> Hadith mencatat bagaimana Muhammad mengijinkan dilakukannya praktik yang
> memalukan. Muhammad mengijinkan wanita dewasa untuk menyusui pria-pria muda
> yang bukan anaknya. Berdasarkan Hadith, ada seorang pria yang sangat
> terusik oleh karena anak angkatnya tinggal di rumah yang sama dimana
> istrinya bebas berkeliaran tanpa memakai kerudung. Hadith berikut ini
> menceritakannya secara terperinci.
>
> Sahih Muslim
> Buku 008, Nomor 3424:
> ‘A’isha (kiranya Allah berkenan kepadanya) menceritakan bahwa Sahla bint
> Suhail menemui Rasul Allah (SAW) dan berkata: Wahai Utusan Allah, aku
> melihat pada wajah Abu Hudhaifa (tanda-tanda kekesalan) ketika Salim (yang
> adalah seorang sekutu) masuk ke dalam (rumah kami), dan kemudian Rasul
> Allah (SAW) berkata: Susuilah dia. Wanita itu berkata: Bagaimana saya harus
> menyusuinya karena ia adalah seorang pria dewasa? Utusan Allah (SAW)
> tersenyum dan berkata: aku sudah tahu kalau ia adalah seorang pria muda.
> ‘Amr telah membuat tambahan ini dalam narasinya bahwa ia berpartisipasi
> dalam Perang Badr dan dalam narasi Ibn ‘Umar (perkataannya adalah): Utusan
> Allah (SAW) tertawa.
> Buku 008, Nomor 3425:
> ‘A’isha (kiranya Allah berkenan kepadanya) melaporkan bahwa Salim, budak
> Abu Hudhaifa yang telah dimerdekakan, tinggal dengannya dan keluarganya
> dalam rumah mereka. Ia (yaitu anak perempuan Suhail menemui Rasul Allah
> (SAW) dan berkata: Salim telah mencapai (pubertas) seperti halnya pria
> dewasa, dan ia mengerti apa yang mereka mengerti, dan ia masuk ke rumah
> kami dengan bebas, bagaimanapun, aku melihat ada sesuatu (yang mendatangkan
> kemarahan) di hati Abu Hudhaifa, dan Rasul Allah (SAW) berkata kepadanya:
> Susuilah dia dan kamu akan menjadi haram baginya, dan (kemarahan) yang
> dirasakan Abu Hudhaifa dalam hatinya akan hilang. Ia pulang dan berkata:
> Jadi aku menyusuinya, dan apa (yang ada) di hati Abu Hudhaifa menghilang.
> Buku 008, Nomor 3427:
> Umm Salama berkata kepada ‘A’isha (kiranya Allah berkenan kepadanya):
> Seorang remaja pria di ambang pubertas datang kepadamu. Bagaimanapun, aku
> tidak suka ia mendatangiku, dan ‘A’isha (kiranya Allah berkenan kepadanya)
> berkata: Tidakkah engkau melihat dalam diri Utusan Allah (SAW) sebuah
> teladan untukmu? Ia juga berkata: Istri Abu Hudhaifa berkata: Wahai Utusan
> Allah, Salim datang kepadaku dan sekarang ia adalah seorang (dewasa), dan
> ada sesuatu yang (membuat marah) dalam pikiran Abu Hudhaifa mengenai dia,
> dan Utusan Allah (SAW) berkata: Susuilah dia (sehingga ia menjadi anak
> asuhmu), dan dengan demikian ia dapat datang kepadamu (dengan bebas).
> Buku 008, Nomor 3428:
> Zainab anak perempuan Abu Salama mengisahkan: Aku mendengar Umm Salama,
> istri Rasul Allah (SAW) berkata kepada ‘A’isha: Demi Allah, aku tidak suka
> terlihat oleh seorang remaja pria yang telah melewati masa pengasuhan, dan
> ia (‘A’isha) berkata: Mengapa demikian? Sahla anak perempuan Suhail menemui
> Utusan Allah (SAW) dan berkata: Wahai Utusan Allah, aku bersumpah demi
> Allah bahwa aku melihat di wajah Abu Hudhaifa (tanda-tanda kemarahan) saat
> Salim masuk (ke dalam rumah), dan Utusan Allah (SAW) berkata: Susuilah dia.
> Ia (Sahla bint Suhail) berkata: Ia berjanggut. Tetapi nabi (sekali lagi)
> berkata: Susuilah dia, dan itu akan menghilangkan (ekspresi kemarahan) yang
> ada di wajah Abu Hudhaifa. Ia berkata: (Aku melakukannya) dan, demi Allah,
> aku tidak lagi melihat (tanda-tanda kemarahan) di wajah Abu Hudhaifa.
> Muwatta Imam Malik
> Buku 30, Nomor 30.1.8:
> Yahya menceritakan padaku dari Malik dari nafi bahwa Safiyya bint Abi
> Ubayd mengatakan padanya bahwa Hafsa, umm al-muminin, mengutus Asim ibn
> Abdullah ibn Sad kepada saudarinya Fatima bint Umar ibn al-Khattab agar
> disusuinya sepuluh kali sehingga ia dapat masuk untuk melihatnya. Ia
> melakukannya, sehingga ia dapat masuk untuk menemuinya (perempuan itu).
> Buku 30, Nomor 30.2.12:
> Yahya menceritakan padaku dari Malik dari Ibn Shihab bahwa ia ditanyai
> mengenai menyusui orang yang lebih tua. Ia berkata: ”Urwa ibn az-Zubayr
> memberitahuku bahwa Abu Hudhayfa ibn Utba ibn Rabia, salah seorang sahabat
> Utusan Allah, semoga Allah memberkatinya dan memberinya damai, yang hadir
> di Badr, mengadopsi Salim (yang disebut Salim, mawla dari Abu Hudhayfa)
> seperti Utusan Allah, semoga Allah memberkatinya dan memberinya damai,
> mengadopsi Zayd ibn Haritha. Ia menganggapnya sebagai putranya, dan Abu
> Hudhayfa menikahkannya dengan saudara perempuan dari saudara laki-lakinya,
> Fatima bint al-Walid ibn Utba ibn Rabia, yang pada waktu itu ada di antara
> orang-orang yang hijrah pertama. Ia adalah salah seorang wanita lajang yang
> terbaik dari (kaum) Quraysh. Ketika Allah Yang Maha Terpuji menurunkan
> dalam kitab-Nya apa yang diwahyukan-Nya mengenai Zayd ibn Haritha,
> ‘Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak
> mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak
> mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai)
> saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu’ (Sura 33:5) orang-orang dalam
> posisi ini ditelusuri kembali kepada para bapa mereka. bila ayahnya tidak
> diketahui, mereka ditelusuri kepada maula mereka.
>
> “Sahla bint Suhayl yang adalah istri dari Abu hudhayfa, dan seorang dari
> suku Amr ibn Luayy, menemui utusan Allah, semoga Allah memberkatinya dan
> mengaruniakannya damai, dan berkata, ‘Wahai Utusan Allah! Kami menganggap
> Salim sebagai anak dan ia masuk untuk melihatku sedang aku tidak
> berkerudung. Kami hanya mempunyai satu kamar, jadi apa pendapatmu mengenai
> situasi ini?’ Utusan Allah, semoga Allah memberkatinya dan memberinya
> damai, berkata, ‘Berilah ia minum lima kali dari susumu dan ia akan menjadi
> muhrim dengan itu’. Ia kemudian memandangnya sebagai anak asuh. A’isha umm
> al-muminin mengambil hal itu sebagai preseden untuk pria manapun yang ia
> inginkan agar dapat menemuinya. Ia memerintahkan saudarinya, Umm Kulthum
> bint Abi Bakr as-Siddiq dan putri-putri saudara laki-lakinya untuk menyusui
> pria manapun yang ia inginkan untuk menemuinya. Para istri Nabi, semoga
> Allah memberkatinya dan memberinya damai, menolak membiarkan siapapun
> menemui mereka dengan cara menyusui seperti itu. Mereka berkata, ‘Tidak!
> Demi Allah! Menurut kami apa yang diperintahkan Utusan Allah (SAW) untuk
> dilakukan Sahla bint Suhayl hanyalah sebuah pelepasan berkenaan menyusui
> Salim. Tidak! Demi Allah! Tidak seorangpun boleh mendatangi kami dengan
> menyusui seperti itu!’
> “Inilah yang dipikirkan para istri Nabi (SAW) mengenai menyusui orang yang
> lebih tua”.
>
> Buku 30, Nomor 30.2.13:
> Yahya menceritakan padaku dari Malik bahwa Abdullah ibn Dinar berkata,
> “Seorang pria menemui Abdullah ibn Umar ketika aku bersamanya di suatu
> tempat dimana penghakiman diberikan dan menanyainya tentang menyusui orang
> yang lebih tua. Abdullah ibn Umar menjawab, ‘Seorang pria menemui Umar ibn
> al-Khattab dan berkata, ‘aku mempunyai seorang budak perempuan dan aku
> biasa berhubungan badan dengannya. Istriku pergi kepadanya dan menyusuinya.
> Ketika aku menemui gadis itu, istriku mengatakan padaku agar berhati-hati,
> karena ia telah menyusuinya!’ Umar mengatakan kepadanya UNTUK MEMUKULI
> ISTRINYA dan menemui budak perempuan itu karena persaudaraan melalui
> menyusui hanyalah melalui menyusui yang lebih muda’”.
>
> Buku 30, Nomor 30.2.14:
> Yahya menceritakan padaku dari Malik dari Yahya ibn Said bahwa seorang
> pria berkata kepada Abu Musa al-Ashari, “Aku minum susu dari payudara
> istriku dan susu itu masuk ke dalam perutku”. Abu Musa berkata, “aku hanya
> berpendapat bahwa ia haram bagimu”. Abdullah ibn Masud berkata, “Lihatlah
> pendapat apa yang kau berikan kepada orang itu”. Abu Musa berkata, “lalu
> apa pendapatmu?” Abdullah ibn Masud berkata, “Persaudaraan melalui menyusui
> hanya ada dalam dua tahun pertama”. Abu Musa berkata, “Jangan tanyai aku
> apapun sementara orang terpelajar ini ada di antara kamu”.
>
> Marilah kita menyimpulkan data yang ada.
> Muhammad memerintahkan seorang wanita yang sudah menikah untuk menyusui
> anak adopsi suaminya, walaupun faktanya anak laki-laki itu telah mencapai
> pubertas.
> Aisha mengambil hal ini sebagai sarana agar ia dapat menyusui laki-laki
> yang ia inginkan untuk mempuyai akses kepadanya.
> Aisha menasehatkan saudarinya dan keponakan-keponakannya untuk melakukan
> hal yang sama sehingga mengijinkan pria-pria untuk menemui mereka.
> Istri-istri Muhammad menentang praktik ini, mengklaim bahwa Muhammad
> memerintahkan hal ini hanya untuk Sahla.
> Orang-orang lain seperti Umar dan Ibn Masud menyatakan bahwa kekerabatan
> dibatasi dengan menyusui seorang anak selama dua tahun pertama. Setelah
> itu, susu hanya menjadi makanan bagi anak.
> Umar memerintahkan seorang pria untuk memukuli istrinya karena telah
> menyusui seorang budak perempuan dengan tujuan menjadikan budak perempuan
> itu haram bagi suaminya.
> Apapun interpretasi Aisha, Umar dan Ibn Masud terhadap perintah Muhammad
> kemudian (benar atau tidak), faktanya Muhammad memerintahkan seorang wanita
> untuk menyusui seorang pria muda, dan ini adalah praktik yang memalukan dan
> menjijikkan.
>
> Islam Dan Praktik Netekin Orang Dewasa
> Hadith mencatat bagaimana Muhammad mengijinkan dilakukannya praktik yang
> memalukan. Muhammad mengijinkan wanita dewasa untuk menyusui pria-pria muda
> yang bukan anaknya. Berdasarkan Hadith, ada seorang pria yang sangat
> terusik oleh karena anak angkatnya tinggal di rumah yang sama dimana
> istrinya bebas berkeliaran tanpa memakai kerudung. Hadith berikut ini
> menceritakannya secara terperinci.
> Sahih Muslim
>
> Buku 008, Nomor 3424:
> ‘A’isha (kiranya Allah berkenan kepadanya) menceritakan bahwa Sahla bint
> Suhail menemui Rasul Allah (SAW) dan berkata: Wahai Utusan Allah, aku
> melihat pada wajah Abu Hudhaifa (tanda-tanda kekesalan) ketika Salim (yang
> adalah seorang sekutu) masuk ke dalam (rumah kami), dan kemudian Rasul
> Allah (SAW) berkata: Susuilah dia. Wanita itu berkata: Bagaimana saya harus
> menyusuinya karena ia adalah seorang pria dewasa? Utusan Allah (SAW)
> tersenyum dan berkata: aku sudah tahu kalau ia adalah seorang pria muda.
> ‘Amr telah membuat tambahan ini dalam narasinya bahwa ia berpartisipasi
> dalam Perang Badr dan dalam narasi Ibn ‘Umar (perkataannya adalah): Utusan
> Allah (SAW) tertawa.
>
> Buku 008, Nomor 3425:
> ‘A’isha (kiranya Allah berkenan kepadanya) melaporkan bahwa Salim, budak
> Abu Hudhaifa yang telah dimerdekakan, tinggal dengannya dan keluarganya
> dalam rumah mereka. Ia (yaitu anak perempuan Suhail menemui Rasul Allah
> (SAW) dan berkata: Salim telah mencapai (pubertas) seperti halnya pria
> dewasa, dan ia mengerti apa yang mereka mengerti, dan ia masuk ke rumah
> kami dengan bebas, bagaimanapun, aku melihat ada sesuatu (yang mendatangkan
> kemarahan) di hati Abu Hudhaifa, dan Rasul Allah (SAW) berkata kepadanya:
> Susuilah dia dan kamu akan menjadi haram baginya, dan (kemarahan) yang
> dirasakan Abu Hudhaifa dalam hatinya akan hilang. Ia pulang dan berkata:
> Jadi aku menyusuinya, dan apa (yang ada) di hati Abu Hudhaifa menghilang.
>
> Buku 008, Nomor 3427:
> Umm Salama berkata kepada ‘A’isha (kiranya Allah berkenan kepadanya):
> Seorang remaja pria di ambang pubertas datang kepadamu. Bagaimanapun, aku
> tidak suka ia mendatangiku, dan ‘A’isha (kiranya Allah berkenan kepadanya)
> berkata: Tidakkah engkau melihat dalam diri Utusan Allah (SAW) sebuah
> teladan untukmu? Ia juga berkata: Istri Abu Hudhaifa berkata: Wahai Utusan
> Allah, Salim datang kepadaku dan sekarang ia adalah seorang (dewasa), dan
> ada sesuatu yang (membuat marah) dalam pikiran Abu Hudhaifa mengenai dia,
> dan Utusan Allah (SAW) berkata: Susuilah dia (sehingga ia menjadi anak
> asuhmu), dan dengan demikian ia dapat datang kepadamu (dengan bebas).
>
> Buku 008, Nomor 3428:
> Zainab anak perempuan Abu Salama mengisahkan: Aku mendengar Umm Salama,
> istri Rasul Allah (SAW) berkata kepada ‘A’isha: Demi Allah, aku tidak suka
> terlihat oleh seorang remaja pria yang telah melewati masa pengasuhan, dan
> ia (‘A’isha) berkata: Mengapa demikian? Sahla anak perempuan Suhail menemui
> Utusan Allah (SAW) dan berkata: Wahai Utusan Allah, aku bersumpah demi
> Allah bahwa aku melihat di wajah Abu Hudhaifa (tanda-tanda kemarahan) saat
> Salim masuk (ke dalam rumah), dan Utusan Allah (SAW) berkata: Susuilah dia.
> Ia (Sahla bint Suhail) berkata: Ia berjanggut. Tetapi nabi (sekali lagi)
> berkata: Susuilah dia, dan itu akan menghilangkan (ekspresi kemarahan) yang
> ada di wajah Abu Hudhaifa. Ia berkata: (Aku melakukannya) dan, demi Allah,
> aku tidak lagi melihat (tanda-tanda kemarahan) di wajah Abu Hudhaifa.
> Muwatta Imam Malik
>
> Buku 30, Nomor 30.1.8:
> Yahya menceritakan padaku dari Malik dari nafi bahwa Safiyya bint Abi
> Ubayd mengatakan padanya bahwa Hafsa, umm al-muminin, mengutus Asim ibn
> Abdullah ibn Sad kepada saudarinya Fatima bint Umar ibn al-Khattab agar
> disusuinya sepuluh kali sehingga ia dapat masuk untuk melihatnya. Ia
> melakukannya, sehingga ia dapat masuk untuk menemuinya (perempuan itu).
>
> Buku 30, Nomor 30.2.12:
> Yahya menceritakan padaku dari Malik dari Ibn Shihab bahwa ia ditanyai
> mengenai menyusui orang yang lebih tua. Ia berkata: ”Urwa ibn az-Zubayr
> memberitahuku bahwa Abu Hudhayfa ibn Utba ibn Rabia, salah seorang sahabat
> Utusan Allah, semoga Allah memberkatinya dan memberinya damai, yang hadir
> di Badr, mengadopsi Salim (yang disebut Salim, mawla dari Abu Hudhayfa)
> seperti Utusan Allah, semoga Allah memberkatinya dan memberinya damai,
> mengadopsi Zayd ibn Haritha. Ia menganggapnya sebagai putranya, dan Abu
> Hudhayfa menikahkannya dengan saudara perempuan dari saudara laki-lakinya,
> Fatima bint al-Walid ibn Utba ibn Rabia, yang pada waktu itu ada di antara
> orang-orang yang hijrah pertama. Ia adalah salah seorang wanita lajang yang
> terbaik dari (kaum) Quraysh. Ketika Allah Yang Maha Terpuji menurunkan
> dalam kitab-Nya apa yang diwahyukan-Nya mengenai Zayd ibn Haritha,
> ‘Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak
> mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak
> mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai)
> saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu’ (Sura 33:5) orang-orang dalam
> posisi ini ditelusuri kembali kepada para bapa mereka. bila ayahnya tidak
> diketahui, mereka ditelusuri kepada maula mereka.
>
> “Sahla bint Suhayl yang adalah istri dari Abu hudhayfa, dan seorang dari
> suku Amr ibn Luayy, menemui utusan Allah, semoga Allah memberkatinya dan
> mengaruniakannya damai, dan berkata, ‘Wahai Utusan Allah! Kami menganggap
> Salim sebagai anak dan ia masuk untuk melihatku sedang aku tidak
> berkerudung. Kami hanya mempunyai satu kamar, jadi apa pendapatmu mengenai
> situasi ini?’ Utusan Allah, semoga Allah memberkatinya dan memberinya
> damai, berkata, ‘Berilah ia minum lima kali dari susumu dan ia akan menjadi
> muhrim dengan itu’. Ia kemudian memandangnya sebagai anak asuh. A’isha umm
> al-muminin mengambil hal itu sebagai preseden untuk pria manapun yang ia
> inginkan agar dapat menemuinya. Ia memerintahkan saudarinya, Umm Kulthum
> bint Abi Bakr as-Siddiq dan putri-putri saudara laki-lakinya untuk menyusui
> pria manapun yang ia inginkan untuk menemuinya. Para istri Nabi, semoga
> Allah memberkatinya dan memberinya damai, menolak membiarkan siapapun
> menemui mereka dengan cara menyusui seperti itu. Mereka berkata, ‘Tidak!
> Demi Allah! Menurut kami apa yang diperintahkan Utusan Allah (SAW) untuk
> dilakukan Sahla bint Suhayl hanyalah sebuah pelepasan berkenaan menyusui
> Salim. Tidak! Demi Allah! Tidak seorangpun boleh mendatangi kami dengan
> menyusui seperti itu!’
> “Inilah yang dipikirkan para istri Nabi (SAW) mengenai menyusui orang yang
> lebih tua”.
>
> Buku 30, Nomor 30.2.13:
> Yahya menceritakan padaku dari Malik bahwa Abdullah ibn Dinar berkata,
> “Seorang pria menemui Abdullah ibn Umar ketika aku bersamanya di suatu
> tempat dimana penghakiman diberikan dan menanyainya tentang menyusui orang
> yang lebih tua. Abdullah ibn Umar menjawab, ‘Seorang pria menemui Umar ibn
> al-Khattab dan berkata, ‘aku mempunyai seorang budak perempuan dan aku
> biasa berhubungan badan dengannya. Istriku pergi kepadanya dan menyusuinya.
> Ketika aku menemui gadis itu, istriku mengatakan padaku agar berhati-hati,
> karena ia telah menyusuinya!’ Umar mengatakan kepadanya UNTUK MEMUKULI
> ISTRINYA dan menemui budak perempuan itu karena persaudaraan melalui
> menyusui hanyalah melalui menyusui yang lebih muda’”.
>
> Buku 30, Nomor 30.2.14:
> Yahya menceritakan padaku dari Malik dari Yahya ibn Said bahwa seorang
> pria berkata kepada Abu Musa al-Ashari, “Aku minum susu dari payudara
> istriku dan susu itu masuk ke dalam perutku”. Abu Musa berkata, “aku hanya
> berpendapat bahwa ia haram bagimu”. Abdullah ibn Masud berkata, “Lihatlah
> pendapat apa yang kau berikan kepada orang itu”. Abu Musa berkata, “lalu
> apa pendapatmu?” Abdullah ibn Masud berkata, “Persaudaraan melalui menyusui
> hanya ada dalam dua tahun pertama”.
> Abu Musa berkata, “Jangan tanyai aku apapun sementara orang terpelajar ini
> ada di antara kamu”.
> Marilah kita menyimpulkan data yang ada.
> Muhammad memerintahkan seorang wanita yang sudah menikah untuk menyusui
> anak adopsi suaminya, walaupun faktanya anak laki-laki itu telah mencapai
> pubertas.
> Aisha mengambil hal ini sebagai sarana agar ia dapat menyusui laki-laki
> yang ia inginkan untuk mempuyai akses kepadanya.
> Aisha menasehatkan saudarinya dan keponakan-keponakannya untuk melakukan
> hal yang sama sehingga mengijinkan pria-pria untuk menemui mereka.
> Istri-istri Muhammad menentang praktik ini, mengklaim bahwa Muhammad
> memerintahkan hal ini hanya untuk Sahla.
>
> Orang-orang lain seperti Umar dan Ibn Masud menyatakan bahwa kekerabatan
> dibatasi dengan menyusui seorang anak selama dua tahun pertama. Setelah
> itu, susu hanya menjadi makanan bagi anak.
> Umar memerintahkan seorang pria untuk memukuli istrinya karena telah
> menyusui seorang budak perempuan dengan tujuan menjadikan budak perempuan
> itu haram bagi suaminya.
> Apapun interpretasi Aisha, Umar dan Ibn Masud terhadap perintah Muhammad
> kemudian (benar atau tidak), faktanya Muhammad memerintahkan seorang wanita
> untuk menyusui seorang pria muda, dan ini adalah praktik yang memalukan dan
> menjijikkan.
>


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke