Teguh Santosa tidak mencari masalah dengan Lin Che Wei, 
karena tulisannya lebih untuk mengembalikan ingatan ke 
periode ingar-bingar 10-12 tahun lalu, dalam konteks 
posisi si misterius SBY yang kini jadi presiden itu. 

Tidak terlalu misterius sebenarnya, karena media terus 
menguliti dia dan nyaris menghentikan langkahnya 
untuk melanjutkan "missi agennya" yang keduakali melalui 
pilpres 2009. 

Sayangnya para capres yang ada saat itu terlalu asyik 
terperangkap dalam politik kekuasaan. Sehingga lupa "berkorban" 
untuk tujuan yang lebih besar dari sekedar kursi istana. 

Jika saja Mega, Prabowo, Kalla, dan Wiranto, saat itu betul 
berpihak ke bangsa yang manis ini, mestinya bisa mengendalikan 
partai masing-masing untuk mendesak SBY memenuhi panggilan DPR 
tahun 2008 guna mempertanggungjawabkan kerjanya selama 
menjadi menteri pertambangan di era ingar-bingar yl. Era di mana 
dia terkejut digusur Gus Dur dari posisi basah itu tapi tidak 
mau langsung berhenti / keluar dari kabinet. 

Pembubaran BP Migas ini belum akan merubah apa-apa dalam hal 
perminyakan dan pertambangan secara luas. Sebab, seperti 
kemunculan Jokowi-Ahok di DKI yang menjadi muara dari gelombang 
harapan akar rumput, pembubaran BP Migas barulah tahap "ketuk pintu" 
untuk memasuki era kedaulatan sumber daya alam. 

Cilakanya, baru ketuk pintu pun dari Merdeka Selatan dsk sudah 
berembus pikiran-pikiran untuk memindahkan Arab Spring ke Nusantara, 
bukan cuma ke JKT. 

Betul-betul memilukan, kita harus "mengetuk pintu" dari gerbang 
yang kita bangun sendiri 67 tahun lalu.. 


--- Batara Hutagalung <batara44rh@...> wrote:

> Setelah Mahkamah Konstitusi
> (MK) membatalkan UU Migas (disahkan tahun 2001), maka pemerintah 
> harus mematuhi putusan MK dan membubarkan Badan Pelaksana Kegiatan 
> Usaha Hulu Minyak dan Gas (BP Migas).
> Beragam reaksi dan tulisan muncul sehubungan dengan hal ini. 
> Sebagimana biasanya, tentu ada pro dan kontra, ada yang senang dan 
> ada yang sedih, terutama para direksi dan staf BP Migas tersebut, 
> karena konon gaji mereka setinggi langit. Juga dengan kantor-kantor 
> yang mewah, yang bahkan lebih mewah daripada kantor menteri.
> Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menemukan adanya kontraktor yang 
> memanipulasi perhitungan, yang merugikan  negara sebesar 1,7 milyar 
> US $  (sekitar 16,1 trilyun rupiah).
> Yang ingin mempertahankan BP Migas berargumentasi, bahwa ini adalah 
> produk reformasi, untuk memperbaiki system yang dilakukan di maas 
> Orde Baru.
> Beberapa tulisan menyoroti proses pembahasan dan pengesahan undang-
> undang Migas tahun. 2001.
> Ada dua tulisan yang sangat menarik sehubungan dengan proses 
> pembahasan dan pengesahan UU tersebut.
> Yang pertama dari Lin Che Wei, ekonom, yang menulis di facebooknya.
> Yang kedua dari Teguh Santoso, Chief Editor Rakyat merdeka-Online/ 
> Chairman of Foreign Affairs of the PP Pemuda Muhammadiyah, yang 
> menukis di weblognya.
>  
> Selengkapnya:
> http://batarahutagalung.blogspot.com/2012/11/latar-belakang-pengesahan-uu-migas-2001.html
>  
>  
> Salam,
>  
> Batara R. Hutagalung
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>





------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke