http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/2/6/o2.htm

Kita harus mau mengakui bahwa kita bangsa yang korup karena memang benar 
adanya. Seiring dengan itu marilah kita sadar diri bahwa perjuangan saat ini 
bukanlah melawan penjajahan fisik, namun kemiskinan, kebodohan dan peperangan 
melawan korupsi.
-------------------------------

''Paket'' Kemiskinan-Pendidikan-Kebodohan
Oleh I Gusti Bagus Rai Utama, MMA 

MENURUT catatan ADB, ternyata mayoritas masyarakat miskin Indonesia bekerja di 
sektor pertanian. Artinya jika penduduk Indonesia yang bekerja di sektor 
pertanian berjumlah 100 juta orang, kita dapat membayangkan berapa banyaknya 
masyarakat Indonesia berada pada garis kemiskinan. Jika kita lihat masyarakat 
Bali yang masih mayoritas sebagai petani, itu juga dapat dipakai sebagai 
indikator bahwa masyarakat Bali masih banyak berada dalam garis kemiskinan 
walaupun sektor pariwisata memang harus diakui telah berhasil menjadi primadona 
Bali. Karena masyarakat Bali mayoritas sebagai petani, ada juga indikasi bahwa 
mereka tidak akan mampu menyekolahkan anak-anak mereka sampai benar-benar siap 
untuk bekerja. Jika semakin banyak anak-anak kita yang putus sekolah, bagaimana 
Bali ini bisa ajeg?

--------------------

Dalam konteks pembangunan ke depan, sudah saatnya yel-yel dan dogma lama yang 
bernuansakan rayuan pulau kelapa dihilangkan karena itu juga membuat kita 
menjadi bangsa yang manja dan tak mau bekerja keras. Tidak ada lagi tongkat 
menjadi tanaman, tidak ada lagi nyiur hijau melambai-lambai, tidak ada lagi 
lautan menjadi kolam susu. Kita harus mau mengakui bahwa kita telah menjadi 
miskin, tanah sudah tidak sesubur dulu lagi karena tanah kita sudah terkena 
dampak penyempitan lahan dan tercemar limbah. Kita harus mau mengakui bahwa 
kita bangsa yang korup karena memang benar adanya. Seiring dengan itu marilah 
kita sadar diri bahwa perjuangan saat ini bukanlah melawan penjajahan fisik, 
namun kemiskinan, kebodohan dan peperangan melawan korupsi.

Coba kita lihat bangsa lain seperti Jepang, kenapa mereka mampu menjadi bangsa 
yang besar dan diperhitungkan di muka bumi ini, walaupun sebenarnya mereka 
tidak memiliki kekayaan alam semelimpah kekayaan alam Indonesia. Karena 
masyarakatnya yang tidak manja dan pekerja keras, masyarakat yang tekun 
menuntut ilmu, masyarakat yang tidak korup, masyarakat yang mau mengakui bahwa 
dirinya memang miskin sehingga mereka harus bekerja keras.

Pemimpin yang bersih dan berjiwa kesatria (mau mengakui kesalahan jika memang 
bersalah), klian, lurah, camat, bupati, gubernur, menteri-menteri yang mau 
memperjuangkan kepentingan rakyat, pemimpin yang layak ditiru dan digugu serta 
mampu menggerakkan masyarakat untuk bekerja keras sangat dinanti-nantikan saat 
ini.

Minimal tiga bidang yang menjadi dasar kebangkitan dan kemajuan sebuah bangsa 
dengan asumsi, tidak ada korupsi lagi.

Bidang Pangan 

Ada anggapan yang mengatakan, jika masyarakat cukup pangan menurut standar gizi 
dan nutrisi yang ideal maka masyarakat akan hidup sehat. Artinya, pembangunan 
diarahkan untuk memenuhi pangan masyarakat, pangan tidak saja bermakna 
''beras'' namun juga termasuk jenis pangan yang lainnya. Harus ada 
inovasi-inovasi untuk menggerakkan sektor pertanian agar berdaya dan bangga 
dengan sektor pertanian yang memang nyata-nyata masih dilakoni oleh mayoritas 
masyarakat Indonesia. Sekolah-sekolah, fakultas pertanian digairahkan lagi bila 
perlu diberikan beasiswa khusus bagi mereka yang mau melanjutkan ke bidang 
tersebut dan tentu juga diarahkan untuk menjadi wirausahawan di bidang 
pertanian. Budi daya dengan sentuhan teknologi dan pembinaan petani untuk 
menjadi petani yang mampu bekerja dengan prinsip agrobisnis. Daripada membuat 
petani Vietnam menjadi kaya, kenapa tidak petani kita saja yang disubsidi agar 
mampu hidup layak? Daripada mensubsidi sepak bola kenapa petani ditinggalkan? 
Sektor perbankan yang memiliki kebijakan khusus untuk penyaluran modal ke 
petani masih terus diperlukan, pembinaan para penyuluh pertanian yang sempat 
hilang digairahkan kembali.

Bidang Kesehatan

Sangat aneh kita lihat, hampir setiap tahun kita mendengar dan menyaksikan 
namanya wabah demam berdarah, flu burung, dan berbagai jenis wabah lainnya, 
kenapa bisa terus terjadi? Persoalannya karena bidang kesehatan masih kurang 
mendapat perhatian yang serius, jikalau ada pembangunan rumah sakit yang 
canggih dan mewah itu hanyalah tujuan bisnis semata seolah-olah perkembangan 
jumlah orang sakit akan menjadi trend positif bagi keuntungan pengelola rumah 
sakit.

Kenapa kita tidak menyadari semua itu? Kalau penyakit atau wabah bisa dicegah 
kenapa harus terjadi setiap tahun? Kalau Pulau Bali sampai terpublikasi dan 
terindikasi sebagai pulau yang tidak sehat, karena masyarakatnya yang banyak 
sakit, apa jadinya pulau ini?

Ada indikasi, banyak para pekerja di bidang kesehatan tidak dilandasi pada 
prinsip pelayanan kemanusiaan yang sesungguhnya karena dari rekrutmen awal 
sudah harus membayar dengan harga yang mahal, sehingga melahirkan seorang 
pekerja yang juga tidak sungguh-sungguh melayani sesama. Ditambah lagi memang 
kurangnya perhatian pemerintah terhadap bidang kesehatan, seolah-olah 
keberadaan penyakit dibiarkan begitu saja. Daripada memberikan tunjangan kepada 
anggota dewan yang sudah kaya dengan gajinya, kenapa tidak dipakai untuk 
subsidi bidang kesehatan bagi masyarakat miskin saja. Kenapa para petugas 
kesehatan hanya menunggu pasien di rumah sakit? Bukankah melakukan pengamatan 
langsung di lapangan jauh lebih baik sehingga tindakan pencegahan dapat 
dilakukan sedini mungkin.

Bidang Pendidikan

Masih kurangnya perhatian pemerintah pada bidang pendidikan masih sangat 
terasa. Besarnya angka drop-out masih dianggap biasa-biasa saja, kurangnya 
fasilitas sekolah negeri, rendahnya kualitas guru imbas dari rendahnya 
pendapatannya kurang mendapat perhatian yang serius. Rekrutment calon guru yang 
berbau KKN masih tetap ada di tengah gema reformasi. Daripada mensubsidi 
sepakbola kenapa tidak membangun perpustakaan keliling, internet keliling, dan 
fasilitas lain yang berkaitan dengan pendidikan. Bukan berarti mengganggap 
sepakbola tidak penting, namun ada yang lebih penting untuk diperhatikan. Jika 
masyarakat kita pintar maka pembangunan akan dapat dilakukan dengan baik. Jika 
masyarakat kita bodoh karena tidak mendapatkan pendidikan yang cukup, maka kita 
akan menjadi masyarakat yang gampang ditipu termasuk juga oleh pemimpin kita 
sendiri.

Akhirnya, jika bangsa cukup makan, rumah, dan juga pakaian maka bangsa ini 
hidup sehat dan mampu menuntut ilmu dengan baik untuk perbaikan generasi yang 
akan datang.



Penulis, alumnus Magister Manajemen Agribisnis Universitas Udayana, mahasiswa 
MA International in Leisure and Tourism Studies CHN Belanda, dosen STIM Dhyana 
Pura Badung

--------------------

Harus ada inovasi-inovasi untuk menggerakkan sektor pertanian agar berdaya dan 
bangga dengan sektor pertanian yang memang nyata-nyata masih dilakoni oleh 
mayoritas masyarakat Indonesia.

* Subsidi bidang kesehatan bagi masyarakat miskin, petugas kesehatan melakukan 
pengamatan langsung di lapangan sehingga tindakan pencegahan dapat dilakukan 
sedini mungkin.

* Membangun perpustakaan keliling, internet keliling, dan fasilitas lain yang 
berkaitan dengan pendidikan. 


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke