HARIAN ANALISA Edisi Rabu, 18 Juli 2007 Tajukrencana Mau tak mau Menyerah Juga kepada Realitas Ekonomi
KOMITMEN tegas pemerintah untuk mengurangi pinjaman luarnegeri "secara absolut" dan terus menekan defisit anggaran di bawah dua digit mau atau tak mau harus menyerah kepada realitas ekonomi berkembang. Dengan membengkaknya defisit anggaran 2007 dari target 1,1% dari PDB (produk domestik bruto)sebesar Rp40,5 triliun menjadi 1,6% sebesar Rp62 triliun, pemerintah melalui Deputi Kepala Bappernas Bidang Pendanaan dan Pembangunan Lukita mengungkapkan kemarin rencana pemerintah untuk menambah utang luarnegeri guna menutupi sebagian defisit 2007. Mengurangi defisit anggaran dapat ditempuh dengan meningkatkan penerimaan negara di satu situ atau mengurangi pengeluaran pemerintah dan cicilan utang pokok serta bunga dan lain sisi, atau melalui dua sisi serentak. Menurut pengakuan pemerintah penerimaan dari dalam negeri yakni sektor pajak 2007 yang memberi kontribusi terbesar dalam pendapatan negara, mengalami penurunan sebesar Rp489,9 triliun dari Rp509,5 triliun tahun lalu, sehingga mengakibatkan defisit Rp22 triliun per semester pertama 2007. Sementara pemerintah kelihatan tidak melalukan gebrakan baru untuk memperbaiki jurang antara penerimaan dan pengeluaran negara dalam sisa tahun berikut, melainkan meningkatkan pengeluaran di sektor pembangunan proyek-proyek fisik, realisasi subsidi listrik, bantuan yang berkaitan dengan bencana-bencana dan secara kebetulan, daya penyerapan anggaran 2007 terutama dalam semester kedua lebih besar. Tak mengherankan, kalau defisit anggaran 2007 terus membengkak. Dengan melihat rencana pemerintah tersebut, di antara sumber-sumber pembiayaan, peningkatan penerbitan obligasi (Surat Utang Negara) sebesar Rp28,04 triliun netto merupakan "lion share", lalu disusul perbankan sebesar Rp10,82 triliun. Dari pinjaman luarnegeri yang terdiri dari pinjaman program dan proyek hanya Rp9,88 triliun netto. Dengan penarikan dana amat besar dari masyarakat, jelas daya beli konsumen atau permintaan agregat dengan sendirinya akan menurun. Proyeksi pertumbuhan setinggi 6,6-7% yang amat optimistis untuk 2007 itu dikhawatirkan tak akan terealisir. Dalam rangka menjaga memburuknya defisit anggaran, pemerintah sedikit-banyaknya akan mengerem pengeluaran khususnya di sektor barang modal. Sementara pertumbuhan investasi fisik langsung masih lamban, terlepas dari investasi jangka pendek di pasar saham dan konsumsi rumah tangga tertekan karena sebagian dana terserap dalam SUN. Membubungnya pasaran minyak dunia dewasa ini, dengan minyak mentah Brent sempat mencapai $76/barel di pasar London dan Light Sweet di Nymex, AS sekitar $73 untuk penyerahan Agustus dibandingkan dengan harga asumsi anggaran 2007 sebesar $60/barel per akhir tahun, maka subsidi minyak dalam anggaran akan membengkak lagi, kalau pemerintah benar tidak berniat menaikkan harga BBM dalam negeri sesuai dengan komitmennya yang takkan dilakukan sebelum 2008. Diperkirakan, pemerintah takkan menemui kesulitan untuk mengambil kredit baru dari Jepang, ADB dan Bank Dunia, pasca pemutusan hubungan program reformasi ekonomi dengan IMF untuk menutupi kekurangan pembiayaan dalam negeri. Sumber pembiayaan defisit dari utang baru luarnegeri ditempuh pemerintah barangkali sebagai "last resort", mengingat penjualan aset negara, privatisasi BUMN dan sumber daya finanasial lain dalam negeri sudah hampir "dry up". Pinjaman baru dari luarnegeri sebenarnya tak banyak membantu dalam menutupi defisit anggaran pemerintah. Hal ini tak lain daripada metoda "menggali lubang baru untuk menutup lubang lama". Dari pinjaman luarnegeri berupa program dan proyek yang direncanakan sebesar Rp39,29 triliun, 74,8% atau Rp29,40 triliun itu dari jumlah pinjaman itu sudah dikembalikan kepada peminjam untuk pembayaran kembali cicilan utang pokok lama serta bunganya. Yang tersisa riil diterima pemerintah hanya Rp9,88 triliun (US$1 miliar) untuk meredakan sebagian kecil tekanan defisit anggaran. Diakui, dalam perencanaan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan nasional, sering terdapat "variables" dan "unpredictables" serta pengaruh-pengaruh faktor eksternal yang luar kekuasaan pemerintah. Hanya perlu kiranya memperhitungkan batas daya pemerintah sendiri terlebih dahulu sebelum mengumumkan porkas dan target yang terlalu ambisius, jauh dari realitas. Rakyat lebih suka menikmati buah riil dari hasil pertumbuhan biarpun moderat dan sebaliknya, akan merasa kecewa, bila komitmen dan porkas-porkas terlalu optimistis pemerintah toh tidak tercapai pada akhirnya. [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
