“Hukum Islam Saudi Arabia membuat para wanita hanya bernilai seperti barang
bergerak milik kaum pria, yang dipaksa untuk melayani pria, dan yang
martabat, kehormatan, dan penghargaan yang layak mereka terima sebagai kaum
wanita telah dirampas. Bisa dikatakan bahwa Islam telah mengguncangkan dan
mempermalukan pondasi dasar dari kewanitaan.”


Salah satu aspek yang paling memalukan dari Islam adalah perlakuannya
terhadap kaum wanita. Hal ini merajela berlaku di negara-negara Islam. Agar
kita bisa mengerti kisah Walid, adalah penting untuk memahami dengan benar
bagaimana kehidupan kaum wanita di Saudi Arabia. Kendati masyarakat
Internasional menjadi sangat geram ketika wanita-wanita Saudi dihukum
dengan cambukan, tetapi masih banyak juga orang yang masih sangat sulit
mengerti penindasan-penindasan lainnya yang harus dialami oleh
wanita-wanita Saudi. Tak ada yang lebih nyata jika dibandingkan dengan
hukum-hukum dan pandangan-pandangan terhadap kaum wanita sebagaimana yang
berlaku di Kerajaan ini. Adalah hal yang menyedihkan bahwa wanita dilarang
mengemudikan mobil di Saudi Arabia; meskipun bulan Januari 2008 sebuah
peraturan baru yang mengijinkan wanita untuk menginap di hotel sendirian
telah diberlakukan. Meskipun demikian, banyak sekali hak-hak kaum wanita
yang dilanggar, dan hal ini bisa menolong kita untuk memahami sistem dalam
Kerajaan itu sendiri. Mengapa banyak negara-negara Barat tetap menjalin
hubungan dengan Saudi Arabia, dan mengapa raja Saudi masih diterima di
Istana Buckingham dan di Camp David?


Di Saudi Arabia, wanita hanya memiliki sedikit hak, jika hal itu bisa
dikategorikan sebagai hak. Di McDonald, wanita memesan dari satu sisi
counter yang terpisah dan menghilang dengan makanan mereka ke bagian yang
disebut “ruangan keluarga”. Pria memesan dari sisi yang lain, kemudian
mereka bisa duduk sambil menikmati makanannya di tempat dimana mereka bisa
memandang ke segala arah.


Karena Saudi Arabia adalah sebuah negara Islam konservatif tanpa gedung
bioskop, bar, disko; maka orang-orang Saudi cenderung menghabiskan waktu
mereka berjalan-jalan di mall. Namun dari semua kegemerlapan gaya Barat
yang mereka miliki, tampaknya mall-mall di Ryadh juga merefleksikan budaya
Saudi, dengan ketentuan bahwa para wanita harus menutupi tubuh mereka –
bahkan di cover-cover cd pun tetap terjadi segregasi berdasarkan kelamin.


Bahkan mencoba pakaian pun menjadi hal yang sulit bagi wanita Saudi yang
harus menyerahkan uang deposit sebelum bisa membawa pakaian itu ke kamar
pas. Meskipun reformasi untuk merubah segregasi tengah berlangsung, Saudi
Arabia masih tetap menjadi salah satu negara dengan masyarakat yang paling
konservatif, ada yang mengatakan negara yang paling represif di dunia.


Mengapa hal ini menjadi urusan kita yang hidup di Barat? Terlepas daripada
isu mengenai kekerasan terhadap hak-hak kemanusiaan, kecenderungan bahwa
hal seperti ini akan terjadi di negara-negara Barat sedang muncul!
Sementara populasi Muslim di negara-negara Barat semakin besar, maka seruan
mereka agar hukum Islam diberlakukan di situ pun semakin nyaring terdengar.


Bagi perempuan Saudi, hidup bukanlah sesuatu yang mudah, dimana mereka
hanya dianggap sebagai properti para pria dan mereka harus tinggal di bawah
hukum-hukum Saudi yang keras. Seringkali wanita dibatasi untuk hanya boleh
ada di dalam rumah atau di rumah teman-teman wanita mereka. Seringkali
mereka hanya bisa berhubungan dengan dunia luar melalui internet. Sebab
kecuali mereka ada bersama dengan pasangan atau keluarga mereka, wanita di
Saudi Arabia tidak boleh mengunjungi rumah pria lain dan tidak diijinkan
terlihat bersamanya di hadapan publik. Pada hakekatnya wanita Saudi Arabia
adalah masyarakat kelas dua. Ketika menikah maka mereka harus menikah
dengan orang yang sudah dipilihkan untuk mereka. Jika mereka tidak menikah,
mereka menjadi mahluk yang tidak disukai. Ketidakadilan ini terus
berlangsung di Saudi Arabia sehingga Whalid menawarkan kesaksiannya
mengenai pergumulan-pergumulan yang sedang dihadapi oleh saudari-saudarinya
di Kerajaan ini.


Yang berikutnya, anda akan membaca kesaksian Whalid yang memberitahukan
kepada kita bagaimana seorang ayah bisa berubah menjadi orang yang
menentang anak-anak perempuannya sendiri. Islam mengijinkan hal ini bahkan
mendorong hal ini. Dan hal ini semakin menambahkan alasan kepada kita
mengapa kita harus menentang keras cara-cara Islam yang represif yang
berusaha untuk merubah budaya Barat.


Banyak orang berkata bahwa Islam menghormati dan menghargai kaum wanita.
Tetapi dalam pengalaman saya, saya menemukan bahwa yang mereka katakan itu
sepenuhnya dusta. Sebagai seorang asli Saudi Arabia, saya menyaksikan
sendiri betapa hinanya perlakuan masyarakat Islam kami terhadap kaum
wanita. Dalam kesaksian ini saya akan menceritakan kesaksian saya mengenai
penindasan dan perlakuan keji terhadap wanita-wanita kami, sebagaimana yang
diajarkan oleh Islam. Setiap kata yang saya tulis sepenuhnya benar – tak
satupun yang hanya karangan saja atau dilebih-lebihkan. Tak seorang pun
memaksa saya untuk menuliskan kisah ini, sebab saya dilahirkan sebagai
seorang Saudi dan saya pun tinggal di negara ini.


Saya memiliki 3 saudara perempuan. Mereka sangat termotivasi untuk
mempunyai pendidikan yang tinggi, dan dengan usaha mereka sendiri, mereka
mengejar pendidikan modern. Tetapi disebabkan oleh banyaknya
peraturan-peraturan yang tidak masuk akal, kadaluarsa dan tidak adil yang
diberlakukan oleh masyarakat kami terhadap kaum wanita, maka mereka tidak
bisa menyelesaikan bidang studi yang mereka pilih. Terlepas dari
perhatianku yang tulus, maka aku sendiri tidak bisa melakukan apa pun untuk
membantu mereka mendapatkan pendidikan yang tepat. Tanganku terikat,
masyarakat kami tidak mau menerima wanita dengan pendidikan tinggi.


Salah seorang saudara perempuanku menyelesaikan SMP, kemudian ia berhenti
sekolah sebab ia ingin mempelajari bidang kecantikan. Tetapi di masyarakat
Islam yang murni seperti di negara kami, bukanlah hal yang mudah baginya
untuk mengejar ambisinya menjadi seorang terapis kecantikan.


Kedua saudara perempuanku yang lainnya ingin menjadi guru di sekolah.
Karena itu mereka meneruskan pendidikan dan menyelesaikan Tingkat dua di
perguruan tinggi.


Saya sangat ingat ketika mereka sedang belajar di perguruan tinggi , di
kartu pengenal mereka tertulis nama mereka, tetapi foto di kartu itu adalah
wajah ayah kami! Hal ini berarti bahwa saudara perempuanku tidak memiliki
eksistensi secara fisik. Hanya nama mereka saja yang eksis, yaitu di
selembar kertas. Para pembaca, jangan kaget dengan perlakuan yang
mengejutkan seperti ini terhadap para wanita kami – mereka sama nilainya
seperti binatang peliharaan – selalu dimiliki oleh seseorang. Keberadaan
mereka tidak seperti manusia. Hukum di Saudi Arabia, melarang wanita untuk
menaruh foto mereka di kartu pengenal mereka; melainkan foto ayah, saudara
laki-laki, suami, atau penjaga merekalah yang harus dipasang di kartu itu.


Kendati demikian, setelah menyelesaikan training guru mereka, kedua saudara
perempuanku ini harus menunggu pekerjaan yang hanya akan mereka dapatkan di
sekitar tempat tinggal mereka. Mereka tidak boleh keluar dari kontrol ayah
kami. Jika mereka berani melakukannya, maka mereka tidak akan pernah
mendapatkan pekerjaan.


Sebagai seorang saudara yang memiliki hati nurani, saya sangat percaya
bahwa saudara-saudara perempuanku adalah orang-orang yang memiliki hikmat
dan bertanggungjawab, lebih daripada banyak orang yang ada di lingkungan
kami, bahkan lebih daripada saya. Saya sangat yakin jika mereka diberikan
kesempatan untuk hidup dan mengatur hidup mereka sendiri, maka mereka pasti
sukses tanpa masalah. Pada kenyataannya, mereka sanggup untuk menyelesaikan
lebih banyak tugas-tugas yang sulit daripada yang bisa dilakukan oleh
kebanyakan daripada kita.


Tetapi celaka! Ketiga wanita berpendidikan, berhikmat, bertanggungjawab,
dan berambisi ini dipaksa harus tinggal di rumah oleh ayah mereka yang buta
huruf. Ia tidak mengetahui apa pun mengenai dunia yang ada di luar rumah.
Ia tidak melihat pentingnya mengembangkan dan membangun masyarakat. Dan ia
memaksa saudara-saudara perempuan saya untuk hidup dalam batasan-batasan
kehidupannya.


Ayah yang buta huruf ini melarang mereka (saudara-saudara perempuanku)
untuk menikah. Hal ini ia lakukan karena ia menuntut seorang pengantin pria
yang tidak merokok, penganut Islam yang kuat dari suku yang sama dengannya.
Tuntutan ayah kami membuat masa depan saudara-saudara perempuanku menjadi
suram.


Dalam masyarakat kami yang sangat kuat menganut Islam, semua pria perokok
dan tidak sembahyang secara regular di mesjid dianggap bukan pasangan yang
cocok untuk dinikahi. Sebagai sebuah peraturan buta, seorang pria yang akan
menikah harus memiliki paling tidak dua orang saksi yang siap bersumpah
bahwa ia tahu persis jika pria yang akan menikah itu memang benar-benar
sembahyang secara regular di mesjid. Kondisi ini begitu penting dalam
masyarakat Saudi dimana kegagalan memiliki dua orang saksi seperti ini
dapat mengakibatkan dibatalkannya pertunangan. Lebih penting lagi, seorang
wanita Saudi dari sebuah suku tidak diijinkan menikah dengan wanita lain
dari suku berbeda, atau dari bangsa yang berbeda, meski pun pria itu adalah
seorang Muslim. Lupakanlah bagi seorang wanita Saudi untuk menikahi seorang
non-Muslim – ini haram hukumnya.


Dalam suku kami jumlah wanita 2 atau 3 kali daripada pria. Hal ini berarti
bahwa banyak dari wanita-wanita kami tidak akan pernah menikah, sebab
menikahi orang dari luar suku kami sama sekali tidak diperkenankan. Dalam
masyarakat kami, pria-pria lebih suka menikahi wanita yang lebih muda dari
dua puluh tahun. Mereka bahkan lebih suka jika gadis-gadis itu berusia
sekitar enam belas tahun atau bahkan lebih muda lagi. Kesimpulan dari
hasrat yang tak masuk akal untuk mendapatkan gadis-gadis muda adalah bahwa
prospek untuk menikah bagi wanita-wanita yang lebih tua dari dua puluh
tahun nyaris nol. Atau mereka mungkin akan menikah tetapi dengan pria yang
lebih tua.


Karena peraturan Islamik yang gila ini, hidup dari para wanita yang sudah
matang seperti itu tidak lagi memiliki makna di masyarakat puritan kami.


Sekarang saya ingin membahas mentalitas ayah saya dan coba memperlihatkan
alasan utama mengapa ia tidak ingin anak-anak perempuannya menikah dengan
orang asing (yang saya maksudkan adalah para pria dari suku atau kebangsaan
yang lain).


Para pria Saudi sangat percaya bahwa wanita tidak memiliki harapan-harapan,
keinginan, dan aspirasi dari dalam diri mereka sendiri. Karena itu,
berhubungan dengan pernikahan, maka pendapat wanita dianggap tidak relevan.
Nasibnya sepenuhnya bergantung pada pemiliknya. Para pria Saudi juga
menganggap sebagai hal yang memalukan menyerahkan putri mereka untuk
dinikahi oleh seorang pria asing – di luar batas dari sukunya. Sulit bagi
seorang pria Saudi menerima orang luar yang dapat memandang “kehormatan”
rahasia dari putri-putri mereka. Pria Saudi akan merasa keberatan jika anak
perempuan mereka melakukan hubungan seks dengan orang asing, meskipun hal
itu dilakukan setelah mereka menikah, dan meskipun pengantin pria nya
adalah seorang Muslim. Jadi inilah alasan sehingga ayah saya tidak akan
mengijinkan anak perempuannya menikahi “orang asing”. Secara sederhana bisa
dikatakan bahwa ia mengidap penyakit paranoid bahwa “orang asing” akan
berhubungan seks dengan anak perempuannya.


Untuk alasan sebagaimana diutarakan di atas, banyak ayah Saudi yang meminta
pernikahan ganda – yaitu: berikan kepada saya anak perempuanmu dan aku akan
memberikan kepadamu anak perempuanku atau saudara perempuanku....dan begitu
seterusnya. Mereka merasa nyaman melakukan cara seperti ini: Bahwa kami
akan menjaga kehormatannya jika ia menjaga kehormatan saya. Inilah yang
dilakukan orang-orang dalam masyarakat kami yaitu memanfaatkan wanita untuk
keuntungan mereka sendiri – ketika mereka membutuhkan uang, atau ketika
mereka membutuhkan isteri-isteri baru. Ada sejumlah wanita Saudi yang
menghasilkan uang, tetapi uang yang mereka hasilkan pergi ke kantung ayah
atau suami-suami mereka. Karena takut bahwa gaji dari anak perempuan mereka
mungkin tidak cukup bagi suami-suami mereka, banyak ayah Saudi yang tidak
mau anak perempuan mereka menikah. Bagi saya, ini mungkin alasan lain
mengapa ayah saya secara literal melarang saudara perempuan saya untuk
menikah.


Jika demikian, bagaimana saudari-saudari kandungku hidup dalam masyarakat
seperti ini?


Sebagai wanita Saudi, saudari-saudari kandungku telah melalui banyak
penderitaan. Mereka tidak memiliki hak untuk mengatur hidup mereka sendiri.
Mereka sepenuhnya bergantung pada ayah kami, kepadaku, dan kepada
saudara-saudara laki-laki mereka yang lain. Mereka tidak boleh pergi kemana
pun sendirian. Kapan saja seseorang dari mereka harus bepergian ke luar,
maka beberapa orang pria (saudara laki-laki atau ayah) harus menemaninya
sebagai pelindung dan yang mengingatkannya. Bahkan mereka dilarang pergi ke
luar untuk keperluar-keperluan mendesak seperti misalnya jika ada
kecelakaan, keadaan darurat, dan lain sebagainya. Percayalah pada apa yang
saya katakan, ketika mereka perlu untuk pergi ke rumah sakit, maka mereka
harus menelepon saudara laki-laki saya untuk mengantar mereka ke sana. Dan
ia harus datang dari kota lain yang jauhnya 300 km. Sebab para wanita tidak
bisa mengemudikan mobil (wanita di Saudi Arabia dilarang mengendarai mobil
dan dilarang bepergian dengan orang yang bukan muhrimnya), dan ayahku pun
tidak bisa mengemudikan mobil, maka saudara perempuan saya tak punya
pilihan lain selain harus menjalani siksaan itu tanpa bisa protes. Tak
peduli seberapa penting urusannya, mereka tetap harus menunggu muhrim
mereka (dalam hal ini saudara laki-laki kandung mereka) untuk membawa
mereka ke rumah sakit.


Tidak ada jalan keluar bagi mereka. Karena ayah kami tidak tahu bagaimana
menggunakan ATM, ketika saudara perempuan saya ingin menarik uang dari ATM,
maka ia harus memberikan kartu ATM nya kepada seorang asing untuk
mengambilkan uang baginya. Ketika saudara perempuan saya ingin berbelanja
secara regular, maka mereka harus memberikan uang itu kepada seorang asing
dan pria itu akan membayar harga barang sesuai dengan yang pria itu
inginkan. Ini adalah beberapa contoh dari keadaan yang menyedihkan yang
harus dihadapi oleh perempuan Saudi dalam kehidupan mereka sehari-hari.


Terkadang saya berpikir untuk meninggalkan pekerjaan, hanya supaya saya
bisa tinggal bersama-sama dengan mereka.


Jadi mungkin anda berkata: Mengapa tidak membawa mereka keluar dari Saudi
Arabia? Hal ini mustahil dilakukan. Di Saudi Arabia, untuk mendapatkan
pasport, seorang perempuan harus menyerahkan ijin tertulis dari muhrimnya
(ayah, saudara laki-laki kandung, atau suami). Hanya memiliki sebuah
pasport tidak cukup bagi seorang perempuan Saudi untuk melakukan perjalanan
sendiri. Ayahnya (seandainya ia belum menikah) harus menandatangani sebuah
surat khusus yang menyatakan bahwa ia memberi ijin kepada anak perempuannya
untuk bepergian seorang diri. Sebagai seorang yang buta huruf, ayahku tidak
akan pernah mengijinkan saudara perempuanku untuk meninggalkan Saudi
Arabia; saya sangat yakin akan hal ini.


Terkadang, saya benar-benar heran mengapa penyiksaan yang sangat berat
untuk ditanggung harus diterapkan kepada wanita-wanita kami.
Saudari-saudariku tidak bisa melakukan apa pun tanpa ijin dan pertolongan
dari ayah atau saudara laki-laki mereka. Hampir di sepanjang waktu mereka
harus tinggal di rumah, menonton televisi. Tak ada olah raga yang bisa
mereka mainkan, tak ada pekerjaan yang bisa mereka lakukan di luar rumah,
tak ada harapan, dan tak ada apa pun yang bisa mereka hidupi. Mereka berada
di penjara terbesar yang ada dalam dunia ini, yaitu Saudi Arabia, sebuah
negeri yang murni, negeri Islam tanpa perselingkuhan.


Seseorang mungkin bertanya seperti ini: Mengapa hal-hal ini terjadi pada
perempuan Saudi? Siapa yang harus dipersalahkan atas cobaan berat yang
dilakukan kepada para wanita kami? Memang mudah untuk mempersalahkan
orang-orang pandir, hukum Saudi yang tidak waras, dan tradisi-tradisi kuno
yang diterapkan pada wanita-wanita kami yang kondisinya tanpa harapan.
Tetapi coba pikirkan kembali. Semua faktor-faktor ini sebenarnya berakar
dalam Islam. Islam sendirilah yang nyata-nyata melakukan kejahatan ini.
Hukum-hukum Islam di Saudi Arabialah yang menetapkan posisi wanita Saudi
tak lebih dari sekedar barang bergerak milik pria, memaksa mereka untuk
melayaninya, dan sepenuhnya merampas martabat, kehormatan, dan penghargaan
yang sebenarnya adalah hak mereka sebagai kaum wanita. Bisa dikatakan bahwa
Islam telah mengguncangkan dan mempermalukan pondasi dasar dari kewanitaan.


Islam memberikan otoritas mutlak bagi seorang ayah untuk mengontrol
putri-putri mereka. Ia memiliki kontrol mutlak untuk menikahkan mereka,
melarang mereka dari kehidupan sosial, bahkan membunuh mereka. Anda mungkin
akan syok ketika mempelajari bahwa seorang ayah Saudi dapat membunuh anak
perempuannya tanpa dianggap bersalah oleh hukum. Ketahuilah bahwa ketika ia
membunuh anak perempuannya, pemerintah tidak akan membunuh ayah itu sebab
anak perempuan itu melambangkan kejujurannya. Berdasarkan syaria,
pemerintah tidak diijinkan membunuh seorang ayah jika ia membunuh anak
perempuan atau anak laki-lakinya atas alasan apa pun.


Dalam Islam, seorang wanita tidak diijinkan menikah tanpa ijin dari ayahnya
– jika ia melakukannya maka tindakan itu dianggap haram. Dalam Islam, ayah
dianggap sebagai seorang yang suci, seorang komandan, dan seorang diktator
yang gampang marah. Meskipun ia seorang buta huruf, keras kepala, tidak
adil, dan tidak berpikiran sehat, anak-anaknya, khususnya anak
perempuannya, tidak bisa melakukan apa pun menentangnya.


Jadi, apa yang harus saya lakukan?


Jawaban langsung atas pertanyaan itu adalah: TAK ADA! Saya tidak bisa
melakukan apa pun untuk merubah situasi ini. Jika saya menentang ayah saya,
maka hakim agama akan bertanya kepadanya, “Mengapa engkau tidak mengijinkan
anak-anak gadismu untuk menikah?” Maka kemungkinkan jawaban ayah saya
adalah sbb: “Anak-anak gadis ini adalah tanggungjawabku (mereka ada di
bawah pengawasanku), dan Allah akan menghukum aku jika aku tidak memilihkan
suami yang baik untuk mereka.” Sebagai bukti atas usahanya yang tulus, ia
mungkin akan menunjukkan bukti bahwa semua pria yang ia cari adalah perokok
dan ia pun mungkin akan membawa saksi yang menyatakan bahwa para pria itu
adalah para Muslim yang tidak berdoa di mesjid. Hal ini sepenuhnya akan
meyakinkan hakim Islamik itu. Ia tidak akan menemukan dasar untuk menghukum
ayah kami; sebaliknya, ia akan menjatuhkan penghukuman kepadaku sebab tidak
menghormati ayahku dan keputusan-keputusannya.


Dengan kesedihan dan frustasi dalam hati saya, maka aku hanya bisa menanti
dengan sabar hingga ayah kami mati. Jika ia sudah mati, secara otomatis
kontrol atas saudara perempuanku akan jatuh kepada saya. Kepemilikan resmi
sepenuhnya akan menjadi milik saya.


Saya akan menjadi pemilik baru atas hidup mereka – sama seperti mobil,
rumah, kambing, unta, dan lain sebagainya. Kemudian saya akan sepenuhnya
bebas untuk melakukan apa pun yang saya inginkan atas mereka – Islam
memberikan saya semua otoritas itu. Saya bisa membawa mereka ke surga atau
ke neraka – semuanya bergantung pada saya.


Para pembaca, jangan merasa kasihan atau menyesal untuk saudara-saudara
perempuan saya. Dibandingkan dengan banyak perempuan Saudi lainnya, mereka
masih cukup beruntung – mereka masih bisa mengunjungi shopping center
sekali atau dua kali setahun. Mereka juga masih bisa mengenakan make up dan
bahkan masih bisa mendengarkan musik. Kebebasan terbesar yang masih mereka
miliki adalah bahwa mereka masih bisa memilih saluran televisi apa pun yang
mereka sukai. Bagi banyak wanita Saudi, ini sudah merupakan hak yang besar,
jika anda belum mengetahuinya.

Mohammad SAW a Pedophile
Mohammad SAW anak wedus
______________________________________________________________________________________________________________________
______________________________________________________________________________________________________________________


Aku dan Bapa adalah satu." (Yoh 10:30)
Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa." (Yoh 10:34-38)
Yesus mengatakan bahwa Bapa dan Yesus adalah satu oknum

"Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kalimat
daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di
dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada
Allah)”.(QS.3:45)

*YESAYA 28:16*
16 sebab itu beginilah Firman TUHAN ALLAH: "Sesungguhnya, AKU meletakkan
sebagai dasar di Sion sebuah batu, batu yang teruji, sebuah batu penjuru
yang mahal, suatu dasar yang teguh: Siapa yang percaya, tidak akan gelisah!


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke