----- Original Message ----- 
From: "suryana" <[email protected]>


> Ada istilah kritikus, dan kritikus berbeda dengan komentator.
> Komentator asal cuap mengenai obyect yg sedang dilakukannya, mengenai 
> benar dan kelirunya no sekian.
> ( paling asoy contoh komentator olah raga asal Indonesia ).
>
> Berbeda dengan kritikus, seorang akan disebut kritikus ketika membahas 
> suatu object berlandaskan data yg sama dengan apa yg sedang dibahas dan 
> dilakukan tidak dengan ngotot tidak karuan.
>
> Melakukan kritik politik, tanpa memahami politik yg sedang dibahas sama 
> juga bicara dengan komentator.
>
> Melakukan kritik agama, tanpa memahami umat yg sedang dibahas sama juga 
> bicara dengan komentator.
>
> Melakukan kritik cap cay puyung hai, tanpa memahami apa isi capcai puyung 
> hai, sama saja bicara dengan orang yg bermata buta, hidung mangpet dan 
> lidah sariawan berat.
>
> Melakukan kritikan mengenai sebuah agama, apapun agamanya, maka minimal 
> harus mempelajari kitab suci yg akan dikritisi, dan utk mempelajari hal 
> ini sebenarnya sudah menjadi "umat" dari agama yg akan dilakukan 
> kritiknya, karena utk mempelajari sebuah ajaran agama tidak bisa dilakukan 
> dalam hitungan bulan, karena bisa dibilang hampir semua agama di dunia 
> memiliki keunikan nya masing masing.
>
> Karena itu timbul conflict of interest karena melakukan kritik dengan pola 
> pikir menurut dirinya sendiri, tidak lagi dari kacamata lain.
>
> Dan sialnya warga Prol yg anti Islam paling suka morang maring tanpa 
> solusi, yg ditulis semua yg buruk, tanpa peduli situasi dan kondisi 
> dilapangan yg berbeda beda.
>
> Semisal seorang Pastor di Tim Tim akan marah bila ada umatnya bubaran misa 
> digereja tidak mencium tangan si pastor, sedang dilain tempat bubar yah 
> pulang.
>
> Semisal ada umat nyelonong minta hosti, padahal bukan umat langsung 
> digebuki sampai babak belur padahal ditempat lain cukup diminta utk tidak 
> dilakukan lagi diwaktu yg akan datang.
>
> Dalam halnya kampung Petar, bagi warga lama tentunya paham bahwa apa yg 
> selalu di kotbahkan oleh para anti Islam bolak balik yah seperti itu, 
> tidak pernah jauh dari selangkangan, dengan kalimat kasar dan langsung 
> memutuskan bahwa itu salah ini salah, tanpa peduli didalam kehidupan nyata 
> berbeda dengan yg terjadi didunia maya.
> Dan menurutku itu bukan kritik, melainkan maki maki karena didunia nyata 
> tidak bisa memaki maki, padahal didunia nyata bila ada hal hal yg kurang 
> jelas masih bisa dan banyak tempat bertanya.
>
> Sama halnya orang Karesten sejak lahir, maka Katholik adalah agama yg 
> sudah seharusnya ditinggalkan, tanpa peduli bahwa hierarki Katholik 
> termasuk terbaik di dunia.
>
>
> ----- Original Message ----- 
> From: "alqafirun" <[email protected]>
>
>
>> Tidak bisa begitu juga, melarang atau mengharamkan seseorang yang bukan 
>> menjadi bagian dari suatu kelook u tuk melakukan kritik terhadap kelompok 
>> atau ideologi yang dianut oleh kelompok tersebut pun adalah konyol. Cara 
>> berfikir atau norma atau peraturan semacam ini bukan berarti bebas dari 
>> conflict of interest pula, karena kita belum tentu selalu bisa diandalkan 
>> untuk melakukan "otokritik" - terlebih lagi jika kita mendapatkan 
>> keuntungan tertentu jika kita memilih sikap membungkam saja.
>>
>> Dan yang jauh lebih penting dari itu adalah, norma atau peraturan 
>> tersebut akan mustahil untuk diaplikasikan, karena tidak ada batasan yang 
>> jelas yang diterapkan atau bisa diterapkan dalam menentukan 
>> kesesuaiannya.
>>
>> Contohnya, dilarang melakukan kritik terhadap perilaku agama lain jika 
>> bukan merupakan bagian dari agama tersebut, norma tersebut mengandaikan 
>> terdapat batasan agama sebagai patokannya. Tetapi peraturan tersebut akan 
>> menjadi rancu jika dikatakan bahwa walaupun agamanya berbeda tetapi kita 
>> masih satu kewargnegaraan.
>>
>> Contoh lainnya, dilarang melakukan kritik politik jika sendirinya tidak 
>> berpolitik, lho bukankah dalam kehidupan makhluk manusia ini cuma 
>> dibutuhkan dua ekor manusia saja untuk melihat terjadinya proses 
>> perpolitikan di antara keduanya? Bukankah dengan melakukan kritik itu 
>> sendiripun pada dasarnya ia telah berpolitik?
>>
>> Contoh satu lagi, yang bisa jadi adalah lebih berbahaya adalah jika norma 
>> tersebut diaplikasikan untuk membungkam mulut rakyat. Misalnya jika 
>> rakyat sudah tidak boleh melakukan kritik terhadap proses perpolitikan 
>> pemerintah, dengan dasar bahwa rakyat tidak ikut berpolitik. Atau jika 
>> misalnya seorang Kang Sur, meskipun ia adalah seorang kader PDIP, 
>> dilarang untuk melakukan kritik terhadap PDIP, karena ia bukanlah bagian 
>> dari eselon 2 partai.
>>
>> Hal ini masih dikomplikasikan lagi dengan jika mereka yang sudah di dalam 
>> akan menjadi semakin elit dan tidak tersentuh karena siapapun yang 
>> diketahui berpotensi untuk melakukan otokritik sudah ditendang bahkan 
>> sejak sebelm masuk, hasilnya tidak ada kritik dari luar dan jangan harap 
>> ada kritik dari dalam.
>>
>> Terakhir, sering kali seseorang yang sedang berada di dalam suatu 
>> institusi, ideologi, partai, organisasi, kepercayaan, dan sebagainya - 
>> tidak memiliki daya tilik akan kegilaan dari posisinya berdiri. Bukankah 
>> orang-orang semacam ini harus berterimakasih jika jiwa-raganya bisa 
>> terselamatkan karena ada yang meneriaki dari luar?
>>
>> Kritik, lakukan saja, hanya pandir nan dungu yang enggan mendengarkan 
>> kritik. Ia tak akan maju.
>>
>>
>> camarmerah
>>
>>
>>
>>
>> --- In [email protected], "suryana"  wrote:
>>>
>>> From: "Nub"
>>>
>>> > --- In [email protected], "arra_s"  wrote:
>>> >
>>> >>
>>> >> ini yg menyebabkan isi debat si jusfiq terdengar basi..
>>> >> Jusfiq ingin mengkritik indonesia..
>>> >> namun siapa kah dia?
>>> >> masihkah dia bagian dari Indonesia?
>>> >>
>>> >> item dan gabriella ingin mengkritik islam..
>>> >> manun siapakah mereka?
>>> >> islam kah mereka?
>>> >>
>>> >> apabila seseorang mengkritik dari luar arena..
>>> >> maka yg terjadi hanyalah conflick of interest..
>>> >
>>> >
>>> > Entah dimana anda belajar logik kaya gini, mungkin cuma dipesantren. 
>>> > Saya
>>> > tidak perlu menjadi pemerkosa untuk mengkritik bahwa memperkosa itu 
>>> > salah.
>>> ++++
>>> Maaf, bila mau berbuat sesuatu tanpa mendalami apa yg akan diperbuatnya
>>> apakah hal itu menjadi benar ?
>>>
>>> Dalam halnya agama, bila ada yg tidak setuju dengan isi dari buku
>>> kepercayaannya bagaimana bisa melakukan kritik sedang penganut 
>>> kepercayaan
>>> nya tidak sedikit.
>>>
>>> Bagaimana bisa memberi komentar politik harus begini dan harus begitu 
>>> sedang
>>> didalam perpolitikan tidak ikut berpartisipasi.
>>>
>>> Maaf dengan
>>> "Saya tidak perlu menjadi pemerkosa untuk mengkritik bahwa memperkosa 
>>> itu
>>> salah. "
>>>
>>> Kalimat diatas menjadi aneh bila dijadikan pembenaran bahwa utk 
>>> menjelaskan
>>> bahwa memperkosa itu salah, apa bedanya dengan komentator sepak bola yg 
>>> bisa
>>> bicara harus seperti ini dan seperti itu, padahal bukan dari bagian dari
>>> kelompok sepak bola yg sedang bermain.
>>>
>>> Istilah lainnya, bila morang maring terhadap sesuatu yg dianggap " salah 
>>> ",
>>> lalu memberi komentar dengan ngotot bahwa sudah menguasai apa yg sedang
>>> dikomentarinya apa bedanya dengan komentar sepak bola ?
>>>
>>> Apa jadi nya bila komentar komentar tsb dilakukan dengan kepala panas
>>> sehingga komentar yg diucapkan bukan memperbaiki malah menambah panas 
>>> dan
>>> bila tidak hati hati malah komentar tsb menjadi pemicu kekacauan.
>>>
>>> Dimanapun bila seseorang akan memberikan komentar, maka minimal 
>>> mengetahui
>>> apa yg akan dikomentarinya, bilamana ada komentar yg kurang cocok 
>>> tentunya
>>> mau menerima kritik dari apa yg dikomentarinya, dan tentunya tidak akan
>>> ngotot layaknya seorang yg sedang menjalankannya.
>>>
>>> Semoga bisa memahami makna diskusi dan komentar.
>>> Komentar akan disukai bila tidak berpihak ke kiri dan kanan.
> 



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke