sebelum saya mulai lecture saya, ijinkan saya menyapa semua peserta milis. bismilah nirohma nirohim, asalamulaikum semuanya. hadirin dan hadirot... engga hadir gua garot!!
sebenernya mengutip nama2 beken sih ada gunanya juga dimilis ini. orang2 katro kaya lu kan langsung genter begitu ada nama atheis yg setuju ama argumen gua. keliatan waktu lu bilang gua ngutip cuma scientist yg juga penginjil, bukan perkataan paul davies dkk, ehh begitu gua kutip omongannya si paul davies (yg bukan kristen) langsung lu skip tuh posting gua dan mulai rada berkurang nada arogan lu. Lu ngajak gua debat argumen gua, begitu gua masuk ke filsafat keliatan lu ga bisa bales argumen gua. Kali ini juga begitu jon. siap2 malu ya, tapi jangan di delete itu akun lu, lumayanlah ada lu bisa jadi hiburan buat gua. Sekarang mari kita bahas argumen lu. Pertama2, ijinkan saya untuk mempermalukan si jontor yg bilang bahwa tidak ada kebenaran yang absolute, semuanya relative. Tapi kalimat ini self kontradiksi. Kalimat ini beranggapan bahwa kalimat tersebut adalah kebenaran yang absolute. Kalau tidak ada satupun yang absolute, maka kalimat si jon pun tidak absolute benar. Nah lho !! bingung sendiri kan lo. Jon bilang kalo ada orang yg mengatakan kebenaran absolut itu ada, berarti orang tersebut tidak pernah mendengar teori relativitasnya einstein. Ini namanya sotoy to the max !! Teori relativitas Einstein memang menunjukan bahwa tidak ada yang namanya `absolut motion' (gerakan yg mutlak). Tidak ada yang namanya waktu dan ruang yang absolut. Tapi teori relativitas itu sendiri bergantung pada sesuatu yang tidak relative. Teori Einstein bergantung, sebagian, pada konstanta tetap, yaitu kecepatan cahaya. Jadi teori Einstein ini sama sekali tidak mengatakan bahwa semuanya itu relative, tidak ada yang absolute. Sekarang kita masuk ke contoh kedua si jontor. Dia bilang itu bidang social, tapi gw masukin ke kategori moral. Jon bilang, dalam hal moral pun tidak ada kebenaran yang objektif. Tapi, seperti biasa, Jon salah besar. Tanggung jawab moral, kejahatan, pujian, kesalahan, keadilan, toleransi adalah konsep yang mempunyai arti bagi common sense kita sebagai manusia. Semuanya diukur oleh intuisi moral kita, tapi relativisme membuat semua hal tersebut menjadi tidak ada artinya. Relativisme menjadikan kita tidak bisa menyalahkan perbuatan orang lain. Relativisme membuat kita tidak bisa mengkritik perbuatan orang lain, karena relativisme pada akhirnya menolak bahwa hal tersebut adalah salah. Jika anda percaya bahwa permasalahan moral itu adalah hanya sekedar pendapat pribadi, berarti anda sudah menyerahkan hak anda untuk menghakimi perbuatan orang lain tidak peduli bagaimana kasarnya atau jahatnya perbuatan orang tersebut. Anda mungkin bisa mengekspresikan emosi anda, tapi anda tidak bisa mengatakan bahwa mereka salah. Dalam relativisme, anda tidak bisa mengkritik, menyalahkan atau memuji orang lain. Ibaratnya seperti ingin mengadili seorang criminal dipengadilan dimana tidak ada hukum. Berbohong pun tidak salah walaupun kebohongan itu merugikan seseorang yang tidak berdosa. Tidak ada perbedaan yang nyata antara orang yang tidak bersalah dengan orang yang bersalah karena konsep salah dan tidak bersalah tidak mempunyai arti dalam relativisme. Relativisme tidak bisa diskusi moral. Diskusi moral yang berarti hanya bisa dilakukan jika prinsip moral itu diterima secara universal. Tapi relativisme mengatakan bahwa moral itu relative dan semua paham itu sama benarnya. Tidak ada paham moral yang lebih benar dari yang lain, atau lebih buruk dari yang lain. Berdiskusi atau berdebat tentang moral itu berusaha menunjukan bahwa orang lain itu salah. Tidak ada artinya jika anda dan orang tersebut tidak mempunyai konsep benar atau salah yang sama. Relativisme tidak bisa complain tentang kejahatan. Relativisme menolak adanya kejahatan moral yang objektif. Jika tidak ada sesuatu yang lebih tinggi dari manusia didunia ini, apakah artinya moral itu? Ya, hanya sekedar pilihan. Saya suka susu, anda suka daging. Hitler suka membunuh orang, saya suka menyelamatkan orang. Muhammad suka memperkosa, orang baik tidak suka memperkosa. Siapa yang menentukan yang mana yang lebih baik? Anda lihat betapa horror ini. Jika tidak ada Tuan dari jagat raya ini, siapa yang menentukan kalau Hitler itu bersalah? Keadilan adalah konsep kosong dalam relativisme. Keadilan menuntut agar semua orang diperlakukan sama berdasarkan standard apa yang benar. Tapi keberadaan standard ini ditolak dalam relativisme. Keadilan menuntut orang yang bersalah untuk dihukum. Masalahnya, relativisme tidak bisa menentukan siapa yang bersalah, karena memang konsep salah atau benar tidak exist dalam relativisme. Jon mungkin akan bertanya, kalau pemahaman yg objektif itu ada, kenapa ada begitu banyak agama didunia ini? Kenapa ada begitu banyak denominasi Kristen? Jawabannya simple. Kenapa ada banyak sekali orang yang salah menjawab pertanyaan aritmatik? Padahal kita tahu bahwa ada jawaban yang benar dalam aritmatik. Jangan mencapur adukan mana kepercayaan, mana kebenaran. Kebenaran itu ditemukan, bukan diciptakan. Gravitasi sudah ada jauh hari sebelum Newton menemukannya. Kebenaran itu tidak berubah, walaupun kepercayaan kita terhadap kebenaran itu berubah. Dulu orang percaya bahwa bumi itu datar, sekarang kita tahu bahwa bumi itu bulat. Bumi sendiri tidak berubah, hanya kepercayaan kita yang berubah. Kepercayaan tidak dapat merubah fakta. Tidak peduli mau sefanatik apa anda percaya kalau bumi itu datar, kebenarannya tetap bahwa bumi itu bulat. Kebenaran itu universal. 1+1= 2 benar bagi semua orang, setiap saat. Sesuatu yang benar, tidak mungkin salah pada saat yang sama, dalam arti yang sama. Ada yang namanya hukum non-kontradiksi. Bagi yang tidak percaya hukum non-kontradiksi, ada solusi gampang yg diberikan seorang filsuf muslim. Filsuf muslim bernama Avicenna pernah bilang kalau mereka yang tidak percaya hukum non-kontradiksi harus disiksa dan dibakar sampai dia mengaku bahwa dibakar dan disiksa itu tidak sama dengan tidak dibakar dan tidak disiksa! (LOL Sedikit ekstrim, but you get the point). Sekian lecture dari profesor nub. Student jon diberikan assignment untuk memberikan ulasan tentang lecture profesor nub. tapi kalau student jon mau kabur lagi alasan tidak ada waktu juga tidak apa2. Profesor nub akan kasih student Jon 'F'. --- In [email protected], "johny_indon" wrote: > > > ternyata lama2 lu nyadar juga ya kalo terus2an ngutip nama orang itu di prol > ngga ada gunanya. > karena yg lebih penting di sini adalah apa kata elu, bukan apa kata orang. > tapi ini langkah awal yg bagus, walaupun ujungnya sama aja, larena lu masih > mengandalkan > "menurut si anu yg gua percaya lebih pinter dari gua". cuma sekarang lu ngga > berani > nyebut nama si anu nya. > ngga apa2 deh. kapasitas lu emamg cuman segitu kan. > > sekarang balik maning nang laptop. > > jika ada orang yg bilang bahwa kebenaran absolut itu ada dalam frame of > reference > manusia, bisa dipastikan dia ngga pernah denger teori relativitasnya einstein. > kalopun pernah denger, bisa dipastikan ngga ngerti. > > gua ngga akan ngasih kuliah soal teori relativitas, terlalu rumit buat elu. > gua akan kasih contoh2 sederhana aja supaya gampang dicerna. > > contoh 1: > sebuah mobil bergerak dgn kecepatan 100km/jam. apakah itu kecepatan absolut? > ternyata mobil itu dianggap berkecepatan 100km/jam relatif terhadap gedung2 > yg dilewatinya. > terhadap benda2 yg (terlihat) diam. padahal benda yg terlihat diam itu juga > sebenernya bergerak > relatif terhadap satelit di angkasa, misalnya. > dibanding dgn mobil di belakangnya yg berkecepatan 80km/jam kecepatan mobil > itu tidak lagi > 100km/jam. apalagi dibanding bulan, galaksi, dan universe, mobil itu malah > bisa dianggap lagi diem, > karena jaraknya dgn galaksi lain relatif hampir ngga berubah. > nah lu bisa bayangin kan, mobil yg menurut si sopir udah ngebut, menurut yg > lain malah merayap, > bahkan diem. > untuk sementara, for mathematical sake, cahaya dianggap mepunyai keepatan > absolut. > itu karena ngga ada "sesuatu" yg terdeteksi melebihi c. minimal sampe detik > ini konsensusnya begitu. > > mungkin lu ngga percaya bahwa saat lu berada di pesawat jet dgn kecepatan > 1000km/jam > penunjuk detik di arloji lu bergerak lebih lambat daripada penunjuk detik di > arloji mertua lu > di sorga.. eh di bumi. hal ini menunjukkan bahwa dimensi waktu pun ngga ada > yg absolut. > waktu dipengaruhi oleh gerak. semakin cepat lu bergerak semakin lambat waktu > lu bergerak. > jadi para pilot dan pramugari pesawat itu secara fisik, bahkan dalam level > molekular, > umurnya lebih muda daripada sopir kopaja, apalagi dari yg cuman jogging. > karena mereka > terus bergerak dlm kecepatan tinggi tiap hari, waktu mereka bergerak lebih > lambat daripada > waktu di bumi. gerakan2 atom di tubuh merela juga lebih lambat, akibatnya > secara fisik penuaanya > melambat. > aneh ya? ya memang aneh buat yg ngga ngerti fisika. > > itu baru contoh bidang fisika yg sangat menjunjung tinggi logika yg sangat > presisi. > gua tau mungkin contoh sederhana di atas buat orang2 super religius macem elu > agak sulit > dicerna. maklum di sekolah teologi boro2 belajar fisika yah. > > contoh 2: > gua akan kasih contoh bahwa di bidang sosialpun ngga ada kebenaran absolut. > misal, apakah sebuah kejahatan itu absolut? ternyata hampir semua kejahatan > itu relatif. > lu maling di indonesia, maka di indonesia lu jadi orang jahat. > tapi kalo lu kabur ke singapur, di singapur lu ngga dianggap jahat. > padahal nyata2 lu adalah maling, penjahat. > hanya dgn pindah ke negara lain, tiba2 kejahatan lu hilang begitu saja. > > jadi jelas bahwa semuanya di dunia ini relatif (subyektif), sangat ditentukan > oleh frame of reference > (ini istilah fisika kuantum yg kemungkinan besar baru lu baca sekarang, di > prol, bersyukurlah). > > itu sedikit ceramah sekolah minggu hari ini. > beda dgn penceramah di sekolah minggu umumnya, buat gua mah para jemaat prol > boleh bertanya > sesukanya. > silahkan. ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
