Refleksi : Bukankah yang sekarang berkedudukan sebagai menteri (anggota 
kabinet)  adalah orang-orang kwalitas terbaik. Tetapi, kalau  mereka ini 
diganti karena nihil hasil kerjanya, maka pertanyaan yang timbul ialah apakah 
mereka yang akan menganti yang sekarang masih berkedudukan akan lebih baik?   
Bisa dipastikan jawaban terhadap pertanyaan demikian  ialah "podowae"  atau 
malah akan lebih buruk lagi, karena bukan berkwalitas wahid seperti yang 
diganti. Hehehehe, jangan sekali-kali berilusi.

http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=27210

2010-10-20 
Isu Perombakan Kabinet SBY Belum Beri Sinyal 




[JAKARTA] Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) belum memberi sinyal tegas 
untuk merombak kabinet. Pimpinan partai politik (parpol) yang tergabung dalam 
Sekretariat Gabungan (Setgab) dan kadernya duduk di kabinet mengaku, sejauh ini 
belum ada komunikasi khusus dengan Presiden yang mengisyaratkan bakal ada 
reshuffle kabinet. Mereka yakin, rencana perombakan kabinet akan 
dikomunikasikan dengan pimpinan parpol koalisi.


Kendati demikian, sumber SP menyebutkan pada Kamis (21/10), akan dilangsungkan 
sidang kabinet paripurna di Istana Bogor, yang agendanya mengevaluasi kinerja 
Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid II.Terkait hal itu, Presiden SBY sendiri 
menegaskan akan mengevaluasi kinerja para menteri yang duduk di kabinet sebagai 
bagian dari upaya untuk meningkatkan kinerja pemerintah. 
Evaluasi tersebut akan dilakukan bersama Wapres Boediono, dengan mendasarkan 
pada kontrak kinerja dan pakta integritas yang sudah ditandatangani para 
menteri sebelumnya.


"Sejak awal kita nilai prestasi menteri atas dasar beberapa kriteria. Saya 
telah menetapkan kontrak kinerja yang ditandatangani menteri, ada juga pakta 
integritas yang disanggupi para menteri. Karena itu, apa yang dijalani 
sekarang, dievaluasi menyeluruh, dibantu Wapres," kata Presiden, dalam 
wawancara khusus dengan salah satu stasiun radio swasta, di Jakarta, Rabu 
(20/10) pagi.
SBY menjelaskan, menteri yang kinerjanya dinilai belum baik namun masih dalam 
standar tertentu, akan dikoreksi dan diminta memperbaiki kekurangannya. 
"Kecuali ada yang jauh di bawah standar," sambungnya.


Namun, Kepala Negara belum menyebutkan waktu evaluasi tersebut dan kapan akan 
dilakukan koreksi terhadap para menteri yang dinilai belum bekerja baik sesuai 
hasil evaluasi.  "Sekarang saya belum bisa katakan, apakah ada reshuffle atau 
tidak, saya ikuti proses yang ada, biar yang ada solusi bukan menambah 
persoalan," ujarnya. Ihwal rencana sidang kabinet paripurna tersebut dibenarkan 
Staf Khusus Presiden bidang Publikasi, Ahmad Yani Basuki, Rabu pagi. Dia 
menjelaskan, rencana sidang kabinet itu dirangkaikan dengan peringatan 50 tahun 
Agraria Nasional di Istana Bogor, Kamis. Namun, dia tidak mengungkapkan agenda 
sidang kabinet. Sidang kabinet paripurna tersebut terkesan sangat penting, 
sebab, muncul kabar kunjungan kerja Wapres Boediono ke Tiongkok dipercepat 
sehari. Wapres dijadwalkan tiba di Tanah Air pada Kamis pagi, untuk selanjutnya 
menuju Istana Bogor.

Belum Ada Komunikasi
Secara terpisah, partai politik yang tergabung dalam Setgab koalisi pendukung 
pemerintahan SBY-Boediono mengaku, belum ada sinyal dari Presiden bahwa bakal 
ada reshuffle KIB II. Kalaupun akhirnya SBY merombak kabinet dan merangkul 
parpol lain yang kini berada di luar pemerintahan, mereka menilai hal itu 
sepenuhnya kewenangan Presiden. Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie 
mengaku, belum ada komunikasi dengan Presiden soal rencana reshuffle kabinet. 
Menurutnya, reshuffle adalah hak prerogatif presiden.  "Golkar siap mengganti 
menterinya kalau dinilai kurang. Dan juga siap menambah menteri jika memang 
diminta," kata Aburizal dalam konferensi pers seusai Rapimnas I Partai Golkar, 
Selasa (19/10) malam.


Disinggung kemungkinan SBY akan menarik Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan 
(PDI-P) masuk ke gerbong kabinet, Aburizal tidak mempersoalkannya. Bahkan, 
lanjutnya, jika perlu Hanura dan Gerindra jika diajak masuk ke kabinet. "Tetapi 
apakah dengan itu tidak ada perbedaan pendapat. Bagi Golkar koalisi bukan 
berarti tidak ada perbedaan pendapat. Jadi mau diajak semua silahkan. Golkar 
tidak merasa terancam," tegasnya. Sedangkan, Ketua DPP Partai Keadilan 
Sejahtera (PKS) Mahfudz

 Siddiq menegaskan, partainya berpegangan pada pernyataan Presiden SBY 
sebelumnya, bahwa jika ada reshuffle akan dibicarakan langsung dengan pimpinan 
parpol koalisi. "Hingga saat ini, belum ada kabar dan rencana pertemuan antara 
PKS dan SBY untuk membicarakan reshuffle kabinet. Oleh karena itu, PKS tidak 
sibuk membicarakan maupun mempersiapkan calon menteri baru," tegas Mahfudz.
Menurutnya, dengan belum adanya isyarat dari SBY, PKS berpikiran positif bahwa 
tidak ada kadernya yang digusur dari kabinet. Dalam KIB II, terdapat empat 
kader PKS, yakni Tifatul Sembiring (menteri komunikasi dan informatika), 
Suswono (menteri pertanian), Salim Segaf Al Jufri (menteri sosial), dan Suharna 
Surapranata (menteri riset dan teknologi).
Mahfud mengingatkan, jika Presiden berencana merombak kabinet, dan itu terkait 
dengan menteri dari PKS, maka harus ada pembicaraan mengenai kontrak politik 
yang disepakati saat PKS bergabung dalam koalisi pendukung SBY-Budiono sebagai 
capres dan cawapres tahun lalu.


"Kontrak politik awal PKS dan SBY terkait visi dan misi. Isinya juga termasuk 
kesepakatan bahwa PKS diberi empat pos kementerian. Oleh karena itu, jika ada 
reshuffle terkait menteri dari PKS, maka kontrak politik awal harus dibicarakan 
kembali," tegasnya. 
Tetapi, lanjutnya, PKS akan menerima keputusan Presiden seandainya menteri dari 
PKS harus diganti. "Dengan catatan, ada alasan objektif dan masuk akal yang 
melatarbelakangi pergantian tersebut," tandasnya. Sementara itu, Sekjen DPP 
Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Irgan Chairul Mahfuz optimistis, tidak ada 
kader partainya yang digusur dari KIB II. PPP memiliki dua kader di kabinet 
yakni Suryadharma Ali (menteri agama) dan Suharso Monoarfa (menteri perumahan 
rakyat).


Namun, Irgan mengakui, sudah selayaknya Presiden mengevaluasi kinerja kabinet. 
Hal ini agar para menteri bekerja sesuai kontrak politik dan pakta integritas 
yang telah ditandatangani. "Dan juga sebagai bentuk tanggung jawab presiden 
kepada rakyatnya," tandasnya.Belum adanya sinyal dari Presiden mengenai 
reshuffle juga diungkapkan Wakil Sekjen Partai Amanat Nasional (PAN) Teguh 
Juwarno. Namun, dia juga menyadari bahwa evaluasi kinerja menteri merupakan hal 
yang wajar dilakukan Presiden."Tapi, ada satu aspek lagi, terhadap 
menteri-menteri dari parpol, harus ada komunikasi politik terlebih dulu dengan 
parpol. Sehingga, wajar jika komunikasi politik menjadi penting sebelum 
Presiden melakukan reshuffle," kata Teguh.


Menanggapi wacana reshuffle, Ketua DPP Partai Keadilan Bangsa (PKB) Marwan 
Jafar menegaskan, hal itu sepenuhnya hak prerogatif presiden. Sehingga, 
kewenangan penuh berada di tangan presiden untuk menentukan kabinetnya. 
"Reshuffle adalah prerogatif presiden. Kita harus menghormati sistem 
presidensial," katanya.


Secara terpisah, Ketua Fraksi Partai Demokrat M Jafar Hafsah mengakui ada 
menteri yang sudah bekerja baik dan maksimal, tetapi masih ada juga yang belum 
mencapai apa yang diharapkan. Dia yakin, Presiden SBY sudah mengetahui itu, 
karena sudah ada tim atau unit khusus yang menilai kinerja menteri. Masukan 
dari masyarakat seperti lembaga swadaya masyarakat, pers, dan institusi 
lainnya, juga menjadi pertimbangan presiden dalam menilai menterinya. 

Belum Ada Tawaran
Sementara itu, Ketua DPP PDI-P bidang Hukum dan HAM Trimedya Panjaitan 
mengemukakan, sampai saat ini belum ada pendekatan atau tawaran untuk bergabung 
atau berkoalisi dengan pemerintah SBY-Boediono. Dia menegaskan, sampai saat ini 
sikap partainya masih tetap berada di luar pemerintahan.  "Biasanya kalau ada 
apa-apa pasti dibahas di rapat DPP. Sampai saat ini belum ada sama sekali 
pembahasan mengenai itu," katanya.


Dia mengakui, ada pertemuan beberapa pimpinan PDI-P dengan Partai Demokrat. 
Namun, pertemuan itu hanya silaturahmi.Menurutnya, agak sulit bagi PDI-P untuk 
bergabung dengan pemerintah dan kadernya masuk kabinet. Alasannya, rekomendasi 
kongres di Bali tahun lalu menetapkan PDI-P berada di luar pemerintahan. "Jika 
mau bergabung maka harus ada rapat luar biasa terlebih dahulu untuk mengubah 
rekomendasi kongres tersebut," jelasnya. Sedangkan, Ketua Umum DPP Partai 
Gerindra Suhardi menilai, ada beberapa menteri yang kinerjanya masih kurang. 
Dia mencontohkan, di sektor perhubungan dan kehutanan yang belum mampu 
mengatasi berbagai persoalan menahun. 
[W-12/R-14/Ant/NOV/D-12]


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke