Dg cara amemasarkan begitu wae Kristen sudah kalah laku,buktinya sudah banyak gereja yg didol converse jadi masjid.Jangan lihat yg di RI yg rata2 masih bodo2 ,yo wajar wong Gunung Kidul yg gak punya air dikasih air mblaik Kristen.Orang dioperasi di RS Bethesda gak punya duwit mbalik jadi kristen.Yo dapatnya wong2 sing ora mutu.
Paulus anak wedus.
--- In [email protected], <[email protected]> wrote:
yah....islam itu memang dipasarkan sekelas obat panu, rumah potong hewan dan rumah bordir....seperti itu lah kenyataannya....hehehehe...
2013/9/6 Tawangalun <tawangalun@...>
ÂSaya nddak ngerti, apakah Islam akan "dipasarkan" seperti obat panu dan kurap atawa seperti iklan menambah perkasa bagi pria, ... atau apa nddak sebaiknya dikemas dengan kemasan yang lebih rapih, lebih cool gitu lho ...______________________________________________________________________________________________________________________
Mohammad SAW a Pedophile______________________________________________________________________________________________________________________
Aku dan Bapa adalah satu." (Yoh 10:30)ÂBapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa." (Yoh 10:34-38)Yesus mengatakan bahwa Bapa dan Yesus adalah satu oknum"Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kalimat daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)â.(QS.3:45)YESAYA 28:1616 sebab itu beginilah Firman TUHAN ALLAH: "Sesungguhnya, AKU meletakkan sebagai dasar di Sion sebuah batu, batu yang teruji, sebuah batu penjuru yang mahal, suatu dasar yang teguh: Siapa yang percaya, tidak akan gelisah!2013/9/6 <tawangalun@...>ÂDi RI kan mayoritas itu NU coba lihatlah di Masjidil Haram dan Nabawi speaker hanya dipakai pas azan saja,sehabis itu gak ada yg laop2 gak ada sebab mereka hanya ngaji pelan2 sendiri2.Tapi orang itu gak puas kalau gak bid'ah yo akirnya kaya masjid NU itu.
Paulus anak wedus.Â
--- In [email protected], <[email protected]> wrote:
kayaknya semua masjid deh.. kecuali LDII
lagian gimana bisa tau itu NU... ato MLÂ :)
From: "tawangalun@..." <tawangalun@...>
Â
ÂYg demen sekali pakai pengeras itu biasanya masjid NU,dia gak tahu aturan yg sesuai sunah Nabi itu piye gak tahu.Paulus anak wedus.Â
--- In [email protected], <[email protected]> wrote:
Mau nddak mau , suka nddak suka, saya harus mendengarkan "puji-pujian" sebelum jam 5 pagi. Puji - pujian yang jauh dari merdu yang keluar dengan keras dari speaker Masjid. Kemudian dilanjutkan dengan suara adzan subuh yang memekakan telinga. jauh dari merdu.
Sekitar jam 11.30... kembali itu speaker memuntahkan suara keras. Kali ini biasanya judulnya adalah pembacaan ayat ayat suci alquran sebelum adzan dhuhur. Dilanjutkan dengan Adzan dhuhur. Dan ini berulang di waktu ashar, dengan "puncak" kebisingan biasanya sebelum maghrib, antara maghrib dan Isya kembali ceramah harian lewat speaker, dilanjutkan oleh adzan isya.
Sok ... maksud nya gimana coba ? Apakah dengan mengeluarkan semua suara dari speaker masjid dengan suara keras kemudian berduyun dutun orang masuk Islam gituh ? Atau yang nddak shoat kemudian berduyun duyun jadi shalat gituh ?
Kenapa nddak meniru Masjid kayak di Masjid Sultan Singapore, pengeras suaranya nyaris minimal, dan untuk ceramah atau apa gitu, diadakan di ruang tertutup , pakai pengeras suara memang, namun hanya terdengar bagi orang yang ada di dalam ruangan.
Atau ... kalau anda tinggal di Bandung, coba anda putar radio KLCBS ... dan masih dengan perangkat audio anda, coba anda denger radio dangdut ? Kerasa nddak beda nya ? Trible nya ? Bass nya ? Trus coba perhatikan bagaimana warna suara penyiarnya, speed dari ucapannya, dan bagaimana terdengar di telinganya ? "radio mahal" biasanya memperhatikan output sound nya dengan detail, dan penyiar nya nddak terlalu banyak ngomong. "Radio rakyat jelata" biasanya treable nya kenceng ! Suara penyiarnya dibuat genit, ngomongnya panjaaaaaangg dan suka banyak "menyapa" si anu di anu, si anu di anu, salam dari mamah anu buat mamah ini, salam dari mang anu buat siapa, terus "Jreng ! Jreng !" ditancap itu lagu dangdut dengan suara keras yang nantinya diterima sama radio - radio yang biasanya ada di warung tegal atawa pos satpam.
Kalau anda mau jualan "bat keperkasaan lelaki" atawa iklan "Tabib ajaib anu" atawa iklan Panu, iklan kurap, ... maka tentu memilih radio yang "kenceng". Namun kalau anda mau mempromosikan hotel bintang 5 atawa rokok yang membidik segmen SES "A", maka anda akan memilih stasiun radio yang "cool", "Calm" ....
Saya nddak ngerti, apakah Islam akan "dipasarkan" seperti obat panu dan kurap atawa seperti iklan menambah perkasa bagi pria, ... atau apa nddak sebaiknya dikemas dengan kemasan yang lebih rapih, lebih cool gitu lho ...
Kumaha tah ?
__._,_.___
