Saya termasuk jarang bersetuju dengan ide-ide Sobary sampai ke ujung tulisannya. Diantara yang saya setuju dalam tulisannya kali ini ialah bagian pernyataan tentang reformasi yang disimpulkan sebagai, "..suatu momentum historis yang berdarah tapi secara politik halal, dan tak melanggar aturan karena semua aturan dianggap sudah busuk,"
Setuju karena memang begitulah reformasi yang berlangsung di Indonesia; pertumpahan darah di awal dan terus berceceran sampai ke jaman KKN tingkat tinggi di Setneg & KPK dibungkam presiden. Lebih dari itu, setuju karena pernyataan Sobary tersebut langsung meng-KO kaum antirevolusi yang terus menghapal alasan: "reformasi lebih jinak dari revolusi" -- padahal realitanya reformasi cuma mengganti kelompok elite buruk dengan kelompok elite lebih buruk lainnya sehingga rakyat semakin menderita dan tidak pernah diperhitungkan kecuali sebagai angka statistik pemilih. Bagian yang saya tidak setuju dari tulisan itu adalah pertanyaan, "Kapan rakyat menjadi raja?" Ini pertanyaan sia-sia. Sebab, rakyat hanya perlu menjadi rakyat di negerinya sendiri dan pemerintah cukup saja sebagai pengurus yang memenuhi kebutuhan rakyat tanpa harus memperlakukannya sebagai raja. Toh dalam posisi sebagai pembeli (beras, listrik, air, BBM, dll), rakyat tidak pernah diperlakukan seperti raja sebagaimana semboyan kaum kapitalis. Tetapi secara keseluruhan, saya masih menyimpan tanya, adakah ide "kerajaan rakyat" yang tersirat dalam tulisan Sobary itu senafas dengan "royal republic" yang diembuskan Segolene Royal di Prancis? Kalau ya, mungkin Indonesia juga butuh perempuan (kalau perlu yang juga lajang dan emoh sepatu tumit tinggi) untuk membuat langkah-langkah kecil Sobary menjadi langkah besar menyelamatkan rakyat. Kalau tidak, saya berharap Sobary bukan sekedar asal usul atau usul asal-asalan, tapi bersedia memimpin sendiri langkah-langkah kecil itu menjadi lompatan besar untuk menjaga kita semua tetap sebagai rakyat, dan terhindar menjadi "rakyat partai" seperti sinyalemen Eros Djarot -- yang mengaku kesulitan mencari orang Indonesia karena sekarang yang banyak adalah orang partai. - Minggu, 25 Februari 2007 ASAL USUL Rakyat dan "Raja" Mohamad Sobary Reformasi membunuh "raja"-"raja". Kini semua pihak yang dianggap penghalang politik bagi rakyat-atau "musuh" rakyat- sudah sirna. Tapi mengapa rakyat yang telah menaklukkan "musuh"-"musuh"-nya, tak dengan sendirinya lantas naik takhta? Siapa yang mencuri kesempatan dan hak-hak mereka? Mengapa rakyat harus menderita, dan dikecewakan seperti Rama, yang tak jadi dinaikkan takhta, dan kemudian bahkan dibuang di hutan Dhandaka dua belas tahun lamanya? Rakyat kita pun kini terbuang di hutan ketidakpastian justru lebih lama dari Rama. "Kapan rakyat menjadi raja?" Saya termangu-mangu memikirkan nasib rakyat dalam sejarah, yang bahkan belum lagi ditulis, dan sejarawan sendiri belum tahu, dari titik dramatik mana penulisan hendak dimulai. Saya termangu-mangu mengingat ironi demi ironi dalam sejarah, yang tiap saat lupa akan rakyat, dan oleh karena itu sejarah-apa lagi yang sangat bersifat kolonial sentris-hanya berisi orang-orang besar, dan dinikmati orang-orang besar. Sejarah (dan kenikmatan hidup), dengan begitu hanya merupakan sejarah dan (kenikmatan hidup) orang-orang besar. Kalau begitu, apakah kita sendiri juga bersifat kolonialis terhadap orang-orang lain di sekitar kita? Lantas mengapa sifat sejarah yang disebut kolonial sentris itu juga disebut Eropa sentris? Mengapa tidak Jawa sentris? Atau Minang sentris, Batak sentris, Makassar dan Bugis sentris? Apa kita merasa kurang kejam, dan kurang kolonial dibanding orang-orang Eropa, atau Amerika? Reformasi, suatu momentum historis yang berdarah tapi secara politik halal, dan tak melanggar aturan karena semua aturan dianggap sudah busuk, mengapa tak dengan sendirinya menorehkan garis baru di tangan rakyat, untuk memberi mereka kesempatan menikmati hidup layak sebagai rakyat sebuah negeri kaya?. "Kapan rakyat menjadi raja?" Perubahan jiwa dan semangat sejarah, dan janji masa depan yang begitu gilang gemilang bagi rakyat, mengapa kini tiba-tiba terasa hambar, dan monoton, seperti sebuah drama yang naskahnya jelek, dan pemain-pemainnya tak bermutu, tapi ambisius untuk naik panggung? Demam panggung yang mereka alami, membuat semua kata yang mereka ucapkan nyaris tak bermakna, karena komunikasi politik kita begitu ruwet, dan kata-kata pun mati di tengah ketidakjelasan kiblat sejarah kita. Kita mengutuk sejarah kolonial sentris tapi kita belum punya alternatif yang lebih baik, apa lagi alternatif yang rakyat sentris. Dalam kesadaran kosmologis-dan juga kesadaran sejarah kita-rakyat belum lahir. Bagi kita, rakyat itu sesuatu yang asing, seolah kita hidup di dalam alam hampa sejarah. Betul, sesudah revolusi kemerdekaan, rakyat lahir di dalam kesadaran politik yang mengentak-entak jiwa kita, tapi apakah kesadaran itu secara mendalam kita jiwai sebagai kesadaran psikologis dan kebudayaan, yang membuat kita cukup paham akan makna rakyat dan hak-haknya dalam hidup? Saya kira tidak. Kesadaran politik kita belum meresap ke dalam sikap kemanusiaan kita. Tak mengherankan para pemegang kekuasaan selalu enggan menyentuh kemanusiaan dari perspektif hati nurani mereka sebagai manusia. Bagi mereka, manusia itu lebur dalam angka-angka statistik jumlah pemilih, dan dalam grafik naik-turunnya jumlah angkatan kerja. Hanya itu. "Kapan rakyat menjadi raja?" Jangan kecewa wahai kaum Marhaen, bahwa kau, rakyat, tak akan pernah menjadi raja. Ruang sejarah kita sudah padat berisi keraton, raja, para pangeran, patih, dan radipati, ratu padmi, dan putri-putri, yang sejarahnya tak pernah menghitung peran rakyat. Kita masih hidup dalam suatu "kratonic ideology", tapi kita mengira sudah membangun ideologi pembebasan populis untuk rakyat. Mitos tentang satriyo piningit-yang kita anggap bakal menyelesaikan segenap persoalan negara dan rakyatnya-apa bedanya dengan ideologi "cargo cult" di Melanesia, atau "ratu adil" di Jawa, yang efektif membuat kita nyaman hidup dalam mimpi-mimpi tak berkesudahan? Satriyo piningit tak bakal menjawab kebutuhan rakyat karena ia orang kraton, dan kukuh memegang semua jenis ideologi kraton. Raden Wijaya, Jaka Tingkir, Sutawijaya, semua menjanjikan alternatif "satriyo piningit" tapi mereka tak akan bicara perkara nasib rakyat. Pembicaraan mereka hanya menyangkut takhta untuk raja berikutnya, dan siapa patih yang bijak, dan panglima yang bisa membela keselamatan raja dan keluarga kaum bangsawan. Hanya itu. Siapa bilang sikap ini tak sama dengan sikap politik partai-partai kita sekarang? Masa tugas belum selesai, dan prestasi belum tampak pun bagi orang partai tak ada malu-malunya untuk mulai berpikir tentang pemenangan dalam kesempatan berikut. Iklim ini tak akan pernah membuat rakyat menjadi raja. Andaikata kita memulai lagi hiruk-pikuk reformasi -bahkan bila terjadi revolusi sekalipun- jangan harap rakyat akan dengan sendirinya naik takhta. Kegemparan politik apapun yang terjadi lagi, tak akan dengan sendirinya memberi kesempatan rakyat menjadi raja. Revolusi hanya akan mengganti kelompok elite dengan kelompok elite lain, yang bisa saja lebih buruk. Di sini rakyat tak pernah diperhitungkan, karena dalam kesadaran dan sikap politik orang-orang partai dan penguasa, rakyat itu tidak ada. Perubahan radikal macam apapun tak pernah memperhitungkan kepentingan rakyat Lalu kapan rakyat diizinkan hidup agak lebih baik? Jawabnya: sekarang. Saya telah menyaksikan, kerja tekun bisa mengubah nasib rakyat. Banyak lembaga- juga Partnership, tempat saya bekerja-konsisten menerapkan strategi membangun kesadaran tentang perlunya keberanian untuk pelan-pelan mengubah kebijakan, menyediakan instrumen, dan merumuskan metode yang akuntabel, dan transparan dan terbuka pada aspirasi publik. Kerja tekun, dengan metode, dan kritis, terhadap diri sendiri, membuat kita berani melangkah. Mungkin langkah itu kecil. Tapi riil. Dan langkah kecil itu, tak mustahil, akan menjadi langkah besar yang relevan bagi hidup rakyat. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Groups gets a make over. See the new email design. http://us.click.yahoo.com/hOt0.A/lOaOAA/yQLSAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
