roy marten lagi jadi pembicaraan.  baru keluar, udah ketangkep nyabu
lagi.  seperti tipikal junkie yang selalu bohong, roy marten
menyangkal memakai sabu.  katanya dia dijebak oleh polisi.

istrinya roy yang cantik sudah tidak bisa kasih komentar lagi, nggak
bisa membela si junkie lagi, wong udah jelas di kamarnya roy ada bong.

mbok ya kalo udah tua tuh sadar.  mosok udah tua bangka masih jadi
junkie?  atau masih alkoholik juga?

orang tua masih menjadi junkie atau alkoholik adalah orang frustasi,
seperti kelakuannya roy.  pernah jadi bintang tenar, lalu meredup dan
nggak bisa terima keadaan.  larinya jadi junkie

seperti si junkie tua jusfiq yang pernah merasa menjadi 'somebody', in
fact he is nobody, sekarang makin tua makin frustasi dengan selalu
promosi alkohol.

anyway, roy dikelilingi oleh orang-orang yang mencintainya, sehingga
besar kemungkinan untuk bertobat.  lha kalo jusfiq?  siapa orang yang
mencintainya untuk membawa jusfiq bertobat seperti roy?  

alone in the dark...

malang benar nasibmu, old man.



=========



Ketika Sabu Tidak Berlalu

Untuk kedua kalinya Roy Marten ditangkap polisi gara-gara narkoba. Ia
diindikasikan telah masuk perangkap jaringan bandar besar.

Hotel Novotel di Surabaya heboh, Selasa pekan lalu. Lima tamunya yang
menginap di kamar lantai tiga dan empat, pada dini hari diam-diam
menggelar "pesta" . Sekitar pukul 03.00, acara itu didatangi enam
polisi. Pesta di kamar 465 itu bukan pesta betulan, melainkan "pesta"
sabu-sabu yang melibatkan aktor Roy Marten, 54 tahun.

Lima orang, yang semuanya mantan narapidana narkoba, termasuk Roy,
ditangkap. Mereka ditengarai telah membentuk jaringan perdagangan obat
terlarang yang terkoneksi antarsel di dalam maupun di luar penjara.
Bintang film Cintaku di Kampus Biru itu baru dua bulan bebas dari
penjara Cipinang, juga karena urusan sabu-sabu.

AIR mata Roy Marten tumpah ketika Erry Salam dan Ronny Salam datang ke
tahanan Kepolisian Wilayah Kota Besar Surabaya, Jumat pagi pekan lalu.
Sejurus kemudian, ketiga saudara kandung itu berdekapan dan saling
menggumamkan beberapa kalimat. Pertemuan itu berlangsung sekitar dua
jam, diselingi makan siang di ruang penyidik.

Chris Salam, adik Roy yang lain, berusaha membesarkan hati abangnya,
yang ditangkap polisi ketika "berpesta" sabu-sabu di Hotel Novotel
Surabaya, Selasa pekan lalu. Roy ditangkap bersama empat bandar dan
pengedar narkoba di hotel yang terletak di Jalan Ngagel itu.

Ketika menerima kedatangan adik-adiknya, Roy cuma mengenakan celana
pendek cokelat dan kaus putih ketat. Ia, yang biasanya murah senyum
dan cengengesan, kini menjadi pemurung. Penangkapan pria kelahiran
Salatiga, Jawa Tengah, 1 Maret 1952 itu berlangsung menjelang subuh.
Tim penggerebek dari reserse narkotika berjumlah enam orang.

Penggerebekan dimulai dari kamar 364, yang dihuni Hartanto alias A
Hong dan Winda. Keduanya dipergoki sedang asyik menyedot sabu-sabu.
Dari A Hong, tim reserse mendapatkan nomor kamar Roy Marten, yaitu
465. Polisi mencium aroma, di kamar inilah pesta sabu-sabu digelar.

Ketika kamarnya didobrak, pemeran utama Badai Pasti Berlalu (1977) itu
sedang tidur pulas. Polisi merangsek masuk, langsung menggeledah.
Mereka mendapati sejumlah sabu-sabu di laci meja kamar Roy. "Oke, saya
memang salah," kata Roy setelah terbangun, kepada polisi yang
mengelilinginya.

Razia yang dipimpin Ajun Komisaris Totok Sumaryanto itu diteruskan
memburu dua teman Roy yang lain, yaitu Freddy Matalula dan Didit Kesit
Cahyadi. Keduanya ternyata tak jauh dari kamar 465.

Ketika pagi beranjak siang, mereka berlima dipaksa check out dari
Hotel Novotel untuk pindah ke "hotel" di Jalan Sikatan 1, Markas
Kepolisian Wilayah Kota Besar Surabaya. Mereka digelandang bersama
sejumlah barang bukti berupa bong (alat isap), sekitar 1,5 ons
sabu-sabu, timbangan, kertas aluminium, korek api, dan telepon seluler
yang menyimpan transaksi narkoba melalui pesan pendek.

l l l

KEHADIRAN Roy Marten di Surabaya berbarengan dengan kampanye
antinarkoba yang digelar Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama surat
kabar Jawa Pos. Acara di Graha Pena, Jalan Ahmad Yani, Surabaya, pada
10 November itu dihadiri Kepala Kepolisian RI Jenderal Sutanto dan
Kepala BNN I Made Mangku Pastika, serta bos Jawa Pos, Dahlan Iskan
(baca Soal Merawat Kerinduan).

Adapun A Hong, Freddy, dan Didit memang "kenalan lama" Roy Marten.
Mereka sama-sama "lulusan" penjara narkoba, yang makin punya peranan
penting dalam perdagangan obat berbahaya. Didit dan Freddy pernah
sepenjara dengan Roy di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta Timur.

A Hong, 46 tahun, dan Freddy, 55 tahun, adalah residivis narkoba yang
tinggal di Jalan Kapasan dan Jalan Paneleh, Surabaya. Dua kawasan ini
kerap digerebek polisi ketika mengejar bandit narkoba. Dua tahun lalu,
A Hong dan Freddy dibekuk di tempat itu.

Keduanya divonis sembilan bulan penjara oleh Pengadilan Negeri
Surabaya. Sebelum dipindahkan ke penjara narkoba di Madiun, Jawa
Timur, mereka lebih dulu mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Medaeng,
Surabaya. Freddy sempat dititipkan di penjara Cipinang, dan di sana
bertemu dengan Roy Marten.

"Kami menerima limpahan A Hong dan Freddy ketika masa hukumannya
tinggal dua bulan," kata I Wayan Sukerta, kepala penjara Madiun,
kepada Tempo. Mereka dipindahkan, katanya, karena penjara Medaeng
terlalu sesak. "Selain penuh, pemindahan narapidana narkoba bertujuan
memutus rantai perdagangan," ujarnya.

Siapa pula Winda? Freddy menjelaskan, cewek 27 tahun asal Rewin,
Sidoarjo, itu karyawan sebuah perusahaan jasa kehumasan di Surabaya.

l l l

DIREKTUR Narkoba Markas Besar Kepolisian RI, Brigadir Jenderal Indradi
Thanos, mengatakan bahwa perilaku Roy Marten dan kawan-kawannya sudah
tergolong residivis narkoba. Mereka umumnya sudah lebih dari sekali
terjerumus kasus yang sama. "Pak Roy pernah bilang sudah bertobat,
tapi nyatanya belum," kata Indradi.

Menurut Indradi, tak tertutup kemungkinan pemeran utama Kabut Sutra
Ungu (1979) itu sudah masuk perangkap sindikat perdagangan obat
berbahaya. "Kami mendalami betul kemungkinan itu," ujarnya.

Komplotan pengedar obar terlarang yang menjalin hubungan dengan Roy,
masih menurut Indradi, ditengarai bisa meluas dan terus bertambah. Ia
mencontohkan sosok A Hong. Bekas narapidana itu mengenal Roy ketika
sama-sama di penjara. "Meski penjaranya berbeda, mereka lancar
berkomunikasi," katanya.

Di Cipinang, Roy menghuni blok 2A, Freddy di blok G, dan Didit di blok
E. "Dari sinilah mereka kontak-kontakan dengan A Hong," kata Indradi.

Indradi menambahkan, Indonesia yang berpenduduk lebih dari 200 juta
menjadi incaran pasar dunia. Segala bentuk jaringan dibangun oleh
bandar kelas internasional. Salah satu jalur yang dirasuki, kata
Indradi, adalah sektor investasi. Sejumlah pabrik sabu-sabu dan
ekstasi yang dibongkar di Batam dan Tangerang, katanya, semua berkedok
investasi.

l l l

SUDAH lama kehidupan Roy Marten digerogoti candu narkoba. Bermula
ketika pamornya di dunia akting anjlok, kalah gesit dari para
juniornya. "Selama 12 tahun Roy menganggur tak main film," ujar
seorang sumber yang mengaku dekat dengan Roy.

Kekosongan itulah yang kemudian mendorong Roy terjerumus ke pusaran
bandar obat terlarang. Pada 2 Februari 2006, ia ditangkap di daerah
Ulujami, Bintaro, Jakarta Selatan, gara-gara mengantongi dua gram
sabu-sabu. Roy diganjar sembilan bulan penjara, dan bebas pada 1
Oktober 2006.

Perkenalan Roy dengan Didit Kesit Cahyadi pun berawal dari bisnis
narkoba. Melalui Didit pula Roy menjalin hubungan dengan A Hong. "Saya
berkawan akrab dengan Pak Roy sejak di Cipinang, dan pernah nyabu
bareng di penjara," kata Didit, yang tinggal di Jalan Tempel,
Sukorejo, Jawa Tengah.

Pertemuan mereka berlima di Novotel, menurut sumber, sebetulnya dalam
rangka mengembangkan bisnis narkoba di Surabaya untuk wilayah
pemasaran Indonesia timur. Dugaan itu dibantah Freddy. Mereka
berkumpul di hotel untuk mematangkan rencana pendirian sekolah model.
"Rencana ini kami gagas ketika masih di penjara bersama Pak Roy," kata
Freddy kepada polisi.

Soal sabu-sabu, Freddy mengaku barang tersebut berasal dari Didit,
yang hendak ditawarkan kepada A Hong. Jumlahnya sekitar 0,5 ons,
dengan harga Rp 200 juta. A Hong menawar Rp 60 juta. Sebelum
pembayaran terjadi, keburu digerebek polisi.

Sedangkan 1 ons sabu-sabu beserta alat sedotnya, menurut Freddy, yang
memasok juga Didit dari seseorang bernama Kamir, narapidana narkoba
yang masih mendekam di penjara Tangerang. Freddy tak menampik, dialah
yang mengundang Roy menginap di Novotel untuk "reuni".

Humas Hotel Novotel Surabaya, Shanti Manurung, terkejut dengan
terkuaknya transaksi narkoba di hotelnya. Dalam daftar buku tamu,
katanya, nama Roy Marten tidak tercatat. "Mungkin karena beliau artis,
memakai nama samaran," kata Shanti.

l l l

SEJAK muda Roy Marten memang dekat dengan kehidupan hura-hura. Ia juga
senang keluyuran malam. Entah kebetulan atau tidak, gaya hidup ini
seperti paralel dengan film yang ia bintangi. Dalam sejumlah filmnya
dari era 1970, Roy hampir selalu tampil sebagai anak muda badung yang
bertingkah seenaknya.

Memasuki 1980-an, pamor Roy benar-benar surut. Tak laku di dunia
hiburan, ia mencoba menekuni bisnis di luar film, yaitu besi tua.
Hasilnya payah. Pada 1994, Roy Marten terjun ke sinetron Bella Vista
bersama Angel Ibrahim. Roy memerankan figur bapak. Terobosan ini juga
tak begitu sukses.

Selepas menjalani hukuman di penjara Cipinang, Roy Marten mendapat
tawaran ikut film Mengejar Mas-Mas, dengan sutradara Rudi Soedjarwo.
Belum sampai menikmati hasilnya, Roy terjungkal lagi ke dalam kasus
narkoba untuk yang kedua kalinya.

l l l

JIKA kelak terbukti sebagai pemakai sekaligus pengedar narkoba, Roy
Marten bisa lama mendekam di penjara. Menurut Brigadir Jenderal
Indradi Thanos, ancaman hukuman bagi pecandu yang tertangkap lagi
tidak cuma ditambah sepertiga tahun dari lama hukuman yang dijalani.
"Mereka bisa dihukum 15 tahun penjara," katanya.

Kepala Satuan Narkoba Kepolisian Wilayah Kota Besar Surabaya, Ajun
Komisaris Besar Abi Darrin, menambahkan bahwa Roy Marten tak sekadar
pemakai. Ada indikasi ia ikut berperan dalam peredaran. Polisi masih
mencari siapa di balik pesta 1,5 ons sabu-sabu di Hotel Novotel itu.
"Tak mungkin barang sebanyak ini hanya untuk dikonsumsi lima orang
sampai habis dalam semalam," katanya.

Roy Marten sendiri mulai sadar, ulahnya telah membuat banyak orang
repot. Melalui Chris, adiknya, Roy melarang istrinya datang menjenguk.
Roy juga tak ingin kedua anaknya, Gading Marten dan Galih Marten,
muncul di kantor polisi, kemudian dikejar-kejar pers. Larangan itu
tampaknya tak digubris oleh keluarga Roy. Mereka telah memesan kamar
di Hotel Ibis, Jalan Rajawali, Surabaya, yang berjarak 100 meter dari
tempat Roy ditahan. 


==========



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke