak butuh yang begituan. Cecunguk-cecunguk yang sama > sebangun dengan FPI. > > > --- "liver_duke" <endyonisius@> wrote: > > > kemarin ada beberapa email yg ditujukan kepada owner prols, > > termasuk japri dari kang sur mengenai kiprah si poster ini. > > > > saat itu saya baru pulang dari survey terumbu karang (buset, > > diving pada bulan berakhiran "ber" begini, gk kuat ombaknya), > > dan penanaman mangrove di dua kabupaten pesisir. lalu saya > > tanggapi balik termasuk "eksekusi", atas dasar "kepercayaan". > > > > tapi selain gk ada tanggapan balik, justru malah nemu forward > > kayak beginian. apa sebetulnya di prols emang demen ribut hehee > > > ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
