Yah bukan kasar2an kaya di Prol; mereka datang ke kamarku; biasa ngobrol ramah tamah; terus sedikit demi sedikit menjurus. Tapi memang setelah itu; jadi agak hambar mereka berhubungan denganku.
--- On Thu, 11/29/12, ayub <[email protected]> wrote: From: ayub <[email protected]> Subject: Re: [proletar] Re: Jusfiq Hadjar... To: "[email protected]" <[email protected]> Received: Thursday, November 29, 2012, 4:42 AM debat agama secara langsung ?? kalah pun gak nyaman ... palagi menang. paham kan... ________________________________ From: suryana <[email protected]> Sepertinya teman kantor bukan menang menang an, melainkan pasif, lha umat Kristen/Khatolik secara tidak langsung " diharapkan tidak berdebat agama dengan agama lain " Mengapa hal ini bisa terjadi, karena debat agama, membutuhkan waktu tidak sedikit, semisal utk menjadi seorang romo, saja membutuhkan waktu minimal 5 tahun, dan yg dipelajari bukan saja Alkitab ( lama dan baru ), juga sejarah, adat istiadat, hukum ( alakadarnya ), politik ( alakadarnya ). Sedang umat Khatolik lebih parah lagi, tidak banyak yg memahami Alkitab seperti umat Karesten sok tahu, dimana main comot ayat per ayat doangan. aku saja paling ogah orat oret agama, padahal di kampung ku aku suka di sebut Muslim yg baik ( biarpun mereka tahu aku bukan Muslim ), semua karena dari tingkah laku. Di Prol aku memaki ke warga Karesten tertentu yg suka sok tahu, apalagi agama yg dianutnya beda dengan apa yg didiskusikan. Semisal aku kecewa ke Gabriel yg bermain ayat Alquran, karena ayat tsb pada intinya tidak bisa dibaca secara letterlik ( seperti apa yg ditulis oleh kang Pin Pin ), terlalu rumit dan rumek diskusi agama, karena yg menguasai sampai dalemannya tidak banyak yg tahu. Semisal Romo Mangun, utk menjadi seperti Romo Mangun maka membutuhkan waktu bisa puluhan tahun, Mother Teresa saja baru bisa diakui Vatican setelah puluhan tahun berkarya di India, dan sepeninggal Mother Teresa, para murid Mother Teresa kena bombardir masyarakat India, karena dituduh melakukan kristenisasi, semua disebabkan murid Mother Teresa tidak memahami maksud dan tujuan Mother Teresa membantu masyarakat miskin, sama halnya Romo Mangun, setelah meninggal tidak memiliki penerusnya secara langsung, disebabkan utk mampu menjadi seorang Romo Mangun membutuhkan banyak pengetahuan, tidak asal bantu. ----- Original Message ----- From: "Dimas Wuryanto" <[email protected]> Tapi Rah yang Humoris maaf beribu maaf yah. Kalau kukatakan beberpa katholik dan Protestan di kantorku tak ada yang bisa menang TARUNG karo aku. Dan sejak kekalahan2 mereka; tak ada yang beraani lagi bejaban dengan aku. Adu LOGIC. Yah memang sih umat Islan buaaanyak yang bodoh2; tapi tak kurang juga yang CERDAS ! Jangan under estimate. [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
