--- In [email protected], [EMAIL PROTECTED] wrote: > > "shenhow2000" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > sangat menyentuh.. > saya tebak si shenshow ini menulis sambil bergelinangan air mata Bukan cuma itu, hampir terjun dari gedung lantai 28...tapi bagaimanapun hidup harus berlanjut HB... > kehilangan orang dicintai bukan main perihnya memang > bung shen semoga tetap kuat dan tabah Sekarang saya tau bagaimana rasanya jika mengalami nasib seperti warga aceh yang survive pasca tsunami, kehilangan segalanya yang dibangun dengan susah payah bertahun tahun dan orang yang dicintai sekaligus. Bukan mau minta dikeloni atau berlagak seperti rinto harahap...tapi memang rasanya seperti kejatuhan bom nuklir, ketika kehilangan jabatan, harta yang dilumpulkan bertahun tahun, plus kehilangan wanita yang paling saya cintai setelah ibu saya sendiri... > walaupun terdengar sangat klise, saya hampir ikut nangis baca tulisan anda
Tulisan yang ditulis dengan tinta airmata, tentu akan terbaca berbeda daripada sekedar raungan cengeng film india... Anyway ingatkah anda HB? Dulu tulisan tentang si bonang diusir habis dinner..mungkin rasanya seperti waktu anda menulis itu barangkali dulu ya? Anyway cerita itu belum selesai padahal anda janji mengirimkan saya endingnya dulu. Thanks HB....But life must go on, in order to pursuit the happiness NB : Kalo yang ini jelas bukan tulisan saya, didapat di kompas...tapi menarik untuk direnungkan juga Memeluk Resiko Tertawa beresiko tampil konyol.Menangis beresiko tampil sentimentil. Merengkuh orang lain beresiko keterlibatan. Membukakan perasaan beresiko menampilkan dirimu yang sejati. Mengemukakan ide-ide dan mimpi-mimpimu di hadapan orang ramai bersiko kehilangan semua itu. Mencintai beresiko tak berbalas. Hidup beresiko mati. Berharap beresiko kecewa. Berusaha beresiko gagal. Akan tetapi resiko tetap harus diambil. Ancaman terbesar dalam hidup adalah tidak mau memeluk resiko. Orang yang tidak berani mengambil resiko tidak akan melakukan apapun, tidak memiliki apapun dan bukan apapun. Dia mungkin bisa menghindari sengsara dan sesal. Tapi dia tidak bisa belajar,merasa, berubah, bertumbuh dan mencintai. Dia budak yang terbelenggu keyakinan. Hanya pengambil resiko yang tidak membentengi kebebasannya. Hanya jika anda pernah terempas di lembah ketiadaan paling kelam. Anda baru akan tau betapa hebat dan nikmat berada di puncak gunung keberhasilan. Robert Holden, Timeless Wisdom for a Manic Society (2005) > > > >Cen...Ini Bukan Puisi > > > >Di sudut tangga Fakultas Ekonomi, disana aku duduk sambil menangis > >ketika teringat akan cantik rupamu. > >Sirna sudah semua pengharapan dan kebahagiaan berganti dengan > >kekosongan dan kehancuran. > >Tak pernah melintas sedetikpun, bahkan dalam mimpiku yang paling > >mengerikan...Sang Bencana menari ketika cinta itu bersemi dan di saat > >pengharapan menemukan tempatnya. > >Sungguh memang cinta itu pernah ada, ketika tatap matamu masih > >menggelayut di pelupuk mataku, ketika tawamu masih terngiang di > >telingaku, ketika senyummu masih menghiasi ingatanku dan harapan > >akanmu menjadikan hari-hariku pernah begitu cerah... > > > >Cen...Tidak akan pernah sedetikpun ingatan tentang saat-saat yang > >berlalu denganmu terhapus dari sanubariku sebab itu yang terindah > >bagiku. > >Cen....Kini kerinduan akanmu sudah menjadi terlarang untukku. > >Cen...Ampuni aku yang tidak berdaya melawan suratan takdir.Sehingga > >tangan ini tidak kuasa lagi menjangkaumu, walau sesungguhnya inginku > >adalah di sampingmu, berbagi tawa dan bahagia. > >Cen...Pecundangkah aku di matamu? > >Cen...Saya percaya jika cinta yang tersucikan oleh basuhan airmata > >akan terabadikan di hati selamanya, walau tangis ini tak sedikitpun > >kuasa meredakan duka terhadap kehilangan asa akan hari bahagia > >bersamamu. > > > >TUHAN, jika memang sinar dari sang rembulan tidak kauizinkan untuk > >dapat selamanya menerangi langkahku di kegelapan malam... > >Maka ketika semua itu berlalu... > >TUHAN,ingatkanlah diriku bahwa sesungguhnya tidak pernah sedetikpun > >ia menjadi milikku....walau di hati ini akan selalu ada ruang baginya > >yang takkan mungkin tergantikan oleh cinta yang lain... > > > >JAKARTA, 9 September 2008. (Memperingati 70 hari wafatnya Sang Asa > >akan terwujudnya mimpi yang sempurna di kehidupan nyata) > > > >NB: Cen, maafkan saya. Saya sadar barangkali kau benci puisi puisiku > >dulu...Dan aku pernah berjanji takkan ada puisi yang lain lagi > >setelah si "Puisi Terakhir",bukan aku hendak mengingkari kata kataku > >sendiri, bukan pula hendak mencari pembenaran diri. Tapi yang kutulis > >ini tidak lebih dari ratapan hati di sudut tangga Fakultas Ekonomi, > >bukan puisi tapi tangisan akan kandasnya asa. > >Cen...sungguh hari-hariku suram tanpa hadirmu, namun langkahku tak > >kuasa lagi menghampirimu. > >Cen...jika Dikau baca semua tulisan ini, sudikah kiranya katakan > >sesuatu padaku ? > > > ------------------------------------ Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
