Gejalanya seperti saya tulis yaitu tiba-tiba bukan waktu surutnya dari yang biasa.
----- Original Message ----- From: ndeboost To: [email protected] Sent: Sunday, November 07, 2010 11:19 PM Subject: [proletar] Re: Tsunami Mentawai dan Mitigasi Bencana (RALAT) "........... "air turun naik..........." Belum tentu tsunami, @mBoong, meski turunnya (dari bibir pantai) cukup jauh. Yang begini pernah nDeboost (& Kel.) alami di Pulau Bidadari. Pagi hari, air laut dimana sorenya kami main-main, "hilang", jauh "pindahnya". Btw Kalau banyak korban akibat tusunami, gempa bumi, atau wedus gembel terutama yang kejadiannya dimalam hari kalik tidurnya terlalu nyenyak. Berdoa dulu sebelum tidur (Kalau kafir pengecualian) lalu malam hari bangun, shalat malam. (Dan "peringatan dini" tulisan nDeboost ini terutama ditujukan utk nDebbost dan Kel.) Kalau perokokberat , nampaknya ga perlu "bangun" malam karena sering terbangun dan membangunkan "tetangganya" oleh ulah batuknya. --- In [email protected], "sunny" <am...@...> wrote: > > R a l a t > Refleksi : Di Jepang, memang di setiap desa atau kota di tepi pantai, begitupun di pantai t orang beristirahat, berjemuran, berenang atau surf ada loudspeaker yang mengeluarkan suara alarm (sirene) atau pemeberitaan tentang kemungkinan adanya bahaya tsunami. Tetapi, bagaimana bagi mereka yang tidak mengerti bahasa Jepang atau juga bila berada ditempat yang tidak ada sirena (loudspeaker) dan tidak terasa gempa bumi untuk menghindari diri dari bahaya tsunami? > > > Di Maluku istilah untuk tsunami adalah "air turun naik" istilah ini agaknya lebih cocok bagi yang mengerti bahasa Indonesia, sebab kalau berada di tepi pantai dan air laut surut dengan tiba-tiba (bukan waktunya air surut), gejala alam ini memberi peringatan sebaiknya menjauhi diri dari pantai untuk pergi ke tempat yang lebih tinggi sebab kemungkinan datang gelombang besar atau tsunami. > > Waktu terjadi gempa bumi di Sumatera utara, Desember 2004, efeknya sampai ke Thailand, Srilanka, dan bahkan Somalia di Afrika. > > Banyak touris di Thailand melihat air surut, tetapi tidak beraksi, karena tidak mengetahui gejala alam, tetap saja mereka berjemur enak-enak di pantai, datang gelompang besar menyapu mereka. Di Somalia, agak sedikit lain, waktu air surut besar orang buru-buru mencari udang dan ikan, mereka tidak merasa ada gempa bumi di Aceh, akibatnya mereka yang mencari udang mati tenggelam disapu air laut. > > Agaknya orang di Nias mengetahui gejala alam "air turun-naik" dan oleh karena itu pada gempa bumi yang lalu tidak ada banyak orang menjadi korban, rupanya waktu terjadi di Mentawai pada malam hari dan penduduk tak sempat untuk mengungsi. > > Gambar di bawah ini dari Thailand, waktu terjadi tsunami. > > > http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=53&id=31698 > > JUMAT, 05 November 2010 | > > > Ardy Arsad, Mahasiswa S3 Kyushu University Jepang dan Dosen Teknik Sipil Unhas > > Tsunami Mentawai dan Mitigasi Bencana > > > Sebagai bangsa yang hidup dalam wilayah rawan bencana kebumian, kita perlu mengevaluasi hal-hal yang perlu dipersiapkan. Apa saja itu? > > Dalam suatu kuliah tentang Waves and Structures, Yoshida Akinori (Associate Professor pada Laboratorium Teknik Pantai) mengatakan bahwa jika kita dalam suatu waktu berada di tepi pantai di Jepang, dan tiba-tiba terjadi gempa, maka berlarilah secepat mungkin mencari ketinggian. > > Tidak perlu menunggu apakah sirene peringatan berbunyi atau tidak. Tsunami sangat mungkin terjadi, dan salah satu cara menyelamatkan diri adalah berlari mencari gedung atau bukit yang tinggi. Patut diketahui, kecepatan tsunami dapat mencapat 970 km per jam, lebih cepat dari pesawat Boeing 747 dengan empat mesin jet yang hanya sekira 885 km per jam. Selain itu, ketinggian tsunami jika terjadi di samudera lepas hanya beberapa centimeter. Namun ketika tsunami bergerak masuk dan menyusuri pantai yang dangkal, ketinggian tsunami bisa mencapai 30 meter, tentu dengan energi yang menghancurkan. Peristiwa gempa 7,2 SR dan tsunami di Kepulauan Mentawai pekan lalu, seketika mengingatkan kembali kepada perkataan sang dosen. > > Keselamatan dari amukan tsunami hanya ditentukan oleh keputusan yang diambil dalam hitungan menit. Apalagi gempa bumi adalah bencana yang tanda-tandanya belum dapat diprediksi dengan akurat kapan dan di mana terjadinya. Selebihnya hanyalah takdir Tuhan yang menentukan, apakah selamat atau tidak. > > Peristiwa gempa di Kepulauan Mentawai terjadi dengan episenter sangat dekat dengan Pulau Pagai Selatan. Akibatnya, gelombang tsunami hanya membutuhkan waktu antara 5-10 menit untuk mencapai pantai. Sepuluh menit adalah waktu yang sangat singkat untuk mengevakuasi diri. Terlebih lagi, peristiwa ini terjadi pada malam hari dan kondisi listrik padam akibat gempa. Namun demikian, begitu banyaknya korban jiwa yang mencapai lebih dari 500 orang, juga membuat kita tetap bertanya, ada apa dengan sistem peringatan dini (early warning system) akan tsunami yang "konon" sudah diresmikan Presiden SBY pada November 2008 silam. Dalam beberapa sumber yang dikutip Reuter dan BBC, sebenarnya sistem ini masih berfungsi, akan tetapi pemeliharaan yang kurang sehingga beberapa alat seperti seismograf dan solar cell menjadi rusak bahkan ada yang hilang. Bahkan dua tsunami buoy (alat deteksi tsunami) juga sudah rusak. Demikian halnya sirine peringatan yang dipasang di Pelabuhan Sikakap. Peristiwa tsunami di Mentawai seakan menegaskan bahwa bangsa ini belum bisa belajar dari bencana yang sama seperti tsunami Aceh pada Desember 2004 dan Pangandaran pada Juli 2006. > > Bencana tsunami masih mungkin akan terjadi di kemudian hari. Apalagi perkiraan para ahli, ada beberapa thrust fault yang masih terkunci (locked) sehingga peluang terjadinya gempa dengan skala lebih dari 7 SR masih ada. Gempa di Mentawai merupakan "serial gempa" yang terjadi sebagai kelanjutan dari rupture-nya Sunda mega thrust pada peristiwa Gempa Aceh 2004. Satu seri dengan Gempa Nias dan Simeleu 2005 dan Gempa Padang 2009. Belajar dari gempa dan tsunami Mentawai, kita harus menjadikan peristiwa ini sebagai momentum untuk segera memperbaiki kesiapan kita untuk hidup dalam wilayah bencana. > > Apakah pemerintah dan masyarakat sudah menyadari risiko hidup dalam the ring of fire (Cincin Api). Istilah lain dari nusantara yang berada di sekeliling pertemuan plat tektonik. Yang terhampar dengan barisan gunung api, patahan-patahan gempa yang aktif, dan tentu saja dalam bahaya laten dari tsunami sebagai konsekuensi dari kota-kota yang dibangun di wilayah pesisir laut. > > Sebenarnya secara konseptual, living on the edge atau hidup bersama bencana sudah selesai, sebagaimana UU No 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, dan PP No 64/2010 tentang Mitigasi Bencana di Wilayah Pesisir dan Pulau. Akan tetapi, selalu saja konsistensi bangsa ini pada tataran praktik, masih jauh dari harapan. Adapun upaya yang telah dibuat, baru sebatas formalitas dan belum menyentuh masyarakat. Seperti halnya, simulasi gempa dan tsunami yang dilaksanakan, baru di perkotaan, belum menyentuh masyarakat di desa dan pulau-pulau. Meskipun sebenarnya masyarakat lokal pernah memiliki cerita turun-temurun tentang tsunami, sebagaimana mereka yang selamat di Simelue ketika gempa Aceh 2004 terjadi. Namun, secara umum, masyarakat masih jauh dari sadar akan risiko bencana kebumian di daerah mereka. Ada empat fase yang harus dilakukan. Pertama, mitigasi sebagai upaya mencegah berkembangnya bahaya menjadi bencana atau upaya mengurangi dampak jika terjadi bencana. Dalam fase ini, upaya yang dilakukan bisa secara struktural maupun non-struktural. > > Struktural bisa berupa pembangunan konstruksi mengantisipasi bencana. Misalnya, tanggul dan kanal untuk antisipasi banjir, dan dinding lereng pada daerah rawan longsor, atau hutan bakau untuk meredam gelombang tsunami. Secara non-struktural, upaya yang dilakukan adalah assesment daerah potensi bencana. Misalnya, zone mapping daerah yang terkena gempa dan dampaknya (likuafaksi, tsunami, longsor). Dalam hal ini, upaya assessment tidaklah selalu bergantung pada ada tidaknya "proyek" pemerintah untuk mitigasi bencana, namun juga perguruan tinggi juga sedari dini perlu membentuk pusat studi mitigasi bencana. > > Bukan hanya yang berkaitan bencana kebumian namun juga bencana sebagai dampak dari climate change. Upaya mitigasi lainnya bisa berupa upaya legislasi aturan untuk penanggulangan bencana, perencanaan kembali tata ruang untuk memberi perlakuan khusus untuk daerah rawan, bahkan wacana perlunya asuransi bencana (sempat diisukan juga oleh Menteri Keuangan pasca tsunami Mentawai). Yang tidak kalah pentingnya, sosialisasi tentang bencana kebumian dan cara mengantisipasinya kepada masyarakat baik di kota maupun di desa. > > Bahkan pelajaran tentang hidup di daerah rawan bencana kebumian sebaiknya sudah masuk kurikulum SD hingga SMA. Fase yang kedua dalam menangani bencana adalah kesiapan. Dalam National Preparedness Guidelines (Homeland Security, USA) disebutkan kesiapan melingkupi persiapan sistem komunikasi, shelter dan evacuation plan serta penyiapan gudang logistik bahan pangan-sandang dan bahan bakar. Jalur suplainya juga sudah direncanakan. > > Termasuk pengembangan sistem peringatan dini. Fase yang ketiga adalah tanggap ketika sedang terjadi bencana. Pada fase ini, badan-badan kemanusian seperti Palang Merah, Mer-C, SAR, bahkan pasukan militer dapat diturunkan untuk menangani korban bencana. Fase terakhir adalah recovery atau pengembalian kondisi yang ditimpa bencana ke kehidupan normal semula. Ini termasuk pembangunan kembali infrastruktur, pemukiman dan sarana sosial ekonomi lainnya. Jika kesemuanya sudah terbangun dan berjalan baik, kita tidak akan risau hidup dalam wilayah the ring of fire. Namun, sejauh ini, tampaknya masih saja perhatian pemerintah dan masyarakat sangat kurang terutama pada fase mitigasi dan kesiapan. Maka seiring waktu, selalu saja ada episode "keledai jatuh pada lubang yang sama", dan kisahnya selalu ditutup dengan kata "ini terjadi karena faktor alam". (*) > > [Non-text portions of this message have been removed] > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
