Afganistan: Pengantin Perempuan Mullah Yang Berusia 8 Tahun Pendarahan Sampai 
Mati di Malam Pengantin
“Nabi menulis (kontrak nikah) dengan Aisha ketika anak perempuan itu masih 
berusia 6 tahun, dan melaksanakan perkawinannya dengan Aisha ketika ia 
berusia 9 tahun, dan Aisha hidup bersamanya selama 9 tahun (yaitu hingga 
kematian Muhammad)” – Bukhari 7.62.88  
Gambar Ilustrasi: Pernikahan Anak di Afghanistan
Kisah berikut ini sangat tragis, tetapi harus diceritakan, karena kisah ini 
menggambarkan dengan jelas harga seorang manusia dalam pernikahan 
kanak-kanak islami dan perlakuan terhadap wanita dan anak-anak perempuan yang 
hanya merupakan komoditas.  
“Nabi menulis (kontrak nikah) dengan Aisha ketika anak perempuan itu masih 
berusia 6 tahun, dan melaksanakan perkawinannya dengan Aisha ketika ia 
berusia 9 tahun, dan Aisha hidup bersamanya selama 9 tahun (yaitu hingga 
kematian Muhammad)” – Bukhari 7.62.88  
Orang Muslim bersungguh-sungguh dengan hal ini dan benar-benar meneladani 
perbuatan Muhammad ini. Artikel 1041 dalam Undang-undang Sipil Republik 
Islam Iran menyatakan bahwa anak-anak perempuan dapat ditunangkan 
sebelum berusia 9 tahun, dan dinikahi ketika sudah berusia 9 tahun: 
“Pernikahan sebelum pubertas (genap 9 tahun Hijriah bagi anak-anak 
perempuan) adalah dilarang. Kontrak pernikahan dilakukan sebelum 
mencapai pubertas dengan seijin wali adalah sah bila syarat-syarat 
perwalian telah dipenuhi”.
Ayatollah Khomeini sendiri menikahi anak perempuan berusia 10 tahun ketika 
Khomeini telah berusi 28 tahun. Khomeini menyebut pernikahan dengan anak 
perempuan yang belum memasuki masa puber sebagai “sebuah berkah ilahi”, dan 
menyarankan orang-orang beriman untuk: “Lakukanlah semampumu untuk 
menjamin bahwa anak-anak perempuanmu tidak melihat darah pertama 
(mendapat haid pertama) mereka di rumahmu”.
Qur’an juga mengijinkan pernikahan dengan anak-anak perempuan yang belum 
memasuki masa puber, sesuai dengan prosedur perceraian Islam yaitu 
“berlaku terhadap mereka yang belum mendapat haid” (65:4)   
“Pengantin perempuan berusia 8 tahun dibunuh secara brutal pada malam 
pertamanya”, oleh Mustafa Kazemi di Facebook, 17 Mei (terimakasih untuk semua 
yang telah mengirimkan berita ini):
PERINGATAN – Artikel ini memuat informasi yang boleh jadi tidak diinginkan, 
tidak 
menyenangkan dan mengesalkan beberapa pembaca.  
Anak perempuan berusia 8 tahun yang akan anda baca kisahnya dalam 
baris-baris berikut ini tidak dapat bertahan hidup hingga malam kedua 
pernikahannya, dan ia juga tidak berhasil menemui ulang-tahunnya yang 
ke-9 atau ke-10.  
Namanya tidak diketahui, saya ditelepon oleh sumber saya minggu lalu pada pukul 
9.30 malam untuk menceritakan pada saya kisah anak perempuan itu. 
Awalnya saya mengira itu hanya akan menjadi sebuah percakapan singkat 
tetapi kemudian ternyata tidak demikian.
Kisah ini berasal dari sebuah desa di distrik Khashrood, Propinsi Nimruz, 
Afghanistan. Seorang dokter medis ditugaskan di Rumah Sakit utama di 
kota Zaranj, ibukota propinsi. Ia meminta namanya dirahasiakan, dan ia 
mengkonfirmasi bahwa ia “mengetahui” insiden tersebut dan “sudah terlalu 
terlambat untuk menolongnya”, juga “wilayah terpencil tidak mengijinkan mereka 
untuk berbuat apa-apa”. 
Anak perempuan itu adalah salah satu dari beberapa anak perempuan dari 
seorang bapak yang usianya hampir 40-an. Untuk alasan yang tidak 
diketahui ia menyerahkan anak perempuannya kepada Mullah di desa mereka 
demi sejumlah besar uang. Sudah merupakan hal yang biasa terjadi di 
wilayah-wilayah pedesaan Afganistan atau propinsi-propinsi/kota-kota 
tingkat 3, anak-anak perempuan dinikahkan dengan pria tua, dan 
memperdagangkan anak-anak perempuan mereka untuk membayar hutang atau 
membeli barang-barang lain.  
Mullah yang hampir berusia 60 tahun adalah imam desa tempat insiden ini 
terjadi.  
Mullah itu sudah menikah dan mempunyai banyak anak. Kedua keluarga mengadakan 
pertemuan suku, menyepakati harga yang harus dibayar keluarga pihak 
laki-laki kepada keluarga perempuan, dan mereka menetapkan tanggal 
pernikahan.
Di wilayah pedesaan seperti di tempat ini, tidak ada pertunangan atau 
upacara-upacara pendahuluan seperti di beberapa kota metropolitan dan 
wilayah perkotaan.  
Kedua keluarga merencanakan pesta pernikahan dan Akad Nikah berlangsung dan 
pengantin perempuan berusia 8 tahun istri kedua seorang Mullah yang 
telah berusia lebih dari 50 tahun. 
Pesta berakhir dan matahari terbenam – waktunya untuk seks (bukan bercinta) 
dengan pengantin perempuan berusia 8 tahun. 
Anak perempuan itu baru berusia 8 tahun dan semua orang mengerti fakta bahwa ia 
sama sekali tidak tahu soal seks atau pernikahan atau bercinta atau 
keperawanan atau topik-topik yang berkaitan dengan masalah seksual; 
bahkan pada tingkat yang mendasar pun tidak. Itu karena, pertama ia 
masih kanak-kanak – belum menjadi remaja dan di bagian dari negara itu 
tidak seorang pun yang tahu apapun mengenai hal-hal ini, mereka pun 
tidak mendapatkan penataran atau edukasi mengenai kehidupan seksual yang sehat. 
Mullah menelanjangi pengantin perempuan, juga dirinya sendiri, dan dengan 
kegembiraan mendekatinya untuk berhubungan seksual dengan pengantin 
perempuannya yang berusia 8 tahun. Oleh karena tubuh Mullah yang sangat 
besar, maka penisnya pun besar. Ia meniduri gadis itu dan mulai 
melakukan penetrasi ke vagina anak perempuan itu.
Setelah beberapa kali mencoba dan gagal melakukan penetrasi ke vaginanya, 
Mullah menjadi frustrasi.  
Ia gagal karena anak perempuan berusia 8 tahun yang hampir mati itu sangat 
kurus dan vaginanya hanya terbuka sedikit. 
Didorong tindak kebinatangannya, Mullah kemudian mengambil pisau yang tajam 
yang selalu dibawanya dalam sakunya dan merobek vagina gadis itu dari 
klitoris ke atas dan ke bawah hingga ke anus, agar vaginanya cukup lebar 
sehingga ia dapat memasukkan penisnya ke vagina anak itu. 
Sudah tentu anak itu mulai mengalami pendarahan yang sangat hebat, tetapi 
Mullah hanya memikirkan untuk berhubungan seks dengannya, dan tidak 
peduli akan apa yang telah dilakukannya atau pada pendarahan dan luka 
yang telah dibuatnya pada anak itu. 
Kerudung anak itu dijejalkan ke dalam mulutnya, ia menangis dan berusaha agar 
suaranya tidak terdengar karena orang-orang ada di kamar sebelah atau di luar. 
Sudah menjadi aturan di wilayah-wilayah Afganistan bahwa pengantin pria akan 
membawa keluar sepotong kain yang digunakan untuk mengelap darah 
keperawanan istrinya sebagai bukti gadis itu masih perawan. 
Mullah memasukkan penisnya ke dalam vagina anak itu yang terluka parah dan 
bersetubuh dengannya di atas tempat tidur yang bersimbah darah, lalu 
bangun dan membersihkan dirinya dengan kain.  
Anak perempuan itu, yang kini telah kehilangan segalanya, mengalami 
pendarahan dan tidak seorangpun yang menolongnya, ia pun tidak dapat 
meminta Mullah menolongnya karena itu akan mempermalukan Mullah dan 
keluarga anak itu (yang sedang duduk-duduk sambil minum teh di kamar 
lain, akan membunuh Mullah). 
Pengantin perempuan yang berusia 8 tahun itu mengalami pendarahan dan syok 
traumatik karena seks yang dipaksakan dan pendarahan hebat. Saya sangat 
yakin ia kehilangan banyak sekali darah. 
Ia terus pendarahan dan mengalami trauma syok hingga pagi hari, dan pada 
waktu subuh sekitar pukul 5 saat matahari akan terbit, ia meninggal. 
Menurut Mullah, ia pucat dan matanya terbuka lebar ketika ia meninggal. Tempat 
tidur mereka, diceritakan oleh Mullah, berwarna merah karena darah anak 
itu dan ia berbaring bersimbah darahnya. Pakaian di bawah tubuhnya tidak dapat 
dikenali dan segalanya penuh darah kering karena sepanjang malam 
telah dilalui dalam darah. 
Ia pucat karena ia telah kehilangan semua darah dalam tubuhnya. Matanya 
terbuka karena ia gemetaran menjelang ajal dan tangannya berada dalam 
posisi sembahyang, mengucapkan doanya sebelum wafat. 
Mullah memanggil orang yang sama dan memintanya membersihkan kamar yang 
berantakan dan menyiapkan alasan untuk dikatakan kepada orang mengenai 
penyebab kematian anak itu. Oleh karena orang itu adalah teman dekat 
keluarga atau kerabat Mullah, ia melakukan apapun yang dapat ia lakukan, 
termasuk membersihkan setiap kain yang penuh darah. 
Mereka membungkusnya dalam selembar kain putih dan memanggil orang-orang dan 
memberitahu jika ia telah meninggal. 
Pagi itu keluarganya meratapi kematiannya dengan sangat sedih tanpa berusaha 
mencari tahu apa sebenarnya penyebab kematiannya, dan kemudian 
mengambil jasadnya untuk dimandikan sebagai syarat religius.   
Oleh karena Mullah mempunyai pengaruh yang besar di desa itu, tidak satupun 
wanita yang memandikan anak itu yang berani menanyakan mengapa ada luka 
yang besar di vaginanya. 
Pada pukul 10 pagi mereka berangkat menuju ke pemakaman dan memakamkan 
pengantin perempuan yang berusia 8 tahun itu.
Hidupnya sudah berakhir. 
Teman dekat Mullah, yang mengetahui semuanya, merasa sangat terpukul dan 
menceritakan kisah ini pada sumber saya. Ia lalu menelepon saya dan 
menceritakan kisah ini pada saya. 
Dokter lainnya yang saya tanyai di Zaranj mengatakan bahwa ia tidak mengetahui 
kasus tersebut, tetapi ia ingat ia selalu merawat almarhum pengantin 
perempuan itu ketika masih berusia 4 atau 5 tahun.
Dokter ini juga meminta saya agar tidak menyebut namanya dimanapun tetapi 
hanya mengatakan bahwa ia “sangat sedih karena insiden seperti ini masih 
terjadi di Afganistan”. 
Ia menyebutkan alasan mengapa orang Afganistan tidak mengalami kemajuan, 
yaitu karena: kebodohan orang dan perilaku serta tradisi yang biadab. 
Kisah ini sampai kepada saya dan diceritakan sebagaimana kejadiannya oleh 
teman dekat Mullah tersebut, setelah anak itu dikuburkan. Menurut 
Mullah, ia mempunyai “nurani yang buruk” mengenai hal itu.
Mustafa Kazemi
Koresponden Perang AfghanistanDiposkan oleh Robert pada 19 Mei, 2013 – 
Jihadwatch.org

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke