Om2, penjelasan panjangnya seperti berikut, ni:

http://www.angelfire.com/journal/fsulimelight/betina.html


Berdasarkan "Old Javanese English Dictionary" (Zoetmulder, 1982), kata wanita 
berarti 'yang diinginkan'. Arti 'yang dinginkan' dari wanita ini sangat relevan 
dibentangkan di sini. Maksudnya, jelas bahwa wanita adalah 'sesuatu yang 
diinginkan pria'. Wanita baru diperhitungkan karena (dan bila) bisa 
dimanfaatkan pria. Sudut pandangnya selalu sudut pandang "lawan mainnya", ya 
pria itu. Jadi, eksistensinya sebagai makhluk Tuhan menjadi nihil. Dengan 
demikian, kata ini berarti hanya menjadi objek (bagi lelaki) belaka. Adakah 
yang lebih rendah dari "hanya menjadi objek"?

Makna wanita sebagai 'sasaran keinginan pria' juga dipaparkan oleh Prof. Dr. 
Slametmuljana dalam "Asal Bangsa dan Bahasa Nusantara" (1964: 59--62). Kata 
wanita, dalam bahasa aslinya (Sanskerta), tulisnya, bukan pemarkah (marked) 
jenis kelamin. Dari bahasa Sanskerta vanita, kata ini diserap oleh bahasa Jawa 
Kuno (Kawi) menjadi wanita, ada perubahan labialisasi dari labiodental ke 
labial: [v]-->[w]; dari bahasa Kawi, kata ini diserap oleh bahasa Jawa 
(Modern); lalu, dari bahasa Jawa, kata ini diserap ke dalam bahasa Indonesia. 
Setelah diadopsi bahasa Jawa dan bahasa Indonesia, kata ini mengalami tambahan 
nilai positif.

Ada juga pandangan lain, yang cukup "menyakitkan", yakni bahwa kata wanita 
bukanlah produk kata asli (induk). Kata ini hanyalah merupakan hasil akhir dari 
proses panjang perubahan bunyi (yang dalam studi linguistik sering disebut 
gejala bahasa) metatesis2) dan proses perubahan kontoid3) dari kata betina. 
Urutan prosesnya demikian. Mula-mula kata betina menjadi batina; kata batina 
berubah melalui proses metatesis menjadi banita; kata banita mengalami proses 
perubahan bunyi konsonan (kontoid) dari [b]-->[w] sehingga menjadi wanita. 
Maka, memang aneh bin ajaib, bahwa kata yang demikian kita hormati, bahkan kita 
letakkan pada tempat tinggi di atas kata perempuan ini, maksudnya ya wanita 
itu, ternyata berasal dari kata rendah betina.

Mungkin karena itulah, organisasi "Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia" (Iwapi) 
sering dipelesetkan artinya tentu saja, oleh pria menjadi "Iwak-e Papi-papi", 
"Dagingnya bapak-bapak" atau "Lauknya Bapak-bapak" seakan wanita itu tak lebih 
dari "daging" atau "lauk-pauk" yang bisa dikonsumsi oleh pria. Dalam karier 
militer pun, dipakai wanita. Misalnya saja "Korps Polisi Wanita" (Polwan, 
1948), "Korps Wanita Angkatan Darat" (Kowad, 1961), "Korps Wanita Angkatan 
Laut" (Kowal, 1962), "Korps Wanita Angkatan Udara" (Wara, 1963). Meskipun 
begitu, pelecehen keterlibatan dan kemampuan wanita dalam tubuh ABRI pun masih 
terjadi. Terang-terangan memang tidak, tetapi ada dalam bentuk ungkapan humor 
di masyarakat (Dananjaya, 1984), misalnya berikut ini.

Seorang komandan serdadu pada suatu front peperangan memerintahkan penarikan 
mundur khusus serdadu wanita. Alasannya, mereka melanggar disiplin medan. 
Serdadu-serdadu wanita, yang merasa tidak membuat kesalahan disiplin militer, 
memprotes ramai-ramai. "Kesalahan??? Kesalahan apa itu, Komandan? Ini tidak 
adil!" Jawab Komandan dengan kalem, "Kamu sih, setiap diberi komando  
'tiaraaap ...', ee kamu malah terlentang."

Ini merupakan pantulan realitas bahwa apa pun yang dilakukan wanita tetaplah 
tak sanggup menghapus kekuasaan pria. Wanita berada dalam alam tanpa otonomi 
atas dirinya. Begitulah inferioritas wanita akan selalu menderita gagap, gagu, 
dan gugup di di bawah gegap gempitanya superioritas pria.

Berdasarkan etimologi rakyat Jawa (folk etimology, jarwodoso atau keratabasa, 
kata wanita dipersepsi secara kultural sebagai 'wani ditoto'; terjemahan 
leksikalnya 'berani diatur'; terjemahan kontekstualnya 'bersedia diatur'; 
terjemahan gampangnya 'tunduklah pada suami' atau 'jangan melawan pria'. Dalam 
hal ini wanita dianggap mulia bila tunduk dan patuh pada pria. Sering ada 
ungkapan "pejang gesang kula ndherek" (hidup atau mati, aku akan ikut suami), 
"swargo nunut, neraka katut" (suami masuk surga aku numpang, suami masuk neraka 
aku terbawa). Ternyata anggapan Jawa ini merasuk kuat dalam bahasa Indonesia. 
Kesetiaan wanita dinilai tinggi, dan soal kemandirian wanita tidak ada dalam 
kamus. Karenanya, dalam bahasa Indonesia kata wanita bernilai lebih tinggi 
sebab, kata Ben Anderson (1966), bahasa Indonesia mengalami "jawanisasi" atau 
"kramanisasi": kulitnya saja bahasa Melayu yang egaliter, tetapi rohnya bahasa 
Jawa yang feodal itu.

Dalam persepsi kultural Jawa pulalah, kata wanita menemukan perendahan martabat 
ketika ia "dipakai" salah satu barang klangenan (barang-barang untuk pemuasaan 
kesenangan individu). Jargon lengkap populernya adalah harta, senjata, tahta, 
wanita. Lelaki Jawa, menurut persepsi Jawa ini, baru benar-benar mampu menjadi 
lelaki sejati, lelananging jagat, bila telah memiliki kekayaan berlimpah 
(harta), melengkapi diri dengan kesaktian dan senjata (senjata), agar dapat 
memasuki kelas sosial yang lebih tinggi, priyayi (tahta), dan semuanya baru 
lengkap bila sudah memiliki banyak wanita, entah sebagai istri sah entah 
sekadar selir atau gundik4). Di sini tampak benar bahwa manusia wanita 
disederajatkan dengan benda-benda mati semacam degradasi harkat martabat salah 
satu gender5), sekaligus dehumanisasi.

Dengan demikian, untuk sementara bisa segera ditarik kata simpul: wanita 
berarti 'manusia yang bersikap halus, mengabdi setia pada tugas-tugas suami'. 
Suka atau tidak, inilah tugas dan lelakon yang harus dijalankan wanita. Apakah 
memang demikian?

Apa Arti Perempuan?

Dalam pandangan masyarakat Indonesia, kata perempuan mengalami degradasi 
semantis, atau peyorasi, penurunan nilai makna; arti sekarang lebih rendah dari 
arti dahulu (Kridalaksana, 1993).

Di pasar pemakaian, terutama di tubuh birokrasi dan kalangan atas, nasib 
perempuan terpuruk di bawah kata wanita, sehingga yang muncul adalah Menteri 
Peranan Wanita, pengusaha wanita (wanita pengusaha), insinyur wanita, peranan 
wanita dalam pembangunan, dan pastilah bukan *Menteri Peranan Perempuan, 
*pengusaha perempuan (*perempuan pengusaha), *insinyur perempuan, *peranan 
perempuan dalam pembangunan.

Dalam KD (1970: 853), kata perempuan berarti 'wanita', 'lawan lelaki', dan 
'istri' . Menurut KD, ada kata raja perempuan yang berarti 'permaisuri'. Dengan 
contoh ini kata ini tidak berarti rendah. Sementara itu, kata keperempuanan 
berarti 'perihal perempuan', maksudnya pastilah masalah yang berkenaan dengan 
keistrian dan rumah tangga. Dalam hal ini, meski tidak terlalu rendah, tetapi 
jelas bahwa kata ini menunjuk perempuan sebagai 'penunggu rumah'.

KBBI (1988: 670) memberikan batasan yang hampir sama dengan KD, hanya ada 
tambahan sedikit, tetapi justru penting, untuk kata keperempuanan. Menurut 
KBBI, keperempuanan juga berarti 'kehormatan sebagai perempuan'. Di sini sudah 
mulai muncul kesadaran menjaga harkat dan martabat sebagai manusia bergender 
feminin. Tersirat juga di sini makna 'kami jangan diremehkan' atau 'kami punya 
harga diri'.

Dalam tinjauan etimologisnya, kata perempuan bernilai cukup tinggi, tidak di 
bawah, tetapi sejajar, bahkan lebih tinggi daripada kata lelaki. Ah, masa?!! 
Ya. Jelasnya begini.

    * Secara etimologis, kata perempuan berasal dari kata empu yang berarti 
'tuan', 'orang yang mahir/berkuasa', atau pun 'kepala', 'hulu', atau 'yang 
paling besar'; maka, kita kenal kata empu jari 'ibu jari', empu gending 'orang 
yang mahir mencipta tembang'.
    * Kata perempuan juga berhubungan dengan kata ampu 'sokong', 'memerintah', 
'penyangga', 'penjaga keselamatan', bahkan 'wali'; kata mengampu artinya 
'menahan agar tak jatuh' atau 'menyokong agar tidak runtuh'; kata mengampukan 
berarti 'memerintah (negeri)'; ada lagi pengampu 'penahan, penyangga, 
penyelamat', sehingga ada kata pengampu susu 'kutang' alias 'BH'.
    * Kata perempuan juga berakar erat dari kata empuan; kata ini mengalami 
pemendekan menjadi puan yang artinya 'sapaan hormat pada perempuan', sebagai 
pasangan kata tuan 'sapaan hormat pada lelaki'. 


--- In [email protected], "ndeboost" <rambitese...@...> wrote:

> Empu" (kemudian konon jadi "perempuan" jaman dulu posisi terhormat
> 

> 
> --- In [email protected], "Jusfiq" <kesayangan.allah@> wrote:
> >
> > Saya menolak kata wanita karena, konon, kata itu sinonim dengan
> betina..
> >
> > Saya selalau memakai kata perempuan.
> >
> >
> > --- In [email protected], "blubps" blubps@ wrote:
> > >
> > > Wow, terima kasih atas apresiasi yang syik-asyiks....
> > >
> > > ooohhh, perempuan....
> > > adakah ia adalah manusia juga seperti halnya laki2? ataukah hanya
> separuh manusia, atau malah cuma seperberapanya?
> > >
> > > manusia perempuan adalah manusia, demikian seharusnya, sebagaimana
> manusia laki2. celakanya, manusia perempuan seringkali tidak lebih dari
> "sekedar" manusia kelas dua setelah laki2.
> > >
> > > dan, atas alasan "politis" ini, saya beri judul puisi saya
> "manusia", dan bukan "manusia perempuan".
> > >
> > > dan atas alasan "politis" pula, saya mencintai kata "perempuan", dan
> bukan "wanita".
> > >
> > > othak-athik-gathuk khas jawa menempatkan kata "wanita" sebagai
> akronim dari "wani ditata".
> > >
> > > secara harfiah, wani = berani, wanita = wani ditata = berani ditata,
> alias siap diatur, sebuah posisi tunduk, posisi pasrah atas penundukan,
> sebuah posisi yang mengingkari spirit untuk merdeka, spirit pemerdekaan!
> > >
> > >
> > > blub!
> > >




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke