HARIAN ANALISA Edisi Rabu, 12 September
Polisi Diminta Serius Ungkap Pelaku Penculikan Aja Ulfa Hayati Pusaka Indonesia: Terjadi Diskriminasi dalam Perlindungan Hukum Medan, (Analisa) Aparat kepolisian diminta bekerja keras untuk mengungkap kasus penculikan Aja Ulfa Hayati, (5) warga Jalan Banten Gang Amal, Kabupaten Deli Serdang. "Jangan ada kesan diskriminasi dalam memberikan perlindungan hukum terhadap warga negara. Kasus ini harus segera diungkap," kata Wakil Ketua Komisi A DPRD Sumut Abdul Hakim Siagian dan anggota Komisi C DPRD Sumut Edison Sianturi, usai mengunjungi kediaman orangtua korban, Sofyan BA dan Siti Kumala Sari, Selasa (11/9). Kasus penculikan itu sendiri terjadi pada 1 September 2007 lalu. Aja Ulfa Hayati dilaporkan hilang seusai bermain dengan teman-temannya. Beragam upaya telah dilakukan kedua orang tuanya agar anaknya kembali seperti, meminta bantuan aparat kepolisian hingga menjumpai orang-orang 'pintar'. Namun, bocah malang itu tak kunjung pulang. Menurut Hakim, dalam menyelidiki kasus penculikan tersebut, polisi harus memulai dari proses awal di mana bocah itu bermain atau bertanya kepada saksi mata sesaat sebelum bocah itu hilang. "Apalagi ada saksi mata yang melihat bahwa bocah itu pergi dengan dua orang pemuda mengendarai becak bermotor," sebut dia. AGENDA Hal senada juga diungkapkan Edison Sianturi. Menurut dia, kasus penculikan Ulfa akan menjadi salah satu agenda DPRD Sumut mendesak aparat kepolisian mengungkap kasus tersebut. "Kami mau polisi bekerja ekstra keras mengungkap kasus penculikan tersebut. Paling tidak mereka harus kembali dari awal menyelidiki proses penculikan itu sendiri dan siapa-siapa yang dicurigai," ujar dia. Orang tua korban, Sofyan BA didampingi istrinya Siti Kumala Sari tampak begitu terpukul atas kehilangan anaknya selama 11 hari ini. Guru Agama di SD Inpres 105272 Purwodadi Kecamatan Sunggal ini juga berharap polisi menyelidiki kasus penculikan anaknya kembali ke titik awal. "Sebab, perasaan saya, dia (Ulfa) masih hidup dan sehat. Soal anak saya dibilang diculik makhluk halus (orang bunian), saya tidak percaya lagi," katanya. Sedangkan istrinya, Siti Kumala Sari lebih banyak tertunduk sambil menahan tangis. Di bagian lain, Edison Sianturi berpendapat, pelaku penculikan harus dikenakan hukuman yang setimpal. Karena perlakuan itu telah 'membelenggu' kemerdekaan seseorang, apalagi korbannya adalah anak-anak. "Bagaimana perkembangan psikologis anak yang diculik? Begitu juga orangtua anak itu sendiri," tanya Edison. Dia sependapat, pelaku penculik dikenakan hukuman tembak di tempat, seperti pelaku kejahatan kriminal lainnya. DISKRIMINASI Sementara itu, Pusaka Indonesia selaku kuasa hukum keluarga korban merasa, telah terjadi diskriminasi terhadap Ulfa. "Ketika kasus hilangnya Raisa di Jakarta, pejabat angkat bicara. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri menyempatkan diri memberi pernyataan," kata Direktur Eksekutif Pusaka Indonesia, Edi Ikhsan MA kepada wartawan, Selasa (11/9). Edi Ikhsan yagn didampingi Koordinator Advokasi Anak Elisabeth Juniarti dan Koordinator Indok Ariffani SH mengatakan, hingga sekarang, tak satu pun pejabat di daerah ini yang secara khusus angkat bicara soal hilangnya Ulfa. "Tak usahlah kita berharap besar kepada SBY selaku presiden untuk angkat bicara dalam kasus Ulfa, setingkat Gubernur sendiri pun belum memberi perhatian khusus terhadap hilangnya Ulfa," ungkap Edi. Dalam kesempatan itu juga, Edi Ikhsan mengatakan, pihaknya yakin Ulfa memang diculik. Indikasinya diperoleh setelah pihaknya melakukan investigasi di lapangan. Untuk itu, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan pihak kepolisian. Selain koordinasi Pusaka Indonesia juga akan menebar foto korban di sejumlah tempat-tempat strategis kota Medan. "Kami juga meminta bantuan pihak imigrasi dan petugas kemanan di daerah pelabuhan dan terminal untuk melakukan tindakan preventif," kata Edi. (sug/rrs) [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
