"........... "air turun naik..........."  Belum tentu tsunami, @mBoong,
meski turunnya
(dari bibir pantai) cukup jauh. Yang begini pernah nDeboost (& Kel.)
alami di
Pulau Bidadari. Pagi hari, air laut dimana sorenya kami main-main,
"hilang", jauh
"pindahnya".

Btw
Kalau banyak korban akibat tusunami, gempa bumi, atau wedus gembel
terutama yang kejadiannya dimalam hari kalik tidurnya terlalu nyenyak.
Berdoa dulu sebelum tidur (Kalau kafir pengecualian) lalu malam hari
bangun, shalat malam. (Dan "peringatan dini" tulisan nDeboost ini
terutama ditujukan utk nDebbost dan Kel.) Kalau perokokberat ,
  nampaknya ga perlu "bangun" malam karena sering terbangun dan
membangunkan "tetangganya" oleh ulah batuknya.


--- In [email protected], "sunny" <am...@...> wrote:
>
> R a l a t
> Refleksi : Di Jepang, memang di setiap  desa atau kota di tepi pantai,
begitupun di pantai t orang beristirahat, berjemuran, berenang atau surf
ada loudspeaker yang mengeluarkan suara alarm (sirene) atau pemeberitaan
tentang kemungkinan  adanya bahaya tsunami. Tetapi, bagaimana bagi
mereka yang tidak mengerti bahasa Jepang atau juga  bila berada ditempat
yang tidak ada sirena (loudspeaker) dan tidak terasa gempa bumi untuk
menghindari diri dari bahaya tsunami?
>
>
> Di Maluku istilah untuk tsunami adalah "air turun naik" istilah ini
agaknya lebih cocok bagi yang mengerti bahasa Indonesia, sebab  kalau
berada di tepi pantai dan air laut surut dengan tiba-tiba (bukan
waktunya air surut),  gejala alam ini memberi peringatan sebaiknya
menjauhi diri  dari pantai untuk pergi ke tempat yang lebih tinggi sebab
kemungkinan datang gelombang besar atau tsunami.
>
> Waktu terjadi gempa bumi di Sumatera utara, Desember 2004, efeknya
sampai ke Thailand, Srilanka, dan bahkan Somalia di Afrika.
>
> Banyak touris di Thailand melihat air surut, tetapi tidak beraksi,
karena tidak mengetahui gejala alam, tetap saja mereka berjemur
enak-enak di pantai, datang gelompang besar menyapu mereka. Di Somalia,
agak  sedikit lain, waktu air surut besar orang buru-buru mencari udang
dan ikan, mereka tidak merasa ada gempa bumi di Aceh, akibatnya mereka
yang mencari udang mati tenggelam disapu air laut.
>
> Agaknya orang di Nias  mengetahui gejala alam "air turun-naik" dan
oleh karena itu pada gempa bumi yang lalu  tidak ada banyak orang
menjadi korban, rupanya waktu terjadi di Mentawai pada malam hari dan
penduduk tak sempat  untuk mengungsi.
>
> Gambar di bawah ini dari Thailand, waktu terjadi tsunami.
>
>
> http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=53&id=31698
>
> JUMAT, 05 November 2010 |
>
>
> Ardy Arsad, Mahasiswa S3 Kyushu University Jepang dan Dosen Teknik
Sipil Unhas
>
> Tsunami Mentawai dan Mitigasi Bencana
>
>
> Sebagai bangsa yang hidup dalam wilayah rawan bencana kebumian, kita
perlu mengevaluasi hal-hal yang perlu dipersiapkan. Apa saja itu?
>
> Dalam suatu kuliah tentang Waves and Structures, Yoshida Akinori
(Associate Professor pada Laboratorium Teknik Pantai) mengatakan bahwa
jika kita dalam suatu waktu berada di tepi pantai di Jepang, dan
tiba-tiba terjadi gempa, maka berlarilah secepat mungkin mencari
ketinggian.
>
> Tidak perlu menunggu apakah sirene peringatan berbunyi atau tidak.
Tsunami sangat mungkin terjadi, dan salah satu cara menyelamatkan diri
adalah berlari mencari gedung atau bukit yang tinggi. Patut diketahui,
kecepatan tsunami dapat mencapat 970 km per jam, lebih cepat dari
pesawat Boeing 747 dengan empat mesin jet yang hanya sekira 885 km per
jam. Selain itu, ketinggian tsunami jika terjadi di samudera lepas hanya
beberapa centimeter. Namun ketika tsunami bergerak masuk dan menyusuri
pantai yang dangkal, ketinggian tsunami bisa mencapai 30 meter, tentu
dengan energi yang menghancurkan. Peristiwa gempa 7,2 SR dan tsunami di
Kepulauan Mentawai pekan lalu, seketika mengingatkan kembali kepada
perkataan sang dosen.
>
> Keselamatan dari amukan tsunami hanya ditentukan oleh keputusan yang
diambil dalam hitungan menit. Apalagi gempa bumi adalah bencana yang
tanda-tandanya belum dapat diprediksi dengan akurat kapan dan di mana
terjadinya. Selebihnya hanyalah takdir Tuhan yang menentukan, apakah
selamat atau tidak.
>
> Peristiwa gempa di Kepulauan Mentawai terjadi dengan episenter sangat
dekat dengan Pulau Pagai Selatan. Akibatnya, gelombang tsunami hanya
membutuhkan waktu antara 5-10 menit untuk mencapai pantai. Sepuluh menit
adalah waktu yang sangat singkat untuk mengevakuasi diri. Terlebih lagi,
peristiwa ini terjadi pada malam hari dan kondisi listrik padam akibat
gempa. Namun demikian, begitu banyaknya korban jiwa yang mencapai lebih
dari 500 orang, juga membuat kita tetap bertanya, ada apa dengan sistem
peringatan dini (early warning system) akan tsunami yang "konon" sudah
diresmikan Presiden SBY pada November 2008 silam. Dalam beberapa sumber
yang dikutip Reuter dan BBC, sebenarnya sistem ini masih berfungsi, akan
tetapi pemeliharaan yang kurang sehingga beberapa alat seperti
seismograf dan solar cell menjadi rusak bahkan ada yang hilang. Bahkan
dua tsunami buoy (alat deteksi tsunami) juga sudah rusak. Demikian
halnya sirine peringatan yang dipasang di Pelabuhan Sikakap. Peristiwa
tsunami di Mentawai seakan menegaskan bahwa bangsa ini belum bisa
belajar dari bencana yang sama seperti tsunami Aceh pada Desember 2004
dan Pangandaran pada Juli 2006.
>
> Bencana tsunami masih mungkin akan terjadi di kemudian hari. Apalagi
perkiraan para ahli, ada beberapa thrust fault yang masih terkunci
(locked) sehingga peluang terjadinya gempa dengan skala lebih dari 7 SR
masih ada. Gempa di Mentawai merupakan "serial gempa" yang terjadi
sebagai kelanjutan dari rupture-nya Sunda mega thrust pada peristiwa
Gempa Aceh 2004. Satu seri dengan Gempa Nias dan Simeleu 2005 dan Gempa
Padang 2009. Belajar dari gempa dan tsunami Mentawai, kita harus
menjadikan peristiwa ini sebagai momentum untuk segera memperbaiki
kesiapan kita untuk hidup dalam wilayah bencana.
>
> Apakah pemerintah dan masyarakat sudah menyadari risiko hidup dalam
the ring of fire (Cincin Api). Istilah lain dari nusantara yang berada
di sekeliling pertemuan plat tektonik. Yang terhampar dengan barisan
gunung api, patahan-patahan gempa yang aktif, dan tentu saja dalam
bahaya laten dari tsunami sebagai konsekuensi dari kota-kota yang
dibangun di wilayah pesisir laut.
>
> Sebenarnya secara konseptual, living on the edge atau hidup bersama
bencana sudah selesai, sebagaimana UU No 24 tahun 2007 tentang
Penanggulangan Bencana, dan PP No 64/2010 tentang Mitigasi Bencana di
Wilayah Pesisir dan Pulau. Akan tetapi, selalu saja konsistensi bangsa
ini pada tataran praktik, masih jauh dari harapan. Adapun upaya yang
telah dibuat, baru sebatas formalitas dan belum menyentuh masyarakat.
Seperti halnya, simulasi gempa dan tsunami yang dilaksanakan, baru di
perkotaan, belum menyentuh masyarakat di desa dan pulau-pulau. Meskipun
sebenarnya masyarakat lokal pernah memiliki cerita turun-temurun tentang
tsunami, sebagaimana mereka yang selamat di Simelue ketika gempa Aceh
2004 terjadi. Namun, secara umum, masyarakat masih jauh dari sadar akan
risiko bencana kebumian di daerah mereka. Ada empat fase yang harus
dilakukan. Pertama, mitigasi sebagai upaya mencegah berkembangnya bahaya
menjadi bencana atau upaya mengurangi dampak jika terjadi bencana. Dalam
fase ini, upaya yang dilakukan bisa secara struktural maupun
non-struktural.
>
> Struktural bisa berupa pembangunan konstruksi mengantisipasi bencana.
Misalnya, tanggul dan kanal untuk antisipasi banjir, dan dinding lereng
pada daerah rawan longsor, atau hutan bakau untuk meredam gelombang
tsunami. Secara non-struktural, upaya yang dilakukan adalah assesment
daerah potensi bencana. Misalnya, zone mapping daerah yang terkena gempa
dan dampaknya (likuafaksi, tsunami, longsor). Dalam hal ini, upaya
assessment tidaklah selalu bergantung pada ada tidaknya "proyek"
pemerintah untuk mitigasi bencana, namun juga perguruan tinggi juga
sedari dini perlu membentuk pusat studi mitigasi bencana.
>
> Bukan hanya yang berkaitan bencana kebumian namun juga bencana sebagai
dampak dari climate change. Upaya mitigasi lainnya bisa berupa upaya
legislasi aturan untuk penanggulangan bencana, perencanaan kembali tata
ruang untuk memberi perlakuan khusus untuk daerah rawan, bahkan wacana
perlunya asuransi bencana (sempat diisukan juga oleh Menteri Keuangan
pasca tsunami Mentawai). Yang tidak kalah pentingnya, sosialisasi
tentang bencana kebumian dan cara mengantisipasinya kepada masyarakat
baik di kota maupun di desa.
>
> Bahkan pelajaran tentang hidup di daerah rawan bencana kebumian
sebaiknya sudah masuk kurikulum SD hingga SMA. Fase yang kedua dalam
menangani bencana adalah kesiapan. Dalam National Preparedness
Guidelines (Homeland Security, USA) disebutkan kesiapan melingkupi
persiapan sistem komunikasi, shelter dan evacuation plan serta penyiapan
gudang logistik bahan pangan-sandang dan bahan bakar. Jalur suplainya
juga sudah direncanakan.
>
> Termasuk pengembangan sistem peringatan dini. Fase yang ketiga adalah
tanggap ketika sedang terjadi bencana. Pada fase ini, badan-badan
kemanusian seperti Palang Merah, Mer-C, SAR, bahkan pasukan militer
dapat diturunkan untuk menangani korban bencana. Fase terakhir adalah
recovery atau pengembalian kondisi yang ditimpa bencana ke kehidupan
normal semula. Ini termasuk pembangunan kembali infrastruktur, pemukiman
dan sarana sosial ekonomi lainnya. Jika kesemuanya sudah terbangun dan
berjalan baik, kita tidak akan risau hidup dalam wilayah the ring of
fire. Namun, sejauh ini, tampaknya masih saja perhatian pemerintah dan
masyarakat sangat kurang terutama pada fase mitigasi dan kesiapan. Maka
seiring waktu, selalu saja ada episode "keledai jatuh pada lubang yang
sama", dan kisahnya selalu ditutup dengan kata "ini terjadi karena
faktor alam". (*)
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke