Tidak bisa begitu juga, melarang atau mengharamkan seseorang yang bukan menjadi 
bagian dari suatu kelook u tuk melakukan kritik terhadap kelompok atau ideologi 
yang dianut oleh kelompok tersebut pun adalah konyol. Cara berfikir atau norma 
atau peraturan semacam ini bukan berarti bebas dari conflict of interest pula, 
karena kita belum tentu selalu bisa diandalkan untuk melakukan "otokritik" - 
terlebih lagi jika kita mendapatkan keuntungan tertentu jika kita memilih sikap 
membungkam saja.

Dan yang jauh lebih penting dari itu adalah, norma atau peraturan tersebut akan 
mustahil untuk diaplikasikan, karena tidak ada batasan yang jelas yang 
diterapkan atau bisa diterapkan dalam menentukan kesesuaiannya.

Contohnya, dilarang melakukan kritik terhadap perilaku agama lain jika bukan 
merupakan bagian dari agama tersebut, norma tersebut mengandaikan terdapat 
batasan agama sebagai patokannya. Tetapi peraturan tersebut akan menjadi rancu 
jika dikatakan bahwa walaupun agamanya berbeda tetapi kita masih satu 
kewargnegaraan.

Contoh lainnya, dilarang melakukan kritik politik jika sendirinya tidak 
berpolitik, lho bukankah dalam kehidupan makhluk manusia ini cuma dibutuhkan 
dua ekor manusia saja untuk melihat terjadinya proses perpolitikan di antara 
keduanya? Bukankah dengan melakukan kritik itu sendiripun pada dasarnya ia 
telah berpolitik?

Contoh satu lagi, yang bisa jadi adalah lebih berbahaya adalah jika norma 
tersebut diaplikasikan untuk membungkam mulut rakyat. Misalnya jika rakyat 
sudah tidak boleh melakukan kritik terhadap proses perpolitikan pemerintah, 
dengan dasar bahwa rakyat tidak ikut berpolitik. Atau jika misalnya seorang 
Kang Sur, meskipun ia adalah seorang kader PDIP, dilarang untuk melakukan 
kritik terhadap PDIP, karena ia bukanlah bagian dari eselon 2 partai.

Hal ini masih dikomplikasikan lagi dengan jika mereka yang sudah di dalam akan 
menjadi semakin elit dan tidak tersentuh karena siapapun yang diketahui 
berpotensi untuk melakukan otokritik sudah ditendang bahkan sejak sebelm masuk, 
hasilnya tidak ada kritik dari luar dan jangan harap ada kritik dari dalam.

Terakhir, sering kali seseorang yang sedang berada di dalam suatu institusi, 
ideologi, partai, organisasi, kepercayaan, dan sebagainya - tidak memiliki daya 
tilik akan kegilaan dari posisinya berdiri. Bukankah orang-orang semacam ini 
harus berterimakasih jika jiwa-raganya bisa terselamatkan karena ada yang 
meneriaki dari luar?

Kritik, lakukan saja, hanya pandir nan dungu yang enggan mendengarkan kritik. 
Ia tak akan maju.


camarmerah




--- In [email protected], "suryana"  wrote:
>
> From: "Nub" 
> 
> > --- In [email protected], "arra_s"  wrote:
> >
> >>
> >> ini yg menyebabkan isi debat si jusfiq terdengar basi..
> >> Jusfiq ingin mengkritik indonesia..
> >> namun siapa kah dia?
> >> masihkah dia bagian dari Indonesia?
> >>
> >> item dan gabriella ingin mengkritik islam..
> >> manun siapakah mereka?
> >> islam kah mereka?
> >>
> >> apabila seseorang mengkritik dari luar arena..
> >> maka yg terjadi hanyalah conflick of interest..
> >
> >
> > Entah dimana anda belajar logik kaya gini, mungkin cuma dipesantren. Saya 
> > tidak perlu menjadi pemerkosa untuk mengkritik bahwa memperkosa itu salah.
> ++++
> Maaf, bila mau berbuat sesuatu tanpa mendalami apa yg akan diperbuatnya 
> apakah hal itu menjadi benar ?
> 
> Dalam halnya agama, bila ada yg tidak setuju dengan isi dari buku 
> kepercayaannya bagaimana bisa melakukan kritik sedang penganut kepercayaan 
> nya tidak sedikit.
> 
> Bagaimana bisa memberi komentar politik harus begini dan harus begitu sedang 
> didalam perpolitikan tidak ikut berpartisipasi.
> 
> Maaf dengan
> "Saya tidak perlu menjadi pemerkosa untuk mengkritik bahwa memperkosa itu 
> salah. "
> 
> Kalimat diatas menjadi aneh bila dijadikan pembenaran bahwa utk menjelaskan 
> bahwa memperkosa itu salah, apa bedanya dengan komentator sepak bola yg bisa 
> bicara harus seperti ini dan seperti itu, padahal bukan dari bagian dari 
> kelompok sepak bola yg sedang bermain.
> 
> Istilah lainnya, bila morang maring terhadap sesuatu yg dianggap " salah ", 
> lalu memberi komentar dengan ngotot bahwa sudah menguasai apa yg sedang 
> dikomentarinya apa bedanya dengan komentar sepak bola ?
> 
> Apa jadi nya bila komentar komentar tsb dilakukan dengan kepala panas 
> sehingga komentar yg diucapkan bukan memperbaiki malah menambah panas dan 
> bila tidak hati hati malah komentar tsb menjadi pemicu kekacauan.
> 
> Dimanapun bila seseorang akan memberikan komentar, maka minimal mengetahui 
> apa yg akan dikomentarinya, bilamana ada komentar yg kurang cocok tentunya 
> mau menerima kritik dari apa yg dikomentarinya, dan tentunya tidak akan 
> ngotot layaknya seorang yg sedang menjalankannya.
> 
> Semoga bisa memahami makna diskusi dan komentar.
> Komentar akan disukai bila tidak berpihak ke kiri dan kanan.
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke