si mpret mahasiswa teladan? salah cetak tuh, yg bener itu "telatan". maklum, malemnya sering nenggak bir cap duren busuk.
--- In [email protected], "ajeg" <ajegilelu@...> wrote: > > > Versi media lain, 2 tahun lalu: > > www.metrotvnews.com/index.php/metromain/newsprograms/0000/00/00/4443/Para-Bupati-yang-Berprestasi > > > > Hei pret, kalo ada yang tanya tuh mbok dijawab. > > Kalo kayak gini kan siapa yang percaya elu pernah > jadi mahasiswa, ngaku teladan pula. > > Udah bagus judul subject nggak gua ganti "inilah > jawaban si tumpul" > > > --- "ttbnice" <rparapat@> wrote: > > > Ya tanya tempo lah... > > > > --- "arra_s" <arra_s@> wrote: > > > > > Pret.. > > > katanya 7, kenapa yg disebut hanya 4? > > > mana yg 3 lagi? > > > > > > > > > --- "ttbnice" <rparapat@> wrote: > > > > > > > Jangan lagi pilih pemimpin2 yang baik hati dan tidak sombong > > > > seperti mas Boy, tapi mulai pilih pemimpin yg berpengalaman.... > > > > dan sukses.. > > > > > > > > > > > > ====== > > > > > > > > TEMPO.CO, Jakarta - Majalah Tempo edisi Senin 10 Desember 2012 > > > > menetapkan tujuh kepala daerah pilihan, tapi bukan berarti > > > > pemimpin bagus dari 497 kota dan kabupaten di seluruh Republik > > > > hanya tersisa tujuh tokoh ini. Pasti masih ada kepala daerah > > > > cakap yang luput dari »radar" kami, walaupun jumlah yang lurus > > > > sekaligus berprestasi sangat terbatas. > > > > Bahwa Bupati Garut Aceng Fikri tak masuk daftar, misalnya, > > > > bukan akibat nikah siri empat hari yang dilakoninya, melainkan > > > > berhubungan dengan kriteria hasil kerja yang tak mengesankan. > > > > Tujuh kepala daerah terpilih tahun ini merupakan bagian dari > > > > stok yang sedikit: pemimpin dengan sejumlah inovasi untuk > > > > membangun masyarakatnya serta bebas dari korupsi--setidaknya > > > > sampai Tempo menurunkan laporan utama ini. > > > > Era otonomi daerah sejak 1999, yang disempurnakan lima tahun > > > > kemudian dengan pemilihan langsung kepala daerah, membawa > > > > berkah sekaligus »musibah". Berkah itu datang dari kedekatan > > > > »jarak" pemimpin dengan yang dipimpin, yang membuat penanganan > > > > masalah rakyat lebih cepat. > > > > Pembangunan daerah semestinya bisa semakin bergegas lantaran > > > > pemimpin yang tumbuh dari masyarakatnya akan lebih gampang > > > > menggerakkan komunitas itu. Tapi »musibah" juga datang, > > > > terutama di daerah dengan kelas menengah yang belum bangkit. > > > > Sistem pengawasan yang lemah membuat korupsi tumbuh subur. > > > > Komisi Pemberantasan Korupsi mencatat, 31 bupati dan wali kota > > > > menjadi terpidana korupsi sejak 2004. > > > > Artinya, korupsi masih merupakan masalah akut otonomi daerah. > > > > Sangat jelas benang merah antara korupsi dan sejumlah indeks > > > > keberhasilan pembangunan. Daerah dengan pemimpin korup umumnya > > > > tak berhasil mencapai angka bagus pada berbagai indeks > > > > pembangunan, misalnya indeks pembangunan manusia atau indeks > > > > kesejahteraan rakyat. > > > > Perkecualian hubungan antara korupsi dan sejumlah indeks tadi > > > > memang terjadi di satu-dua daerah yang benar-benar kaya sumber > > > > daya alam. Kutai Kartanegara merupakan satu contoh. Walaupun > > > > pemimpinnya di masa lalu sempat ditahan karena korupsi, berkat > > > > bahan tambang yang melimpah ruah, indeks pembangunan manusia > > > > tetap tinggi. Di daerah dengan sumber daya alam terbatas, atau > > > > > > > sama sekali tak tersedia, korupsi segera akan terlihat > > > > dampaknya. > > > > Kemampuan daerah membuat terobosan, yang tentu memerlukan dana > > > > tak sedikit, akan sangat terbatas. > > > > Yang menarik dari tujuh pemimpin pilihan ini, ada semacam > > > > kesamaan pandangan bahwa korupsi akan membuat pemimpin berjarak > > > > dengan masyarakatnya, dan akhirnya menyulitkan usaha menggalang > > > > dukungan rakyat. Para kepala daerah ini berkeyakinan bahwa > > > > hanya pemimpin bersih yang sanggup merebut hati rakyat untuk > > > > mendukung program kerja mereka. Cerita Bupati Banjar Herman > > > > Sutrisno menjadi bukti. Pemimpin sebuah kabupaten di Jawa Barat > > > > ini tidak pernah membeli dukungan rakyat. Bupati yang dokter > > > > ini cukup bekerja keras memperbaiki tingkat kesehatan warga. > > > > Imbalan yang ia peroleh luar biasa: 94 persen rakyat Banjar > > > > memenangkannya untuk periode kedua. > > > > Sikap antikorupsi saja tak cukup. Leadership kuat, yang > > > > diwujudkan dengan berani, sangat diperlukan untuk menangani > > > > beribu masalah di daerah. Sungguh beruntung, tujuh pemimpin > > > > pilihan ini mempunyai berbagai kelebihan. Wali Kota Surabaya > > > > Tri Rismaharini, umpamanya, berani menolak pembangunan jalan > > > > tol yang membelah Kota Surabaya. Risma berkukuh menaikkan tarif > > > > papan reklame besar yang selama ini dianggapnya merusak > > > > keindahan kota, walaupun Dewan Perwakilan Rakyat Daerah > > > > mengancam mencopotnya. > > > > Ada contoh lain. Yusuf Wally, Bupati Keerom--sebuah kabupaten > > > > di Papua yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini--berani > > > > meminta TNI mengurangi pasukan. Alasan Wally: ia tak ingin > > > > penduduk daerah rawan konflik itu terus-menerus menderita > > > > trauma lantaran »dikepung" pasukan dalam jumlah besar. > > > > Kepemimpinan kuat ditunjukkan Wally ketika ia membuat > > > > kemeriahan di kantornya pada 1 Desember lalu, bertepatan dengan > > > > peringatan kemerdekaan Organisasi Papua Merdeka. Ia mendukung > > > > OPM? Tidak. Dia justru berupaya mengalihkan perhatian rakyat > > > > Keerom agar tidak melulu berpikir soal kemerdekaan OPM. > > > > Leadership kuat, keberanian dalam mengimplementasikan program, > > > > serta konsistensi, merupakan kunci sukses tujuh kepala daerah > > > > pilihan ini. Tapi pemilihan langsung tak selalu menghasilkan > > > > pemimpin dengan kualitas seperti pendahulunya. Maka, tantangan > > > > terbesar bagi para leader itu akan datang setelah mereka tak > > > > lagi menjabat. Tantangan itu adalah menjamin kelangsungan > > > > program yang sudah berhasil memperbaiki wajah daerah, yang bisa > > > > dilakukan umpamanya dengan membuat peraturan daerah yang kokoh. > > > > Mereka juga bisa menghidupkan partisipasi masyarakat untuk > > > > menjaga keberlanjutan programnya. > > > > Barangkali tujuh pemimpin daerah pilihan Tempo 2012 ini belum > > > > mencapai kelas »The Magnificent Seven"--meminjam istilah dunia > > > > bulu tangkis untuk tujuh pendekar Indonesia 1970-an yang > > > > merajai pelbagai turnamen kelas dunia. Tapi mereka patut > > > > mendapat perhatian kita, terutama pada saat krisis kepemimpinan > > > > melanda Republik--seperti sekarang ini. Jika para kepala daerah > > > > ini konsisten menjaga prestasinya, mereka pantas kita calonkan > > > > sebagai pemimpin di level yang lebih tinggi. > > > > > > > > > > ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
