http://www.indomedia.com/bpost/052006/11/opini/opini2.htm

Duka Lara Konflik SARA



DALAM dua pekan ini, negara kita yang ber-Bhinneka Tunggal Ika nyaris terkoyak 
lagi oleh konflik SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan). Sebuah konflik 
yang seharusnya tak pantas hidup di sebuah negara yang menjunjung tinggi 
persatuan dan kesatuan ini.

Namun kenyataan berkata lain. Lihat saja bagaimana kasus kerusuhan di Tuban, 
Jawa Timur yang berpangkal dari persoalan pilkada diseret ke masalah SARA. 
Pasalnya, salah satu tokoh yang berkonflik itu adalah warga keturunan Tionghoa.

Isu SARA pun kembali dimainkan kelompok tertentu dalam kasus perkosaan dan 
pembunuhan terhadap seorang pembantu rumah tangga di Makassar, Selasa kemarin. 
Dengan mudah mereka memainkan isu ini, karena pelaku sekaligus majikan korban 
juga beretnis Tionghoa.

Bak sekam kering dilempar api, isu ini menjadi pemantik kemarahan massa 
termasuk mahasiswa di Makassar. Mereka melakukan sweeping bahkan sempat 
menyandera seorang warga keturunan Tionghoa di kota itu. Untung saja, berkat 
kesigapan aparat kepolisian, kemarahan itu tidak melebar manjadi kerusuhan. 

Jika ditarik ke belakang, konflik bahkan kerusuhan akibat isu SARA seakan sudah 
menjadi 'budaya' di negeri ini. Ratusan bahkan ribuan jiwa telah melayang 
sia-sia menjadi tumbal konflik SARA di berbagai daerah.

Anehnya, konflik SARA ini tak mudah mati. Berhenti di suatu daerah, tak selang 
lama muncul di daerah lain. Tragisnya, beberapa waktu lalu, sejumlah pengamat 
pernah mengemukakan temuan, selain karena kesenjangan ekonomi, konflik SARA di 
daerah-daerah sering bermula dari harumnya aroma kekuasaan.

Asumsi sederhana, dalam konteks kekinian, kekuasaan tidak bisa diharapkan turun 
dari langit. Tetapi sesuatu yang harus diupayakan dan diperjuangkan 
terus-menerus, baik dengan cara lunak maupun keras bahkan kasar.

Sayangnya, perjuangan meraih kekuasaan di tingkat elit lokal itu biasa terjadi 
dalam bentuk kekerasan. Dan, para pemburu kekuasaan suka melakukannya dengan 
menyeret isu SARA yang memang efektif sebagai pemantik konflik. Mereka seolah 
tak menyadari, salah satu tanggung jawab dan kesalahan politik terbesar yang 
dapat melahirkan kekerasan sipil yang paling eksplosif adalah konflik SARA. 

Tak heran, sentimen SARA dan diskriminasi saat ini jauh lebih buruk daripada 
masa lalu. Konflik itu kini sulit diidentifikasi. Tidak ada batasan baik 
gender, usia, golongan ataupun kategori lainnya yang berlaku. Kini, SARA dapat 
hidup dan bersembunyi dalam diri siapa saja.

Di masyarakat multikultur yang masih tinggi kesenjangan ekonominya seperti di 
Indonesia, konflik SARA memang sangat rentan terjadi. Untuk mengatasinya, tak 
ada jalan lain selain terus melakukan kampanye dan memberi penerangan kepada 
masyarakat mengenai persamaan derajat dan hak manusia yang hakiki.

Semua pihak harus menyadari, konflik SARA bukan sekadar kejahatan moral yang 
paling mengerikan tetapi juga pandangan dan tindakan menjijikkan di era yang 
menjunjung tinggi demokratisasi.

Pemerintah harus segera menghentikan berbagai kebijakan yang masih bersifat 
sentralistik. Jangan ada lagi perencanaan yang bersifat top down. Buatlah 
kebijakan yang lebih mengakomodasi aspirasi dan kepentingan masyarakat yang ada 
di daerah. Enyahkan duka dan lara masyarakat dari kekejian konflik SARA.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Everything you need is one click away.  Make Yahoo! your home page now.
http://us.click.yahoo.com/AHchtC/4FxNAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke