http://batampos.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=809&Itemid=33
Pecahkan Ekonomi yang Sebenarnya
Sabtu, 01 Juli 2006
Oleh: Ir.H.Donny Irawan*
Bagian Terakhir dari Dua Tulisan
Merebaknya kegiatan prostitusi, perjudian, pornografi pada berbagai
media, bisnis hiburan yang penuh maksiat, praktek riba, narkoba, miras,
korupsi, sogok-menyogok, dan lain-lain telah membuktikan hal itu. Selain itu,
penguasaan aset umat dan negara-seperti hutan, pertambangan, sumber daya air
dan kepemilikan umum lainnya-oleh hanya segelintir orang tertentu telah
berdampak pula pada kerusakan dan terganggunya berbagai kemaslahatan umum.
Semua ini terjadi karena kehidupan ekonomi kapitalis dibangun di atas nilai
manfaat yang menghalalkan segala cara (bebas nilai).
Sebaliknya, kondisi di atas tidak akan ditemukan dalam kehidupan ekonomi
dimana diterapkan Sistem Ekonomi Islam, karena penerapan hukum-hukum Islam
dalam bidang ekonomi telah menjadikan kegiatan ekonomi berjalan di atas pedoman
dan pijakan yang jelas. Kegiatan ekonomi yang menjadi perhatian bukan hanya
sektor produksi untuk mengejar pertumbuhan semata (seperti yang diharapkan dari
SEZ ini). Sektor ini tetap penting, namun yang lebih penting lagi adalah
kegiatan ekonomi yang dapat menjamin terpecahkannya persoalan ekonomi yang
sebenarnya, yakni terpenuhinya kebutuhan pokok seluruh individu rakyat serta
terjaminnya peluang untuk meningkatkan kesejahteraan melalui pemenuhan
kebutuhan pelengkap (sekunder dan tersier) mereka. Terpenuhinya kedua jenis
kebutuhan tersebut, secara alami, akan menghilangkan berbagai sebab yang dapat
menciptakan ketegangan, pertentangan, dan keresahan di antara kelompok
masyarakat.
Islam, sebagai sebuah prinsip hidup, tidaklah menetapkan cara dan aturan
pengelolaan yang khusus. Tidak terdapat satu keterangan pun, baik yang berasal
dari al-Qur'an maupun as-Sunnah, yang menjelaskan bahwa Islam ikut campur dalam
menentukan bagaimana cara memproduksi harta kekayaan tersebut. Justru
sebaliknya, kita malah menemukan banyak keterangan yang menjelaskan bahwa
syariat Islam telah menyerahkan kepada manusia ihwal menggali dan memproduksi
kekayaan tersebut. Diriwayatkan bahwa Nabi saw. pernah memberi nasihat kepada
orang yang sedang melakukan penyerbukan kurma. Setelah orang tersebut mengikuti
nasihat Nabi saw, ternyata orang tersebut mengalami gagal panen. Setelah hal
itu disampaikan kepada Nabi saw., beliau bersabda: "Kalianlah yang lebih tahu
tentang (urusan) dunia kalian". [HR. Muslim dari Anas ra.].
Semua ini menunjukkan bahwa syariat telah menyerahkan masalah bagaimana
memproduksi harta kekayaan tersebut kepada manusia sesuai dengan keahlian dan
pengetahuan mereka. Semua ini, menurut pandangan ekonomi Islam, dimasukkan ke
dalam pembahasan ilmu ekonomi yang bersifat universal sehingga boleh dipelajari
dan diambil dari manapun asalnya; apakah dari Barat maupun dari Timur.
Berbeda halnya dengan aktivitas ekonomi yang menyangkut tata cara
perolehan, pengelolaan (konsumsi dan investasi), dan pendistribusian harta.
Dalam hal ini, Islam mengaturnya secara jelas. Hal ini bisa dipahami dari hadis
tentang pertanyaan Allah Swt. kepada manusia pada Hari Kiamat kelak, bahwa
mereka akan dimintai pertanggungjawaban tentang hartanya: dari mana serta
dengan cara apa ia memperolehnya; juga tentang bagaimana ia memanfaatkan
hartanya tersebut mulai dari kegiatan konsumsi sampai dengan
pendistribusiannya. Pengaturan Islam dalam bidang ini juga dapat dilihat dari
hukum-hukum fikih praktis yang mengatur seluruh kegiatan tersebut, seperti
hukum tentang sebab-sebab kepemilikan harta; hukum tentang pengembangan
kepemilikan harta seperti jual-beli, syirkah (perseroan) dan lain-lain.
Oleh karena itu, jelas bahwa Islam telah memberikan pandangan (konsep)
tentang sistem ekonomi, sementara tentang ilmu ekonomi Islam menyerahkannya
kepada manusia. Dengan kata lain, Islam telah menjadikan perolehan dan
pemanfaatan harta kekayaan sebagai masalah yang dibahas dalam sistem ekonomi.
Sebaliknya, secara mutlak, Islam tidak membahas bagaimana cara memproduksi
kekayaan dan faktor produksi yang bisa menghasilkan harta kekayaan, karena hal
itu termasuk dalam pembahasan ilmu ekonomi yang bersifat universal.
Islam membedakan pembahasan ekonomi dari segi pengadaan serta peningkatan
produktivitas barang dan jasa dengan pembahasan ekonomi dari segi tatacara
memperoleh, memanfaatkan, dan mendistribusikan barang dan jasa. Pembahasan
ekonomi dari segi yang pertama dimasukkan ke dalam pembahasan ilmu ekonomi.
Sementara itu, pembahasan ekonomi dari segi yang kedua dimasukan ke dalam
pembahasan sistem ekonomi.
Ilmu ekonomi, menurut pandangan Islam, adalah ilmu yang membahas tentang
prsoses pengadaan dan peningkatan produktivitas barang dan jasa-artinya
berkaitan dengan aspek produksi. Harta kekayaan sifatnya ada secara alami.
Upaya mengadakan dan meningkatkan produktivitasnya pun dilakukan manusia secara
universal. Oleh karena itu, pembahasan tentang ilmu ekonomi merupakan
pembahasan yang universal pula sesuai dengan perkembangan sains dan teknologi.
Karena ilmu ekonomi tidak dipengaruhi oleh pandangan hidup (ideologi) tertentu
dan bersifat universal, maka ia dapat diambil dari manapun selama bermanfaat.
Sedangkan sistem ekonomi terkait dengan masalah kepemilikan harta kekayaan
serta bagaimana cara memanfaatkan, mengembang-kan, dan mendistribusikannya
kepada masyarakat.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, Islam membedakan pembahasan
ekonomi dari segi produktivitas barang dan jasa serta teknik-teknis yang paling
efisien- yang dimasukkan dalam pembahasan ilmu ekonomi-dengan pembahasan
ekonomi dari segi cara memperoleh, cara memanfaatkan serta cara
mendistribusikan barang dan jasa-yang dimasukkan ke dalam pembahasan sistem
ekonomi.
Sementara itu, sistem ekonomi kapitalis menjadikan pembahasan ilmu
ekonomi dan sistem ekonomi sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Bahkan, sistem ekonomi kapitalis telah menjadikan pembahasan sistem ekonomi
sebagai bagian dari ilmu ekonomi yang berlaku universal. Artinya, pembahasan
ekonomi dari segi pengadaan serta peningkatan produktivitas barang dan jasa
serta dari segi tatacara perolehan, pemanfaatan, dan pendistribusian-nya
disatukan semuanya dalam lingkup pembahasan ilmu ekonomi. Padahal, terdapat
perbedaan mendasar di antara keduanya. Dengan penjelasan ini, dapat kita
ketahui dan pahami, bahwa pembahasan sistem ekonomi sangat dipengaruhi oleh
pandangan hidup (ideologi) tertentu dan tidak berlaku secara universal. Oleh
karena itu, sistem ekonomi dalam pandangan ideologi Islam tentu berbeda dengan
sistem ekonomi dalam pandangan ideologi kapitalis ataupun ideologi
sosialis-komunis.
Apabila SEZ ini ber'kiblat' ke Suzhou, China, yang ber-ideologi
non-Islam, maka kita sudah dapat memastikan bahwa solusi yang ditawarkan tetap
akan 'kapitalis' atau 'sosialis', yang akibat dan dampaknya sudah kita rasakan
sampai hari ini. Kesejahteraan tidak pernah tercapai oleh mayoritas rakyat ini.
Kita masih tetap menjadi 'tamu' di rumah kita sendiri. Sementara para
'kapitalis-sekuler' telah siap 'menjajah' kita lagi dalam bidang ekonomi ! Ya,
Allah, Tuhan kami, berilah kami petunjuk dan kekuatan menghadapi semua
ini....Amin ! Wallohu a'lam bish showab.***
*)Ir H Donny Irawan, Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) - Batam
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Something is new at Yahoo! Groups. Check out the enhanced email design.
http://us.click.yahoo.com/SISQkA/gOaOAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/