http://www.harianbatampos.com/index.php?option=com_content&task=view&id=8790&Itemid=75

      Sabtu, 16 Desember 2006 

      Reformasi dan Korupsi 
     
      Oleh: Agus Setiawan dan DR Surya Darma *)

      KRAN reformasi kian terbuka di ranah persada ini. Seiring dengan 
keterbukaan itu, ada suatu gejala di tengah masyarakat yang ingin mendirikan 
lembaga tertentu sebagai pengawas jalannya pembangunan ini, dengan memanfaatkan 
momen demokrasi, reformasi serta korupsi. Tumbuh-kembangnya lembaga-lembaga 
tertentu bertemakan itu, menempati lahan yang subur bagaikan cendawan musim 
hujan.


      Di satu sisi, kita harus memandang positif gejala menjamurnya lembaga 
tertentu mengibarkan bendera demokrasi, reformasi serta korupsi tersebut. Jika 
kandungan filosofi lembaga tertentu itu datangnya dari lubuk hati yang paling 
dalam, mungkin inilah yang diharapkan masyarakat Indonesia. Sebab, masyarakat 
Indonesia sendiri hampir dikatakan sudah ''frustasi'', terhadap penegakan hukum 
oknum-oknum pengemplang kekayaan negara ini.


      Sebaliknya, jikalau lembaga tertentu mengatasnamakan demokrasi, reformasi 
serta korupsi itu untuk mengejar target bernegosiasi di belakang layar, sungguh 
naif dan hinanya serta patut disayangkan. Namun, sekali lagi tentulah itu 
berpulang pada hati nurani masing-masing saja, karena hati itu kontrol dari 
segala hal. Dalam arti, mulut boleh mendustai orang lain dengan menutupi 
prilaku di atas permukaan, tetapi hati tidaklah bisa didustakan. Mata tidaklah 
buta untuk melakukan sesuatu perbuatan, tetapi mungkin mata hatinya yang dia 
butakan atau dia langgar. 


      Bukan maksud menilai dari sudut negatif lembaga tertentu demokrasi, 
reformasi serta korupsi, namun kenyataannya korupsi di negeri yang kaya raya 
ini makin menjadi, bahkan terang-terangan seperti kata orang korupsi ''di atas 
meja''. Jika boleh membandingkan era orde baru dengan masa sekarang ini, 
korupsi pada orde baru boleh dikatakan sembunyi-sembunyi alias di bawah meja. 


      Jika bicara korupsi di negeri ini seolah mejadi perbincangan yang bukan 
rahasia umum lagi. Ada suatu survei internasional tentang korupsi di dunia ini 
menyebutkan: korupsi di Indonesia nomor lima besar di dunia. Namun, seorang 
teman saya sambil bercanda mengatakan: sebenarnya korupsi di Indonesia nomor 
satu di dunia. Sebab, kata teman saya itu dalam suatu perbincangan di kedai 
kopi, petugas survei itu telah kena sogok. Sehingga, dari tadinya peringkat 
korupsi Indonesia nomor satu di dunia ini, turun peringkat menjadi nomor lima 
besar. Lalu, kami di kedai kopi itu pun terbahak-bahak teringat sloga karikatur 
di koran ini: mentertawakan kebenaran, kebenaran ditertawakan. 


      Yah, memang miris kedengarannya perbincangan di kedai kopi. Tapi, itulah 
kenyataan yang kita jumpai dan menjadi tanggung jawab kita bersama ke depan 
mengatasinya. Akan tetapi, ketika pemerintah membuka diri ''perang'' terhadap 
korupsi ini, ternyata menjadi momen pula menjamurnya lembaga demokrasi, 
reformasi serta korupsi.


      Menangkap suara-suara yang beredar luas di tengah masyarakat, ada lembaga 
tertentu yang memanfaatkan demokrasi, reformasi serta korupsi, dengan modus 
kinerjanya berada dalam pagar tetapi berteriak di luar pagar. Bahkan, ada pula 
yang mencap lembaga tertentu panen negosiasi, mengambil kesempatan di momen 
demokrasi, reformasi serta anti korupsi yang dicanangkan pemerintah. Yah, jika 
ada yang merasa keberatan barangkali bisa jadi termasuk kategori ini 
lembaganya. Lagikanya, kalau benar tidak akan takut dikatakan salah. 
Sebaliknya, kalau salah maka akan berusaha menutupi atas kesalahan tersebut. 


      Jujur kita akui, masih ada juga lembagai demokrasi, reformasi serta 
korupsi tertentu yang bekerja profesional menjalankan tugasnya. Katakanlah 
seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan lembaga lainnya. Beda KPK dengan 
lembaga tertntu lainnya yang sama-sama mengibarkan bendera anti korupsi, KPK 
panen perkara tetapi lembaga demokrasi, reformasi serta korupsi lainnya panen 
negosiasi. 


      Dalam hati, tidaklah ada maksud mencap jelek lembaga tertentu demokrasi, 
reformasi serta korupsi melemahkan semangatnya ikut mengibarkan gederang 
''perang'' terhadap koruptor penghisap darah rakyat ini. Sebab, tidaklah satu 
dua saja lembaga tertentu yang mengibarkan genderang ''perang'' terhadap 
tikus-tikus berdasi yang menggrogoti keuangan negara itu. Tetapi, alibi orang 
awan saja pastilah berkata, jika terjalin ''kemesraan'' antara yang disorot 
kinerjanya supaya tidak koruspi, apalagi biaya kantor dan operasional dibantu 
oleh lembaga yang disorot, bagaimana lagi hendak memasukkan si koruptor itu 
agar makan tidur nyenyak secara gratis di hotel prodeo?


      Perkembangan terbaru terbukanya kran reformasi di ranah persada ini, saya 
melihat sepertinya ada pergeseran pola korupsi dari yang tadinya korupsi 
pejabat menjadi korupsi kerabat. Modusnya masih sama-sama bagaimana menguras 
uang rakyat. 


      Bedanya, kalau dulu si koruptor itu mencuri uang rakyat masuk ke kantong 
pribadinya, tetapi sekarang ini si koruptor tetap mencuri uang rakyat tetapi 
sudah ada ''bagi-bagi'' untuk mendiamkan lembaga-lembaga tertentu. Bagi-bagi 
kue korupsi uang rakyat itu bisa saja kepada kerabatnya, dengan modus 
mendapatkan proyek, uang fee proyek, dan berbagai bentuk-bentuk korupsi lainnya.


       Mungkin ada yang merasa jika tulisan ini terlalu menilai negatif 
terhadap lembaga demokrasi, reformasi serta korupsi tertentu yang dekat dengan 
lingkungan koruptor. Memang itulah adanya. Seperti ajaran agama yang saya anut 
mengatakan, sampaikanlah satu ayat meskipun itu pahit. Jujur saya katakan, 
sebenarnya obat anti korupsi itu pahit. Kita pastilah sepakat untuk memberantas 
korupsi itu. Tetapi, apakah kita sudah siap menelan obat pahit itu? Secara 
idealnya saya berani memastikan, kita jawab siap atau tidak siap memang harus 
siap melawan korupsi itu. Kenyataannya sudah bagaimana? Selanjutnya terserah 
Anda, dan Andalah yang menilai.


      Akan tetapi, selagi ada waktu dan selagi nafas masih di tubuh, tentu ada 
kesempatan untuk memperbaikinya. Dalam hal ini, lembaga tertentu yang 
memanfaatkan demokrasi, reformasi serta korupsi janganlah memanfaatkan gaung 
itu untuk target alat mencapai tujuan tertentu. Maaf ya, sedikit nyeleneh bahwa 
demokrasi, reformasi serta korupsi itu bukan poligami. Sebab, poligami tak bisa 
diolah. 


      Sekali lagi, fenomena yang terlihat di alam negara serta pemerintah 
sedang giatnya membenahi sistem demokrasi serta reformasi dan korupsi ini, 
terkadang lembaga tertentu menungganginya yang terkadang menggunakan pers 
sebagai alat bernegosiasi di balik layar. Jika itu yang terjadi, alamak wai, 
apalah jadinya negeri ini. 


      Di satu sisi, kita harus akui bahwa pemerintahan Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono (SBY) memang sedang gencar-gencarnya membenahi sistem pemerintahan 
serta menggalakkan reformasi dan memberangus korupsi di bumi persada ini. 
Secara berangsur sudah dibenahi sesuai dengan janji-janji politiknya dulu 
ketika mencalonkan diri jadi Presiden. Tapi, mohon bersabarlah bahwa untuk 
membenahi bangsa yang multi dimensi ini tentu tidak semudah membalikkan telapan 
tangan. Hal ini, karena SBY dan pemerintahannya bukanlah tangan-tangan 
malaikat. 


      Terus terang saja, ada yang menjadi dilema bagi kami bahwa tokoh-tokoh 
maupun yang ditokohkan jangalah terlalu apriori menanggapi dalam pemerintahan 
SBY ada tebang pilih dalam penegakan supremasi hukum. Dalam hal ini, kita 
jangan terlalu berprasangka buruk terhadap pemerintahan SBY. Maksud kami, kita 
harus memberikan penilaian yang objektif, rasional dan bukan emosional. 
Artinya, jangan memandang dari sudut kaca mata negatif tehadap kinerja 
pemerintahan SBY, tetapi pandang juga dari sisi positif. 


      Mengerucut terhadap tulisan ini, tak kita pungkiri ada juga 
lembaga-lembaga tertentu masih konsen menegakkan reformasi. Untuk itu, 
satukanlah persepsi dalam membangun tatanan demokrasi yang fair dan sehat, demi 
kepentingan rakyat. Insya Allah! ***

      *)Agus Setiawan, Sekjen Komite Independen Pemantau Aspirasi dan Demokrasi 
(Kipas) Indonesia.
      *)DR Surya Darma SH MH, Sekjen Komite Independen Penegakan Supremasi 
Hukum Indonesia (Kipsi
     


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke