Aha.. sebego-begonya si raja dangdut dia masih kenal musik dan bisa bicara politik.
Liat si uplik, sekalipun bergelar sutan toh cuma bisa dakwah agama. pffff..... --- "liver_duke" <endyonisius@...> wrote: > jika oknum prols ingin dikaitkan dgn keributan skala kwantitas > semacam fpi, mungkin tampak sebangun tapi gk lantas apple 2 apple. > > contoh saja, ketika ada satu oknum petantang tenteng di prols > sembari niat keonaran di keramaian. apakah boleh disebutkan onar > selama gak ditanggepin mayoritas? dikatain gila sih pasti, lalu > jadi onar justru ketika keramaian tadi balik bersorak menimpali. > boleh menarik kalo mo selidiki si "oknum" yg dari keramaian tsb, > bukan si petantang tenteng yg ternyata disinyalir "hanya" gila. > > lantas pendekatan kualiti, seorang oknum juga petantang tenteng > di tengah keriuhan prols buat bikin keonaran. kebetulan oknum itu > setara beyonce, atau da vinci waktu ngibul soal kendaraan besi yg > bakal bisa terbang, atau tokoh seperti pernah ditulis sbg pengemis > gila yg doyan berseru dari tengah gurun hingga ke kampung bernama > yohannes pembabtis. onar adalah nilai dari pendapat yg minoritas, > mirip sebuah kerikil terbang di permukaan danau, menimbulkan riak > dan berdampak mengguncang kolam. kolam bisa diguncang kerikil? > > sementara mengenai becking, belum kesitu dan kayaknya gak perlu. > seorang raja dangdut pernah membuat statement publik, walau punya > argumentasi untuk kalangan dan tujuan terbatas, namun kontent dan > konteksnya gak bisa bohong kalau memang ditujukan tidak terbatas. > itu masih gak masalah, termasuk apakah punya becking apa kagak. > namun bisa runyam ketika atas nama publik termasuk ranah hukum > melalui panwaslu, telah diputuskan secara otentik dan bulat jika > si oknum berikut statementnya "terbukti syah tidak melanggar". > ok, apakah doi boleh atau telah dianggap hanya mewakili "keonaran" > minoritas, alias gak lantas telah merepresentasikan mayoritasnya? > memang gak ada parameter khusus untuk membuktikan klasifikasinya, > tapi dgn ungkapan dari kubu lawan seperti "gajah lawan semut", > sudah bisa diduga bahkan gamblang gak sekecil puncak gunung es. > seperti halnya demo bakar akibat film, pasti ditolak atas nama > mayoritas namun lebih memilih diam ato belagak vacancy ke bali. > atau memang demikiankah potret yg sebetulnya terjadi, misalnya > bangsa ini khabarnya jadi favorit investor bukan lantaran aman > atau kompetitif, tapi sdm yg murah, bego dan doyan bergerombol? > ironisnya, minoritas sesungguhnya yg gencar berteriak soal ini. > > ah tapi itu soal lain, kok lantas jadi curhat serius gini yag? > sebetulnya sore ini saya harus ke jogja untuk evaluasi dekon apbn > triwulan tiga. becanda kali, pan besok nyoblos di dki dan kalbar? > mangkanya hari ini brasa spesial, bisa tumben nongkrong di prolls, > abis dimana lagi? sekalian nunggu konfirmasi dari makarius sukoco > untuk hadir di seminar saya minggu depan, tentu bukan bahas fpi. > jikapun terjadi "keributan" kelak akibat suasana klinik foto, > pasti berbeda dgn istilah "ribut" yg kutulis buat kampung ini. > toh "ribut" yg kupancing adalah terkait contoh oknum yg sempat > kutendang barusan tapi postingnya di milis lain malah diforward > kemari berikut komentar. maka "oknum sesungguhnya" bukanlah oknum > yg telah kutendang itu, melainkan members yg memforward kemari. > > seolah nuansa dan suasana petar memang kudu dipenuhi "ribut" > begituan. padahal topik lain gak digubris, boro2 bikin topik. > gak perlu indah atau sewarna. cerah ada karena barusan badai. > sekaligus istilah "gak perlu diladeni" memang bukan solusi, > tapi juga "meladeni (yg) gak perlu" bisa berpotensi extra time. > nah klo udah gini pan gak lagi soal kontent, tapi endurance ;o) > > ya gak hehee .. bikin restoran bawah laut (lagi) yuk ;o) > > > --- "ajeg" <ajegilelu@...> wrote: > > > Yeah, prol memang kondang sbg kampung yg 'panas', malah penuh > > keonaran. Padahal bisa dibuktikan, tukang bikin onar itu kan > > cuma 2 ekor, uplik & bleki. Lainnya cuma anak bawang dengan ketua > > kelasnya si jango kimhook yang bercita-cita jadi jeger. > > > > Pertanyaannya, kenapa yg cuma 2 ekor itu (kejepit pula) menjadi > > representasi kampong letar? > > > > Jawabannya sederhana, di luar sana FPI yg kecil itu pun seolah > > mewakili kelompok yg lebih besar. > > > > Kenapa bisa begitu? > > > > Sederhana lagi. Mereka punya backing. Karena itu merasa berani > > berbuat sesukanya sesuai ketololan yang mereka derita. > > > > Di sini, dua ekor homo itulah "FPI"-nya. Mereka nggak punya > > beking tapi betul-betul memanfaatkan kebebasan yang diberikan > > sampai ke sudut terkecil, di setiap kesempatan. Bahkan ketika > > sudut itu tidak tersedia, mereka pun membuatnya. > > > > Apa yang dialami Suryana & Tawang adalah contoh mutakhir tentang > > ke-FPI-an uplik & bleki. Sudah ditunjukkan bukti keras bahwa > > Tawang tidak mengatakan seperti yang dituduhkan uplik. Tapi si > > homo tua & pasangannya itu tetap berkeras memfitnah Suryana & > > Tawang. Bukan cuma keras tapi semakin kasar sudah. Kekasaran yang > > kita semua tau sekadar untuk menutupi ketelanjangan mereka yang > > basah kuyup dengan fakta sebenarnya. > > > > Buat saya pribadi, kelakuan sejoli homo itu adalah pamer > > ketololan paling lucu yang pernah ada selama tinggal di kampung > > ini. Ketololan yang lucu memang, tapi samasekali nggak ada > > gunanya (meminjam istlah Roman, gak mutu & gak penting). > > Menjijikkan bagi yang melihatnya dan tentu saja menyakitkan buat > > Suryana & Tawang. > > > > Soal prol demen 'ribut', nggak betul itu. Sebab yang namanya > > 'ribut' umumnya terjadi karena apabolehbuat. Karena masing-masing > > pihak coba mempertahankan argumennya. Seringkali yang kalah > > argumen lalu mengakui argumen lawannya. Atau diam dan > > merenungkannya di rumah. > > > > Tapi liat, apa yang terjadi dengan uplik & bleki. Argumen apa > > yang mau dipertahankan si uplik sedangkan dia tak pernah mampu > > berpendapat alias gardot (gara dae otak). Argumen apa yang bisa > > dipertahankan si bleki dengan lari-lari anjing terus begitu. > > > > Nggak, nggak betul prol demen ribut. Yang ada cuma 2 homo (yang > > satu darah tinggi, satunya lagi stress) yang memanfaatkan > > kebebasan di prol untuk ngigo, nyampah, memfitnah dll yg sifatnya > > mencari kepuasan diri sendiri. > > > > Tentu saja gampang untuk bilang "jangan ladeni". Tapi yang > > udah-udah itu justru membuat kedua homo itu semakin beringas & > > kasar untuk sekedar menunjukkan eksistensinya. > > > > Enggak, kita nggak butuh yang begituan. Cecunguk-cecunguk yang > > sama sebangun dengan FPI. > > > > > > --- "liver_duke" <endyonisius@...> wrote: > > > > > kemarin ada beberapa email yg ditujukan kepada owner prols, > > > termasuk japri dari kang sur mengenai kiprah si poster ini. > > > > > > saat itu saya baru pulang dari survey terumbu karang (buset, > > > diving pada bulan berakhiran "ber" begini, gk kuat ombaknya), > > > dan penanaman mangrove di dua kabupaten pesisir. lalu saya > > > tanggapi balik termasuk "eksekusi", atas dasar "kepercayaan". > > > > > > tapi selain gk ada tanggapan balik, justru malah nemu forward > > > kayak beginian. apa sebetulnya di prols emang demen ribut hehee > > > > > > ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
