http://www.poskota.co.id/redaksi_baca.asp?id=834&ik=31
Turunkan Harga, Titik! Selasa 22 Januari 2008, Jam: 9:03:00 Tanyakan kepada rakyat, apa yang paling mereka inginkan pada saat ini? Besar kemungkinan, jawabannya adalah terjangkaunya harga-harga kebutuhan pokok. Jawaban tersebut barangkali hanyalah satu dari sekian banyak kemungkinan, bukan kepastian, karena pertanyaan seperti itu memang jarang diajukan oleh elit politik di negeri ini. Dibanding bertanya, elit politik jauh lebih sering mengeluarkan pernyataan dibalas pernyataan sehingga yangs ampai ke telinga rakyat adalah kegaduhan. Sementara persoalan pokoknya terhenti hanya pada wacana demi wacana. Tanpa solusi kongkret. Dalam menghadapi sulitnya hidup, rakyat kecil hanya membutuhkan satu hal, harga-harga kebutuhan terjangkau. Politisi bisa saja menyoal: Rakyat yang mana? Bukankah selain rakyat miskin, juga ada kelompok rakyat lain yang relatif masih mampu menjangkau kenaikan harga-harga pada saat ini? Lalu siapakah yang disebut sebagai rakyat miskin? Apa ukuran kemiskinan yang digunakan? Berapa jumlah rakyat miskin? Persoalan-persoalan semacam itulah yang kemudian mengalihkan, atau mungkin memang didisain untuk menggeser persoalan utama yang sesungguhnya riil dihadapi rakyat. Akibatnya, apapun keputusan pemerintah, sulit menjadi solusi terhadap masalah. Sebaliknya nyaris selalu saja menjadi pemicu kegaduhan di kalangan elit politik. Sebut saja, kasus paling baru tentang kelangkaan kedelai yang menaikkan status tempe-tahu menjadi 'lauk mewah' karena tiba-tiba langka di pasar dan harganya naik. Salah satu keputusan pemerintah adalah menurunkan bea masuk kedelai impor sampai nol persen. Tujuannya agar kedelai impor yang memenuhi 60 persen kebutuhan lokal masuk ke dalam negeri dan harganya turun. Faktanya, penurunan harga tidak dapat terjadi seketika, nilainya pun tidak terlalu signifikan. Elit politik langsung saja sibuk menuding ada skenario bisnis di balik keresahan kenaikan harga kedelai. Penurunan bea masuk konon didisain untuk menguntungkan segelintir importir. Seberapa jauh kebenaran tudingan tersebut, mungkin sulit diukur, tetapi dampak keresahan sosial sudah mulai terasa. Kasus serupa juga terjadi di komoditi strategis lainnya seperti tepung terigu, minyak goreng, dan sebagainya. Dalam lingkup yang lebih luas, kita mungkin patut mempermasalahkan kebijakan makro pertanian. Tetapi dalam lingkup yang lebih kecil, faktor situasional seperti iklim, fluktuasi kebutuhan dunia, dan sebagainya juga turut berpengaruh. Sumber kesulitan hidup rakyat kecil masih bisa diperpanjang dengan memasukkan persoalan konversi minyak tanah ke gas elpiji yang berlarut-larut. Dalam merespon krisis energi global, selama ini kita terlanjur terbiasa dengan kebijakan-kebijakan reaktif. Salah satunya adalah program konversi (minyak tanah, premium, dan BBM bersubsidi lainnya). Tidak pernah untuk jangka panjang kita serius dengan upaya mencari dan mengembangkan energi alternatif. Kini semuanya bermuara pada kenaikan harga yang tidak lagi terjangkau oleh masyarakat. Ketika ambang kemampuan sosial telah terlampaui, maka tak ada pilihan lain kecuali menuntut pemerintah agar mampu menurunkan harga kebutuhan pokok. Apa pun cara yang akan ditempuh.*** [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
