REFLEKSI:  MasyaAlloh! MasyaAlloh! MasyaAlloh! Ternyata yang  mencalonkan diri 
dan dipilih  oleh rakyat dalam Pemilihan Umum adalah tidak lain dari pada 
tukang catut. Tukang catut selalu berpikiran menipu, maka oleh karena itu yang 
namanya DPR tidak lain dari pada Dewan Penipu Rakyat. 


MEDIA INDONESIA
Senin, 31 Juli 2006


Anggota DPR 'Kepergok' Pelesiran ke Luar Negeri



 
WARTAWAN harian ini, yang sedang berada di Kota Teheran, Iran, membuat laporan 
eksklusif kemarin. Isinya tentang delegasi Komisi I DPR yang melakukan 
kunjungan kerja ke luar negeri, yakni ke Teheran, Abu Dhabi, dan Dubai.

Sebuah kunjungan kerja 'istimewa' karena dalam delegasi yang beranggotakan 11 
orang itu terdapat empat istri anggota dewan. 'Istimewa' sebab membawa istri 
dengan dibayai negara. Lebih 'istimewa' lagi karena ada anggota DPR yang 
mengatakan mereka melakukan kunjungan kerja, tapi ada pula yang menegaskan 
kunjungan ke negara-negara di Timur Tengah itu bukan urusan dewan, melainkan 
acara pribadi dalam rangka menunaikan ibadah umrah. Semakin 'istimewa' lagi 
karena pelesiran ke luar negeri itu tepergok wartawan. Dan, jadi berita besar!

Harus ditambahkan pula 'keistimewaan' lainnya. Yaitu, bukankah mereka pergi ke 
luar negeri di masa reses? Bukankah seharusnya mereka mengunjungi daerah tempat 
pemilihan masing-masing untuk menyerap aspirasi konstituen? Dan, bukankah 
setiap anggota dewan menerima dana penyerapan aspirasi sebesar Rp43,2 juta 
tanpa perlu pertanggungjawaban yang jelas?

Demikianlah, anggota DPR yang terhormat itu untuk kesekian kalinya menjadi 
contoh terburuk dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Wakil rakyat itu 
justru menjadi sumber sejumlah penyimpangan terjelek. Bukan saja tidak memenuhi 
janji-janji kampanye, melainkan juga melakukan manipulasi.

Padahal, sekurang-kurangnya, ada tiga fungsi pokok anggota DPR, yaitu mewakili 
rakyat, membuat undang-undang, serta mengontrol pemerintah. Yang terjadi 
sekarang, anggota DPR tidak mewakili siapa pun, kecuali mewakili kepentingan 
dirinya sendiri. Mereka mewakili kerakusan, ketamakan diri sendiri, serta 
hipokrisi yang dibalut dengan kehormatan sebagai wakil rakyat.

Mereka juga sejatinya bukan pembuat undang-undang karena undang-undang juga 
dibikin dengan menerima uang amplop. Bahkan, ada undang-undang disahkan dalam 
ruang sidang pleno yang nyaris kosong melompong.
Yang tampak gagah adalah pengawasan terhadap eksekutif. Ini zaman badan 
legislatif sangat superior. Jangan ada pimpinan badan pemerintahan yang 
mencoba-coba tidak datang memenuhi rapat kerja dengan DPR dan menganggap cukup 
mengirim wakil. Pejabat pemerintah itu akan habis dihajar anggota DPR!

Sungguh hebat fungsi pengawasan yang dilakukan anggota DPR terhadap eksekutif. 
Namun, yang terjadi adalah kutu di seberang lautan kelihatan, tetapi gajah di 
depan mata tak tampak. Suara keras anggota DPR terhadap pemerintah lebih 
merupakan suara keras untuk menutupi keburukan diri sendiri.

Pemilu 2004 telah menghasilkan anggota DPR yang patut dicatat dalam sejarah 
sebagai paling buruk kualitasnya. Yaitu, buruk kualitas budi pekertinya, buruk 
integritasnya. Karena itu, penting bagi rakyat untuk benar-benar memantau 
kelakuan mereka agar tidak memilihnya kembali pada pemilu mendatang.

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke