http://www.indomedia.com/bpost/102006/20/depan/utama9.htm
Istri Irianto Kembalikan Peti Mati Palu, BPost Ajun Inspektur Satu Polisi Rita Kapu, istri Pendeta Irianto Kongkoli, memprotes sikap korpsnya yang dianggap tidak serius mengusut kasus penembakan suaminya. Kamis (19/10), Rita melampiaskan kekecewaannya dengan mengembalikan peti mati pemberian Walikota Palu, Sulawesi Tengah, yang menurutnya tidak layak. Kekecewaan Rita bertambah karena polisi belum juga menetapkan seorang pun sebagai tersangka pembunuh suaminya. Kepala Polri Jenderal Sutanto bahkan tak luput dari kemarahan Rita. Pasalnya Kapolri dianggap tidak maksimal melakukan pengusutan. Sejak Senin lalu polisi memeriksa 15 saksi. Tapi tak satu pun yang dijadikan tersangka. Kepala Kepolisian Daerah Sulteng Brigadir Jenderal Badrodin Haiti menyebut pelakunya adalah pemain lama kerusuhan Poso. Sejumlah nama pelaku kerusuhan Poso yang dikantongi polisi segera menyusul untuk diperiksa. Untuk mencari orang-orang ini, Markas Besar Polri menurunkan tim khusus yang dipimpin Wakil Kepala Badan Reserse dan Kriminal Inspektur Jenderal Gories Mere. Meski telah mengantongi sejumlah nama dan keberadaan tersangka, Kapolri mengaku pihaknya belum mempunyai alat bukti awal yang cukup untuk menangkap penembak Pendeta Irianto. "Kalau kita punya Internal Security Act (ISA) seperti yang dipakai di Singapura dan Malaysia, efektif sekali itu kan. Sedangkan kita harus punya bukti permulaan yang cukup untuk menangkap seseorang," katanya menjawab pertanyaan wartawan seputar kesulitan menangkap penembak Pendeta Irianto. Hal ini disampaikan usai menghadiri Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari di Mabes Polri, kemarin. Sutanto mengatakan pengumpulan lima alat bukti dapat menjadi penghambat proses penyelidikan, terutama kasus-kasus teror. "Misalkan saja di luar negeri, dengan rekaman kamera saja, sudah cukup untuk diproses. Tetapi kalau di Indonesia, itu hanya sebagai alat bukti. Masih perlu alat bukti lain segala macam karena alat bukti harus lima. Itu yang membuat kita sulit sehingga kita harus memproses lebih lanjut," terangnya. Sekretaris Umum Gereja Kristen Sulawesi Selatan (GKST) Pendeta Irianto Kongkoli ditembak dua orang di Palu, Senin pagi lalu. Pelaku menggunakan sepeda motor dan mengenakan penutup wajah. Polisi menyatakan tersangka masih berada di Sulteng. Kapolri juga sempat menduga kelompok Hasanuddin sebagai pelaku. Hasanuddin merupakan terdakwa kasus pemenggalan tiga siswi di Poso pada 2005. Untuk menangkap pelakunya, penyidik Polda Sulteng mendapat dukungan Detasemen Khusus (Densus) 88-Anti Teror Mabes Polri. Kabid Humas Polda Sulteng AKBP Muhammad Kilat di Palu mengatakan pihaknya telah memeriksa lebih dari 10 saksi. Kilat mengatakan polisi sebenarnya sudah mendeteksi sejumlah orang yang diduga sebagai pelaku. Namun penyidik harus memiliki fakta hukum yang kuat untuk menyeret mereka ke pengadilan. Soalnya, kata dia, tidak ada saksi yang melihat langsung atau mengenal wajahnya.ant/dtc [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
