http://www.suaramerdeka.com/harian/0605/18/opi03.htm
Dilema Kemanusiaan Soeharto a.. Oleh Nurudin PEMERINTAH melalui Kejaksaan Agung mengeluarkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKPP) pada mantan presiden Soeharto. Itu didasarkan pada analisis dokter bahwa penguasa Orde Baru (Orba) itu sudah tidak dimungkinkan lagi sembuh. Tentu saja usulan ini menimbulkan pro dan kontra yang didasari pada perasaan emosional yang bercampur dengan usaha menegakkan keadilan di negeri ini yang masih compang-camping. Ide tersebut sebuah terobosan baru dan sangat berani, sebab mayoritas pendapat yang muncul di media massa selama ini selalu menuntut pengadilan terhadap Soeharto. Berbagai data hasil penelitian dan buku tentang keterlibatannya dalam masalah korupsi dan tindak kekerasan lainnya pun sudah banyak dimunculkan. Soeharto diampuni karena alasan kemanusiaan. Dalam hal ini kemanusiaan dijadikan dasar utama mengapa kasus yang menimpa mantan orang terkuat Orba itu perlu dihentikan. Kemanusiaan seolah harus menang melawan keadilan demi tegaknya hukum. Di sini pula kemanusiaan seolah menjadi ''kambing hitam'' yang menghambat supremasi hukum di negara ini. Kemanusiaan Kemanusiaan akar katanya berasal dari filsafat humanisme yang merupakan gerakan bertujuan mempromosikan harkat, martabat, dan nilai manusia. Humanisme menekankan harkat, peranan, dan tanggung jawab manusia. Menurut aliran humanisme, manusia adalah makhluk yang mempunyai kedudukan istimewa dan berkemampuan lebih dari makhluk-makhluk lain di dunia karena bersifat rohani (Mangunhardjana, 1997). Kemanusiaan juga berarti compassion yang berarti keterharuan atau menaruh belas kasihan pada manusia lain (Kees de Jong, 2001). Dalam praktiknya ia meliputi pula persepsi, pikiran, empati, perasaan, seribu macam masalah, setiakawan, gerak maju untuk kemaslahatan manusia dalam segala bentuknya. Jadi menjadikan atau menaruh simpati atas penderitaan orang lain pada posisi utama. Sementara itu fokus utama yang bisa dijadikan dasar gerakan kemanusiaan adalah manusia itu sendiri. Artinya, kemanusiaan berarti the doctrine that people's duty is to promote human welfare sebagai tujuannya. Orang yang selalu berbicara tentang kemanusiaan akan berusaha untuk tidak sekadar mempromosikan harkat, martabat dan nilai manusia tetapi juga mengamalkannya. Bahkan kalau perlu kemanusiaan didasarkan pada tujuan untuk mencapai kesejahteraan umat manusia. Orang yang biasanya berbicara tentang pentingnya menegakkan kemanusiaan tetapi dalam perilakunya tidak mencerminkan apa yang dibicarakannya bukan seorang humanis. Karenanya humanis tidak melihat apakah kepentingannya terwadahi atau tidak, dia pernah dijahati atau tidak atau dia mendapat keuntungan atau tidak dari apa yang dilakukannya. Asalkan semua bertujuan untuk meningkatkan harkat manusia dan menghormati manusia sebagai manusia dia adalah seorang humanis. Seorang humanis karenanya juga menghilangkan diri dari sifat dendam yang pernah mengenai dirinya. Seorang humanis juga seorang pluralis karena ia tidak hanya mendasarkan sikap dan perilakunya hanya pada diri atau golongannya. Seorang humanis akan menolong seorang musuh yang kebetulan membutuhkan pertolongan, meskipun ia pernah melakukan tindak kejahatan pada dirinya. Humanis juga menghindar dari perilaku-periaku yang bersifat politis. Kasus Soeharto Tak heran ketika pemerintah menghentikan proses pengadilan Soeharto banyak orang bertanya, apakah hanya karena alasan kemanusiaan pemerintah menghentikan penyidikannya? Apakah tidak ada unsur politis yang menyertai penghentian proses hukum tersebut? Pertanyaan tersebut perlu dimaklumi karena segala sesuatu yang dikemukakan pemerintah bukan kebijakan itu sendiri, tetapi kebijakan yang punya kepentingan politis. Buktinya jika pemerintah menjadi humanis mengapa terhadap presiden Soeharto bisa menangguhkan hukuman, tetapi kelaparan yang melanda masyarakat karena kebutuhan terus naik, menaikkan harga BBM jelas menurunkan kesejahteraan masyarakat pemerintah seolah tinggal diam? Di sinilah kebijakan politis seringkali ikut dalam kebijakan ideal yang dikemukakan pemerintah. Menghentikan penyidikan Soeharto memang sebuah terobosan yang patut diacungi jempol. Karena Soeharto juga manusia biasa yang punya kesalahan. Terlebih lagi ia juga seorang mantan presiden yang sumbangannya terhadap negara ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Memang kebencian kita terhadap seseorang tidak harus membuat kita ''buta mata'' dengan bertindak di luar batas. Hanya masalahnya ada beberapa hal yang layak diperhatikan. Pertama, penangguhan proses hukum itu tidak harus menghentikan soal-soal perdata yang selama ini berkait erat dengan mantan presiden tersebut. Artinya dugaan korupsi yang dituduhkan pada Soeharto tidak harus menghentikan langkah pemerintah untuk terus mencari harta kekayaan hasil korupsinya. Jangan sampai penangguhan proses penyidikan itu dipahami menghentikan semua bentuk kejahatan yang dia lakukan. Itu juga berarti tidak ada alasan jika ada anak dan cucunya terkena tindak pidana korupsi terus dihentikan sedemikian rupa. Kedua, pemerintah harus adil. Kalau terhadap Soeharto saja bisa mengampuni terhadap mantan-mantan presiden yang lain juga harus bersikap serupa. Soeharto yang pernah ''menyingkirkan'' Soekarno sampai dia meninggal saja diampuni, bagaimana dengan Soekarno yang selama ini masih dijadikan sebagai ''terdakwa'' politik (oleh pemerintah Orba dan belum direhabilitasi namanya)? Ini bukan menyangkut suka dan tidak suka pada dua mantan presiden tersebut. Ini juga demi alasan-alasan kemanusiaan pula. Perlu dikumpulkan bukti-bukti bahwa Soekarno meninggal, rentetan sejarahnya karena ''ketakutan'' Soeharto pada presiden pertama Indonesia tersebut. Sebagai seorang pesakitan tidak sepantasnya Soekarno menanggung beban berat. Jika akhirnya Soeharto diampuni, biarlah mantan presiden ini merenung, menyadarkan diri bahwa dendam kesumat tidak baik bagi masyarakat dan bangsa ini di masa datang. Biarlah pula ia mengingat bagaimana ketidakadilan yang dia lakukan pada orang-orang yang dianggapnya musuh, tetapi dia sendiri tidak dianggap sebagai musuh oleh masyarakat Indonesia yang sudah semakin dewasa pasca-Orba itu. Biarlah itu juga menjadi misteri betapa toleran dan pemaafnya bangsa dan rakyat ini, terhadap dirinya sendiri. Tantangan Kemanusiaan Memang menegakkan humanisme tidaklah gampang dilakukan. Ada banyak hal yang berkait erat yang membutuhkan sikap yang tulus tanpa syak wasangka. Sudah dalam waktu lama bangsa ini terbelenggu dalam sikap tersebut. Kemanusiaan memang tidak saja sebuah sikap dan perilaku yang ideal untuk diwujudkan, tetapi ia juga menyimpan dilema. Kemanusiaan seringkali berlawanan dengan usaha menegakkan hukum yang tanpa pandang bulu. Dengan alasan kemanusiaan orang bisa menghentikan perkara hukum padahal supremasi hukum belumlah tegak didirikan. Inilah tantangannya. Tak terkecuali banyak orang seringkali berlindung dalam kata-kata manis kemanusiaan padahal ia ingin mewujudkan ambisi pribadi. Banyak orang pula berlindung di balik kata-kata kemanusiaan karena ia punya target terselubung yang justru mengakibatkan ketidakadilan di tengah masyarakat. Kemanusiaan karenanya memang tidak punya sanksi tegas dan nyata sebab tergantung pada bisikan hati nurani masing-masing orang. Tapi mewujudkan kemanusiaan tetap harus dilakukan serumit apa pun. Kemanusiaan memang perkara yang rumit, pelik dan penuh tanggung jawab dalam pelaksanaannya. Kasus Soeharto sedang menguji kesabaran, konsistensi, kejujuran bangsa ini. (11) -- Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Muhammadiyah Malang (UMM); sedang menulis tesis tentang kemanusiaan [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> You can search right from your browser? It's easy and it's free. See how. http://us.click.yahoo.com/_7bhrC/NGxNAA/yQLSAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
