R a l a t
Refleksi : Di Jepang, memang di setiap  desa atau kota di tepi pantai, 
begitupun di pantai t orang beristirahat, berjemuran, berenang atau surf ada 
loudspeaker yang mengeluarkan suara alarm (sirene) atau pemeberitaan tentang 
kemungkinan  adanya bahaya tsunami. Tetapi, bagaimana bagi mereka yang tidak 
mengerti bahasa Jepang atau juga  bila berada ditempat yang tidak ada sirena 
(loudspeaker) dan tidak terasa gempa bumi untuk menghindari diri dari bahaya 
tsunami?


Di Maluku istilah untuk tsunami adalah "air turun naik" istilah ini agaknya 
lebih cocok bagi yang mengerti bahasa Indonesia, sebab  kalau berada di tepi 
pantai dan air laut surut dengan tiba-tiba (bukan waktunya air surut),  gejala 
alam ini memberi peringatan sebaiknya menjauhi diri  dari pantai untuk pergi ke 
tempat yang lebih tinggi sebab kemungkinan datang gelombang besar atau tsunami.

Waktu terjadi gempa bumi di Sumatera utara, Desember 2004, efeknya sampai ke 
Thailand, Srilanka, dan bahkan Somalia di Afrika. 

Banyak touris di Thailand melihat air surut, tetapi tidak beraksi, karena tidak 
mengetahui gejala alam, tetap saja mereka berjemur enak-enak di pantai, datang 
gelompang besar menyapu mereka. Di Somalia, agak  sedikit lain, waktu air surut 
besar orang buru-buru mencari udang dan ikan, mereka tidak merasa ada gempa 
bumi di Aceh, akibatnya mereka yang mencari udang mati tenggelam disapu air 
laut. 

Agaknya orang di Nias  mengetahui gejala alam "air turun-naik" dan oleh karena 
itu pada gempa bumi yang lalu  tidak ada banyak orang menjadi korban, rupanya 
waktu terjadi di Mentawai pada malam hari dan penduduk tak sempat  untuk 
mengungsi. 

Gambar di bawah ini dari Thailand, waktu terjadi tsunami.


http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=53&id=31698

JUMAT, 05 November 2010 | 


Ardy Arsad, Mahasiswa S3 Kyushu University Jepang dan Dosen Teknik Sipil Unhas

Tsunami Mentawai dan Mitigasi Bencana


Sebagai bangsa yang hidup dalam wilayah rawan bencana kebumian, kita perlu 
mengevaluasi hal-hal yang perlu dipersiapkan. Apa saja itu? 

Dalam suatu kuliah tentang Waves and Structures, Yoshida Akinori (Associate 
Professor pada Laboratorium Teknik Pantai) mengatakan bahwa jika kita dalam 
suatu waktu berada di tepi pantai di Jepang, dan tiba-tiba terjadi gempa, maka 
berlarilah secepat mungkin mencari ketinggian. 

Tidak perlu menunggu apakah sirene peringatan berbunyi atau tidak. Tsunami 
sangat mungkin terjadi, dan salah satu cara menyelamatkan diri adalah berlari 
mencari gedung atau bukit yang tinggi. Patut diketahui, kecepatan tsunami dapat 
mencapat 970 km per jam, lebih cepat dari pesawat Boeing 747 dengan empat mesin 
jet yang hanya sekira 885 km per jam. Selain itu, ketinggian tsunami jika 
terjadi di samudera lepas hanya beberapa centimeter. Namun ketika tsunami 
bergerak masuk dan menyusuri pantai yang dangkal, ketinggian tsunami bisa 
mencapai 30 meter, tentu dengan energi yang menghancurkan. Peristiwa gempa 7,2 
SR dan tsunami di Kepulauan Mentawai pekan lalu, seketika mengingatkan kembali 
kepada perkataan sang dosen. 

Keselamatan dari amukan tsunami hanya ditentukan oleh keputusan yang diambil 
dalam hitungan menit. Apalagi gempa bumi adalah bencana yang tanda-tandanya 
belum dapat diprediksi dengan akurat kapan dan di mana terjadinya. Selebihnya 
hanyalah takdir Tuhan yang menentukan, apakah selamat atau tidak. 

Peristiwa gempa di Kepulauan Mentawai terjadi dengan episenter sangat dekat 
dengan Pulau Pagai Selatan. Akibatnya, gelombang tsunami hanya membutuhkan 
waktu antara 5-10 menit untuk mencapai pantai. Sepuluh menit adalah waktu yang 
sangat singkat untuk mengevakuasi diri. Terlebih lagi, peristiwa ini terjadi 
pada malam hari dan kondisi listrik padam akibat gempa. Namun demikian, begitu 
banyaknya korban jiwa yang mencapai lebih dari 500 orang, juga membuat kita 
tetap bertanya, ada apa dengan sistem peringatan dini (early warning system) 
akan tsunami yang "konon" sudah diresmikan Presiden SBY pada November 2008 
silam. Dalam beberapa sumber yang dikutip Reuter dan BBC, sebenarnya sistem ini 
masih berfungsi, akan tetapi pemeliharaan yang kurang sehingga beberapa alat 
seperti seismograf dan solar cell menjadi rusak bahkan ada yang hilang. Bahkan 
dua tsunami buoy (alat deteksi tsunami) juga sudah rusak. Demikian halnya 
sirine peringatan yang dipasang di Pelabuhan Sikakap. Peristiwa tsunami di 
Mentawai seakan menegaskan bahwa bangsa ini belum bisa belajar dari bencana 
yang sama seperti tsunami Aceh pada Desember 2004 dan Pangandaran pada Juli 
2006. 

Bencana tsunami masih mungkin akan terjadi di kemudian hari. Apalagi perkiraan 
para ahli, ada beberapa thrust fault yang masih terkunci (locked) sehingga 
peluang terjadinya gempa dengan skala lebih dari 7 SR masih ada. Gempa di 
Mentawai merupakan "serial gempa" yang terjadi sebagai kelanjutan dari 
rupture-nya Sunda mega thrust pada peristiwa Gempa Aceh 2004. Satu seri dengan 
Gempa Nias dan Simeleu 2005 dan Gempa Padang 2009. Belajar dari gempa dan 
tsunami Mentawai, kita harus menjadikan peristiwa ini sebagai momentum untuk 
segera memperbaiki kesiapan kita untuk hidup dalam wilayah bencana. 

Apakah pemerintah dan masyarakat sudah menyadari risiko hidup dalam the ring of 
fire (Cincin Api). Istilah lain dari nusantara yang berada di sekeliling 
pertemuan plat tektonik. Yang terhampar dengan barisan gunung api, 
patahan-patahan gempa yang aktif, dan tentu saja dalam bahaya laten dari 
tsunami sebagai konsekuensi dari kota-kota yang dibangun di wilayah pesisir 
laut. 

Sebenarnya secara konseptual, living on the edge atau hidup bersama bencana 
sudah selesai, sebagaimana UU No 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, 
dan PP No 64/2010 tentang Mitigasi Bencana di Wilayah Pesisir dan Pulau. Akan 
tetapi, selalu saja konsistensi bangsa ini pada tataran praktik, masih jauh 
dari harapan. Adapun upaya yang telah dibuat, baru sebatas formalitas dan belum 
menyentuh masyarakat. Seperti halnya, simulasi gempa dan tsunami yang 
dilaksanakan, baru di perkotaan, belum menyentuh masyarakat di desa dan 
pulau-pulau. Meskipun sebenarnya masyarakat lokal pernah memiliki cerita 
turun-temurun tentang tsunami, sebagaimana mereka yang selamat di Simelue 
ketika gempa Aceh 2004 terjadi. Namun, secara umum, masyarakat masih jauh dari 
sadar akan risiko bencana kebumian di daerah mereka. Ada empat fase yang harus 
dilakukan. Pertama, mitigasi sebagai upaya mencegah berkembangnya bahaya 
menjadi bencana atau upaya mengurangi dampak jika terjadi bencana. Dalam fase 
ini, upaya yang dilakukan bisa secara struktural maupun non-struktural. 

Struktural bisa berupa pembangunan konstruksi mengantisipasi bencana. Misalnya, 
tanggul dan kanal untuk antisipasi banjir, dan dinding lereng pada daerah rawan 
longsor, atau hutan bakau untuk meredam gelombang tsunami. Secara 
non-struktural, upaya yang dilakukan adalah assesment daerah potensi bencana. 
Misalnya, zone mapping daerah yang terkena gempa dan dampaknya (likuafaksi, 
tsunami, longsor). Dalam hal ini, upaya assessment tidaklah selalu bergantung 
pada ada tidaknya "proyek" pemerintah untuk mitigasi bencana, namun juga 
perguruan tinggi juga sedari dini perlu membentuk pusat studi mitigasi bencana. 

Bukan hanya yang berkaitan bencana kebumian namun juga bencana sebagai dampak 
dari climate change. Upaya mitigasi lainnya bisa berupa upaya legislasi aturan 
untuk penanggulangan bencana, perencanaan kembali tata ruang untuk memberi 
perlakuan khusus untuk daerah rawan, bahkan wacana perlunya asuransi bencana 
(sempat diisukan juga oleh Menteri Keuangan pasca tsunami Mentawai). Yang tidak 
kalah pentingnya, sosialisasi tentang bencana kebumian dan cara 
mengantisipasinya kepada masyarakat baik di kota maupun di desa. 

Bahkan pelajaran tentang hidup di daerah rawan bencana kebumian sebaiknya sudah 
masuk kurikulum SD hingga SMA. Fase yang kedua dalam menangani bencana adalah 
kesiapan. Dalam National Preparedness Guidelines (Homeland Security, USA) 
disebutkan kesiapan melingkupi persiapan sistem komunikasi, shelter dan 
evacuation plan serta penyiapan gudang logistik bahan pangan-sandang dan bahan 
bakar. Jalur suplainya juga sudah direncanakan. 

Termasuk pengembangan sistem peringatan dini. Fase yang ketiga adalah tanggap 
ketika sedang terjadi bencana. Pada fase ini, badan-badan kemanusian seperti 
Palang Merah, Mer-C, SAR, bahkan pasukan militer dapat diturunkan untuk 
menangani korban bencana. Fase terakhir adalah recovery atau pengembalian 
kondisi yang ditimpa bencana ke kehidupan normal semula. Ini termasuk 
pembangunan kembali infrastruktur, pemukiman dan sarana sosial ekonomi lainnya. 
Jika kesemuanya sudah terbangun dan berjalan baik, kita tidak akan risau hidup 
dalam wilayah the ring of fire. Namun, sejauh ini, tampaknya masih saja 
perhatian pemerintah dan masyarakat sangat kurang terutama pada fase mitigasi 
dan kesiapan. Maka seiring waktu, selalu saja ada episode "keledai jatuh pada 
lubang yang sama", dan kisahnya selalu ditutup dengan kata "ini terjadi karena 
faktor alam". (*)

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke