http://www.indomedia.com/poskup/2007/01/15/edisi15/opini.htm


Nasib jadi rakyat

(Seraut kegelisahan buat Dewan Sumtim)

Oleh Umbu TW Pariangu *



RASA-RASANYA sepak terjang lembaga perwakilan rakyat kita mulai dari 
pusat-daerah di tahun 2006 lalu masih menyimpan luka yang dalam bagi perjalanan 
kedaulatan rakyat kita. Mulai dari perilaku Dewan yang kurang profesional, 
kritis, tak etis/amoral sampai insentivitas sosial yang kian mengakut. Paling 
tidak luka ini pun masih membawa aroma kepedihan bagi kita di permulaan tahun 
yang baru, 2007 ini. Rakyat terus tergerus dalam gelombang kecongkakan para 
elit kita termasuk Dewan yang selalu diwanti-wanti untuk memperhatikan aspirasi 
rakyat yang telah resmi diwakilinya semenjak pemilu kali lalu. Setidaknya 
kecongkakan itulah yang tergambar dari perilaku Dewan kita, misalnya, dalam 
menanggapi turunnya PP No.37 Tahun 2006 beberapa waktu lalu. DPRD Sumba Timur 
(Sumtim), dalam beberapa berita di surat kabar tampak amat bergairah menyambut 
'berkah' peraturan pemerintah tersebut yang bakal membawa ke-25 orang wakil ini 
berfantasi ria dalam 'pesta uang'. Apalagi APBD Sumtim baru-baru ini sudah 
mengakomodir dana komunikasi intensif dan tunjangan operasional bagi pimpinan 
DPRD lewat penetapan Perda Nomor 1 Tahun 2007 tentang APBD (Pos Kupang 
8/1/2007). Setelah Dewan kita tidur di ruang sidang, kini mereka bakal tidur 
lagi di atas uang.

Bayangkan saja, dengan diterapkannya PP No.37 Tahun 2006 tentang kenaikan 
tunjangan operasional dan komunikasi intensif, pimpinan Dewan Sumtim, misalnya, 
akan meraup penghasilan sekitar 20-25 juta/bulan di luar tunjangan rutin 
lainnya yang sudah diperolehnya selama ini. Dengan angka fantastik ini saja, 
sebenarnya Dewan kita sudah menikmati efek surga dunia dari balik kursi yang 
dibeli rakyat dengan susah payah. Betapa tidak, selama ini mereka sudah 
dimanjakan dengan berbagai fasilitas mentereng seperti mobil, rumah, biaya 
pemeliharaan kesehatan, dana perjalanan dinas - yang membuat mereka bisa pesiar 
atau melancong bebas dengan mengatasnamakan studi banding, biaya pakaian 
seragam yang kalau dikalkulasi semuanya bisa mencapai belasan/puluhan kali 
lipat dari penghasilan seorang petani, pedagang sayur mayur di Pasar Inpres 
Matawai yang dahulu pernah dirayu, digombali dengan aneka janji-janji 
politis-bombastis.

Demikian pun dengan para anggota Dewan Sumtim yang juga tak kalah gembira 
keciprat tunjangan 'luks' representasi ini. Mereka pun bisa mempertebal kocek 
penghasilannya sampai 12-15 juta/orang (Timex,29/12/2006). Ironisnya, di tengah 
akumulasi kritisisme publik dan kontroversialisme kenaikan tunjangan ini, 
justeru kita membaca, seorang Ketua Fraksi Partai Golkar (FPG) DPRD Sumtim 
AliOemar Fadag, yang sempat mempertanyakan kesenjangan realisasi tunjangan 
tersebut jika dibanding dengan jumlah yang diterima oleh pimpinan Dewan. Kita 
tahu figur ini semula sempat menolak realisasi PP No.37 Tahun 2006 dengan 
mengasumsikan pada realitas kehidupan rakyat Sumtim yang mayoritas masih 
dihimpit krisis ekonomi dan wabah kemiskinan pada pelbagai bidang (Pos Kupang, 
27/12/2006). Bukankah ini mencerminkan secara kasar adanya sebuah akrobatik 
politik kasar yang lebih menunjukkan performa sandiwara ketimbang 
representativitas sebagai wakil agung, anak kandung rakyat yang terlahir dari 
rahim penderiataan rakyat kebanyakan?

Nalar publik Sumtim pun pada umumnya tahu bahwa Pendapatan Asli Daerahnya masih 
jauh di bawah harapan. Masih banyak keluarga miskin yang hidup dengan pola 
makan sekali sehari, bahkan ada falsafah yang berkembang dalam masyarakat di 
sini bahwa seorang ayah/ibu rela makan sekali sehari demi keluarganya bisa 
makan tiga kali sehari. Kita juga sempat membaca di surat kabar ini (Pos 
Kupang, 29/12/2006) ketika pada Hari Raya Natal lalu, banyak keluarga miskin 
yang tidak bisa merayakannya sebagaimana lazimnya umat nasrani lainnya di 
Sumba, karena mereka harus bergulat penat di ladang pencarian nafkah demi asap 
dapur bisa terus mengepul. Di saat warga lain khusyuk beribadah di ruang gereja 
dan ketika ketika banyak keluarga saling kunjung-selamatan dengan 
pernak-pernik, hidangan istimewa Natal yang menarik, kita juga masih 
menyaksikan warga yang harus bermandi peluh, bersinggungan lumpur, dibasahi air 
hujan, ditemani lalat-lalat di bawah tenda rapuh sambil menjajakan barang 
dagangan dengan sepeser harapan kalau-kalau bisa membawa pulang hasil ke rumah 
untuk disantap bersama keluarga. Hari istimewa bagi mereka adalah ketika susu 
untuk anak-anak mereka bisa terbeli, dan mereka bisa terus hidup di tengah 
tantangan ekonomi yang semakin tidak bersahabat meski dengan siasat hidup yang 
serba memrihatinkan. Ketika banyak elit di daerah Sumtim sibuk-ria bermain 
judi, mengkalkulasi pendapatannya yang berupaya dicukup-cukupkan sampai 
terpenuhi nafsu serakah konsumtivismenya, ada warga yang harus bunuh diri 
lantaran stres tidak mampu bertahan menghadapi kesulitan hidup yang terus 
mencekik leher. Ketika kita menyaksikan betapa meruncingnya optimisme para 
pejabat menyambut 'hari esok' dengan gelimangan dan taburan uang dan mimpi yang 
diperoleh dari cara-cara yang tak beradab dan solider, serentak itu juga kita 
menyaksikan rakyat petani atau masyarakat periferial lainnya kian dikunci 
pesimisme. Mereka, rakyat kecil ini seperti berada dalam kiamat dunia dimana 
kehidupan wajar muskil digapai selain mujizat yang sekiranya datang 
menghampirinya. Rakyat Sumtim terus bersabung nyawa, bersimbah kemiskinan. 
Meski roda pemerintahan berjalan, namun sesungguhnya itu hanya sebuah simbol 
mati semata, sebuah kepura-puraan universal penadbiran yang menampakkan lakon 
tunggal mobilitas para pejabat tanpa agenda kerakyatan yang jelas dannyata.

Kondisi miskin yang menggayuti wajah rakyat kebanyakan di Sumtim ini 
sesungguhnya merupakan realitas yang pernah dilalui oleh para wakil rakyatnya 
sebelum menuju ke kursi terhormat.Tetapi dominannya harapan dan nafsu wakil 
rakyat tersebut seakan sudah mengubur dalam-dalam idealisme, keberpihakan, 
solidaritas serta kepekaan terahadap nasib masyarakat luas. Demokrasi kata 
maupun perilaku mereka dalam kampanye-kampanye politik kali lalu cumalah 
fatamorgana politik yang menyilaukan hati nurani dan kekritisan baik secara 
personal maupun kelembagaan. Lalu rakyatkah yang patut disalahkan atas semua 
ini? Tidak. Rakyat sudah menjalankan kewajiban politiknya memilih para 'wakil 
kepercayaannya', hanya sistem dan mekanismelah yang salah yang kemudian 
memperalat rakyat di tengah kemiskinan, kebodohan akibat apatisme struktural 
pemerintah, untuk (rakyat) menjatuhkan pilihan yang fatamorganis pula. Rakyat 
tidak patut disalahkan dalam kondisi kesenjangan seperti ini. Wakil rakyatlah 
yang patut dimintai pertanggungjawabannya atas kepercayaan yang diperoleh 
secara mahal itu. Mereka tidak bisa tidak, untuk harus bersuara dalam ruang 
sidang, menggemakan kebenaran berdasarkan suara nurani karena kehadiran mereka 
membawa nama besar rakyat dan demokrasi. Mereka pun harus konsekuen dengan 
nasib rakyat, jangan habis manis lalu sepah dibuang, jangan menjadikan ruang 
sidang sebagai sarang peminta-minta bahkan penyamun. Mereka harus malu jika 
menggunakan uang (rakyat) berjuta-juta disaat rakyatnya sendiri sekarat, hidup 
kembang-kempis

Tetapi atas tuntutan itu kita kadang harus menyesalinya, karena tidak sedikit 
Dewan misalnya yang selama sidang tidak pernah bersuara sepatah kata pun selain 
asyik baca koran, utak-atik sms, ataupun duduk sambil bengong-bengong. Itulah 
kualitas wakil rakyat yang tidak perlu dibuktikan lagi, dengan melihat track 
record karier dan hasil kerja mereka selama ini. Dan atas kenyataan itu mereka 
pantas untuk dipertimbangkan kembali kehadirannya di ruang Dewan terhormat 
periode berikutnya. Atau dengan kata lain, wakil rakyat yang sudah terbukti 
gagal mengemban amanah rakyat serta tidak konsekuen dalam menjalankan tugas 
mulianya, menjadi corong kepentingan masyarakat itu layak untuk tidak dipilih 
lagi oleh masyarakat pada periode selanjutnya.

Apa hendak dikata, wakil rakyat Sumtim mungkin cumalah sekumpulan paduan suara 
yang gemar mengkoorkan berbagai seruan, senandung titipan kepentingan 
konspiratif legislatif-eksekutif, membela kekuasaan ketimbang menyuarakan 
rintihan dan keluh kesah rakyatnya. Atau seperti kata Ketua DPC PDIP Sumtim, 
John David, wakil rakyat Sumtim ibarat penyanyi yang lebih banyak koor 
ketimbang solo (Timex,19/12/2006). Mungkin artinya, wakil rakyat didaerah itu 
lebih suka tenggelam dalam uniformitas sikap yang mengalibikan idealisme, 
kekritisan personal. Suara mereka melengking dalam koor tetapi bisu dalam 
solo.Padahal sikap kolektif dalam budaya politik kita sudah lama menampilkan 
seduktivitas yang menyembunyikan motivasi orisinal di balik mayoritas suara. 
Mungkin itulah yang sedang ditunjukkan oleh wakil 'kondang' rakyat Sumtim Ali 
Oemar Fadag itu. Mereka, tanpa malu dan enggan bermain sandiwara yang lucu 
sekaligus memuakkan mata di panggung-panggung politik yang rapuh. Tetapi waktu 
terus bergulir, anjing menggonggong kafilah berlalu, bagai angin lalu, wakil 
rakyat kita ini sudah berhadap-hadapan dengan dunia fantasi realisasi 
PP.37/2006 itu. Pesta pora dan kemenangan mereka dalam memperjuangkan penerapan 
utuh peraturan pemerintah itu akan menjadi sejarah ornamental yang 
mengeksplisitasi semakin membusuknya dunia parlemen kita di tengah guliran 
zaman dan terpaan dinamika kepentingan memajukan kesejahteraan rakyat. Dalam 
perjalanan waktu setelahnya, kita sendirilah yang akan melihat sendiri 
bagaimana skenario korelasi peningkatan gaji itu dengan prestasi politik 
mereka. Akankah ada berita pelipur lara yang menghibur publik dengan sepak 
terjang mereka nantinya atau sebaliknya terus memperlihatkan perilaku demagogis 
mereka dalam menikmati surga dunia kekuasaan tak terperikan?

Memang disayangkan seluruh dinamika demokrasi di Sumtim sepertinya sedang 
mengalami mati muda. Kita tidak melihat gerakan oposan dari rakyat yang pro 
terhadap perjuangan dan penegakan demokrasi untuk memperjuangkan aspirasi wong 
cilik dibalik 'bahaya' PP.37/2006 tersebut. Gerakan mahasiswa, LSM, organisasi 
kepemudaaan seakan sunyi senyap dilanda sindrom kemapanan. Padahal kelompok ini 
dikenal rakyat dengan cuatan idealisme yang indah dan penuh nasionalik. Lalu 
kita pun bertanya,dimana idealisme dan elanitas mereka dalam memperjuangkan hak 
dan kepentingan rakyat kecil sebagaimana yang sempat ditunjukkan oleh 
saudara-saudara kita di Flores? Apakah tak terhentak sedikitpun kepekaan kita 
melihat kesenjangan dan kontradiksionalitas pemerintahan yang berlangsung di 
bumi matawai amahu pada anjara hammu itu? Kehidupan demokrasi kita memang 
senyatanya sedang sekarat. Sebuah pertandingan politis menjaringkan bola 
kepentingan/goal pribadi maupun kelompok atas nama konstitusi dan kepentingan 
publik tengah tergelar tanpa wasit.

Sesungguhnya inilah anasir arogansi, vandalisme, kekerasan, brutalisme dan 
kapitalisasi politik yang menghabok-habok hak-hak rakyat. Rakyat kehilangan 
sandaran proteksi sosial-politisnya dan stimulans sebagai kekuatan sosial 
politik pendobrak tembok kepemimpinan koruptif yang sedang dibangun oleh 
emperiumitas wakil-wakilnya sendiri bersama pemerintah setempat sebagai 
pengelola daerah lewat berbagai perangkat konstitusi antah berantah.

Apa hendak dikata, tahun baru ini kita masih mengawalinya dengan perih sayatan 
luka lama legislatif dan pemerintahan yang semakin buta dan tuli terhadap 
kondisi tragis rakyatnya. Sebuah kepedihan sosial yang bermuara dari perangai 
dasarwakil-wakil rakyat kita yang semakin tergilas mesin imoralitas. Ini adalah 
pekerjaan besar buat seluruh rakyat, khususnya warga Sumtim, yang sejatinya 
sudah lama kekenyangan preseden buruk citra Dewan yang selalu naif di 
'kandangnya' sendiri, untuk selanjutnya bersatu dan bangkit melawan kelakuan 
politik busuk mereka tanpa segan. Segenap kekuatan demokrasi di masyarakat ini 
tidak boleh terlena dengan berbagai pesona yang ditawarkan kepadanya. Visi 
politik kepentingan jangka panjang masyarakatlah yang harus diutamakan daripada 
sekadar sebuah agenda rutinitas murahan. Hanya dengan itu, wacana kesejahtaraan 
rakyat Sumtim bisa diperbincangkan kembali dalam kesadaran rasionalitas dan 
optimisme menyeluruh. Nasib, nasib....jadi rakyat!


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke