tu dia bedanya negara kampret semacam indonesial dan US yg
meng-kriminal-kan org2 yg nge-bong dengan Canada atau Netherland.

Vice itu musti diregulated bukan-nya dilarang.




On Nov 20, 2007 5:28 PM, rezameutia <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> roy marten lagi jadi pembicaraan.  baru keluar, udah ketangkep nyabu
> lagi.  seperti tipikal junkie yang selalu bohong, roy marten
> menyangkal memakai sabu.  katanya dia dijebak oleh polisi.
>
> istrinya roy yang cantik sudah tidak bisa kasih komentar lagi, nggak
> bisa membela si junkie lagi, wong udah jelas di kamarnya roy ada bong.
>
> mbok ya kalo udah tua tuh sadar.  mosok udah tua bangka masih jadi
> junkie?  atau masih alkoholik juga?
>
> orang tua masih menjadi junkie atau alkoholik adalah orang frustasi,
> seperti kelakuannya roy.  pernah jadi bintang tenar, lalu meredup dan
> nggak bisa terima keadaan.  larinya jadi junkie
>
> seperti si junkie tua jusfiq yang pernah merasa menjadi 'somebody', in
> fact he is nobody, sekarang makin tua makin frustasi dengan selalu
> promosi alkohol.
>
> anyway, roy dikelilingi oleh orang-orang yang mencintainya, sehingga
> besar kemungkinan untuk bertobat.  lha kalo jusfiq?  siapa orang yang
> mencintainya untuk membawa jusfiq bertobat seperti roy?
>
> alone in the dark...
>
> malang benar nasibmu, old man.
>
>
>
> =========
>
>
>
> Ketika Sabu Tidak Berlalu
>
> Untuk kedua kalinya Roy Marten ditangkap polisi gara-gara narkoba. Ia
> diindikasikan telah masuk perangkap jaringan bandar besar.
>
> Hotel Novotel di Surabaya heboh, Selasa pekan lalu. Lima tamunya yang
> menginap di kamar lantai tiga dan empat, pada dini hari diam-diam
> menggelar "pesta" . Sekitar pukul 03.00, acara itu didatangi enam
> polisi. Pesta di kamar 465 itu bukan pesta betulan, melainkan "pesta"
> sabu-sabu yang melibatkan aktor Roy Marten, 54 tahun.
>
> Lima orang, yang semuanya mantan narapidana narkoba, termasuk Roy,
> ditangkap. Mereka ditengarai telah membentuk jaringan perdagangan obat
> terlarang yang terkoneksi antarsel di dalam maupun di luar penjara.
> Bintang film Cintaku di Kampus Biru itu baru dua bulan bebas dari
> penjara Cipinang, juga karena urusan sabu-sabu.
>
> AIR mata Roy Marten tumpah ketika Erry Salam dan Ronny Salam datang ke
> tahanan Kepolisian Wilayah Kota Besar Surabaya, Jumat pagi pekan lalu.
> Sejurus kemudian, ketiga saudara kandung itu berdekapan dan saling
> menggumamkan beberapa kalimat. Pertemuan itu berlangsung sekitar dua
> jam, diselingi makan siang di ruang penyidik.
>
> Chris Salam, adik Roy yang lain, berusaha membesarkan hati abangnya,
> yang ditangkap polisi ketika "berpesta" sabu-sabu di Hotel Novotel
> Surabaya, Selasa pekan lalu. Roy ditangkap bersama empat bandar dan
> pengedar narkoba di hotel yang terletak di Jalan Ngagel itu.
>
> Ketika menerima kedatangan adik-adiknya, Roy cuma mengenakan celana
> pendek cokelat dan kaus putih ketat. Ia, yang biasanya murah senyum
> dan cengengesan, kini menjadi pemurung. Penangkapan pria kelahiran
> Salatiga, Jawa Tengah, 1 Maret 1952 itu berlangsung menjelang subuh.
> Tim penggerebek dari reserse narkotika berjumlah enam orang.
>
> Penggerebekan dimulai dari kamar 364, yang dihuni Hartanto alias A
> Hong dan Winda. Keduanya dipergoki sedang asyik menyedot sabu-sabu.
> Dari A Hong, tim reserse mendapatkan nomor kamar Roy Marten, yaitu
> 465. Polisi mencium aroma, di kamar inilah pesta sabu-sabu digelar.
>
> Ketika kamarnya didobrak, pemeran utama Badai Pasti Berlalu (1977) itu
> sedang tidur pulas. Polisi merangsek masuk, langsung menggeledah.
> Mereka mendapati sejumlah sabu-sabu di laci meja kamar Roy. "Oke, saya
> memang salah," kata Roy setelah terbangun, kepada polisi yang
> mengelilinginya.
>
> Razia yang dipimpin Ajun Komisaris Totok Sumaryanto itu diteruskan
> memburu dua teman Roy yang lain, yaitu Freddy Matalula dan Didit Kesit
> Cahyadi. Keduanya ternyata tak jauh dari kamar 465.
>
> Ketika pagi beranjak siang, mereka berlima dipaksa check out dari
> Hotel Novotel untuk pindah ke "hotel" di Jalan Sikatan 1, Markas
> Kepolisian Wilayah Kota Besar Surabaya. Mereka digelandang bersama
> sejumlah barang bukti berupa bong (alat isap), sekitar 1,5 ons
> sabu-sabu, timbangan, kertas aluminium, korek api, dan telepon seluler
> yang menyimpan transaksi narkoba melalui pesan pendek.
>
> l l l
>
> KEHADIRAN Roy Marten di Surabaya berbarengan dengan kampanye
> antinarkoba yang digelar Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama surat
> kabar Jawa Pos. Acara di Graha Pena, Jalan Ahmad Yani, Surabaya, pada
> 10 November itu dihadiri Kepala Kepolisian RI Jenderal Sutanto dan
> Kepala BNN I Made Mangku Pastika, serta bos Jawa Pos, Dahlan Iskan
> (baca Soal Merawat Kerinduan).
>
> Adapun A Hong, Freddy, dan Didit memang "kenalan lama" Roy Marten.
> Mereka sama-sama "lulusan" penjara narkoba, yang makin punya peranan
> penting dalam perdagangan obat berbahaya. Didit dan Freddy pernah
> sepenjara dengan Roy di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta Timur.
>
> A Hong, 46 tahun, dan Freddy, 55 tahun, adalah residivis narkoba yang
> tinggal di Jalan Kapasan dan Jalan Paneleh, Surabaya. Dua kawasan ini
> kerap digerebek polisi ketika mengejar bandit narkoba. Dua tahun lalu,
> A Hong dan Freddy dibekuk di tempat itu.
>
> Keduanya divonis sembilan bulan penjara oleh Pengadilan Negeri
> Surabaya. Sebelum dipindahkan ke penjara narkoba di Madiun, Jawa
> Timur, mereka lebih dulu mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Medaeng,
> Surabaya. Freddy sempat dititipkan di penjara Cipinang, dan di sana
> bertemu dengan Roy Marten.
>
> "Kami menerima limpahan A Hong dan Freddy ketika masa hukumannya
> tinggal dua bulan," kata I Wayan Sukerta, kepala penjara Madiun,
> kepada Tempo. Mereka dipindahkan, katanya, karena penjara Medaeng
> terlalu sesak. "Selain penuh, pemindahan narapidana narkoba bertujuan
> memutus rantai perdagangan," ujarnya.
>
> Siapa pula Winda? Freddy menjelaskan, cewek 27 tahun asal Rewin,
> Sidoarjo, itu karyawan sebuah perusahaan jasa kehumasan di Surabaya.
>
> l l l
>
> DIREKTUR Narkoba Markas Besar Kepolisian RI, Brigadir Jenderal Indradi
> Thanos, mengatakan bahwa perilaku Roy Marten dan kawan-kawannya sudah
> tergolong residivis narkoba. Mereka umumnya sudah lebih dari sekali
> terjerumus kasus yang sama. "Pak Roy pernah bilang sudah bertobat,
> tapi nyatanya belum," kata Indradi.
>
> Menurut Indradi, tak tertutup kemungkinan pemeran utama Kabut Sutra
> Ungu (1979) itu sudah masuk perangkap sindikat perdagangan obat
> berbahaya. "Kami mendalami betul kemungkinan itu," ujarnya.
>
> Komplotan pengedar obar terlarang yang menjalin hubungan dengan Roy,
> masih menurut Indradi, ditengarai bisa meluas dan terus bertambah. Ia
> mencontohkan sosok A Hong. Bekas narapidana itu mengenal Roy ketika
> sama-sama di penjara. "Meski penjaranya berbeda, mereka lancar
> berkomunikasi," katanya.
>
> Di Cipinang, Roy menghuni blok 2A, Freddy di blok G, dan Didit di blok
> E. "Dari sinilah mereka kontak-kontakan dengan A Hong," kata Indradi.
>
> Indradi menambahkan, Indonesia yang berpenduduk lebih dari 200 juta
> menjadi incaran pasar dunia. Segala bentuk jaringan dibangun oleh
> bandar kelas internasional. Salah satu jalur yang dirasuki, kata
> Indradi, adalah sektor investasi. Sejumlah pabrik sabu-sabu dan
> ekstasi yang dibongkar di Batam dan Tangerang, katanya, semua berkedok
> investasi.
>
> l l l
>
> SUDAH lama kehidupan Roy Marten digerogoti candu narkoba. Bermula
> ketika pamornya di dunia akting anjlok, kalah gesit dari para
> juniornya. "Selama 12 tahun Roy menganggur tak main film," ujar
> seorang sumber yang mengaku dekat dengan Roy.
>
> Kekosongan itulah yang kemudian mendorong Roy terjerumus ke pusaran
> bandar obat terlarang. Pada 2 Februari 2006, ia ditangkap di daerah
> Ulujami, Bintaro, Jakarta Selatan, gara-gara mengantongi dua gram
> sabu-sabu. Roy diganjar sembilan bulan penjara, dan bebas pada 1
> Oktober 2006.
>
> Perkenalan Roy dengan Didit Kesit Cahyadi pun berawal dari bisnis
> narkoba. Melalui Didit pula Roy menjalin hubungan dengan A Hong. "Saya
> berkawan akrab dengan Pak Roy sejak di Cipinang, dan pernah nyabu
> bareng di penjara," kata Didit, yang tinggal di Jalan Tempel,
> Sukorejo, Jawa Tengah.
>
> Pertemuan mereka berlima di Novotel, menurut sumber, sebetulnya dalam
> rangka mengembangkan bisnis narkoba di Surabaya untuk wilayah
> pemasaran Indonesia timur. Dugaan itu dibantah Freddy. Mereka
> berkumpul di hotel untuk mematangkan rencana pendirian sekolah model.
> "Rencana ini kami gagas ketika masih di penjara bersama Pak Roy," kata
> Freddy kepada polisi.
>
> Soal sabu-sabu, Freddy mengaku barang tersebut berasal dari Didit,
> yang hendak ditawarkan kepada A Hong. Jumlahnya sekitar 0,5 ons,
> dengan harga Rp 200 juta. A Hong menawar Rp 60 juta. Sebelum
> pembayaran terjadi, keburu digerebek polisi.
>
> Sedangkan 1 ons sabu-sabu beserta alat sedotnya, menurut Freddy, yang
> memasok juga Didit dari seseorang bernama Kamir, narapidana narkoba
> yang masih mendekam di penjara Tangerang. Freddy tak menampik, dialah
> yang mengundang Roy menginap di Novotel untuk "reuni".
>
> Humas Hotel Novotel Surabaya, Shanti Manurung, terkejut dengan
> terkuaknya transaksi narkoba di hotelnya. Dalam daftar buku tamu,
> katanya, nama Roy Marten tidak tercatat. "Mungkin karena beliau artis,
> memakai nama samaran," kata Shanti.
>
> l l l
>
> SEJAK muda Roy Marten memang dekat dengan kehidupan hura-hura. Ia juga
> senang keluyuran malam. Entah kebetulan atau tidak, gaya hidup ini
> seperti paralel dengan film yang ia bintangi. Dalam sejumlah filmnya
> dari era 1970, Roy hampir selalu tampil sebagai anak muda badung yang
> bertingkah seenaknya.
>
> Memasuki 1980-an, pamor Roy benar-benar surut. Tak laku di dunia
> hiburan, ia mencoba menekuni bisnis di luar film, yaitu besi tua.
> Hasilnya payah. Pada 1994, Roy Marten terjun ke sinetron Bella Vista
> bersama Angel Ibrahim. Roy memerankan figur bapak. Terobosan ini juga
> tak begitu sukses.
>
> Selepas menjalani hukuman di penjara Cipinang, Roy Marten mendapat
> tawaran ikut film Mengejar Mas-Mas, dengan sutradara Rudi Soedjarwo.
> Belum sampai menikmati hasilnya, Roy terjungkal lagi ke dalam kasus
> narkoba untuk yang kedua kalinya.
>
> l l l
>
> JIKA kelak terbukti sebagai pemakai sekaligus pengedar narkoba, Roy
> Marten bisa lama mendekam di penjara. Menurut Brigadir Jenderal
> Indradi Thanos, ancaman hukuman bagi pecandu yang tertangkap lagi
> tidak cuma ditambah sepertiga tahun dari lama hukuman yang dijalani.
> "Mereka bisa dihukum 15 tahun penjara," katanya.
>
> Kepala Satuan Narkoba Kepolisian Wilayah Kota Besar Surabaya, Ajun
> Komisaris Besar Abi Darrin, menambahkan bahwa Roy Marten tak sekadar
> pemakai. Ada indikasi ia ikut berperan dalam peredaran. Polisi masih
> mencari siapa di balik pesta 1,5 ons sabu-sabu di Hotel Novotel itu.
> "Tak mungkin barang sebanyak ini hanya untuk dikonsumsi lima orang
> sampai habis dalam semalam," katanya.
>
> Roy Marten sendiri mulai sadar, ulahnya telah membuat banyak orang
> repot. Melalui Chris, adiknya, Roy melarang istrinya datang menjenguk.
> Roy juga tak ingin kedua anaknya, Gading Marten dan Galih Marten,
> muncul di kantor polisi, kemudian dikejar-kejar pers. Larangan itu
> tampaknya tak digubris oleh keluarga Roy. Mereka telah memesan kamar
> di Hotel Ibis, Jalan Rajawali, Surabaya, yang berjarak 100 meter dari
> tempat Roy ditahan.
>
>
> ==========
>
>
>
> Post message: [EMAIL PROTECTED]
> Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
> Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
> List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
> Homepage    :  http://proletar.8m.com/
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>


Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke