--- In [email protected], "utusan.allah" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Mungkin..
> 
> Ada kemungkinan apa yang anda katakan:
 
> Untuk bisa meruntuhkan kubu mereka kudu ada kekuatan peruntuh..
> 
> Dan kekuatan itu tidak ada.
> 
> Partai politkk lagi asyik berbagai isi khasanah negara
> 
> Dan yang namanya civil society nggak kelihatan batang hidungnya.
> 

Ya, memang belum ada kekuatan alternatif yang bisa diandalkan.
Sebenarnya sudah ada bekas aktivis yang 'masuk struktur',
orang-orang SKEPHI, bekas aktivis INGI, beberapa pendiri PRD.
Tapi modusnya masih yang dulu juga, seperti jaman Soe Hok Gie.
Masuk struktur, eh nggak jadi reformis, malah terbawa arus.
Atau belum punya kekuatan, mengubah arus.
Yang namanya aktivis pemuda, juga masih brantakan.

> 
> --- In [email protected], "suhendra_de" <suhendra_de@> wrote:
> >
> > Tajuk Radio DW Jerman:
> > Meninggalnya Mantan Presiden Jendral Soeharto
> > 
> > 
> > Tentang orang yang meninggal sebaiknya kita diam, atau kalau
> > berbicara hanya yang baik-baik saja. Begitu kata satu pepatah. 
Jika
> > demikian halnya, bab terakhir tentang kisah mantan presiden 
Indonesia
> > Jendral Suharto bisa cepat rampung ditulis.
> > 
> > Tapi kenyataannya, justru terlalu banyak hal yang dulu didiamkan
> > selama tiga dekade masa pemerintahan tangan besinya dengan bantuan
> > militer. Juga sebagian besar fakta perebutan kekuasaan dan aksi
> > kekerasan tahun 60-an, yang membawa Soeharto ke tampuk kekuasaan,
> > masih belum terungkap sampai sekarang.
> > 
> > Sekalipun Jendral Soeharto selama masa pemerintahan otoriternya
> > bertanggung jawab atas berbagai pelanggaran berat hak asasi 
manusia,
> > sampai sekarang ia tidak pernah diminta pertanggung jawaban. Semua
> > upaya menghadapkannya ke pengadilan gagal, antara lain karena 
alasan
> > kesehatan yang diajukan para pengacaranya.
> > 
> > Sampai meninggal, pengaruh Soeharto ternyata tetap kuat untuk
> > menghindari proses hukum.
> > 
> > Orang bisa berargumentasi bahwa demokrasi di Indonesia pasca 
Soeharto
> > masih terlalu lemah untuk bisa menggiring bekas presidennya ke
> > pengadilan. Namun jangan dilupakan, banyak negara demokrasi besar
> > seperti Amerika Serikat dan Jerman yang juga lama menutup mata dan
> > berdiam diri.
> > 
> > Soeharto, yang di kalangan internasional dijuluki The Smiling
> > General, naik ke tampuk kekuasaan dengan dukungan Barat untuk
> > menghindari kaum komunis menguasai Indonesia. Sebuah skenario yang
> > cocok dengan situasi perang dingin kala itu.
> > 
> > Soeharto dianggap sebagai tokoh penting penentang bahaya 
komunisme di
> > Asia Tenggara. Sehingga negara-negara Barat mendiamkan peristiwa-
> > peristiwa buruk yang mengiringi masa kekuasaannya.
> > 
> > Indonesia mengalami masa bersimbah darah akhir tahun 60-an. 
Ratusan
> > ribu anggota Partai Komunis Indonesia, dan orang-orang yang 
dicurigai
> > dekat dengan gerakan komunis, jadi korban militer.
> > 
> > Memang sampai sekarang tidak terbukti bahwa Soeharto memerintahkan
> > sendiri pengejaran buas terhadap mereka, namun faktanya adalah, ia
> > yang mengendalikan aparat militer ketika itu.
> > 
> > Pada tahun-tahun selanjutnya, ribuan pengeritik rejim ditahan 
tanpa
> > proses pengadilan dan dibuang ke pulau Buru. Terhadap gerakan 
makar
> > di Aceh dan Papua dilakukan aksi pembersihan. Dan di Timor-Timur,
> > sampai 200.000 orang tewas selama masa pendudukan oleh militer
> > Indonesia. Barulah ketika Indonesia terkena dampak krisis moneter
> > Asia, kekuasaan klan Soeharto mulai luntur. Dan ia akhirnya 
terpaksa
> > mengundurkan diri.
> > 
> > Sampai sekarang, Indonesia masih menanggung beban berat warisan 
masa
> > kekuasaan Soeharto: sistem birokrasi yang korup, kelompok militer
> > yang sangat dominan, dan masa lalu penuh kekerasan yang belum juga
> > terungkap.
> > 
> > Dengan latar belakang ini, boleh dibilang hampir sebuah mukjijat,
> > bahwa negara multi-etnis ini bisa menemukan jalan kembali menuju
> > demokrasi. Walaupun Soeharto dan para pendukungnya telah
> > menjerumuskan negara kaya bahan mentah ini ke dalam krisis ekonomi
> > yang parah.
> > 
> > Indonesia sampai sekarang tetap menjadi mitra negara-negara Barat
> > yang bisa dipercaya. Fanatisme fundamentalistis tetap tidak bisa
> > meluas di negara muslim terbesar dunia ini. Ini juga bisa dicatat
> > sebagai sebuah keajaiban kecil, dan menunjukkan kematangan 
demokrasi.
> > 
> > Apakah ada hal yang baik juga selama pemerintahan Soeharto? Selama
> > kekuasaan tangan besinya ekonomi Indonesia berkembang pesat.
> > Masyarakat miskin juga bisa menikmati sedikit berkah kemajuan
> > ekonomi. Dengan stabilitas politik dan ekonomi, Indonesia 
berkembang
> > menjadi macan kecil Asia Tenggara. Investor asing datang 
berbondong-
> > bondong. Tapi secepat mereka datang, secepat itu pula mereka 
hengkang
> > saat krisis moneter melanda.
> > 
> > Mungkin, dengan meninggalnya Soeharto, barulah masyarakat 
Indonesia
> > bisa membahas lagi masa lalunya. Banyak hal yang perlu 
dibicarakan,
> > sekalipun mantan penguasa itu tidak akan duduk lagi dibangku 
tergugat.
> > 
> > http://www.dw-world.de/dw/article/0,2144,3091633,00.html
> >
>




Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke