http://www.banjarmasinpost.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=3281&Itemid=180

     Mudahnya Pejabat Korup  



            Jumat, 28-09-2007 | 08:10:11  

            KORUPSI masih menjadi hobi di kalangan pejabat di negeri ini. 
Gencarnya pemberantasan praktik korupsi oleh pemerintah, tetap tidak 
menyurutkan mereka menyalurkan hobi paling menguntungkan tersebut. Bagaimana 
kita lihat wajah koruptor yang tertangkap, nyaris seperti tidak pernah merasa 
bersalah.



            Itulah kelebihan tipikal pejabat di negeri ini, dibanding dengan 
negara lain. Kita pun tidak lagi merasa terkejut ketika Trancparency 
International (TI), Rabu (26/9) merilis rating indeks persepsi korupsi 
Indonesia. Tidak jauh beda dari tahun sebelumnya, Indonesia masih tetap 
'jagoan' soal korupsi. Di tingkat Asia Tenggara, negara kita menempati posisi 
puncak dengan IPD 2,3.

            Menjadi menarik, bersamaan TI merilis rating negara korup, Komisi 
Pemberantasa Korupsi (KPK) hari itu menangkap basah petinggi hukum. Pejabat 
bernisial IY yang bertugas di Komisi Yudisial itu tertangkap tangan menerima 
uang suap hampir Rp 1 miliar dari pihak lain. Kasus IY menambah panjang daftar 
komisioner yang terjebak masalah suap menyuap.

            Sekadar diketahui, jabatan di komisioner sangat terhormat. Untuk 
bisa masuk dan menjadi bagian dalam komisi, tidaklah mudah. Bagaimana kita 
lihat mereka harus diuji lebih dulu oleh sebuah komisi di Dewan Perwakilan 
Rakyat (DPR). Jadi, memang tidak mudah menjadi bagian dari komisioner. Yang 
jelas, keberadaan komisi, seperti halnya KPU (Komisi Pemilihan Umum), KPK 
(Komisi Pemberantasan Korupsi), KY (Komisi Yudisial) memiliki ruang tertentu 
dengan pekerjaan yang khusus.

            KY, misalnya, awalnya diberi kewenangan mengawasi hakim termasuk 
hakim agung. Bentuk pengawasan itu dimaksukan untuk menciptakan peradilan yang 
bersih, bebas dari suap-menyuap dan sejenisnya. Kalau kemudian ada oknum di KY 
terlibat suap, jelas menjadi sangat kontraproduktif. Lha, bagaimana bisa 
mengawasi hakim yang nakal dan memberangus mafia peradilan, jika pejabat di KY 
sendiri jauh lebih nakal?

            Kita tentunya perlu mempertanyakan pola rekrutmen terhadap mereka 
hingga terpilih dalam komisi bergengsi tersebut. Kita melihat ribuan calon 
mengajukan diri menjadi anggota komisi anu atau komisi itu. Meski melalui 
screening ketat oleh DPR, tetap saja tidak menjamin mereka yang lolos dengan 
sederet titel akademik, benar-benar clean dari sifat rakus. Kita lihat 
bagaimana atraksi korupsi berjamaah yang dilakukan di KPU. Demikian pula 
seorang oknum penyidik di KPK kedapatan memeras korbannya.

            Kita meyakini, mereka yang punya kesempatan menjadi bagian dari 
sebuah komisi eksklusif, tentunya sudah sangat terjamin dari sisi finansial. 
Apa yang diperoleh mereka di atas rata-rata pejabat biasa. Berbagai fasilitas 
istimewa pun diperoleh, karena memang keberadaan mereka benar-benar dibutuhkan 
oleh bangsa ini.

            Kasus oknum KY, IY jelas sangat mencoreng lembaga tersebut. 
Bagaimana pun KY adalah lembaga yang memiliki tugas dan misi suci membimbing 
pemegang palu keadilan bertindak adil, jujur dan bersih. Keberadaan KY 
diharapkan membersihkan peradilan mafia busuk yang selama ini merusak keadilan 
itu sendri.

            Tentunya, kasus IY menjadi pelajaran bagi semuanya terutama 
eksekutif, legislatif dan yudikatif agar tidak main-main dengan uang. Disadari, 
untuk yang satu itu (uang), semua orang selalu menjadi lupa daratan. Itulah 
yang kadang tidak disadari pejabat di negeri ini, yang merasa jabatan adalah 
kesempatan untuk menumpuk kekayaan. Dan, mereka selalu tidak pernah merasa 
bersalah.
           
     


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke